Lewati ke konten

Peristiwa

Maaf, Kawan-Kawan, Saya Kena Sirep

August 28, 2026 · Mad Muflihun

“Dalam pandangan Jawa, makhluk hidup itu ada yang kelihatan. Ada yang nggak kelihatan.”

Bima Slamet Raharja, dosen Sastra Jawa UGM yang menjadi pembicara pada diskusi “Sajen dan Ubarampe” pada Kamis (27/08/2026), menghentakkan pandangan umum saya sejak kecil bahwa makhluk hidup hanya ada manusia, hewan, dan tumbuhan.

Seketika juga bulu kuduk saya berdiri. Karena bahkan hantu-hantu TV yang matanya sering melompat keluar itu pun bagian dari penggambaran konkret, yang kelihatan, itu saja saya sudah takut. Bagaimana dengan yang tidak kelihatan?

Di dalam ruangan Grha Budaya itu, saya lihat ke samping kiri dan kanan dan serong kiri dan serong kanan. Syukurlah yang saya takutkan tak ada.

Saya malah melihat peserta diskusi yang lebih banyak daripada hari-hari sebelumnya. Mungkin karena “Wayahe Wong Klenik Tampil”, tajuk yang diunggah di akun Instagram Festival Sastra Yogyakarta (FSY), tampak sangat eksotis. Bahkan bagi saya yang Jawa sekali pun.

Kemudian saya lihat ke belakang dan yang tampak adalah tumpukan buku-buku yang hanya dicomot satu-dua setiap harinya.

Duh, ternyata hantu sastra Indonesia!

Di sisi lain, di depan sana Bima masih melanjutkan ceramahnya.

“Sajen itu semuanya serba rasional,” katanya.

Lagi-lagi pikiran audiens diajak buat dibongkar ulang. Ibaratnya, Bima ini seorang nabi baru yang ditugasi buat meluruskan ajaran sesat yang sudah tertopang dengan kokoh sebelumnya.

Analogi yang dipakai Bima buat sajen adalah kado atau hadiah. Jika kita memberikan kado biar pacar kita tidak marah lagi, maka begitu juga sajen. Kita membutuhkan pengalem-alem supaya bisa berkomunikasi dengan makhluk yang tak kasat mata.

Karena, bagaimanapun, mereka tak kasat mata. Bisa saja ada yang sebesar Monas, atau berkepala sapi dengan leher jerapah, atau sekecil tengu tapi bisa membikin bibir bengkak kemudian meletus dalam sekali gigit.

“Sekali lagi, sajen adalah media untuk berkomunikasi,” katanya. “Bukan untuk meminta sesuatu.”

Kata Bima, yang diminta bukanlah sesuatu itu sendiri, melainkan harapan-harapan baik agar segala sesuatunya berjalan dengan lancar.

“Salah satu bagian sajen,” katanya pelan-pelan, “adalah ini.”

Ia menunjukkan benda berbentuk lonjong yang agak melengkung dan punya bercak hitam di sana-sini dan jika dilempar di tempat mana pun itu bisa membuat seseorang mak gedebuk dan, paling tidak, sakit pinggang.

Ya, benda itu tentu saja pisang.

“Tapi ini bukan pisang biasa,” Bima mencengkeram barang itu sekuat tenaga seolah ada kekuatan besar yang bisa membuatnya berontak. “Pisang apa ini teman-teman?”

“Pisang raja.”

“Ya,” timpal Bima. “Untuk sajen, kita harus memakai pisang yang bagus.”

Bima menaruh kembali pisangnya dan, dalam sepersekian detik, benda yang ada di tangannya tiba-tiba sudah berganti. Kali ini daun pisang yang dimodifikasi menjadi sebuah wadah untuk menampung bunga-bungaan.

“Ini mawar, melati, kenanga, dan kanthil,” kata Bima.

Ketika saya ingat bahwa bunga-bungaan itulah yang juga sering saya taburkan di atas makam Mbah Pawiro Sumarto (bukan tokoh, itu mbah saya sendiri) ketika senja hari di pemakaman umum di desa kami, ada angin yang sangat sepoi membelai bulu kuduk saya.

Saya lihat ke belakang lagi, dan melihat hantu sastra Indonesia masih di sana dan tak ada yang menziarahi.

“Kemudian suruh,” Bima melanjutkan.Suruh ini artinya kawruh.

Dan seolah-olah tahu apa yang dipikirkan oleh hadirin, Bagus menanggapi sendiri pernyataannya.

“Kok dicocok-cocokin gitu? Ya, Jawa memang sukanya begitu.”

Dalam kamus Jawa, Bagus menambahkan, itu dinamakan ilmu gatuk atau otak-atik, yaitu ilmu untuk mencocok-cocokkan sesuatu. Ia juga menyinggung bahwa orang-orang Jawa memang tidak suka menyampaikan sesuatu secara terang benderang.

“Kita lebih suka memakai sanepan, perumpamaan.”

Kemudian bagus menunjukkan komponen sajen yang lain lagi. Kali ini ia mengangkat sebuah batu seukuran biji salak yang berbentuk cokelat kekuningan.

“Ini batu kemenyan,” katanya. “Aromaterapi herbal orang Jawa.”

Saya jadi ingat bahwa merokok lintingan menggunakan kemenyan memang sebegitu dahsyatnya. Baik itu dari segi efek terhadap diri sendiri maupun terhadap lingkungan.

Terhadap diri sendiri, jika agama Anda melarang penggunaan ganja, maka gunakanlah kemenyan. Ia bisa membuat tubuh Anda terasa bergoyang-goyang lantas puff meluncur begitu saja hingga sidratul muntaha.

Atau efek terhadap lingkungan, yaitu baunya yang bisa menjangaku radius setengah lapangan sepak bola.

“Jadi, coba hitung. Berapa ragat yang dibutuhkan untuk menyediakan sajen seperti ini?”

Tak ada yang bisa menjawab, tentu saja, karena yang lebih siap menjawabnya adalah yang bertanya.

Bima, seperti seorang bakul, kemudian mengkalkulasi total biaya pembuatan sajennya itu.

Pisang ini satu tandan harganya blablabla, kemudian melati blablabla, dan seterusnya, dan sebagainya.

Setelah itu, ia berkata dengan kalimat penuh bahasa Jawa yang saya yakin orang non-Jawa yang kebetulan lewat situ atau Anda, kawan-kawan saya, pasti mengiranya sebagai mantra.

Yen wonten kirangipun, kasuwun pados wonten ing alamipun piyambak-piyambak.”

Saya tertawa membayangkan ada yang mengira itu memang benar-benar sebagai mantra. Dan tertawa setelah saya terjemahkan satu per satu kata dan menemukan maknanya.

Tapi, bagaimanapun, semakin larut dalam ceramah Bima, semakin lembut pula angin yang membuai tengkuk saya. Dan baru saya sadari saat hadirin sudah mulai bubar, bahwa saya barusan terkena sirep.

Ya, sirep yang membikin saya tertidur sejak Bima mengucapkan mantra tadi. Bahkan, tentang bahasan setelah sajen, saya tak mendengar apa-apa dan tidak tahu kelanjutannya.

Sekali lagi maafkan saya, kawan-kawan, kalau saya tak bisa menulis isi diskusi dengan tuntas.

Saya kena sirep.

 

Tentang Penulis

Mad Muflihun

Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia UGM angkatan 2024. Ahli melinting tembakau dan sedang belajar menulis.

Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.