Lewati ke konten

Mengapa Ada Hari yang Buruk untuk Mangongkal Holi

July 21, 2026 · Radja Sinaga

Mengapa Ada Hari yang Buruk untuk Mangongkal Holi

MATAKU terbuka perlahan ketika langit sudah biru cerah, tak ada gumpalan-gumpalan air dan kristal es yang memadat di atas sana dan tiba-tiba berubah menjadi gelap. Kepalaku terasa berdenyut dan nyeri. Aku ingin segera bangkit dari tempat aku terbaring tetapi aku layaknya seorang pasien yang masuk ke dalam tabung elektron.

Sejenak aku mengatur nafas. Bagaimana pun, menenangkan diri, seperti layaknya seseorang yang baru saja bangun—entah di pagi, siang, sore, malam, dan dini hari—adalah hal yang penting dilakukan. Setelah merasa detak jantung dan ritme nafasku dalam kondisi yang normal, aku memicingkan mata ke segala arah.

Aku melihat ke arah pergelangan tangan, kini tak lagi berwarna sawo matang. Begitu juga bajuku yang awalnya berwarna abu-abu telah tampak berubah. Melihat itu, aku pun kembali terkenang ke masa kecil, asyik berwain tanah dan lumpur, yang kemudian menjadi alasanku takut pulang ke rumah karena seseorang yang aku panggil mama telah menunggu di depan rumah sambil berkacak pinggang tapi entah bagaimana perempuan itu tetap saja terlihat cantik bagiku—tentu bukan karena dirinya sudah mandi dan berdandan diri.

Sorot bola mataku berpindah lebih ke bawah sedikit. Tidak seperti pergelangan tangan, aku tidak menemukan kakiku. Aku sedikit cemas. Lalu berubah menjadi kepanikan setelah aku terlalu mementingkan kaki. Padahal, aku tahu, area pinggangku kini juga tak kelihatan. 

Kemudian aku mengedarkan pandangan ke arah kiri dan kanan; semuanya tampak nyaris sama. Banyak bata berserakan acak, peti-peti kecil—aku tak bisa menghitung jumlahnya—menghambur ke segala arah, dua peti besar yang berdiri miring karena sekelilingnya bertumpuk tanah mengunduk. Aku melihat ke arah langit dan tak menemukan burung-burung jenis apa pun di sana, begitu juga dengan pepohonan. Tak ada.

Sejenak aku mengatur nafas. Bagaimana pun, menenangkan diri, seperti layaknya seseorang yang baru saja bangun—entah di pagi, siang, sore, malam, dan dini hari—dan menemukan hal yang berbeda dari waktu-waktu sebelumnya adalah hal yang penting dilakukan. Setelah merasa detak jantung dan ritme nafasku dalam kondisi yang normal, aku pun mengingat kembali apa yang terjadi dua jam sebelumnya.

***

Dua lelaki masih mengetuk-ngetuk dinding rumah itu ketika aku akhirnya sampai di sana. Aku sedikit terlambat datang. Sudah banyak orang yang lebih dulu sampai. Aku melihat masing-masing tangan kedua lelaki itu, dengan palu dan besi pemahat, menghancurkan dinding, sementara langit yang semenjak awal gelap menjatuhkan beberapa butir air.

“Ngga bisa lagi dibuka gembok dan teralisnya. Udah terlalu tua.” Salah satu dari mereka mengatakan itu. Aku masih di posisi yang sama.

Kini satu bulir air mengenai kacamataku. Aku melihat ke atas, langit menjadi lebih gelap dari sebelumnya. Memang, saat akhirnya keluar rumah, aku memandang langit di kejauhan telah tak lagi putih atau biru cerah. Karena itulah, orang-orang yang bertujuan sama dengan diriku melangkahkan kakinya lebih cepat.

Namun aku tak bisa demikian. Aku harus berjalan lebih lambat, nyaris memangkas setengah kecepatanku berjalan pada hari-hari biasanya di perkotaan, tempat diriku bekerja dan menghabiskan sisa umur yang dipunya. Semua itu aku lakukan karena kedua orangtuaku. Mereka telah uzur. Salah satu dari mereka mengidap penyakit stroke lima belas tahun lalu, saat aku masih mengenakan pakaian putih-biru di sekolah. Meski telah bisa berjalan seperti biasanya, tidak ada penyakit yang seluruhnya lesap dari tubuh, termasuk stroke, begitu yang dikatakan dokter waktu itu dan akhirnya aku yakin akan ucapan itu. Sementara yang satunya, meski tidak pernah mengidap sakit keras dan parah apa pun, harus berjalan beriringan dengan pasangan sehidup sematinya itu. Dan aku berada di depan mereka, membuat jarak dua hingga empat langkah, tetapi cukup menggapai ketika langkah mereka mulai oleng dan aku melompat.

Jika saja ini pedestrian, aku mungkin tidak perlu melakukan hal merepotkan semacam itu. Mataku harus terpacak ke langkah kaki mereka sambil bersuara untuk memilah undukan tanah yang layak untuk dipijaki. Baik tanah itu dan kaki mereka sama belaka. Rapuh. Aku meyakini hal itu karena segalanya telah berubah.

Terakhir kali aku ke sini, saat masih mengenakan pakaian putih-merah di sekolah. Sepanjang jalan dari rumah yang aku tinggalkan barusan ke rumah yang hendak aku tuju saat ini berjajar padi-padi dengan model terasing, lalu melangkah lagi ke depan akan diperlihatkan jajaran jagung-jagung di kanan kiri; tak lama setelah memunggungi itu akan tampak ketela-ketela; dan ketika akhirnya semua itu tertinggal seperti jejakku di belakang maka akan ada pohon-pohon besar dan tegap dan hijau yang daun-daun beserta rantingnya menutupi banyak cahaya.

Namun kini aku tak lagi menemukan hal seperti itu. Kecuali kepada ketela-ketela itu.

“Itu ketela racun,” kata salah seorang dari mereka yang aku awasi sejak tadi.

“Apa bedanya?”

“Ketela yang tak bisa dimakan. Siap panen langsung dikirim ke tengkulak dan diproses di pabrik.”

Setelah melakukan perjalanan yang cukup melelahkan itu, aku dan mereka akhirnya sampai. Tentu aku meyakini itu jalan yang melelahkan karena harus mengerahkan fokus lebih untuk berjalan dengan dua kaki tetapi bertanggungjawab atas enam kaki. Selain itu, lelah yang aku dapati karena udara membuatku gerah dan berpeluh keringat; tak seperti dulu yang sejuk meski tengah hari.

Sejenak aku mengatur nafas. Bagaimana pun, menenangkan diri, seperti layaknya seseorang yang baru saja menempuh perjalanan kaki—entah di pagi, siang, sore, malam, dan dini hari—adalah hal yang penting dilakukan. Setelah merasa detak jantung dan ritme nafasku dalam kondisi yang normal, aku pun melihat kedua lelaki tengah berupaya menghancurkan dinding rumah itu. 

Pekerjaan itu seharusnya telah selesai dilakukan kemarin. Namun, selalu saja ada hal yang tak terduga. Kemarin, ketika semua tulang-tulang berhasil dikumpulkan, langit telah gelap sepenuhnya, tetapi bukan karena awan yang hendak memuntahkan air.

Dan aku pun menghela nafas. Apakah hari ini akan bernasib seperti kemarin? Aku pun mengingat kembali apa yang terjadi sehari sebelumnya.

***

Jaraknya lebih dari lima ratus meter. Rute yang menanjak. Tak ada tumbuhan yang bisa dijadikan pegangan selama mendaki. Letaknya tak jauh dari sungai yang mengairi beberapa ladang warga pada dulunya. Kini sungai itu seperti sungai-sungai yang sering aku lihat kala berkunjung ke daerah-daerah paling timur dalam geografis waktu Indonesia barat. Hanya ada batu-batu cadas dari ukuran genggaman tangan balita hingga sebesar dua hingg tiga orang dewasa. Tak ada air sedikitpun di sana.

“Padahal belum musim kemarau,” kataku kepada salah satu dari mereka yang jalannya aku tuntun dan aku awasi.

Hanya diam.

“Tak masalah kita gali tanah di sekitan ini, Ma?”

Perempuan itu melirikku.

“Begitu memang yang disampaikan datu.”

Itulah yang dikatakan datu tersebut. Di perkotaan tempat aku tinggal, orang seperti itu tak lebih disebut dukun semata. Keahliannya cuma bisa merasuki dan dirasuki arwah-arwah. Dukun itu, aku mendengar dengan jelas ucapannya, mengatakan tulang terakhir, tulang dari kakeknya kakekku, yang paling sulit ditemukan, sebab dipanggil melalui berbagai cara yang diyakini orang-orang kampung tak kunjung berhasil, berada di sana, dekat dengan sungai yang tak lagi mengalir. Di sana, dulunya dirinya dikubur.

“Tapi ini tanah orang. Kayak mana kalau orangnya tahu dan marah?”

“Dari bawah sampai di atas sini, semuanya masih tanah kita.”

“Kenapa kondisinya begini?”

Salah satu dari mereka tak menjawab perkataanku. Sejenak aku mengatur nafas. Bagaimana pun, menenangkan diri, seperti layaknya seseorang yang baru saja menempuh perjalanan kaki dan mengalami keanehan-keanehan yang tak pernah dialami orang-orang metropolitan—entah di pagi, siang, sore, malam, dan dini hari—adalah hal yang penting dilakukan. Keanehan itu, aku anggap atas apa yang diucapkan dukun itu.

Aku masih mengingatnya dengan jelas. Dukun itu kemasukan arwah setelah beberapa rempah yang tak aku kenali jenis dibakar dan sebuah mangkuk berisikan air dengan perasan jeruk yang pernah digunakan bertahun-tahun lalu kala aku terserang penyakit yang tak bisa diobati dokter. Dukun itu memuntahkan kata-kata yang kasar kepada keturunan-keturunannya. Dukun itu memarahi keturunan-keturunannya yang mengganti jenis tanaman yang biasa ditanami orang-orang dahulu. Dukun itu menyesali keturunan-keturunannya yang menjual sedikit demi sedikit lahan ke perusahaan yang mengolola bubur kayu.

Aku masih ingat, sebelum akhirnya dukun itu tersadar, mengucapkan sebuah penanda lokasi kuburan, arwah yang bersarang di dalam dirinya mengutuk seluruh keturunannya, mengatakan apa yang hendak kami kerjakan tidak lagi berarti, meski pekerjaan ini adalah harga diri bagi suku kami, terlebih rumah yang dibangun sangatlah besar dan megah.

Sejenak aku mengatur nafas. Bagaimana pun, menenangkan diri, seperti layaknya seseorang yang baru saja dikutuk oleh arwah—entah di pagi, siang, sore, malam, dan dini hari—adalah hal yang penting dilakukan.

***

Aku masih di tempat yang sama dengan kondisi tubuh yang sama. Dua jam lalu, aku masih berdiri dan mengingat bagian apa yang belum berkelebat dengan hebat. Lantas sejenak aku mengatur nafas. Bagaimana pun, menenangkan diri, seperti layaknya seseorang yang baru saja mendapatkan ingatannya kembali—entah di pagi, siang, sore, malam, dan dini hari—adalah hal yang penting dilakukan.

Aku memperhatikan ke sekeliling dan tidak ada yang berubah kecuali di atas sana sedikit mulai menggelap. Aku berusaha menggerakkan kakiku tapi semua sia-sia belaka.

Namun aku bersyukur, setidaknya aku masih bisa merasakan, itu pertanda aku masih memiliki seluruh tubuhku. Aku juga bisa merasakan basah tanah. Lalu rasa sakit yang lain mulai aku rasakan di bawah kuku. Rasanya perih karena kulit-kulitnya terkelupas. Kulit-kulit itu hancur sedikit demi sedikit karena jariku berusaha memisahkan tanah-tanah yang menempel di tulang-tulang seseorang yang aku sebut sebagai kakek, saat langit sepecah-pecahnya, menurunkan air dalam jumlah yang besar, yang kini baru aku sadari menggeser tanah-tanah yang aku injak, yang tak bisa dielak karena tak ada akar-akar dari pohon-pohon yang menghilang setelah puluhan tahun aku kembali lagi ke sini. 

Sejenak aku mengatur nafas. Bagaimana pun, menenangkan diri, seperti layaknya seseorang yang baru saja selamat dari kutukan—entah di pagi, siang, sore, malam, dan dini hari—adalah hal yang penting dilakukan.***

 

Catatan:

[1] Mangongkal Holi adalah tradisi masyarakat Batak dengan melakukan penggalian kuburan dan memindahkan tulang-belulang ke dalam peti yang lebih kecil.

[2] Jeruk di cerpen ini adalah jeruk purut, sering digunakan untuk berbagai hal yang menyangkut aspek-aspek spiritual, digunakan untuk sebagai pembersih dari berbagai hal.

 

 

Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.