Lewati ke konten

Puisi-puisi Maria Utami

June 20, 2026 · Maria Utami

Puisi-puisi Maria Utami

Lontong Pical Makwo

Ada sebuah suaka kecil di belakang pagar sekolah,
sebuah warung sederhana milik Makwo yang ramah.
Tempat kami, anak-anak yang baru lepas seragam,
melarikan diri dari peluh ekstrakurikuler
serta rumus-rumus yang temaram.
Di sanalah aku selalu memesan menu yang sama,
sepiring lontong pical, pusaka dari tanah Sumatra.

Sepiring surga yang paduannya begitu puitis:
lontong yang lembut, mie kuning yang tak pernah alpha,
sayur bercampur kuah kacang kental
yang rasanya tak terdefinisikan.
Di meja kayu yang sama, kami berbagi tawa
sembari menyeruput es teh manis buatan Makwo
yang legitnya terasa lebih jujur dari semua pelajaran di kelas.
Kadang, sepiring bakwan hangat ikut serta,
kami cocolkan pada sambal khasnya yang sederhana
namun selalu menggugah.

Di warung itu, di beranda yang teduh itu,
kami lupa sejenak pada beban-beban kecil kami.
Kini, bertahun-tahun setelahnya,
rasa itu masih sering datang menyapa,
tersimpan rapi di dalam arsip indra lidahku.

Ah, betapa aku rindu kembali ke masa itu,
saat beban hidup paling berat hanyalah tas di punggung,
dan kebahagiaan paling murni
sesederhana menanti sepiring lontong pical
di warung Makwo yang hening.

Yogyakarta, 2025

 

Ning Nong Ning Gung

Suara Eyang sebenarnya
tak pernah sampai di nada yang tepat.
Serak.
Bergetar tipis.
Seperti pintu kayu tua ditiup angin malam.
Di pangkuan ini,
segala yang sumbang mendadak
disulap jadi orkestra megah.

“Ning… nong… ning… gung…”
Mantra lawas itu
meluncur pelan dari bibir keriputnya.
Bukan sekadar lagu,
melainkan jembatan bunyi yang ia rakit dengan sabar
agar rewelmu tak sempat pecah jadi tangisan.

Tangan kasarnya mendarat lembut di bokong mungilmu.
Puk. Puk. Puk.
Sebuah ketukan metronom konstan.
Mengirim sinyal damai
ke dalam detak jantungmu yang masih rusuh,
memaksa mata nakalmu menyerah pada kantuk.

Ia tahu napasnya mulai pendek,
dan punggungnya pegal bukan main.
Demi melayarkan mimpimu ke pulau lelap,
ia rela memeras sisa tenaganya menjelma senandung.
Mengeluarkan versi terbaik cintanya
yang tak punya sekolah vokal.

Lekas pejamlah, Cu.
Dunia yang bising sudah Eyang usir keluar jendela.
Di sini, hanya ada irama “Ning nong ning gung”
dan kasih sayang yang tak akan pernah habis nadanya.

Sudut Jogja, 2026

 

Proyek Pertama

Aku proyek percontohan pertama
dari departemen yang Bapak pimpin.
Kurikulumnya disusun sambil jalan,
di atas Honda Win seratus
yang setia mengeja jalanan kampung.

Saat divisi Ibu sedang dinas di klinik,
Bapak mengajakku rapat di pinggir sungai.
Logistiknya sederhana:
negosiasi dengan cacing tanah
agar mau membujuk ikan-ikan.

Jika rapat terasa kering, Bapak memetik
bonus kinerja berupa kelapa muda.
Hasil tangkapan jadi notulen
yang akan dieksekusi di dapur Ibu nanti.

Kulit legamku adalah piagam resmi
dari mata kuliah petualangan.
Bapak memang tak pandai mendongeng,
tapi ia profesor terbaik
di fakultas seni menunggu joran melengkung.

Jogja, 2025 

 

Menakik Ingatan

Di tapal batas Riau dan Jambi,
pisau nenek melukai kulit kayu tanpa benci.
Ia menarik garis melingkar,
memaksa batang karet menetaskan putih
bagi dapur yang apinya tak boleh mati.

Ia menakik ribuan batang dalam diam.
Sementara aku memanjat pohon cokelat di sebelahnya,
memecah buah, menelan manis yang basah,
dan melempar ocehan panjang
yang ia tampung dengan senyum tabah.

Tetesan getah jatuh ke dalam mangkuk.
Menghitung waktu yang diam-diam pindah;
dari retak di kulit pohon,
menjalar ke kerut di punggung tangannya.
Tak ada peluh yang ia terjemahkan menjadi keluh.

Di hadapan timbangan tengkulak,
getah lengket itu berganti nama.
Menjelma semangkuk mi ayam di meja kayu,
yang kulahap pelan dari traktiran tangannya—
tangan yang menyimpan getas tanah dan getah.

Usia nenek mulai meringkuk.
Setua ribuan pohon yang dulu ia peluk.
Namun setiap kali aku menoleh ke belakang,
pisau itu perlahan ganti menakik ingatanku;
membiarkan rindu menetes, tanpa bisa kuhentikan.

Jogja, 2025 

 

M
Tentang Penulis

Maria Utami

Maria Utami berdomisili di Kota Yogyakarta. Seorang ibu rumah tangga yang aktif menulis puisi lagi tahun ini. Hal ini karena rasa cintanya pada puisi tak pernah padam. Baginya, tidak ada kata terlambat untuk terus berkarya. Ia telah beberapa kali menjadi penulis terpilih dalam berbagai event kepenulisan antologi puisi. Dapat didukung atau disapa melalui akun Instagram: @maria.oetami.

Baca Biografi Selengkapnya →
Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.