Lewati ke konten

Peristiwa

Festival Dunia Santri 2026: Ketika Pesantren Menjadi Titik Temu Gagasan, Sastra, dan Kebangsaan

July 7, 2026

Di tengah derasnya arus perubahan, pesantren tetap menyimpan satu kekuatan yang tak lekang oleh zaman: kemampuannya merawat tradisi sambil melahirkan gagasan-gagasan baru. Dari ruang-ruang sederhana di balik dinding pesantren, lahir ulama, sastrawan, pemikir, budayawan, jurnalis, hingga pemimpin bangsa. Tradisi keilmuan yang berakar kuat itulah yang kembali dirayakan melalui Festival Dunia Santri 2026, sebuah perhelatan literasi dan kebudayaan yang akan berlangsung pada 9–10 Juli 2026 di Pondok Pesantren Minggir, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Festival ini bukan sekadar agenda tahunan, melainkan sebuah ikhtiar untuk menghadirkan pesantren sebagai ruang dialog yang terbuka. Di sini, tradisi bertemu dengan kreativitas, sastra berdialog dengan kebangsaan, dan literasi menjadi jembatan yang mempertemukan beragam latar belakang.

Semangat itu tampak dari para narasumber dan peserta yang datang dari berbagai kalangan. Festival Dunia Santri 2026 menjadi ruang perjumpaan lintas organisasi, lintas generasi, dan lintas tradisi pemikiran. Tokoh-tokoh yang hadir berasal dari beragam latar belakang, mulai dari Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), kalangan akademisi, sastrawan, budayawan, pegiat literasi, hingga komunitas kebudayaan. Di tengah beragam pandangan yang berkembang di Indonesia, festival ini ingin menunjukkan bahwa perbedaan bukan penghalang untuk duduk bersama, melainkan kekayaan yang dapat dirawat melalui percakapan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan.

Rangkaian kegiatan akan dibuka pada Kamis, 9 Juli 2026, melalui Workshop Jurnalistik dan Penulisan Kreatif yang berlangsung pukul 09.00–12.00 WIB. Sejak pagi, para santri, mahasiswa, guru, dan pegiat literasi akan belajar bersama Mukhlisin, Beni Satria, dan Aguk Irawan. Mereka akan berbagi pengalaman mengenai dunia jurnalistik, teknik menulis cerpen, hingga proses kreatif melahirkan puisi. Workshop ini diharapkan menjadi ruang belajar yang melahirkan penulis-penulis muda dari lingkungan pesantren dan masyarakat luas, sekaligus memperkuat tradisi literasi yang selama ini menjadi salah satu denyut kehidupan pesantren.

Usai jeda siang, pada Jumat, 10 Juli 2026, festival berlanjut dengan Diskusi Buku Menggali Api Pancasila: Catatan dari Anjangsana Kebangsaan karya Ngatawi Al-Zasteouw. Diskusi akan berlangsung mulai pukul 13.00–15.30 WIB. Forum ini menghadirkan K.H. Ahmad Muwafiq, Dr. Surahno, S.H., M.Hum., Prof. Dr. Agus Moh. Najib, S.Ag., M.Ag., Ngatawi Al-Zastrow, Dr. Irene Camelyn Sinaga, AP., M.Pd., dan Dr. M. Imdadun Rahmat, M.Si. Melalui buku tersebut, para pembicara akan mengajak peserta membaca kembali Pancasila bukan sekadar sebagai teks konstitusional, melainkan sebagai pengalaman hidup yang tumbuh dari perjumpaan antarmanusia, keberagaman budaya, dan tradisi gotong royong yang menjadi fondasi Indonesia.

Di hari yang sama, Jumat, 10 Juli 2026, pukul 18.30–22.30 WIB, akan digelar Malam Sastra Santri dengan rangkaian acara pembacaan puisi, refleksi sastra, musik, dan dialog budaya bersama Jamal D. Rahman, Agus R. Sarjono, K.H. Ahmad Muwafiq, Mustafa W. Hasyim, Joni Ariadinata, Aguk Irawan, Nissa Rengganis, Evi Idawati, Kedung Darma Romansha, Rekki Zakkia, Beni Satria, Mutia Sukma, dan Dr. Irene Camelyn Sinaga. Dalam satu panggung, para penyair, sastrawan, budayawan, dan tokoh pesantren akan menunjukkan bahwa sastra bukan sekadar karya estetis, melainkan cara merawat ingatan, menyemai nilai-nilai kemanusiaan, dan menjaga denyut kebudayaan bangsa.

Festival Dunia Santri 2026 ingin menegaskan bahwa pesantren tidak pernah berdiri di pinggir sejarah Indonesia. Sejak awal, pesantren menjadi bagian penting dalam perjuangan kemerdekaan, pembentukan karakter bangsa, hingga pengembangan tradisi intelektual. Kini, ketika tantangan zaman semakin kompleks, pesantren kembali mengambil peran sebagai ruang yang mempertemukan ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan semangat kebangsaan.

Melalui festival ini, masyarakat diajak hadir bukan hanya sebagai penonton, melainkan sebagai bagian dari percakapan besar tentang masa depan Indonesia. Karena dari ruang-ruang dialog yang sederhana, sering kali lahir gagasan-gagasan yang mampu menggerakkan perubahan.

Seluruh rangkaian Festival Dunia Santri 2026 terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya. Panitia mengundang para kiai, santri, mahasiswa, guru, dosen, pegiat literasi, budayawan, akademisi, komunitas seni, serta masyarakat luas untuk hadir dan merayakan semangat belajar bersama di Pondok Pesantren Minggir, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada 9–10 Juli 2026.

Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.