Peristiwa
Tak Ada Hari Sabat buat Mas Tholow
September 6, 2026 · Agusta Mario
Delapan hari di Embung Giwangan, apakah seperti tujuh hari dalam kisah penciptaan? tanyamu dalam hati. Hati yang tak pernah menerima hosti pada hari Minggu sebelumnya hingga Minggu sore itu (30/08/2026). Tapi, kisah di Kitab Kejadian itu hanya sampai angka tujuh. Angka yang dianggap keramat sekaligus sempurna dalam beberapa kepercayaan. Sedang angka delapan, bagimu tak mengandung nilai simbolik apa-apa selain kerja, kerja, dan kerja.
Jikalau dirincikan, maka kisah penciptaan Kitab Kejadian terdiri dari: Hari pertama, Tuhan menciptakan terang dan memisahkannya dari gelap. Hari kedua, dipasangkannya cakrawala sebagai batas antara air di atas dan air di bawah. Hari ketiga, memisahkan daratan dari lautan kemudian menumbuhkan tumbuh-tumbuhan. Hari keempat, diciptakan-Nya benda-benda penerang di langit. Hari kelima, giliran segala jenis makhluk hidup di dalam air. Hari keenam, tercipta hewan darat dan manusia yang serupa dengan-Nya. Hari ketujuh, Tuhan berhenti dari segala pekerjaan dan menguduskan hari itu sebagai Sabat (hari peristirahatan).
Demikian pula dengan Tholow Veloce. Bukan untuk mengglorifikasi, tapi kau hanya ingin memetaforakan peristiwa FSY x Bienial Sastra Indonesia Modern dan mempersonifikasikan Tholow yang terkadang dianggap angin lalu oleh para hadirin. Kendati tak sefamiliar suara Paksi Raras Alit dan seikonik peci Fairuz Mumtaz, Tholow bagimu tetap tak bisa dipandang sebelah mata.
Ia yang berandil besar dalam menciptakan suasana di halaman gedung Grha Budaya. Ia yang sedari hari pertama menjadi penunggu dan empunya senja hari. Ia yang dengan gitar, topi hitam, dan pose duduk berpangku kaki menjadi penghuni tetap panggung itu.
Tapi sayangnya, kau tidak bisa setia menemani Tholow di halaman, di setiap senja yang kadang dipenuhi pengunjung, kadang juga tidak. Sebab dari hari pertama, kau disibukkan urusan meliput dan mesti menepi di sudut-sudut aula untuk merampungkan tujuh ratus kata. Menjauhkan diri dari riuh tawa pengunjung, dari sumbang suara para pembaca puisi.
Memang pada mulanya kau tak menaruh perhatian pada Tholow. Sangkamu, ia tak berbeda dari para musisi umumnya yang kalau menyanyikan lebih dari satu judul lagu tidaklah akan betah duduk berjam-jam. Apalagi double job-nya termasuk mengiringi pembacaan puisi. Tapi Tholow berhasil mematahkan sentimenmu.
Keberhasilan Tholow terjadi kali pertama ketika kau sedang menepi di dalam aula. Di Senin sore (24/08/2026), saat kau serius mencari kalimat pembuka di paragraf awal, tiba-tiba alunan Stand By Me gubahan Oasis menyusup masuk ke dalam lorong menuju ruang makan. Ia menggema, sehingga suara Tholow sedikit terdengar jelas. Pelafalannya lugas dan bunyi petikan gitar begitu jernih.
Kali kedua terjadi ketika kau menghadiri diskusi buku (25/08/2026). Waktu itu diskusi hampir selesai, narasumber menghela napas, dan moderator meletakkan mik, lalu I Live My Life For You milik Firehouse dilantunkan dari luar. Dan untuk kesekian, kau dibuat terpukau dengan suara Tholow, lalu terkenanglah sang vokalis C. J. Snare yang telah meninggal delapan April 2024 silam.
Di waktu yang sama, seorang teman di samping, Alvin namanya, menepuk bahumu lalu berkata, “Gus, ini lagu yang biasa kau putar di kanbun, kan?” Anggukan pelan adalah balasanmu terhadap interupsinya. Ketika kau menutup mata dan melafalkan penggalan lirik-lirik di dalam hati. Hati yang tak pernah menerima hosti di Minggu pagi.
I live my life for you
I want to be by your side in everything that you do
And if there’s only one thing you can believe is true
I live my life for you
Kali ketiga mungkin yang paling berkesan karena bertepatan di Minggu malam itu (30/08/2026). Di hari kedelapan yang esoknya, pikirmu adalah hari Sabat bagi Tholow. Malam itu kau disoraki hadirin, yakni teman-temanmu untuk maju ke panggung menemani Tholow. Kau gugup bukan main saat berdiri di sampingnya.
Kegugupan semakin tampak jelas ketika tanganmu bergetar menggenggam ponsel dan wajahmu tak bisa menghadap hadirin, hanya tunduk membaca lirik sepanjang Always Remember Us This Way dinyanyikan.
So when I’m all choked up, but I can’t find the words
Every time we say goodbye, baby, it hurts
When the sun goes down
And the band won’t play
I’ll always remember us this way
Sebenarnya kau ingin membawakan satu judul lagu lagi, tapi dengan melihat letih wajah Tholow kau tiba-tiba merasa iba. Tiba-tiba segala penampilannya di tiap sore, yang hanya berhenti untuk membakar rokok dan saat tiba jam makan, seakan mematahkan egomu.
Selain itu, untuk membayangkan bagaimana siasat Tholow menemukan ragam melodi ketika mengiringi pembacaan puisi, bagimu sangat mustahil. Semustahil mempercayai deskripsi Kitab Kejadian yang komikal itu. Dan jikalau ada yang ingin mendeskripsikan tugas Tholow selama delapan hari, bisa langsung berangkat dari kisah Kejadian di atas. Sebab sejauh pengamatanmu, ia tak bisa dirangkum dengan hanya tujuh ratus kata.
Kau jadi teringat omongan temanmu di malam terakhir itu, “Mas Tholow nanti tampil di JBF.”
Mendengarnya, kau pun tepekur memikirkan nasib Tholow yang dikontrak sana-sini. Betapa tugas menciptanya selama delapan hari akan berlanjut sebelas hari lagi.
Nah, kau pun bingung mau mempersonifikasikan Tholow sebagai apa, sebab di kalenderium hidupnya sudah tak ada hari Sabat. Kenyataan itu mematahkan imanmu.

Agusta Mario
Lahir di Ende Flores-NTT. Kini sedang berkuliah di Universitas Negeri Yogyakarta jurusan Sastra Indonesia tahun ketiga