Lewati ke konten

Peristiwa

Seni yang Membebaskan

September 6, 2026 · Mad Muflihun

Sebelum Anda baca tulisan ini, coba pikirkan dulu: apakah air minum tetap dinamakan air minum ketika sudah keluar dari botol dan masuk ke comberan? Mungkin tidak, tapi mungkin juga iya sejauh ada yang masih mau meminumnya.

Begitupun sastra. Jika, katakanlah, puisi-puisi Joko Pinurbo dalam Perjamuan Khong Guan diciptakan ulang melalui medium kaleng Khong Guan, seharusnya sastra bisa menegosiasikanya.

Hal-hal semacam itulah yang kemudian menjadi fokus dari Pameran Apresiasi Karya Sastra yang terselenggara selama delapan hari penuh di gelaran Bienial Sastra Indonesia Modern x Festival Sastra Yogyakarta (FSY) tahun 2026 ini.

Yang kemudian juga menjadi fokus bahasan dalam diskusi bertajuk “Kuratorial dan Artist Talk” di Grha Budaya pada Minggu (30/08/2026) atau hari terakhir festival itu. Semacam, selama delapan hari dipamerkan, apa sih tujuannya?

Diskusi itu menghadirkan Fairuzul Mumtaz sebagai moderator, kemudian Latief S. Nugraha dari Gawe Institute dan Cak Udin dari Lesbumi DIY sebagai pembicara.

Sebagian dari Anda mungkin ada yang sudah ke sana, tapi kemungkinan besar Anda membaca tulisan ini karena kepo dengan apa yang ada di sana.

Jadi, semoga tur singkat berikut ini bisa membantu Anda sedikit-banyak meraba-raba terlebih dahulu benda-benda apa saja yang dipamerkan.

Pertama-tama, bayangkan diri Anda sebagai pengunjung yang masuk ke Grha Budaya. Maka Anda akan langsung memasuki gedung putih-besar itu dan belok ke kanan sedikit sebelum kemudian terus bergerak maju.

Awalnya Anda akan menemukan sebuah instalasi bertajuk “Monumen Kebisingan Sesudah Sebatang Lisong”. Pameran itu terbentuk dari hewan berkaki empat yang telah dihilangkan kepalanya dan diganti dengan berbagai peralatan elektronik yang dipuncaki oleh pengeras suara yang terus menerus mengulang sebuah lagu yang sama. Bagian tubuh hewan itu seperti habis terbakar hebat, hanya menyisakan sedikit sekali kulit dan bulu yang kehitaman.

Dalam keterangan di katalognya, pameran itu terinspirasi dari “Sajak Sebatang Lisong”-nya Rendra yang bercerita tentang penderitaan rakyat ketika penguasa hidup penuh kecukupan.

Kemudian, jika kau bergeser ke kanan, maka tampak sebuah televisi yang menyala. Di situ ditayangkan video siniar Puthut EA dengan Fairuzul Mumtaz dan Kukuh Prasetya Kudamai membahas lagu “Mendung Tanpo Udan” yang dialihwahanakan menjadi novel kemudian film. Juga tersedia penopang diskursus kritis berupa esai dan karya ilmiah. Pendekatan itu mencerminkan dunia industri kreatif kontemporer di mana posisi produsen, konsumen, dan kritikus melebur menjadi satu.

Jika sudah selesai menonton dan melihat-lihat, maka ada baiknya Anda bernafas dulu karena pameran berikutnya lebih berbasis kepada teks yang mesti dipikir lebih mendalam.

Di depan sana, selang beberapa langkah, ada beberapa pameran berbasis teks dengan medium yang berbeda-beda, tetapi punya kecenderungan yang sama: mendobrak ulang narasi yang telah terlanjur mapan. Ada Kantor Sajak Indonesia yang membawakan puisi seketika, kemudian sastra koding berjudul “Perintah Rahasia” karya Muhammad Qadhafi yang mempertemukan imajinasi puitis dengan bahasa pemrograman, setelah itu papan sejarah sastra Indonesia yang sebenarnya digunakan untuk mempertanyakan relevansinya, dan terakhir naskah-naskah lakon yang dipampang seolah mempertanyakan nasib mereka setelah dipentaskan di panggung.

Setelah itu, di paling pojok sana, ada Gerobak Lumaku yang disusun dari sepeda motor yang mengangkut gerobak berisi buku dan layar tancap yang menampilkan video-video tentang lingkungan dan kebudayaan. Di bagian bawahnya, tumpukan jerami mengalasi gerobak.

Menurut Udin, pameran semacam itu penting agar sastra tidak melulu terikat pada teks, tetapi malah bisa melampaui teksnya.

“Saya itu orang yang kurang bisa menerima sekat-sekat,” katanya. Dalam artian sekat-sekat yang memisahkan seni yang satu dengan seni yang lain.

“Tapi di Jogja ada kecenderungan di luar anak seni rupa terus bikin seni rupa itu di-bully.” Katanya lagi. Tentu saja, seni-seni yan lain juga demikian adanya.

Paksi Raras Alit yang saat itu duduk di bangku penonton menimpali, “Lha saya aja pas buat FSY ini juga di-bully!”

Berarti, kalau sekang kita melihat ekosistem berkesenian di Yogyakarta, maka antara seni yang satu dengan seni yang lain masih tersekat-sekat oleh tembok yang sedemikian kokoh.

Padahal, menurut Udin, jika sastra bisa ditawarkan dalam banyak media, artinya ada interseksi dengan seni yang lain di situ, maka semakin banyak pula nilai-nilai yang dapat ditawarkan.

“Malah pernah saya dengar bahwa sastra itu memang butuh doping biar bisa lebih diterima oleh masyarakat umum.”

Sedangkan menurut Latief, pameran ini begitu pepak. Dalam artian, walaupun tidak lengkap tapi ada kepuasan ketika melihatnya.

Dia juga menyinggung bahwa sastra yang modelnya “bilang begini maksudnya begitu” sekarang sudah tidak banyak bisa diterima seperti pada zaman dulu,

Lalu, apa penyebab dari itu semua?

“Mungkin akademik,” kata Latief. “Ada alih media atau alih wahana, padahal ya wahana buat sastra kita dari dulu memang sudah beragam.”

Paksi juga menambahkan bahwa sastra Jawa sejak dulu memang tak terpaku hanya kepada teks di atas kertas saja, tetapi lebih jauh juga dengan tembang atau wayang.

“Ya, karena teori-teori yang kita pakai pun juga teori kolonial,” Fairuz menanggapi. “Jadi, sebenarnya kita sudah punya tradisi sastra yang berjalan, baru kemudian teori itu tiba-tiba muncul.”

Maka, di antara tarik ulur dunia akademik dengan kreatif semacam itu, di mana kita berpijak?

Kalau saya sendiri sih ikut Cak Udin saja. Katanya, “seni adalah suara kebajikan yang mengajak jiwa-jiwa untuk menjadi bijak, untuk menuju Yang Maha Bijak.”

“Selama seni mencerminkan yang demikian, apa pun medianya, tak cekeli tenanan,” pungkasnya.

Tentang Penulis

Mad Muflihun

Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia UGM angkatan 2024. Ahli melinting tembakau dan sedang belajar menulis.

Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.