Kategori
Puisi
SELAMAT JALAN IYUT FITRA*) air mataku tetes, berderai… –innalillahi wainnaillaihi roji’un… : selamat jalan adikku iyut fitra surga terindah untukmu puisi-puisimu akan menjelma perahu bercahaya gemerlap mengarungi pelayaran…
Ada yang berkata, pada tiap diri manusia, ada binatang buas, yang ganas... Aku ini ular purba yang ingin terlelap dan bermimpi, ingin terlelap di salah satu dahan Pohon Khuldi yang tiada terlampau tinggi.
Di lengang keningmu, aku duduk dan menunggu dinding-dinding kosong berubah menjadi hamparan laut. Tiap sore tiba aku berdoa, semoga matahari terbenam ke dalam laci kamarku di mana mesin waktu telah menunggu dan membawanya ke masa lalu. Masa ketika kita masih saling bergantian mencubit hidung, di latar deru gemulung ombak yang juga bergantian datang usai menempa-nempa mendung.
rel telah habis. seharusnya, perjalananmu sudah sampai. di stasiun, segala kenang menantimu pulang. dari gerbong, tiketmu melambaikan tangan.
Perempuan itu berjalan, seolah mengerti bahwa hidup memang berat, ia ikat agar tak putus di tengah perjalanan. Kadang aku melihatnya rapuh, tapi dadanya rela menahan semesta; selalu siap diisi sunyi namun diam-diam menyelamatkan hari.
lihat, talinya putus. layang-layang menghilang ke balik awan umur terus diburu. usia pasrah dalam kejaran ke mana lagi menjemput kata. yang dicari masih bernama hilang di jalanan orang-orang menjadi tua seketika mengurai-urai nasib bermimpi tentang silam yang angkuh lalu menulis di lembar-lembar pudar
Aku hanyalah cacing yang senang kepada tembang para petani, hanya geliat yang suka dengarkan riwayat dari ayat-ayat.
Peta kota ini perlahan kuhafal, bukan dari buku melainkan jalan buntu serta salah belok yang sering kutempuh.