Kategori
Cerpen
Tersentak, tapi aku tak mampu membuka mataku. Suara itu seperti datang dari dunia sini, dari suara yang kukenal. Tak mungkin ia penjelmaan hantu. Tak mungkin. Aku menolak percaya bahwa ia memegang kunci tentang sejarah yang hilang di Kuala Barus ini. Ia bukanlah tuan putri kamper. Dan aku –
Kinasih berdiri menatap bayang rimbun pohon mangga di halaman rumah yang berangsur gelap. Terdengar suara tarkim dari jauh bersaut suara adzan. Satu demi satu cahaya timbul. Tetapi, halaman rumahnya masih remang. Ia pikir sudah terlambat untuk keluar menyalakan sentir. Bukan tanpa sebab ia begitu khawatir. Melainkan, jabang bayi dalam perutnya menjadi pertaruhan.
Malam-malam seperti ini adalah semacam bioskop bagi lelaki tua itu—bedanya, ceritanya nyata dan akhir kisahnya kadang tertunda bertahun-tahun.
Orang-orang kehausan di tempat ini telah bertahun lamanya menambang awan dan hujan, mengebor langit, membikin selang-selang raksasa panjang membentang.
Kalau nanti menikah, tinggal di sini saja, Nang, biar bapak tidak sendirian di rumah. Kakak-kakakmu sudah terlanjur terikat dengan kehidupan mereka di perantauan, mumpung kamu belum, cari kerja di dekat sini saja.
Dan saya pikir enak juga jadi pohon-pohon. Saya akan hidup dan bermanfaat bagi bumi. Saya mungkin akan sedikit memberi oksigen untuk kelangsungan hidup makhluk-makhluk.
Namun, aku melihatnya. Orang-orang yang tersenyum ketika datang ke toko kami matanya membara api. Orang-orang yang berlalu lalang di depan kami matanya pula membara api. Bagaimana dia bisa berkata bahwa kami berada di antara bangsa yang ramah?