Lewati ke konten

Cerita Horor Masa Depan

June 20, 2026 · Carisya

Cerita Horor Masa Depan

Kaget sekali Dia begitu tahu kalau Mima, sahabat dari sekolah menengahnya, akan melangsungkan pernikahan. Walau sudah lama tidak berjumpa dan tidak bergurau lebih dari dua dasawarsa, kaget Dia sempurna karena berarti Mima memupuskan keyakinannya di masa lampau—sebuah maklumat yang kokoh dan percaya diri yang ia umumkan dulu—yakni: tidak akan pernah menikah. 

Ketika itu, ketika undangan masuk ke kotak pesan Dia, musim gugur di bagian Melaka, dunia ini berputar dan daratan terlanjur bergeser. Belakangan, semuanya jadi tidak ada yang tidak mungkin. Termasuk kenyataan kalau Mima akan menikah. Menurut Dia itu sungguh bikin kaget bukan kepalang. Seperti adanya musim hujan di Antartika dan salju di sana yang telah lama lengser ke khatulistiwa. Bagi Dia, itu gila. 

Mima dalam ingatannya, adanya satu dari puluhan manusia yang pernah Dia temukan—yang sangat logis dan berpendirian terlampau kuat. Bukan, bukan maksudnya menikah adalah yang tidak logis, melainkan karena sekali sudah ketok palu dalam satu putusan, sepertinya langgeng sampai kiamat, tidak ada yang bisa menggoyahkan. Yang sudah bulat langsung habis walau didebat. Meskipun demikian, Dia turut berbahagia. Lagipula, menikah atau tidak menikah bukan lagi jadi yang perlu serius diperdebatkan. 

***

“Senang sekali kamu bisa hadir, Dia!” Mima tertawa dalam panggilan video. “Tokennya sudah kamu terima kan?”

“Ah, sudah! Sudah ku-redeem dan gaun bridesmaid-nya cantik sekali,” jawab Dia sambil mengoperasikan layar komputernya.

“Pukul sepuluh pagi waktu Maya, jangan sampai lupa!” kata Mima.

“Tapi Mim, dulu konsepnya nggak begini, deh. Apa yang bikin kamu berubah pikiran?” tanya Dia, “karena kamu selalu bilang itu tidak harus.”

Mima tertawa, lesung pipitnya membentuk sempurna, “Lucu juga ya, keberanian itu ternyata justru lahir dari ketakutan.”

Lho, kamu takut apa?”

“Siapa yang bisa hidup sendiri?”

Dia mematung susah mencerna. Dunia super terkoneksi seperti ini, bagaimana bisa takut hidup sendiri? Pertanyaan itu hanya disimpan di dalam hati. Dia kadung mengungkapkan rasa syukur dan bahagia kepada karibnya itu. 

Pembicaraan bergulir hingga empat puluh menit kemudian sebelum akhirnya mereka menyudahinya.

***

Klik klik klik. Layar komputer Dia dipenuhi berbagai iklan mulai dari iklan sepatu, obat, perhiasan, tas hingga jasa juru rias. Dalam tiga kali klik, perjanjian tertunaikan—satu set perhiasan dan juru rias andalan telah Dia pesan demi pernikahan virtual sahabatnya itu. Semua serba instan.

Lima belas menit kemudian, bunyi pengingat rapat virtual pecah. Dia mengaktifkan seluruh peranti elektronik, masuk ke dalam realitas virtual yang multikoneksi, bersiap menyapa seluruh rekan kerja dari penjuru dunia. Walau menggunakan bahasa yang berbeda, tapi makna pesan dimengerti begitu saja. Tidak perlu juru bahasa. Dunia terprogram sehingga berkomunikasi pun serba instan. 

Berkat teknologi haptik, tangan, kaki, dan seluruh indera serasa berpindah ruang. Sensasi lain masuk ke dalam dimensi lebih dari tiga—matra yang lebih dari sekadar panjang kali tinggi kali lebar. Ada peran waktu di sana. Pengguna dunia metaversatile—atau sering disebut Maya—bisa masuk ke orientasi baru multidimensi. 

Ruang rapat virtual kali itu terlalu dingin, kata Dia dalam hati. Dia memilih kursi duduk tengah di samping rekan kerja yang paling klop dengannya, bernama Paris, yang Kaukakus, bermata biru dan berlesung pipit. Paris menyapa dan memeluknya. Hangat tubuhnya menjalar.

Rapat itu berjalan hanya dua jam yang dilanjutkan Dia untuk kembali ke dunia nyata. Untuk sekadar mandi, makan dan buang hajat. Lalu, alarm pengingat menyadarkan Dia untuk segera berjibaku dengan dunia versi selanjutnya dari media sosial itu, yang tanpa sekat atau layar pemisah antarpenggunanya.

Ada sebuah rencana. Rencana Dia adalah jika kematiannya terjadi di masa depan, atau dalam jangka waktu dekat ini, kedua adik dan ibunya bisa tetap terurus karena setidaknya avatar atau representasinya masih bisa hidup entah hingga beberapa urusan lain dalam keluarganya selesai. 

Dalam perjanjian itu, avatar Dia akan hidup di dunia Maya, dan akan persis wujud fisik, kesadaran, perilaku, sikap, dan bahkan inteligensi walau tubuh organiknya di dunia nyata telah habis terdekomposisi belatung, semut, dan kawan-kawan renik lainnya.

Begitulah jenis asuransi di dunia baru itu. Itu dianggap sebuah kelaziman baru sementara delapan puluh persen waktu orang memang kebanyakan dihabiskan di jagat digital.

“Ibu Arkadia, berikut polisnya dan tertera premi yang sudah disepakati sebelumnya,” kata seorang pria.

Dia mengamati dokumen yang diberikan kepadanya, memperhatikan tiap klausul yang tertera di sana.

“Artificial Intelligence kami akan merekam dan memindai data biometrik, historis, memori otak, dan karakter. Ini untuk pembuatan avatar ya, Bu, seperti yang sudah kami jelaskan sebelumnya. Kira-kira Ibu Arkadia bersedia kapan?” kata pria itu lagi.

“Minggu depan di jam yang sama. Oh ya, saya cuma ingin memastikan lagi: setelah saya mati, berapa lama waktu maksimal representasi diri saya aktif di Maya?”

“Selama hasil post-mortemnya baik, Bu, kira-kira aktivasi avatar Ibu butuh waktu dua kali dua puluh empat jam maksimal. Mungkin bisa lebih cepat dari itu,” jawabnya.

“Oh bagus itu.”

“Ada lagi yang ingin ditanyakan, Bu?”

Dia menghela napas sebentar, “Lalu, bisakah avatar diberi sanksi—karena ia telah berubah menjadi entitas sendiri yang tanpa pengarah, terkena hukum jika ia nanti melakukan hal ilegal atau tidak patut di Maya?”

Yang termaktub dalam undang-undang di negara mana saja, adalah jika sesuatu di dunia nyata dianggap ilegal atau bertentangan secara hukum atau moral kebanyakan, maka sesuatu itu juga ilegal dan tidak patut dilakukan di dunia maya.

“Tidak perlu khawatir, Bu. Representasi Ibu di Maya kemungkinan besar tidak akan berbuat aneh-aneh, Bu. Kami ‘kan sudah dapatkan rekam jejak Ibu dari orok. Catatannya bersih kok, Bu. Ibu bukan orang seperti itu,” kata pria itu tertawa.

Dia merasa lega mendengarnya. 

***

Dalam sebuah platform digital, pelataran itu wangi bunga sedap malam. Begitu kata Dia dalam hati. Warna cahaya perunggu berpendar manis dan musik ritmis melatari semua sehingga terasa sangat syahdu. 

Katanya, acara ini hibrida—terjadi di “dunia nyata” juga. Dan hal seperti ini sudah jamak dilakukan di mana saja. Interaksi sosial, manufaktur, kesehatan, pendidikan, perdagangan, hiburan bahkan pertahanan. Triliunan investasi dari ribuan korporasi sudah sejak lama disuntikkan dalam proyek adikuasa ini. Lagi pula batasan antara “nyata” dan “maya” sudah lama kabur: kadangkala yang maya justru terasa yang paling nyata. 

Pelataran tempat Mima dan calon suaminya yang akan melangsungkan matrimoni terasa hangat dan terlihat cantik. Dia mengambil tempat. Gaun pengiring pengantin perempuan warna hijau bersulam emas lembut di tubuhnya. 

“Katanya ini sempurna seperti pilihan Mima,” ucap Ira, salah satu kawan masa remajanya yang duduk di sampingnya. “Aku penasaran Mima pesan di mana.”

“Pesan?” tanya Dia heran.

“Itu barang inden, lho. Waktu tunggu kira-kira sekitar dua tahun!” jawab Ira.

“Maksudmu, Ira?” tanya Dia lagi. Masih heran.

“Lengkap dengan spec atau fitur sesuai kesukaan! Coba deh nanti kamu dengar suara si calon suami, tebak mirip siapa? Travolta! Aktor yang lagi naik daun kesukaan Mima!” jawab Tina, yang duduk di sebelahnya Ira, begitu antusias.

“Semua bisa diwujudkan, ya. Kalau ada niat. Dan tentu saja: modal! Ha-ha-ha,” kata Ira sambil tertawa.

Dia masih tidak percaya. Sejak kapan Dia ketinggalan berita?

“Lho, berapa harganya?”

“Tidak sampai tiga puluh ribu ether!”

“Tampan sekali, lho, calon suami Mima ini! Eh, iya, katanya, sesuai selera Mima ya, kebule-bulean he-he-he.”

“Aku nanti pengin tanya deh, setelah tujuh bulan pemakaian, suami Mima ini oke nggak ya? Kalau ya, mungkin aku juga mau coba inden merek yang sama.”

“Antikesepian dengan metaversatile.”

“Antidepresi dengan metaversatile.”

“Antigila, antigalau, antibingung.”

***

Seketika Dia gelisah. Telapak tangannya penuh keringat. Bagaimanapun memang Dia ingin terus khidmat dengan peradaban dunia. Tapi, kali ini ada sesuatu yang… rasanya salah dan bikin ngeri. Dia tidak tahu peradaban dunia macam apa yang sedang ia tinggali. Apa-apa jadi representasi. Melihat kiri dan kanan. Semua tampak tenteram, wajar dan lantas mapan. Anehnya, semua tampak tidak heran dan menikmatinya. Apakah Dia hanya satu-satunya?

Mima berjalan di ujung sana dibalut gaun putih rancangan desainer kenamaan. Berdiri di hadapannya seorang pria—yang jelas adalah calon suami Mima—menggenggam tangannya, menyambutnya hangat.

Namun, tiba-tiba seperti ada yang perlu diwaspadai, tubuh Dia terasa kaku. Bulu kuduk Dia berdiri, tepat begitu melihat dengan jelas senyum sang mempelai pria yang betul-betul mengembang, di pelataran wangi sedap malam.

 

Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.