Lewati ke konten

Sialnya Menjadi Seorang Penerjemah

August 10, 2026 · Zulfah Nur Alimah

Sialnya Menjadi Seorang Penerjemah

Saya akan mengawali tulisan ini dengan sebuah kalimat klise yang telah bertebaran di mana-mana: penerjemah merupakan jembatan antarkebudayaan. 

Dalam kalimat tersebut, penerjemah terkesan keren betul dan pekerjaannya tampak begitu heroik; penerjemah memungkinkan dua kebudayaan untuk saling mengenal lebih dekat. Luar biasa. Namun di lapangan, penerjemah nyatanya tidak dipandang heroik-heroik amat, bahkan keberadaan profesinya tidak diakui dalam sistem birokrasi negara. 

Awal bulan lalu, saya berkunjung ke puskesmas untuk memeriksa kesehatan. Di loket pendaftaran, seorang pegawai berseragam khaki menanyakan data diri saya sebagai bagian dari prosedur administrasi. Salah satu pertanyaan yang diajukan adalah pekerjaan. Ketika saya jawab “penerjemah”, pegawai itu meminta maaf lalu menjelaskan bahwa tidak ada kolom pekerjaan untuk penerjemah. Saya enggan berdebat. Kepala saya pening dan perut saya mual. Maka, saya segera melayangkan pilihan pada salah satu kolom yang tersedia: ibu rumah tangga.

Pandangan sebelah mata terhadap profesi penerjemah ini bukanlah perkara baru.  Dalam pendahuluan buku In Other Words, Mona Baker telah menyinggung ketidakadilan yang dialami oleh para penerjemah. Katanya, dalam sejarahnya yang panjang, penerjemahan tidak benar-benar mendapat pengakuan dan rasa hormat seperti profesi lain, misalnya kedokteran atau teknik. Para penerjemah diremehkan karena mereka dianggap bekerja hanya berdasarkan intuisi dan pengalaman semata, tanpa memiliki pakem pengetahuan yang dapat dibuktikan secara akademik. 

Berdasarkan keresahan tersebut, salah satu hal pertama yang dilakukan oleh Institute of Translation and Interpreting (ITI) di Inggris setelah didirikan adalah membentuk Komite Pendidikan (Education Committee) untuk merancang program pelatihan dan pendidikan bagi para anggotanya. Program ini diharapkan mampu mencetak para penerjemah yang memiliki kompetensi akademik, yang bekerja berdasarkan pengetahuan sekaligus pengalaman. 

Tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa In Other Words yang ditulis oleh Mona Baker itu sebagai upaya untuk membuktikan bahwa kerja penerjemahan bisa dilakukan mengikuti standar-standar ilmiah yang kebenarannya dapat dibuktikan secara objektif. Untuk merealisasikannya, ia meminjam disiplin ilmu lain, yaitu linguistik modern. 

Berbeda dari Mona Baker yang ingin menetapkan pakem ilmiah dalam kerja penerjemahan, Muhammad Anani, seorang penerjemah senior Mesir yang dijuluki bapaknya para penerjemah (عميد الترجمة), menyatakan dengan tegas dalam pengantar bukunya, Fann atTarjamah, bahwa tidak ada teori pakem dalam penerjemahan. Menurutnya, penerjemahan merupakan seni aplikatif yang mengandalkan latihan, praktik, dan bakat. Namun terlepas dari perbedaan mazhab tersebut, Anani sama-sama menyinggung perihal bagaimana seorang penerjemah diremehkan di mata masyarakat. 

Dalam pembahasan mengenai siapa itu penerjemah, Anani berpendapat bahwa penerjemah adalah penulis. Bahkan, pekerjaannya sebenarnya lebih sulit dibanding penulis asli. Jika penulis bebas merangkai ide dan gagasan dalam bentuk bahasa yang diinginkannya, ruang gerak penerjemah terbatas; ia harus berjalan sesuai koridor yang telah ditetapkan penulis. Karena itu, ia terheran-heran saat mendapati penerjemah masih saja dipandang sebelah mata dan dianggap sebagai sosok yang hanya bekerja dengan pasif. 

Di tengah upaya para penerjemah yang masih berjuang memperoleh harkat dan martabat di dunia profesi, kerja penerjemahan kini dihantam badai baru bernama AI (Artificial Intelligence). Kehadiran makhluk tersebut dalam kehidupan sehari-hari masyarakat kontemporer membuat citra penerjemah kian abu-abu. AI yang mampu menerjemahkan dengan cepat dan akurat dianggap mampu menggeser posisi penerjemah manusia. 

Ketika saya memosting karya terjemahan terbaru saya di status WhatsApp, seorang teman berkomentar. Ia bertanya apakah saya menerjemahkan secara manual atau menggunakan AI. Ketika saya jawab yang pertama, teman saya itu menyahut “keren”, lalu mengaku bahwa ia baru saja menerjemahkan sebuah buku autobiografi dari bahasa Indonesia ke dalam bahasa Spanyol menggunakan AI. 

Namun, benarkah AI betul-betul mampu menggeser posisi penerjemah? Benarkah hasil terjemahan AI betul-betul akurat? 

Menurut Alan Cruse yang dikutip Mona Baker dalam bukunya di atas, kata atau ujaran memiliki empat jenis makna: makna proposional, makna ekspresif, makna prasetuju, dan makna evokatif.

Jika hanya mencari padanan makna kamus, keakuratan AI memang tak perlu diragukan. Jika sebelumnya, kita harus membelah lembaran kamus tebal untuk mencari makna leksikal sebuah kata, kini AI sudah bisa menghadirkan berbagai pilihan makna dalam hitungan detik, bahkan dengan mengikutsertakan daftar referensi. Jika kerja penerjemahan hanya soal mengalihkan makna kata dari satu bahasa ke dalam bahasa lain, tamat sudah; sebaiknya penerjemah segera mencari profesi lain. 

Namun, seorang penerjemah sejati harus mampu menyalurkan empat lapisan makna ke dalam hasil pekerjaannya. Ia tidak hanya dituntut untuk mengalihkan makna secara kamus dan harfiah (makna proposional), namun juga mempertimbangkan perasaan, emosi, dan sikap si pembicara (makna ekspresif). Selain itu, ia juga harus menimbang konteks linguistik atau keserasian kata (makna prasetuju) sekaligus konteks situasi sosial (makna evokatif). 

Kabar baiknya, kita tidak bisa serta-merta mengandalkan AI untuk menghasilkan hasil terjemahan yang berterima (acceptable). Saya berikan contoh. 

Novela Kutukan Bocah Palestina karya Mazen Maarouf, misalnya. Setelah Zaif bersetubuh dengan Sofia, laki-laki itu mencemooh tokoh ‘aku’—si bocah Palestina terakhir—yang terkulai lemas di pojokan dengan napas tersenggal dan tubuh gemetar.  Zaif mengatakan: 

… لا تتصرف كأنك أنت الذي ناك

Sekarang, jika kita meminta AI untuk menerjemahkan kalimat tersebut, ia akan menjawab seperti ini: 

“Jangan bertindak seolah-olah kamulah yang telah menjamahnya!” 

Barangkali hasil terjemahan tersebut terasa sempurna dan tak memiliki celah. Namun jika melihat watak Zaif yang agresif, pemarah, sarkas, dan blak-blakan, terjemahan tersebut menjadi kurang tepat. AI hanya mampu menyentuh makna proposional tekstualnya, tetapi gagal dalam menangkap makna ekspresif—yaitu muatan emosi kasar yang melekat pada karakter Zaif. Kata ‘menjamah’ terlalu sopan untuk mewakili sosok Zaif. Keputusan yang saya ambil dalam menerjemahkan kalimat di atas adalah:

“Jangan berlagak seolah kamu yang habis ngewe!” (Kutukan Bocah Palestina hlm 49, terbitan Anagram). 

Barangkali contoh di atas masih menunjukkan bahwa AI tidak payah-payah amat, dan karenanya kita tetap bisa melimpahkan kerja penerjemahan sepenuhnya kepadanya. Baiklah, saya berikan contoh lain dari novel Perempuan di Titik Nol karya Nawal El Saadawi. 

Dalam salah satu adegan, terjadi percakapan makar antara paman Firdaus dan istrinya yang ingin mengenyahkan si gadis dengan menikahkannya dengan duda tua berwajah mengerikan. Ketika sang paman ragu, barangkali duda tua itu hanya mencari calon istri dari keluarga kaya, istrinya segera menyekakmat dengan mengatakan bahwa mereka bukanlah keluarga miskin dan keadaan mereka jauh lebih baik ketimbang banyak orang. Lalu, paman Firdaus menjawab seperti ini: 

أي نعم، نحمده و نشكره سبحانه و تعالي علي كل شيء، أي نعم، نحمده و نشكره

Mari kita minta AI untuk menerjemahkannya, dan kita akan mendapat dua opsi jawaban: 

  • Ya, benar, kita puji dan bersyukur kepada-Nya, Maha Suci dan Maha Tinggi Dia, atas segala sesuatu. Ya, benar, kita puji dan bersyukur kepada-Nya.
  • Benar adanya, kami memuji dan bersyukur kepada-Nya—Subhanahu wa Ta’ala—atas segala hal. Benar adanya, kami senantiasa memuji dan bersyukur kepada-Nya.

Secara kaidah gramatikal dan makna leksikal, kedua terjemahan tersebut tidaklah keliru. Namun, AI gagal memenuhi makna evokatif. Jika kita membawanya ke dalam konteks kultural Indonesia, percakapan literal seperti itu terdengar sangat kaku dan tidak wajar; bukan begitu cara orang Indonesia berbicara saat mengekspresikan rasa syukurnya. 

Dengan mempertimbangkan cara orang Indonesia bertutur kata agar dialog terasa hidup, maka saya memutuskan untuk menerjemahkannya dengan: 

“Benar, alhamdulillah, alhamdulillah…” (Perempuan di Titik Nol, hlm. 28, terbitan Kakatua).

Terbuktilah bahwa AI tetap tidak bisa menggeser peran penerjemah. Bagaimanapun, AI hanyalah alat yang bisa kita gunakan untuk membantu pekerjaan kita, namun tak akan pernah bisa menjadi tuan. 

Dalam buku Fann at-Tarjamah wa at-Ta’rib, Abbad Diraneyya membahas mengenai metode-metode menerjemahkan. Di antaranya, cara manual dengan menggunakan bantuan kamus, dan cara yang lebih modern, yaitu menerjemahkan dengan bantuan mesin komputer. Cara kedua ini sering dipakai oleh perusahaan dan lembaga resmi untuk menerjemahkan dokumen-dokumen resmi yang memiliki templat redaksi yang cenderung berulang. 

Secara tidak langsung, Diraneyya mengakui kegunaan mesin dalam proses penerjemahan. Namun, ia sendiri membedakan secara tegas antara الترجمة الآلية (machine translation) dan الاستعانة بالآلة  (computer-assisted translation). Yang pertama, seluruh beban penerjemahan dilimpahkan sepenuhnya kepada mesin, sementara yang kedua menjadikan komputer hanya sebagai alat yang mempermudah pekerjaan penerjemah. 

Diraneyya kemudian menjelaskan bahwa mengandalkan machine translation secara total akan melumpuhkan kemampuan penerjemah dalam mengembangkan bakat kepengarangan, serta berpotensi memberangus aspek estetis dalam hasil penerjemahan. Kekhawatiran Diraneyya ini sejalan dengan apa yang disuarakan oleh Muhammad Anani; ketika seluruh beban dialihkan ke mesin, kita sedang membunuh identitas penerjemah sebagai seorang ‘penulis’ yang kreatif.

Karena itu, dalam penerjemahan—khususnya penerjemahan sastra—posisi penerjemah manusia tidak akan pernah bisa digeser oleh mesin. Sastra menuntut penghayatan yang melibatkan indra perasa manusia untuk meraba emosi dan konteks tersembunyi yang membangun cerita; sesuatu yang jelas tidak dimiliki oleh algoritma mesin. 

Namun, terlepas dari itu, menjadi penerjemah hari ini memang sial. Dan saya akan mengakhiri tulisan ini dengan permintaan yang tidak muluk-muluk. Jika Anda sekadar ingin memindahkan kata, silakan pakai AI. Namun jika Anda ingin naskah terjemahan yang memiliki nyawa, Anda tahu ke mana harus mencari kami: di antrean puskesmas, menyamar menjadi ibu rumah tangga.

Tentang Penulis

Zulfah Nur Alimah

Zulfah Nur Alimah adalah lulusan Magister Kritik Sastra Arab di Universitas Al-Azhar Kairo pada tahun 2021. Selama menetap di Mesir, ia aktif dalam komunitas sastra pelajar Indonesia bernama Rumah Budaya Akar. Di komunitas tersebut, ia mengasah kemampuannya dalam menulis cerpen dan esai. Sejak tahun 2017 hingga 2020, ia menjadi kontributor Kintaka.co asuhan Rumah Budaya Akar dengan tulisan-tulisan yang fokus pada tema kesusasteraan Arab, politik Timur Tengah, dan cerita pendek. Novel Arab pertama yang ia terjemahkan adalah karya Hoda Barakat berjudul Surat-Surat Malam terbitan Moooi Pustaka. Sejak saat itu, ia konsisten menerjemahkan novel-novel Arab kontemporer, termasuk novel Detail Kecil karya Adania Shibli. Ia juga menuliskan cerpen. Cerpen terakhirnya dimuat Kompas.id berjudul "Ibu".

Baca Biografi Selengkapnya →
Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.