Peristiwa
Guru Lagu, Guru Wilangan, Saya Akan Lawan!
August 30, 2026 · Mad Muflihun
Bacalah judul di atas dengan nada karmina, pantun dua baris. Atau, dalam istilah Jawa, parikan. Pantun yang guru lagu-nya selalu sama dalam setiap baris.
Atau, kalau kau masih tak paham dengan karmina dan parikan, bacalah dengan cara Jarjit.
Dua-tiga burung kenari
Mengapa Tok Dalang tak lekas mati?
Nah, sudah paham kan? Sekarang, coba rasakan feel dalam judul itu. Terlalu menggebu-gebu, bukan?
Makanya, kusarankan kau mencari lagu berjudul “Keroncong Suka-Suka”-nya Paksiband terlebih dahulu sebelum melanjutkan membaca tulisan ini.
Lagunya enak sekali. Apalagi reff nya itu lho.
Rekasa uripe ngangsa
sakabeh diaya
Ra krasa ngalap jatahe wong liya
Dijamin, tanpa sadar, kakimu akan menghentak-hentak sendiri di tempat kau berpijak. Kemungkinan besar juga lehermu akan goyang-goyang dengan gayeng.
Durasinya sekitar empat menit. Pas lah buat dijadikan iringan membaca tulisan ini sampai tuntas.
***
Paksi Raras Alit, berkacamata hitam dengan topi bowler. Membuatku teringat pada Slash-nya Guns N’ Roses. Dia berjalan ke depan panggung meninggalkan sorak-sorai penonton di belakang. Kemudian tuk-tuk, mic dia sentuh dua kali dengan halus.
“Sastra Jawa selalu terjebak dalam kelampauan,” kata Paksi. “Bahkan, yang paling radikal, ingin membangun kembali Majapahit!”
Aku tertawa. Pengunjung lain tertawa. Rumpun bambu di belakang sana pun aku yakin ikut tertawa. Terpingkal-pingkal bahkan.
Memang tidak ada yang bisa mengalahkan komedinya orang Jawa. Itulah komedinya para kyai, dalang, ketoprak, pranatacara, dan sebagainya, dan seterusnya.
Tidak Mahbub Djunaidi, tidak Mark Twain.
Tapi jelas, dilihat dari tajuk acara pada Kamis (27/08/2026) itu, “Sastra Jawa Perlawanan dalam Lirik Lagu Paksiband”, yang ada di sana tak hanya tawa. Aku pikir-pikir sejenak, perlawanan terhadap apa atau siapa?
Kebetulan saat itu aku sedang menengok ke kanan panggung yang terletak di depan gedung Grha Budaya dan melihat display bertuliskan “Sastra Daerah Adalah Sastra yang Terabaikan”.
Maka jelas, yang dilawan di sini adalah kemapanan dalam bersastra. Baik itu terhadap Sastra Indonesia yang menenggelamkan sastra-sastra daerah maupun pengagum sastra Jawa yang fanatik terhadap kendelesan, keadiluhungan, dan lawasan.
“Untuk mempercantik sebuah tanaman, kan pada akhirnya daun-daun yang sudah kering harus dipangkas,” kata Paksi.
Itulah metafora yang menggambarkan kerja-kerja Paksiband. Paksi mengatakan bahwa proses mereka bukan untuk menebang pohonnya, tetapi untuk membuat pohon itu lebih berterima bagi siapa saja yang melihatnya.
Tak paham? Aduhh. Belajarlah sastra. Kalau sastra Indonesia secara umum saja kau tak belajar, apalagi sastra daerah. Benarlah kata Paksi bahwa sastra daerah, bahkan di Yogyakarta ini, selalu kalah pamornya. Terhadap apa pun itu. Apa pun.
Maksudku, yang dimaksud dengan pemangkasan pohon itu adalah proses modernisasi.
Bahkan, kata Paksi, sejak awal kemunculannya, Paksiband dibenci orang-orang Jawa ndelesan.
“Meh keroncong opo to koe?”, begitu Paksi menirukan orang-orang nyinyir itu. Yang lain lagi, salah satu anggota Paksiband bahkan sampai dijelek-jelekkan oleh mertuanya.
“Main keroncong kok awur-awuran,” begitu Paksi menirukan si mertua. Walau pun untuk marah tak harus dengan membanting piring kaca atau membenturkan telapak tangan ke pipi, tapi itu cukup untuk membuat hati seorang menantu mobat-mabit.
“Begitulah dilemanya berkreasi di bawah kekangan budaya yang sudah terlanjur pakem,” lanjut Paksi.
Awal perjalanan Paksiband sebenarnya belum benar-benar lama. Tahun 2019. Jika lagu-lagu keroncong tahun 90-an terkesan langsam dan liris, maka Paksiband pada 2019 bereksperimen dengan parikan yang identik dengan kejenakaan.
“Saya akui saya masih sulit lepas dari pengaruh keroncong-keroncong jenaka dari Sinten Remen,” kata Paksi. “Karena bagaimanapun saya dulu berdinamika intim di situ”.
Maka, single pertama pun lahir. Itulah “Keroncong Suka-Suka”.
Dan lagu itu juga yang menjadi batu loncatan bagi Paksiband. Mereka terus menggarap lagu-lagu berikutnya, walau pun di platform Youtube tempat mereka mengunggah lagu selalu dipenuhi komentar yang bermacam-macam.
“Elek mas, apik mas, sae mas, ngerusak mas. Yowes rapopo,” begitu kata Paksi.
“Tapi paling tidak,” ini yang menjadi keunggulan Paksiband saat itu, “Ejaannya benar secara kamus!”
Single setelahnya adalah “Ora Obah Ora Mamah” yang dibuat saat pandemi. Di sini, Paksiband terus berusaha bermain-main dengan berbagai aturan dalam Sastra Jawa. Mereka mengadopsi Purwakanthi, yaitu permainan rima yang tak hanya berlaku di setiap akhir baris, tetapi juga dalam setiap kata.
Setelah itu, lagu-lagu Paksiband terus bermunculan. Temanya merentang dari kritik sosial sampai lagu romansa.
Dan jika boleh merekomendasikan, putarlah dulu “Gembira Loka” dan “Keroncong Suka-Suka” untuk jatuh cinta pada Paksiband. Walau pun, lagu favorit itu relatif. Dan memilih lagu berdasar pada jumlah pendengar adalah nonsense karena telinga setiap orang berbeda-beda.
Jadi, kalau kau mau bebas memilih dari yang mana, pilihlah.
Yang penting jangan memilih lagi seorang calon wakil presiden yang disindir Paksiband dalam single “Buta Murka”.
Siapa calon wakil presiden itu? Putarlah sendiri lagunya dan kau akan tahu bahwa kritik tak hanya bisa disampaikan lewat teriak-teriak, tetapi juga oleh kaki yang menghentak dan leher yang bergoyang.

Mad Muflihun
Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia UGM angkatan 2024. Ahli melinting tembakau dan sedang belajar menulis.