Lewati ke konten

Kota yang Tidak Pernah Benar-Benar Mempersilakan Menetap

December 8, 2025 · Yuditeha Yuditeha

Angkringan itu berdiri di seberang stasiun tugu yang sudah kehilangan kemegahannya karena dipeluk reklame LED dan denting sepeda listrik sewaan. Namanya tidak pernah ditulis di spanduk. Hanya ada tenda biru pudar dan kepulan arang yang lebih setia dari janji politisi.

Pak Nardi, pemiliknya, lebih suka menyebut tempat itu sebagai pintu darurat untuk malam-malam yang patah.

Malam itu hujan sudah reda, tapi genangan masih becermin. Di bangku bambu yang mulai longgar ikatannya, duduk seorang pria muda bernama Bara dengan Hoodie lusuh, wajah letih, dan tatapan yang seperti lupa caranya marah. Di tangannya, gelas plastik berisi kopi instan yang tak benar-benar panas.

Ia seperti biasa. Ketika datang dan duduk, ia tidak langsung pesan, tapi mengamati seperti orang yang sedang menghitung sesuatu yang tak bisa dilihat orang lain.

Beberapa menit kemudian, seorang perempuan datang, membawa tubuh kecilnya ke dalam tenda. Rambutnya lepek, matanya bengkak, tapi senyumnya seolah baru dicuci ulang.

“Masih jualan, Pak?” tanyanya sambil melepaskan ransel.

“Selama malam masih punya waktu, Bu,” jawab Pak Nardi sambil menuang air panas ke termos kecil.

Perempuan itu mengambil dua nasi kucing, tiga mendoan, dan memesan satu teh panas. Ia duduk satu bangku dengan Bara, tapi keduanya seperti pura-pura tidak saling sadar. Sampai akhirnya Bara berkata pelan, “Rambutmu berubah.”

Perempuan itu diam sejenak, lalu menjawab, “Kamu masih suka muncul di tempat yang sepi.”

Bara menoleh, menatap perempuan itu dalam. “Kamu juga masih suka hilang di tempat yang ramai?”

Perempuan itu mengangguk pelan. “Namaku sekarang Yati.”

“Aku sudah tahu,” sahut Bara.

Mereka diam cukup lama. Pak Nardi pura-pura sibuk memanasi gorengan, padahal ia lebih banyak mencuri dengar. Malam-malam seperti ini adalah semacam bioskop bagi lelaki tua itu—bedanya, ceritanya nyata dan akhir kisahnya kadang tertunda bertahun-tahun.

“Aku kira kamu sudah nikah,” kata Bara akhirnya.

“Aku kira kamu sudah mati,” balas Yati cepat, dengan nada datar seperti menyebut warna kaus.

Bara tertawa pendek. “Ya. Mungkin, di beberapa versi hidupku, aku memang sudah.”

Mereka pernah saling mencintai, itu jelas. Tapi, cara mereka mengucapkannya, dulu, lebih sering lewat diam, lewat tidak menyakiti. Lalu, pada suatu titik, Yati menghilang tanpa pesan. Bara mencarinya selama setahun, lalu menyerah. Dunia terlalu luas untuk mencari seseorang yang ingin tidak ditemukan.

“Kamu tahu, aku kembali bukan buat minta maaf,” kata Yati, memandangi hujan yang mulai turun tipis.

“Aku juga nggak ingin penjelasan.”

“Kalau begitu kita duduk di sini buat apa?”

“Biar tahu kita masih hidup.”

Angkringan hening untuk beberapa saat. Angin meniup abu rokok Bara ke lantai. Pak Nardi diam-diam menggulung tisu dengan tangan kanan dan sehelai kenangan dengan tangan kiri.

Yati akhirnya bicara lagi, suaranya pelan, hampir seperti doa yang gugup. “Waktu itu aku pergi karena hamil.”

Bara tidak kaget. Ia hanya menggenggam gelas plastiknya lebih erat. “Lalu?”

“Aku nggak tahu pasti siapa ayahnya. Tapi, kalau aku jujur ke kamu, aku takut kamu memilih percaya.”

“Dan kalau aku nggak percaya?”

“Aku takut lebih dari itu.”

Bara mendongak. Wajahnya datar, tapi matanya mendung.

“Sekarang dia di mana?”

Yati menarik napas. Lama sekali. Lalu berkata, “Di tempat yang lebih tenang dari hidupku saat itu.”

Kata-kata itu tidak jelas. Tapi, intonasinya, caranya menghindari kata-kata pasti, justru menyimpan kemungkinan. Bara mendengarnya seperti bisikan yang belum selesai. Ia tidak mengejar. Tidak memaksa. Dan Yati tidak menambahkan apa pun.

Ketika jam menunjukkan pukul tiga dini hari, Yati berdiri. “Aku harus ke stasiun sekarang. Ada kereta pagi ke Banyuwangi.”

“Di sana tempatmu sekarang?”

“Iya. Aku kerja di toko kain. Pemiliknya baik. Anaknya cerewet. Tapi, kota itu cukup sunyi untuk orang yang pernah merasa terlalu ramai.”

Bara mengangguk. Lalu, diam-diam, berdiri dan menyusul langkah perempuan itu. Mereka berjalan menyusuri trotoar basah, melewati toko-toko yang belum bangun dan lampu jalan yang terlalu malas untuk terang.

Di depan pintu masuk stasiun, mereka berhenti. Yati membuka tas, mengeluarkan sesuatu yang terbungkus kertas lusuh, lalu menyerahkannya kepada Bara. “Ini fotonya. Kalau suatu hari kamu ingin membenci seseorang dengan lebih jelas.”

Bara membuka lipatan kertas itu perlahan. Di dalamnya, foto polaroid seorang anak kecil, mungkin usia lima atau enam, berdiri di depan lukisan lumba-lumba di tembok sekolah. Matanya mirip Bara, alisnya seperti Yati. Senyumnya seperti tidak memerlukan alasan.

“Namanya Nara,” bisik Yati. “Itu saja yang bisa kuberi tahu.”

Ia masuk ke stasiun tanpa menoleh. Bara tetap berdiri di luar, memandangi foto itu lama sekali, seakan bisa membaca seluruh hidupnya dari warna-warna pudar. Subuh datang seperti biasa: tanpa peringatan, tanpa gembira. Di angkringan, Pak Nardi sedang menyapu sisa daun dan abu. Bara kembali dan duduk di bangku semula.

“Kamu dapat sesuatu?” tanya Pak Nardi tanpa menoleh.

“Bisa dibilang begitu.”

“Hati-hati. Orang yang mendapat sesuatu biasanya kehilangan hal lain.”

Bara tidak menjawab. Ia menatap foto itu lagi. Kali ini lebih lama. Nama Nara mengendap di kepalanya seperti suara yang terus dipanggil dari kejauhan. Beberapa hari berikutnya, Bara masih datang ke angkringan. Duduk di bangku yang waktu itu dipakai Yati, memesan minuman yang sama. Kadang berbicara pada dirinya sendiri. Kadang menatap arah stasiun.

Seorang teman lama datang dan menyapanya. Temannya itu kini bekerja di kantor travel online. “Kamu masih di sini, Ra?”

“Masih.”

“Ngapain?”

“Nunggu.”

Temannya tertawa. “Jogja bukan tempat buat nunggu. Orang yang terlalu lama di sini bisa jadi legenda, tapi bukan dalam arti keren.”

Bara cuma tersenyum. Ia tidak ingin menjelaskan. Tapi, setelah temannya pergi, pikirannya mulai bergerak liar. Ia menimbang-nimbang seperti orang berdiri di ujung jembatan: apakah ia tetap menatap sungai, atau melompat ke seberang.

Di kamar kosnya yang kecil, Bara membuka Google Maps. Mengetik: Banyuwangi, lalu toko kain, lalu sekolah TK tembok lukisan lumba-lumba.” Tidak satu pun memberi hasil yang pasti.

Ia membuka aplikasi travel. Mengisi tanggal keberangkatan. Lalu mematikan layar. Lalu menyalakan lagi. Tiga kali. Akhirnya ia tidur tanpa memesan tiket.

Minggu berikutnya, ia kembali ke angkringan. Tapi, kali itu, ia tidak membawa foto Nara. Ia menyelipkannya di antara halaman buku gambar yang dulu dibelinya di pasar loak. Buku itu sekarang terletak di bawah bantal, seperti jimat yang melindungi dari keputusan besar.

Pak Nardi menyodorkan kopi. “Kamu belum pergi?”

“Belum.”

“Kenapa?”

“Aku takut jadi tamu.”

Pak Nardi duduk di seberangnya. “Tamu?”

“Iya. Kalau aku ke sana, aku datang sebagai tamu dalam hidup yang sudah berjalan tanpaku. Mungkin dia bahagia. Mungkin tidak. Tapi, aku, apa gunanya datang kalau hanya untuk mengacaukan yang sudah tenang?”

Pak Nardi tak menjawab. Ia tahu pertanyaan itu tidak sedang menunggu jawaban. Di kejauhan, tugu tetap menyala meski tidak ada yang benar-benar melihat. Angkringan tetap buka, meski tidak semua orang yang duduk di sana sedang lapar. Dan Bara tetap tinggal. Untuk sementara.

Malam-malam berikutnya, ia mulai membawa buku gambar itu ke angkringan. Tapi, ia tidak membuka halaman buku itu. Ia hanya menaruh buku itu di meja, lalu memandangi gelasnya yang berembun.

Kadang, ia bertanya dalam hati: Apakah lebih baik datang terlambat, atau tidak datang sama sekali? Tidak ada jawaban, tapi malam selalu datang tepat waktu. Dan kota itu memang sangat tahu cara menunggu, tapi ia tidak pernah benar-benar mempersilakan menetap.***

Y
Tentang Penulis

Yuditeha Yuditeha

Lahir: Karanganyar, -

Penulis yang tinggal di Karanganyar. Cerpennya berjudul Biografi Luka menjadi salah satu cerpen terbaik pilihan Kompas, 2023. IG: @yuditeha2

Baca Biografi Selengkapnya →
Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.