Lewati ke konten

Origami

May 25, 2026 · Daisy Rahmi

Origami

Kendaraan roda empat yang terlihat di kaca spion menarik perhatian. Warnanya biru tua dengan seseorang yang tidak aku kenal duduk di kursi pengemudi, menjaga jarak tanpa berusaha bersembunyi. Perasaan kuatku ia sedang membuntuti. Mungkin ia telah melakukannya sejak aku keluar rumah.

Detak jantung meningkat. Aku cengkeram erat kemudi. Kepanikan yang jadi teman akrab belakangan ini datang bak gelombang. Tenang, kataku pada diri sendiri sambil mengembuskan napas, kau hanya perlu menyetir masuk ke parkiran dan lelaki itu akan membereskan segalanya. Dia selalu membereskan segalanya.   

Lampu merah lalu lintas berubah hijau. Aku injak pedal gas dan melesat maju. Berusaha tak melirik kaca spion, aku berkonsentrasi mencapai tempat yang dituju. Sesaat berselang terlihat plang dengan lampu neon warna-warni. Kelegaan membuncah. Aku sudah sampai.    

Si penguntit tak ikut masuk. Kendaraan tersebut berjalan perlahan kemudian melesat pergi. Kusandarkan kepala ke kemudi, baru sadar tanganku gemetar. Jam digital mobil menunjukkan pukul 22.40. Serombongan pengunjung melintas di parkiran. Masih terguncang, aku keluar dari mobil masuk ke cafe. Kupesan minuman dan menunggu si penjemput.

Lelaki itu tiba sebelum pesananku diantar. Ia menyelinap tanpa kuketahui dan duduk di seberang meja. Tatapan tajamnya menelusuri wajahku.

“Ada apa?”

Aku menggeleng.

“Anda dibuntuti?”

Pelipisku berdenyut.

“Seharusnya Anda hati-hati,” tegurnya.

“Antarkan saja saya padanya,” gumamku letih.

Lawan bicaraku bergeming.

“Di mana dia?”

“Sudah pergi.”

“Anda yakin?”

Emosi tersulut. Syok karena peristiwa yang baru terjadi dan sikap pria tersebut membuat kesabaranku menipis.

“Waktu saya tidak banyak. Kalau Anda tak mau mengantar saya menemuinya ….”

Pelayan datang membawa pesananku. Lelaki itu bangkit.

“Saya tunggu di luar.”

Cepat kuhabiskan minuman lalu mengikutinya. Kami menuju sisi timur tempat parkir di mana kendaraan lain telah menanti lengkap dengan sopir. Perjalanan itu singkat, hanya dalam hitungan menit mobil sampai di tujuan. Lelaki penjemput mengantar ke ruang tunggu kemudian meninggalkanku. Tak lama pintu dibuka oleh seorang wanita yang menyilakan masuk.

Hidungku mencium samar bau harum dupa. Berbagai benda memenuhi etalase kaca yang berjajar sepanjang dinding. Perempuan yang tadi membuka pintu membantu laki-laki tua bangun dari ranjang dan membimbingnya duduk di dekatku. Kupandang sosok kecil, rapuh dan setengah buta itu. Ini kali kedua aku bertemu dengannya. 

Jari yang keriput itu meraba-raba sampai menyentuh tanganku. Pemiliknya tersenyum.

“Anda datang lagi.”

“Dia ….”

Orang tua tersebut mengisyaratkan si asisten untuk keluar sebelum aku bicara lebih lanjut. Setelah pintu tertutup dan tinggal berdua, matanya menatap lurus ke arahku.

“Silakan lanjutkan, Nyonya, tapi satu hal harus Anda tahu: bukan dia yang harus Anda waspadai.”     

***

Perutku bergolak. Susah payah bangkit. Limbung, seisi kamar serasa berputar. Dengan telapak tangan menempel di dinding, kulangkahkan kaki tertatih ke kamar mandi. Isi perut keluar tak tersisa. Aku tampung air yang mengucur dari keran wastafel, berkumur lalu kembali berjalan merambat ke kamar. Daun pintu bergerak membuka sebelum kubaringkan tubuh. Seraut wajah bocah perempuan menyembul dari baliknya.

“Sakit lagi?”

Kupaksakan senyum meski kepala berdenyut-denyut.

“Mana ayahmu?”

“Ayah pergi sejak pagi.”

Ia masuk kamar sebelum sempat kucegah, menghampiri diriku yang masih duduk di tepi ranjang. Dipandangnya aku dengan kepala dimiringkan dan dua tangan di belakang tubuh.

“Ayo main.”

Kugelengkan kepala.

“Aku sakit.”

“Kau selalu sakit,” cemoohnya.

Anak perempuan tersebut naik ke kasur lalu mulai melompat-lompat seperti di trampolin. Denyut di kepala makin kencang. Sosoknya kabur dalam pandanganku.

“Hentikan! Keluar kau!” bentakku.

Terkesiap, ia melompat turun lalu lari keluar sambil membanting pintu. Aku lega dia pergi. Energiku habis terkuras dan tak punya tenaga untuknya. Aku berbaring di tempat tidur dengan mata terpejam, ingatan memutar lagi rekaman kejadian akhir-akhir ini. Kekasihku berubah. Dia bukan lagi laki-laki yang sama dengan yang dulu meminangku sebagai istri.

Tak ada sinar matahari yang tadi memenuhi kamar ketika terjaga. Jendela tampak bagai lubang gelap segi empat di dinding. Lama sekali aku tidur. Mual sudah hilang begitu pula denyut di kepala dan aku merasa lapar. Membuka pintu tanpa menyalakan lampu, keadaan di luar kamar sama gelap dengan di dalam. Pria itu belum pulang, entah jam berapa sekarang. Tidak terdengar pula suara si bocah, di mana dia?

Kaki telanjangku menginjak sesuatu. Tangan terulur ke lantai, heran melihat burung kertas di jepitan ibu jari dan telunjuk. Aku nyalakan lampu kemudian melangkah perlahan menyusuri tangga, melewati burung-burung kertas di undakannya. Aku merinding. Suasana sepi dan ruang bawah yang hanya diterangi sinar dari atas terasa menyeramkan.    

Pemandangan berubah sebelum anak tangga terakhir kuinjak. Berdiri tak jauh dari pintu kamar yang terbuka, aku lihat diriku berbaring di ranjang dan ia duduk di tepi kasur. Lelaki itu mengecup keningku kemudian berjalan keluar. Bagai bayang-bayang, kuikuti ia turun ke dapur. Dengan cekatan dipotong-potongnya sayuran di talenan, menaburkan bubuk putih ke sup yang baru jadi lalu mengaduknya. Kusaksikan ia meletakkan mangkuk di nampan dan membawanya ke atas ….

“Apa yang kau pikirkan?”

Suara tersebut menembus gendang telinga. Aku tergeragap dan mengejap-ngejapkan mata seperti orang baru bangun tidur, nanar memandang pria yang duduk bersama di meja makan.

“A … apa?” tanyaku terbata.

“Apa yang kau pikirkan?” ulangnya, “Aku bicara dari tadi, tapi kau tak mendengarku.”

Semua kembali dalam hitungan detik. Mendadak bangkit sehingga kursi yang diduduki terdorong mundur dengan berisik, kutatap tajam si lelaki.

“Siapa kau? Apa yang kau campurkan ke makananku?”

Laki-laki di seberang meja ikut bangkit. Sorot matanya cemas.

“Apa maksudmu? Aku tak mengerti.”

“Jangan mendekat!” teriakku melihatnya melangkah maju.

“Kau sakit. Biarkan aku membantumu.”

“Tidak! Mana suamiku? Apa yang kau lakukan padanya?”

“Aku suamimu, Ris.”

Ia mendekapku. Aku meronta. Tanganku menyambar garpu di meja dan menggunakannya sebagai senjata. Ketika dekapannya mengendur, kudorong dia kemudian secepat kilat lari ke atas lalu mengurung diri di kamar. Sesaat berselang terdengar langkah menaiki tangga diikuti ketukan di pintu.

“Buka, Ris. Biarkan aku masuk.”

Aku panik dan ketakutan. Mata bergerak liar menyapu sekeliling kamar. Saat itulah kulihat dia. Si gadis kecil duduk meringkuk di sudut gelap, tangannya memeluk lutut. Isak terdengar dari wajah yang menunduk. Aku iba. Tanpa sadar menghampiri dan merengkuh. Air mataku jatuh, bersatu dengan air matanya. Gadis kecil itu aku.

***

“Istri Anda depresi.”

Aku mengangguk.

“Kehilangan calon bayi kami terlalu berat untuknya. Saya sudah berusaha menghibur, tapi sia-sia. Kesehatan mental istri saya makin buruk. Dia paranoid dan mulai berhalusinasi. Sangat menyakitkan melihatnya menjauh dan menganggap saya sebagai musuh.”

“Istri Anda bisa membahayakan dirinya sendiri atau orang lain,” ucap pria berjubah putih tersebut.

Jari tangan kananku menyentuh perban di tangan kiri.          

“Saya yakin dia tak bermaksud melukai, tapi yang terjadi hari ini dapat terulang. Istri saya butuh penanganan profesional yang tidak mungkin saya berikan.”

“Tindakan Anda sudah tepat.”

“Bisa saya bertemu dengannya sebelum pergi?”

Lawan bicaraku mengangguk.

“Suster akan mengantarkan Anda.”

Wanita berseragam putih membawaku menyusuri lorong dengan pintu-pintu yang tertutup di kanan kiri. Ia berhenti di salah satu pintu, membuka dan menyilakanku masuk.

“Kami memberinya suntikan penenang. Kemungkinan besar ia tak mengenali Anda.”

Kututup pintu setelah perawat berlalu kemudian mendekati sosok di tempat tidur. Wanita itu terbaring dengan wajah pucat, sepasang mata terbuka lebar, tapi kosong. Aku menunduk dan menciumnya.

“Apa kabar, Ris? Aku punya hadiah untukmu.”

Tangan yang sehat merogoh saku. Aku letakkan burung kertas di genggaman ke meja samping ranjang.

“Semoga bisa menemani hari-harimu di sini. Selamat tinggal.”

Tak ada reaksi. Kucium dia sekali lagi lalu meninggalkan tempat itu.

Mobil melintasi jalan-jalan yang telah puluhan kali dilalui. Halaman itu dipenuhi dedaunan gugur yang kini remuk tergilas roda. Seseorang menyambut kemudian mengantarku ke belakang rumah. Dua gelas minuman terletak di meja kecil yang diapit dua kursi. Salah satunya diduduki tuan rumah yang baru saja melemparkan remah roti ke kolam ikan.

“Rencanamu berhasil?” tanya orang tua rapuh, kecil, dan setengah buta tersebut tanpa berpaling.

Aku duduk. Meraih gelas minuman, berucap singkat sebelum menyesapnya.

“Tentu saja.”


D
Tentang Penulis

Daisy Rahmi

Lahir di Manado

kelahiran Manado. Cerpennya dimuat di berbagai media massa. Kini tinggal di Jakarta. Telah menerbitkan beberapa kumpulan cerpen, di antaranya: Kepak Sayap Merpati (Alinea Publishing, 2022), Dunia Alika (IWP Media Publishing, 2025). Beberapa cerpennya juga masuk dalam antologi bersama, di antaranya: Musim Bahagia (Gigih Mandiri Pustaka, 2022), Yang Tak Diketahui (Alinea Publishing, 2022), Kembalinya Imam Surau (Phoinex Publisher, 2022).

Baca Biografi Selengkapnya →
Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.