Lewati ke konten

Peristiwa

Novel Haruki Murakami yang Baru dan Berbeda

July 6, 2026

Enam puluh orang penggemar Haruki Murakami mengantre dengan tertib di depan sebuah toko buku di Shinjuku, Tokyo, Jumat (3/7/2026). Mereka telah memesan novel terbaru Murakami, The Tale of KAHO, sebelum novel itu selesai dicetak dan diedarkan di toko buku. Malam itu mereka menerima buku masing-masing.

Staf Kinokuniya yang mengatur penjualan pertama secara luring terkejut. Begitu banyak orang yang mengantre di depan toko, di masa ketika buku elektronik tersedia secara luas dan mudah. Ia berharap terbitnya novel baru ini bisa merangsang orang untuk mengenal karya-karya Murakami yang lain dan mengunjungi toko buku.

The Tale of KAHO adalah novel ke-16 Murakami. Awalnya, novel ini terbit sebagai serial empat bagian di majalah sastra Shincho antara Juni 2024 dan Maret 2026. Serial itu kemudian direvisi dan diperluas. Seri pertama pernah terbit dalam bahasa Inggris di New Yorker pada 2024.

Novel ini bercerita tentang Kaho, seorang wanita berusia 26 tahun yang bekerja sebagai pengarang buku bergambar. Cerita dimulai dengan Kaho yang berkencan buta dengan seorang laki-laki. Laki-laki itu berkata kepadanya, “Aku telah berkencan dengan semua jenis wanita dalam hidupku, tetapi harus kukatakan belum pernah kulihat wanita sejelek kamu.”

Penerbitnya, Shinchosha Publishing Co, menyebut The Tale of Kaho sebagai novel panjang pertama Murakami yang menampilkan seorang wanita sebagai protagonis tunggal. Murakami sering dikritik lantaran caranya memotret wanita, yang sering kali mereduksi tokoh wanita menjadi objek yang diseksualisasi atau berdimensi tunggal.

Dalam sebuah wawancara di Paris Review pada 2024, Murakami pernah menyatakan, “Dalam cerita-cerita saya, para wanita adalah medium, pembawa pesan tentang dunia yang akan datang. Karena itulah mereka selalu datang kepada protagonis saya; bukan sebaliknya.”

Ia mengklaim novel terbarunya ini lebih optimistis daripada karya-karya sebelumnya.

Ia mengaku merasa “melihat dunia dengan mata yang berbeda dari mata saya yang biasanya…. saya hanya bisa mengimajinasikan bagaimana wanita memandang dunia… Namun, saat menulis Kafka on the Shore, saya memandang dunia dengan mata seorang pemuda berusia 15 tahun, dan dalam pengertian itu, seorang novelis menjadi apa saja.”

Pengarang berusia 77 tahun ini bersikukuh bahwa ia menulis novel-novel yang “sangat berbeda” dari apa yang bisa dibuat oleh akal imitasi.

Katanya, “AI memperhitungkan segala sesuatu yang telah terjadi sejauh ini dan membuat analogi. Namun, proses menulis novel-novel saya sama sekali berbeda.” AI generatif memang makin canggih dan dimungkinkan untuk menulis novel dengan teknologi ini. Namun, peran seorang novelis, menurut Murakami, adalah “menyeret sesuatu yang baru dan tiba-tiba berkelebat dalam pikiran.”

Cerita-ceritanya memang rumit dan berkisah tentang absurditas dan kesepian dalam kehidupan modern. Saat fokus menulis sebuah cerita, tokoh-tokohnya tiba-tiba saja muncul dan “itu bukan sesuatu yang muncul dari analogi… AI mungkin tidak mampu melakukannya.”

1Q84 dan Kronik Burung Pegas–sebagian dari karya Murakami yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia–memperoleh perhatian besar dari pembaca. Tentu terjemahan novel terbarunya ini juga ditunggu-tunggu oleh para penggemarnya di Indonesia.

Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.