Lewati ke konten

Parang di Tepi Pantai

August 10, 2026 · Wahid Kurniawan

Parang di Tepi Pantai

Lenguhan parau membelah udara ketika parang itu menebas lehermu. Di detik saat nyawamu melangit, pandangamu justru bisa melihat keramaian itu. Orang-orang mengitarimu, wajah mereka menyiratkan kepuasan. Lima orang menggeser tubuhmu, lantas menanti saat kau tidak lagi bergerak. Di atas mereka, kau melihat segala hal yang terjadi di sana, termasuk sebab mengapa parang yang ditebaskan ke lehermu menjadi parang terakhir yang mereka ayunkan. 

Sebelum itu, kau sudah mengira seperti apa nasibmu kelak. Nasib itu hanya dipegang oleh satu hal: orang yang memegang parang. Tapi, kau tak tahu orang macam apa yang memegang parang itu, dan situasi apa yang melatari orang itu menebas lehermu. Segalanya pun berlangsung begitu saja. Orang-orang pagi tadi menjemputmu dari rumah Cik Agam, kemudian mengangkutmu dengan mobil menuju pesisir pantai. 

Dan sebelum pergi, Cik Agam berpesan kepadamu:

“Hidupmu tidak sia-sia, Nak. Kau pergi dengan kehormatan.” 

Orang-orang menatap heran, tak menyangka pria itu berbicara kepadamu seolah berbincang dengan anak sendiri. Tapi, tampaknya kau memang sudah dianggap seperti anak oleh pria tua itu. Toh kaulah satu-satunya harta yang ia miliki setelah istrinya meninggal delapan tahun lalu dan anak-anaknya merantau ke luar kota semua. Ditambah lagi, baginya kau telah menjadi anak sekaligus teman lelaki tua itu. Namun pagi tadi, ia mesti merelakanmu pergi. Keputusan itu sudah tak bisa ditawar. Sekilas kau melihat linangan telaga di kedua matanya yang sayu.  

“Cik Agam tak ikut? Cuak mengan1 tahunan ini sayang buat dilewatkan,” kata salah seorang yang membawamu pergi.

“Aku di rumah saja, tak tega melihat ia nanti disembelih.”

Mereka mengangguk, kendati sedikit menyayangkan ketidakikutsertaan Cik Agam. Di atas Colt hitam, pandangan kalian bertemu. Terlihat jelas ia belum juga masuk rumah sampai Colt hitam itu menghilang di kelokan dan kau menyimak juntaian dedaunan yang rapat menyigi tepi jalan. Embun masih membasahi kulitmu. Dan panorama perbukitan turut berganti. 

“Dia tak ikut bukan karena tak setuju, kan?”

“Soal apa? Anak yang dilepaskan kepada kita ini?”

“Bukan… soal acara ini, ngumbai lawok2 ini.”

“Setahuku ia mendukung-dukung saja, tak perlu risau. Mungkin ia hanya tak rela dengan sesuatu yang baru dilepasnya itu.”

Saat percakapan itu berhenti dan digantikan dengan deraian lagu Melayu yang menggigit; di satu persimpangan, kau melihat rombongan mobil penuh orang-orang. Di satu jarak tertentu, rombongan itu membuntuti mobil yang membawamu pergi. Mereka berteriak-teriak hebat, tapi dua orang di mobil itu tampaknya terlampau tenggelam dalam kidung Melayu yang memabukkan.

Mobil yang membawamu itu pun terus melaju, panorama terus berganti dan tujuan kalian pun sudah dekat ketika panorama pesisir mulai terlihat. Begitu tiba, keramaian sudah menyebar. Orang-orang tengah mengelilingi perahu kecil yang dihias dengan kain, kertas minyak, dan bendera beragam warna. Tiga pemuda lantas mendatangi mereka dengan nampan berisi nasi, lauk pauk, dan berbagi jenis hasil bumi. 

Kau pun diturunkan. 

Ubo rampe3-nya belum selesai?” tanya salah seorang pemuda tadi.

“Hati-hati,” pria lainnya turut membantu,” kau lihatlah, mereka sedang menghiasnya. Semuanya bakal siap saat kita rampung membereskan ini.”

Mereka menuntunmu ke sisi lain pantai. Beberapa orang sudah menunggu di sana. Di antara mereka, tampil pria berpeci yang seolah memancarkan wahyu agung. Siraman matahari pagi membiaskan kebijaksanaan di sekitarnya. Sebatang kretek terselip di mulut sementara di pinggangnya, sebilah parang tajam tertutup sarung. Mata pria itu segera bertemu pandang denganmu, lalu ia mengelus kepalamu setelah orang-orang merapatkan simpul terhadapmu. Orang-orang mengenalnya sebagai Uwak.

“Apa Uwak akan mengajaknya bicara seperti Cik Agam?” 

“Tak usah ngawur. Uwak sedang menenangkannya supaya proses ini lancar.”

Setelah itu, Uwak pun melangkah mundur dua langkah. Orang-orang di sekitarnya erat memegangi simpul yang mengikatmu. Mereka menahan napas, ketegangan menyembul diikuti senyap yang mendadak hadir. Mereka menanti detik kala parang itu terayun. Dan begitulah yang terjadi kemudian: Lenguhanmu membelah udara dan kau melayang, sementara sayap abu-abu membentang di punggungmu. 

Dari atas, kau memandangi tubuhmu yang digotong. Tubuh itu direbahkan sejenak, lalu di sebuah tiang besi yang melintang setinggi empat meter, tubuh itu digantung dengan tali. Di bawahnya, orang-orang ramai menguliti tubuh itu dengan tujuh jenis pisau ragam ukuran dan ketajaman. Dan mereka menyelesaikanya dengan lekas. Potongan tubuh itu lantas dibagikan ke para warga. Sementara itu, kepalamu diperlakukan dengan kehati-hatian yang sarat: kepalamu dibawa ke sisi lain pantai, ke tempat perahu yang sebelumnya disiapkan, kemudian diletakkan di tengah-tengahnya. 

Kau melihat kepala itu bersanding dengan lauk pauk, nasi, beras, jagung, singkong, pisang, uang kertas, dan buah-buahan. Ketika selesai dihias, perahu kecil yang di atasnya ada kepalamu itu pun siap dilarung. Orang-orang lantas membawanya ke bibir pantai. Uwak sudah menunggu. Ia berdiri dengan takzim. Pandangannya jauh ke samudra. 

Begitu perahu kecil itu sampai di depannya, ia merapalkan doa-doa. Segala puja-puji kepada Langit dilayangkan, juga harapan bahwa keberkahan didapatkan di masa depan. Setelah itu, mereka siap melarung perahu itu hingga ombak memeluk kedua sisinya. 

Namun, belum juga ombak pertama mencium sisi perahu, segerombolan orang merangsek dan membelah keramaian. Mereka berteriak-teriak sambil mengacungkan tangan ke udara. Situasi menjadi gaduh, banyak anak kecil menangis, sementara yang lainnya berlari ketakutan. Gerombolan itu menyasar Uwak dan orang-orang di sekitarnya. Salah seorang dari mereka lantas maju beberapa langkah. 

“Kami ingin acara ini bubar.”

Seorang pemuda di belakang Uwak hendak maju, tapi tangan Uwak mencegahnya. 

“Pantang bagi kami menolak tamu. Acara ini terbuka untuk siapa pun. Tapi, kalau pun memiliki maksud lain, setidaknya perkenalkan diri terlebih dahulu.” 

“Kami tak berniat bertamu, kami cuma ingin acara ini dibubarkan saja.”

“Acara ini sudah dimulai, anak-anak pun tak sabar menantikan makanan siap. Mengapa harus dibubarkan?”

“Heh, acara ini dilarang, menyimpang dari ajaran agama.”

“Apakah bersyukur dan merayakan keberkahan yang maha Penguasa menyimpang dari ajaran agama? Lagipula, orang-orang dapat bersilahturahmi, bercengkrama antarwarga, saling berbagi makanan, dan anak-anak menyukainya.” Uwak menampilkan senyum Budha. 

“Tetap saja, acara ini dilarang dalam ajaran agama.”

Gerombolan itu lantas berteriak lagi. Kau mendengar mereka berteriak “Bubarkan saja, bubarkan saja!” berulang kali. Udara pesisir yang mulai panas kala itu rasanya semakin membara saja. 

Di atas, kau melihat Uwak tampak berpikir keras, kendati senyuman tak pernah lepas dari bibirnya. Kau dapat merasakan bahwa lelaki itu tengah mencari jalan keluar bagi kedua belah pihak. Sebersit ide kemudian muncul di kepalanya. 

“Begini saja, kita bicarakan soal itu secara baik-baik. Biarkan perahu tuntas terlarung terlebih dahulu, lalu kita duduk bersama, sambil membicarakannya.”

Pria yang memimpin itu sejenak berdiskusi dengan rekan-rekannya, sebelum tiba pada keputusan:

“Baik, kita menuruti perkataan Bapak.”

Perahu yang di dalamnya ada kepalamu itu pun dilarungkan, ombak segera memeluk kedua sisinya, dan burung-burung camar segera berputar-putar, untuk kemudian menyambar segenap isian perahu hingga menyisakan kepalamu saja. Kau tahu, samudra yang mereka kenal dengan sebutan Shindu sedang menantimu. Lalu kerumunan di pantai perlahan memudar. Begitu pula dengan rombongan itu, mereka berjalan mengikuti Uwak dan warga lainnya menuju gazebo di tepi pantai. Tikar digelar, panganan diedarkan, dan mereka duduk bersama-sama. 

“Perut kenyang bisa membuat kita berpikir lebih tenang,” kata Uwak

Usai makan, perundingan itu berlanjut. Kau masih mengawasi mereka. Mereka masih membicarakan hal yang sama. Pembicaraan itu sampai memakan waktu sejam lamanya. Sampai, Uwak yang seolah sudah kehabisan kata-kata, menutup perundingan itu.

“Baiklah, demi kedamaian bersama, acara ini tak akan digelar lagi tahun depan.” 

Keputusan itu disambut keriuhan yang lebih riuh lagi, tapi Uwak merasa itulah keputusan yang tepat. Setidaknya, untuk saat ini. Ia tidak ingin orang-orang itu menyakiti warga kalau acara itu tetap dilakukan. Melihat itu, kau pun mengerti mengapa parang yang tadi menyembelihmu adalah parang terakhir yang mereka layangkan. Barangkali, parang lain tetap terayun ke kepala kerbau-kerbau lain sepertimu, tapi kau tahu, parang yang terayun untuk acara ini tak akan terayun lagi entah sampai kapan. 

Catatan Kaki:

  1. Makan bersama di tengah proses Ngumbai Lawok. ↩︎
  2. Prosesi melarung hasil bumi di daerah pesisir di Lampung. ↩︎
  3. Sesaji yang dilarung dengan perahu. ↩︎
Tentang Penulis

Wahid Kurniawan

Penikmat sastra, alumnus Sastra Inggris di Universitas Teknokrat Indonesia.

Baca Biografi Selengkapnya →
Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.