Lewati ke konten

Mengapa Tuhan Menciptakan Pemain Judol

September 29, 2025 · Muhammad Aswar

Pada hari keenam belas sejak penciptaan dunia digital, saat malaikat-malaikat sibuk memperdebatkan etika algoritma dan para nabi sedang dilatih untuk membaca syarat dan ketentuan, Tuhan menciptakan pemain judol.

Tak ada yang tahu pasti alasannya. Sebagian malaikat berkata itu hanya eksperimen. Sebagian lagi menyebutnya bentuk baru dari seni keputusasaan. Tapi para arwah yang dulu pernah menjadi penulis sastra minor percaya: pemain judol adalah makhluk suci. Mereka adalah pengembara metafisik yang tidak percaya pada pekerjaan tetap, tapi percaya bahwa angka 777 bisa membawa keselamatan.

*****

Pada masa lalu yang belum terlalu lampau, Tuhan pernah mengirim bantuan kepada manusia Indonesia. Bantuan itu disebut BSU, singkatan dari Bantuan Subsidi Upah, sebagai bentuk cinta kasih Tuhan terhadap hamba-Nya yang mengabdi pada gaji UMR dan motor kredit.

Namun, seperti halnya semua mukjizat, bantuan itu datang dalam bentuk uang. Dan seperti semua bentuk uang, ia larut ke tempat-tempat yang dikehendaki hawa nafsu.

Dalam seminggu, lebih dari sepuluh juta akun rekening menggunakan dana BSU untuk bermain judol. Uang yang tadinya bisa digunakan untuk membeli kebutuhan dasar seperti beras, pulsa, atau perasaan damai, justru mengalir deras ke slot online bertema “Kaisar Romawi” dan “Pesta Buah Tropis”.

Dalam waktu tak sampai tiga kali rotasi matahari, dua triliun rupiah hilang begitu saja, berubah menjadi sinyal yang menguap di antara server Kamboja, Vietnam, Singapura, dan mimpi-mimpi yang tak pernah menetas.

*****

“Kenapa Tuhan membiarkan ini terjadi?” tanya seorang pakar ekonomi dalam talkshow pagi.

Tapi langit tidak menjawab. Yang menjawab hanyalah iklan pop-up, “BONUS MEMBER BARU 100% TANPA RIBET!”

*****

Ada kepercayaan ganjil di antara para pemain judol bahwa mereka tidak pernah bermain untuk menang.

“Kalau mau kaya,” kata salah satu dari mereka, “kerja di dealer-nya aja.”

Mereka bermain untuk mengalami sesuatu yang suci. Degup jantung sebelum gulungan berhenti, harapan absurd bahwa angka sakral akan sejajar, dan kelegaan fatalistik saat saldo tersisa nol.

Bagi mereka, kekalahan adalah bentuk baru dari doa.

*****

Dan mungkin memang itu sebabnya Tuhan menciptakan pemain judol.

Karena Dia tahu, setelah menciptakan birokrasi, inflasi, KPR 30 tahun, dan redaksi yang tak membalas kiriman cerpen, manusia butuh sesuatu yang tak masuk akal tapi tetap memberi ilusi kendali.

Sebab tak ada yang lebih spiritual dari tombol “SPIN SEKALI LAGI” yang di-klik dengan air mata.

*****

Di kota kecil bernama Tangsel, seorang pemuda bernama Irpan baru saja kalah gajinya yang ke-7 dalam permainan slot bertema “Kucing Menari di Tengah Hujan”. Tapi anehnya, wajahnya tampak tenang. Seperti orang yang baru selesai sembahyang.

“Aku merasa bersih sekarang,” katanya pada tembok.

Ibunya yang menyaksikan dari dapur hanya bisa menghela napas, lalu mengaduk mi instan dengan air mata. Tapi Irpan tetap percaya bahwa Tuhan punya rencana, dan kadang, rencana itu memang harus melewati provider e-wallet ilegal.

*****

Sementara itu, di tempat lain, di langit paling sepi dari algoritma, seorang tokoh fiksi bernama Haruki Murakami sedang berdiskusi dengan Tuhan.

“Jadi,” kata Murakami versi metafisik itu, “kau benar-benar serius dengan pemain judol ini?”

Tuhan hanya tertawa kecil. “Mereka membuktikan satu hal bahwa manusia akan tetap berharap, bahkan kepada sesuatu yang sepenuhnya acak.”

“Tapi bukankah itu tragis?”

“Bukankah semua sastra besar juga begitu?”

*****

Dan memang, jika ditanya apa yang membedakan pemain judol dari pendoa di rumah ibadah, jawabannya hanya satu: pakaian dan sinyal internet.

Keduanya sama-sama tunduk. Sama-sama menengadah. Sama-sama tahu bahwa hasilnya bukan di tangan mereka. Bedanya, yang satu percaya pada mukjizat spiritual, yang lain percaya pada scatter liar dan bonus free spin.

*****

Di hari ke-87 musim pengangguran, seorang mantan guru honorer bernama Pak Toha berhasil menang 4,5 juta dari slot bertema “Legenda Yunani”.

Ia langsung bersedekah. Beli martabak telur buat satu RT.

“Kemenangan harus dibagi,” katanya dengan senyum kosong. “Biar Tuhan tahu kita tidak serakah.”

Malamnya ia kalah lima juta. Tapi dia tetap tersenyum. Karena katanya, “Tuhan sedang menguji keikhlasan saya.”

Dan di balik layar, di dalam server yang dingin dan penuh kabel, Tuhan sedang menulis cerpen-Nya sendiri. Judulnya: “Apa yang Aku Pelajari Dari Orang-orang yang Tidak Pernah Menang Tapi Terus Bermain”.

*****

Jadi jika engkau bertanya, mengapa Tuhan menciptakan pemain judol?

Mungkin karena manusia sudah terlalu lama berpura-pura waras.

Dan Tuhan tahu, tak ada yang lebih jujur dari orang yang rela kehilangan semuanya, hanya untuk satu detik rasa “mungkin kali ini, bisa jadi”.

*****

Mungkin Tuhan sedang bercanda.

Atau mungkin, ini bentuk humor-Nya yang paling subtil dengan menciptakan makhluk yang sadar bahwa dia pasti kalah, tapi tetap memilih untuk bermain. Lagi dan lagi.

Karena dalam dunia yang tak bisa diatur, satu-satunya kebebasan hanyalah mengklik kekacauan itu sendiri.

M
Tentang Penulis

Muhammad Aswar

Muhammad Aswar adalah penikmat Sastra Arab dan pemerhati kajian Timur Tengah. Menjadi pembicara di LIFEs Salihara 2021. Menerjemahkan puisi Nizar Qabbani, Cinta Tak Berhenti di Lampu Merah (Circa, 2021); Surat Tuhan karya Albert Einstein (Circa, 2023); Pembangkangan Sipil karya Henry David Thoreau (Basabasi, 2024); Max Havelaar karya Multatuli (Basabasi, 2025).

Baca Biografi Selengkapnya →
Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.