Lewati ke konten

Peristiwa

Catatan Harian Kegiatan: Hari Ke-2

September 11, 2026 · Ardi I. Septrian

Pagi itu, tanggal ganjil, di bulan ganjil (07/09/2026), dan perasaan saya ikut-ikut ganjil. Tak cuma karena pertama kalinya saya menulis catatan peristiwa. Itu juga kali pertama saya menyaksikan ibu-ibu dan satu bapak yang sedang belajar menulis.

Acara itu diberi nama “Resiliensi Tanpa Henti” dan digelar di kantor DPD-RI DIY. Citra Cintara selaku pemandu membuka acara itu tepat pukul 09.30 WIB. Ia memperkenalkan dua pemateri, Joko Santoso dan Eko Triono.

Peserta kegiatan itu hampir seluruhnya ibu-ibu. Dari kursi di pojok ruangan tempat saya duduk, saya melihat keseriusan masing-masing peserta dari alis-alis yang saling mengerut dengan satu pandang ke arah yang sama—layar salindia.

Satu-satunya peserta laki-laki, seorang bapak berkacamata dengan rambut hampir putih seluruhnya yang duduk cukup jauh dari layar salindia, juga tak mau kalah seriusnya. Ia memotret materi-materi di layar salindia itu dan kemudian dengan cekatan mencatat apa yang ada di sana.

Sejak awal, Joko Santoso, staf pengajar di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa, menekankan kesederhanaan dalam menulis cerita. Ia menyebutkan hal-hal kecil, misalnya benda-benda, yang sering ditemui di rumah, sangat bisa untuk diceritakan atau dijadikan cerita. Dari hal-hal kecil itu akhirnya kita dapat memunculkan ide.

Pak Joko memosisikan ide sebagai hal pertama yang menurutnya perlu ditempuh untuk membuat cerita meski ide itu tak melulu sesuatu yang besar. Lalu barulah kita mengarah ke outline dan draf.

Tak hanya menjelaskan apa yang dituliskannya pada salindia, Joko juga menyinggung teori menulis yang pernah dikatakan oleh Prof. Suminto A. Sayuti. Katanya, teori menulis hanya tiga: menulis, menulis, dan menulis. Dalam artian, ketika kita gagal menulis, maka menulislah lagi.

Pak Eko, pengajar di UNY sekaligus penulis cerpen kawakan, mengambil alih kelas dari Pak Jok, yang saya kenal di kelas waktu kuliah, tak jauh berbeda pada kelas menulis pagi ini. Dosen yang atraktif ini menegaskan akan merujuk pada konsep dan ajakan “kita akan melakukan praktik baik”.

Praktik itu dibagi menjadi empat tahapan: 1) Start, bagaimana situasi awalnya, 2) Tantangan yang dihadapi, 3) Apa yang selama ini sudah dilakukan (solusi), dan 4) Hasilnya bagaimana (inspirasi bagi orang tua lain).

Selesai dengan penjelasan tahapan-tahapan di atas dan cerita-cerita lamanya yang cukup panjang untuk menegaskan contoh, Pak Eko memulai praktik yang katanya baik tadi. Ia membagikan tautan untuk peserta untuk mulai membuat draf tulisan.

Seorang peserta memiliki kendala dengan penyimpanan di gawainya. Tapi, hal itu tak menjadi apa sebab semangatnya untuk menulis telanjur lebih besar ketimbang ruang penyimpanan di gawainya. Ia pun menulis di atas kertas.

Sembari menunggu waktu pengumpulan draf, saya masih duduk di kursi yang sama, di pojok ruangan, setelah kelewat kurang lebih satu setengah jam mengamati jalannya kelas pagi ini. Saya merasa makin kalah. Saya mengaku kalah telak soal serius dalam belajar dibandingkan hadirin kelas menulis hari ini. 

Bagaimana tidak merasa kalah ketika hadirin yang secara umur (kurang lebih umurnya) setengah di atas saya, sebegitunya serius ketimbang saya yang sejak awal meniatkan diri jauh-jauh pergi ke Jogja untuk belajar, malah abai saja pada materi-materi yang diberikan oleh dosen di kelas?

Dan akhirnya, bila ibu-ibu dan satu bapak yang hadir di kelas ini belajar untuk menulis, di hari yang hampir siang ini saya menyadari bahwa di kelas ini saya juga belajar.

Belajar untuk serius dalam belajar.

Program “Resiliensi Tanpa Henti: Lokakarya Penulisan Bagi Keluarga Muda dengan Anak Penyandang Disabilitas” diselenggarakan di gedung DPD RI DIY selama sekitar satu bulan. Program ini didukung oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, dalam Program Fasilitasi dan Apresiasi bagi Komunitas Sastra. Mitra yang bekerja sama adalah Ba(wa)yang yang dikoordinasi oleh Broto Wijayanto, dan Studio Pintalsari.

Ardi Haseo
Tentang Penulis

Ardi I. Septrian

Lahir: Kediri

Terlanjur lahir di Kediri dan sekarang menetap di Jogja untuk belajar berbahasa Indonesia dengan baik dan benar.

Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.