Lewati ke konten

Puisi-puisi Valentino S.

July 21, 2026 · Valentino S.

Puisi-puisi Valentino S.

Kalimat Paling Sepi Adalah Tubuh Sendiri

Tubuhku pernah jadi padang,
dihinggapi makna yang samar dan terang.
Pundak menyimpan beban yang diam-diam matang,
sementara tulang, hanya tahu caranya menegang.

Tak ada yang lebih sunyi
dari telapak kaki yang berjalan sendiri.
Tanpa tujuan, tanpa janji,
hanya gema langkah dalam ruang yang basi.

Aku bicara pada tulang rusuk:
mengapa kau lindungi dada yang tak pernah utuh?
Ia menjawab lewat detak yang redup,
“Karena retak adalah rumah yang cukup.”

Di antara igau dan doa,
kadang tubuh ini mengurai luka.
Bukan darah yang keluar,
melainkan kalimat-kalimat yang tak bersuara.

Setiap luka adalah bahasa,
dan kulitku adalah kamus yang pura-pura terbiasa.
Ada sunyi yang tak sempat kusalin,
karena tubuhku enggan jadi puisi yang ringkih.

Aku pernah ingin mengganti kepala
dengan kertas putih dan pena.
Agar isi pikiranku lebih jujur
dari mata yang sering kabur.

Namun tubuh tetaplah tubuh,
ia menyimpan kenangan tanpa album,
merapal duka tanpa perlu musik,
dan menyayangi siapa pun yang memilih pergi.

Kalimat paling sepi adalah tubuh sendiri.
Tak bisa berteriak, tak bisa pergi.
Ia hanya diam, menampung isi-
dari cinta yang gugur sampai benci yang abadi.

 

Tuhan, Kau Tidak di Daftar Kontak

Ponsel kubuka dengan ragu dan cemas,
menyusuri daftar nama yang lama terlepas.
Kuketik “Tuh-” dengan hati yang lemas,
yang muncul malah nomor yang tak kukenal jelas.

Tukang servis, kurir, dan mantan,
semuanya hadir, tapi bukan yang diharapkan.
Kupencet satu-satu, tanpa kepastian,
yang kudengar hanya suara pelan: “sambungan terputuskan.”

Kupikir Kau mudah dipanggil malam-malam,
di sela deru angin dan bising salam.
Namun sinyal-Nya tenggelam dalam diam,
doaku hanya berputar di ruang kosong yang kelam.

Kutulis pesan: “Tuhan, sedang apa Kau malam ini?”
tapi kuhapus sebelum selesai, takut ditertawai sunyi.
Apa Kau lupa bahwa aku masih di sini?
Menunggumu seperti hujan menanti langit berseri.

Kucari jejak-Mu di memo dan catatan,
yang kutemukan hanya puisi setengah tulisan.
Kalimat yang patah, doa yang enggan,
seolah Kau bosan kujadikan pelarian.

Kupanggil-Mu dalam tangis yang lirih,
di antara kipas, nyamuk, dan temaram bersih.
Kau tak muncul walau kusebut lirih,
mungkin Kau muak aku hanya datang saat sedih.

Kupikir Kau bisa diblokir dan dibuka sesuka,
seperti akun yang kubisukan saat luka.
Tapi Kau bukan aplikasi yang bisa kupaksa,
Kau senyap – bahkan ketika kupeluk udara dengan nestapa.

Folder “favorit” hanya berisi kenangan,
tentang masa kecil dan suara pengajian.
Kini hidup serupa notifikasi pinjaman,
tanpa jeda, tanpa Tuhan, tanpa tujuan.

Kuketik ulang nama-Mu dengan harapan,
tapi tak kunjung muncul dalam pencarian.
Mungkin Kau sembunyi di balik keramaian,
atau Kau tak lagi suka dipanggil dengan permintaan.

Kau bukan nomor darurat di HP lamaku,
bukan pula suara ibu yang menenangkanku.
Jika Kau masih Tuhan yang dulu kupanggil waktu kecil dulu,
muncullah walau sekali, walau sekadar dalam mimpiku.

Kuselipkan doa dalam folder “draf”,
berharap Kau baca sebelum aku lelap.
Jika pun tiada jawaban atau lafaz,
kuletakkan rinduku dalam puisi yang nyaris lenyap.

 

Pada Suatu Kediaman

Ada waktu yang bergetar
bukan karena guncang gempa
melainkan bisik yang samar
di sela jendela dan kepala.

Aku kira tenang itu senyap
seperti kamar tanpa jam
padahal tenang juga bisa hangat
seperti tubuh dalam selimut malam.

Ada kursi tak pernah kosong
ada lampu yang tak pernah terang
ada kopi yang tak pernah gosong
tapi selalu dibuat orang yang pulang.

Aku cari bukan pelarian
aku tanya bukan ujian
aku diam bukan tekanan
aku hanya lelah jadi pertanyaan.

Jika kau lihat aku menyepi
bukan berarti aku sunyi
jika kau lihat aku tak pergi
mungkin karena dunia terlalu ramai dalam diri.

Aku tak butuh nama di layar
atau cinta yang berputar-putar
aku butuh udara yang sabar
dan mata yang tak menuntut benar.

Jangan tanyakan aku lagi
soal pesta, denting, atau janji
aku pernah mencoba jadi ramai
dan hanya jadi suara yang usai.

Kini aku rindu hal yang wajar
bangun pagi tanpa gelisah
makan siang tanpa debat
tidur malam tanpa salah.

Di luar sana banyak yang riuh
tapi tidak semua itu utuh
di dalam dada ini tak perlu megah
cukup damai yang tidak meledak, tidak mewah.

Karena aku sudah cukup
jadi peran utama di drama yang murung
dan kini hanya ingin menjadi sunyi
yang tidak perlu dipuji ataupun dirundung.

Aku tidak lagi mau menang
jika harus jatuh di tengah gelanggang
aku hanya ingin tenang,
bukan hanya senang-senang.

 

Tanda Baca

Kukirim kata yang kau abaikan,
tak sudi kau susun jadi kalimat.
Kau lebih sibuk menulis jalan
tanpa jejakku di tiap tanda.

Kupikir aku titik, atau koma,
tapi kau hapus tanpa jeda.
Kau tulis hidup seolah lancar-
padahal aku tak dibaca.

Tak apa. Aku belajar pelan:
tak semua jeda butuh sambungan.
Beberapa luka tak ingin tuntas,
cukup menggantung, tak selesai.

 

Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.