Kategori
Esai
karya sastra di ranah digital—medsos—sesungguhnya bukan hanya bersaing dengan karya sastra digital lainnya, tetapi juga dengan bentuk-bentuk “karya digital” yang lain. Agak berbeda dengan karya sastra yang konvensional di era lebih dulu, di mana mungkin ia hanya bersaing dengan jenis tulisan lain di koran atau majalah, tetapi setidaknya kedua-duanya sama-sama teks
Bocah menjadi korban ganda: korban dari insiden yang ia sendiri picu (tanpa sepenuhnya memahami konsekuensinya), dan korban dari sistem yang gagal mengajarinya tentang tanggung jawab dan empati.
Apakah kedekatan yang dibentuk oleh fokalisasi internal benar-benar menghadirkan empati atau justru memperhalus luka dengan membuat penderitaan tampak puitis dan bisa dikonsumsi dengan nyaman?
Berangkat dari pertemuan gagasan dalam Diskusi Kelompok Terpumpun (Focus Group Discussion) yang melibatkan 30 komunitas sastra lintas latar dan bentuk ekspresi, serta dari dinamika pemikiran yang muncul sepanjang perhelatan Festival Sastra Yogyakarta 2025, tersarikanlah sejumlah rekomendasi sebagai pijakan awal untuk memperkuat ekosistem komunitas sastra yang tumbuh dan berakar di Yogyakarta.
Di luar baik-buruknya tujuan suatu perintah, mula-mula, yang perlu kita lakukan adalah menyadari keberadaannya. Jika perintah itu terselubung, tak ada jalan untuk memastikan keberadaannya selain dengan penyingkapan.
Book shaming hanyalah hambatan dalam literasi sastra. Lebih baik kita fokus pada bagaimana semua kategori sastra tersebut berkontribusi.
Manusia Pertama di Angkasa Luar tak hanya puisi yang alegoris, melainkan juga sebuah autokritik bagi Subagio selaku penyair, terutama menyangkut kredo (?) puisi yang ia gagas.
Bagi saya, setiap kepulangan adalah laku nge-Lantip. Mahasiswa harus paham ritme, keseimbangan, keharmonisan.