Lewati ke konten

Peristiwa

Uji Koding “Perintah Rahasia” Muhammad Qadhafi

September 6, 2026 · M. S. Hadi

Kita telah mengenal sastra digital, di mana sastra tidak hanya berupa teks tetapi juga ada tambahan perangkat digital seperti audio dan visual untuk menambah pengalaman membaca sebuah karya. Lantas, bagaimana jika AI (Artificial Intelligent) ikut nyastra? Bukan membantu mengumpulkan data seperti yang dilakukan pemenang nobel sastra Olga Tokarczuk, atau memintanya menulis karya sastra seperti yang dilakukan Martin Suryajaya misalnya, tetapi menyertai karya itu sendiri seperti halnya audio dan visual dalam sastra digital.

Lebih dari itu, bagaimana jika bentuk karya sastra ini menggunakan bahasa koding, di mana pembaca bisa mengubah kode tertentu untuk mempengaruhi jalan cerita. Gagasan itulah yang ditawarkan Muhammad Qadhafi melalui cerpennya, Perintah Rahasia. Cerpen ini menghadirkan pengalaman membaca yang berbeda dari karya sastra konvensional karena pembaca tidak langsung mendapatkan cerita yang sudah jadi, melainkan kode JSON yang harus disalin dan dimasukkan ke model AI seperti ChatGPT atau Gemini. Dari kode tersebut, cerita kemudian dihasilkan oleh AI.

Pertanyaan mengenai posisi karya inilah yang menjadi pokok acara Diskusi Publik dan Uji Publik Sastra Koding dalam rangkaian Bienial Sastra Indonesia Modern x Festival Sastra Yogyakarta (FSY) 2026, Sabtu, 28 Agustus. Diskusi ini secara khusus menguji apakah Perintah Rahasia dapat disebut sebagai sastra koding. Jika ya, maka ini sekaligus bisa dibilang menjadi deklarasi lahirnya jenis sastra baru atau setidaknya percobaan awal menuju kemungkinan tersebut.

Diskusi menghadirkan dua narasumber, yakni An Ismanto, redaktur Suku Sastra yang juga aktif dalam sejumlah komunitas sastra di Yogyakarta, dan Agus A. Pribadi, SEO consultant sekaligus penggemar sastra yang sehari-hari dekat dengan dunia koding. Diskusi dipandu Marisa Santi Dewi, peneliti independen dalam kajian sastra dengan peminatan sastra digital.

Diskusi dimulai dari Agus A. Pribadi dan langsung ke pokok permasalahan. Menurutnya, penggunaan JSON belum cukup untuk menyebut sebuah karya sebagai sastra koding. Dalam pemrograman, JSON lebih berfungsi sebagai format atau sarana pertukaran data dan perintah, bukan koding dalam pengertian membangun sistem yang dapat berjalan sendiri.

“Untuk menyebutnya sebagai sebuah sastra koding yang definitif, ini belum selesai. Masih ada proses uji coba dan banyak hal yang harus dilalui sehingga sastra koding sebagai sebuah definisi dari gerakan sastra tertentu yang mengusung semangat dan estetika tertentu itu bisa dipertanggungjawabkan di depan publik,” ujarnya.

Namun, Agus menekankan, itu bukan berati dirinya menolak eksperimen Qadhafi. Sebaliknya, ia melihatnya sebagai tawaran yang optimistis untuk membuka kemungkinan kolaborasi antara sastra dan teknologi. Menurutnya, yang lebih penting bukan mempertentangkan sastra dengan koding, melainkan mencari ruang pertemuan keduanya.

“Jadi, kalau saya sih, nggak usah memisahkan antara sastra dan koding, tapi lebih ke bagaimana sastra dan koding ini menjadi sebuah ruang kolaborasi, sehingga penelitian sastra koding itu sendiri jadi lebih penuh dan bisa diperkenalkan,” jelasnya.

Sementara itu, An Ismanto melihat cerpen Qadhafi dari posisi berbeda. Latar belakangnya sebagai seorang sastrawan dan pegiat sastra membuatnya cenderung membaca Perintah Rahasia sebagai karya sastra. Namun, sedikit pengalamannya dalam dunia koding membuatnya memahami bahwa karya ini juga memiliki dimensi IT yang kuat.

“Cuma saya perhatikan struktur kodenya, struktur kode mentah yang tampil di sini, dia sangat rigid,” ujarnya.

Menurutnya, eksperimen Qadhafi menarik karena menggabungkan dua keterampilan yang selama ini sering dipisahkan, yakni kemampuan sastra dan kemampuan teknis untuk mengolahnya menjadi struktur data dan perintah.

“Oh, berarti diperlukan dua keterampilan pada diri satu orang untuk mewujudkan konsep ini. Dia harus punya skill koding, koding yang begitu tadi, ya, seperti penjelasan Mas Agus tadi,” jelasnya.

Permasalahan lain terkait cerpen ini adalah peran AI. Dalam eksperimen Qadhafi, AI disebut sebagai co-author, tetapi posisi tersebut masih perlu dipertanyakan secara teoritis. Ketika kode yang sama dimasukkan ke dalam platform AI yang berbeda, misalnya ChatGPT dan Gemini, hasil ceritanya dapat berubah.

Agus menjelaskan bahwa perbedaan itu terjadi karena setiap model memiliki database, mekanisme pemahaman, dan sistem generasi yang berbeda. Karena itu, perhatian tidak seharusnya hanya diarahkan kepada AI sebagai alat, tetapi juga kepada prompting dan epistemologi di balik proses tersebut.

Melihat peran AI dan keterlibatan pembaca atau pengguna dalam menentukan hasil akhir cerita, Agus menyebut kondisi ini sebagai “kuasa yang terdistribusi.” Ia menjelaskan, dalam karya generatif, pembaca tidak lagi hanya menjadi pihak yang menafsirkan teks yang sudah selesai. Pembaca dapat mengubah nama tokoh, peristiwa, konteks, atau parameter tertentu sehingga menghasilkan kemungkinan cerita yang berbeda.

“Kalau saya ubah nama menjadi nama yang lain, apakah hasil keseluruhan cerita juga akan berubah? Kalau saya mengubah peristiwanya yang seharusnya terjadi di X, lalu menjadi di Y, bagaimana struktur narasinya berubah?,” katanya.

Dengan demikian, pembaca memiliki keterlibatan langsung dalam proses pembentukan pengalaman terhadap karya.

Ini menimbulkan keresahan lain bagi An Ismanto yang sudah lama bergelut dalam dunia kepengarangan. Ia menjelaskan, dalam tradisi sastra, karya sering dipahami sebagai hasil pengalaman autentik dan ekspresi personal seniman. Penulis dianggap memiliki kuasa untuk mengolah pengalaman tersebut menjadi karya. Ketika AI dan pembaca ikut menentukan hasil akhir, ekspresi personal tersebut menjadi lebih problematis karena proses kreatif tidak lagi sepenuhnya berada di tangan pengarang.

“Nah, makanya menjadi problematis ketika Mas Agus menyebut kuasa yang terdistribusi. Kalau begitu, si seniman sudah tidak lagi utuh. Ekspresinya sudah tercampuri oleh orang luar. Karyanya tidak lagi bersifat pribadi. Sudah memang kolaboratif. Tetapi unsur ekspresifnya, kelegaan atau ekspresi seniman, di manakah posisinya sekarang?” tanya An Ismanto.

Namun keduanya sepakat meski otoritas Qadhafi tidak sepenuhnya hilang, ia tetap menjadi sumber gagasan dan pencipta karya. Qadhafi masih memiliki kendali terhadap struktur dan ide dasar, sementara AI membutuhkan perintah manusia untuk menghasilkan keluaran. Pergeseran kuasa dengan demikian tidak menghapus otoritas pengarang, melainkan membuatnya bergerak dan terbagi sepanjang proses produksi serta resepsi karya.

Hal ini diperkuat oleh pendapat dari audiens, Anis Mashlihatin, bahwa konsep kuasa yang terdistribusi hanya benar-benar bekerja apabila pembaca bersikap aktif. Untuk menikmati cerpen Perintah Rahasia, pembaca perlu melakukan tindakan tambahan seperti menyalin kode ke AI dan mengeksplorasi kemungkinan perubahan. Jika pembaca berhenti pada satu tahap, cerita juga berhenti, tetapi jika pembaca terus bereksperimen, karya dapat berkembang menjadi pengalaman yang berbeda.

Pada akhirnya, diskusi menempatkan cerpen Perintah Rahasia sebagai eksperimen penting, tetapi belum sebagai bentuk final sastra koding. Karya ini patut diapresiasi karena menawarkan cara baru dalam mempertemukan sastra, AI, koding, dan pembaca, sekaligus membuka kemungkinan lahirnya estetika baru.

Barangkali, judul Perintah Rahasia itu sendiri menyimpan isyarat tersendiri. “Perintah” merujuk pada instruksi untuk membuat cerita dengan bahasa koding, sementara “rahasia” mengisyaratkan sesuatu yang belum sepenuhnya terungkap dan masih menunggu untuk dieksplorasi. Ia seperti mengirimkan perintah untuk terus menguji, membongkar, dan menyempurnakan kemungkinan-kemungkinan baru hingga sastra koding menemukan bentuk, metode, dan estetikanya sendiri.

Tentang Penulis

M. S. Hadi

Lahir: Lombok, 12 Maret 1990

Lahir di Lombok, 12 Maret 1990. Saat ini tinggal di Yogyakarta. Menyelesaikan S1 Pendidikan Fisika di Universitas Hamzanwadi dan S2 Ilmu Sastra di UGM. Ia suka membaca buku-buku filsafat, novel, lari, dan nonton film. Komentar-komentarnya mengenai ragam hal bisa ditemukan di medium @Hadi Muhamad.

Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.