Peristiwa
Membaca Dekat Linda Christanty
July 5, 2026
Dalam dunia yang serba bergegas saat ini, kemampuan untuk melambatkan langkah telah menjadi privilese atau barang mewah yang hanya bisa dimiliki sedikit orang. Bahkan juga telah menjadi komoditas. Ruang publik dan ruang maya kita dipadati iklan dan janji tentang slow living atau hidden gem yang menawarkan kerahasiaan–yang tentu saja tidak lagi rahasia setelah diketahui, apalagi diketahui banyak orang.
Juga dalam sastra, ribuan atau mungkin puluhan ribu puisi, cerpen, novel, dan esai bagaikan air bah yang meluapi rentang perhatian pembaca. Teks sastra rentan menjadi sesuatu yang sekadar lewat atau hanya dibaca skimming agar sekadar tahu tentang teks itu, bukan untuk memahami, menghayati, dan menikmatinya. Begitu melimpahnya hingga Franco Moretti menawarkan untuk mendekati teks-teks sastra dari jauh.
Program “Membaca Dekat” yang diselenggarakan Bentara Budaya Yogyakarta (BBY) justru hendak menjauh dari ajakan Moretti untuk menjadikan teks sastra sekadar sebagai data. Teks sastra dikembalikan kepada hakikatnya sebagai ekspresi estetik yang personal. Di volume ke-7 program ini, BBY menghadirkan penulis cerpen sekaligus jurnalis Linda Christanty.
Sabtu sore (4/7/2026) di Communal Space ELTI Yogyakarta, riuh pengunjung gedung di Kotabaru itu mengiringi pembukaan diskusi. Peserta diskusi duduk di tempat duduk berundak sementara Linda Christanty dan penyair Ni Made Purnama Sari yang menjadi moderator duduk di dekat jendela. Ruangan yang sejuk memastikan diskusi berjalan nyaman, bebas dari udara panas kemarau di luar.
Sore itu pembicaraan difokuskan pada cerpen Kuda Terbang Maria Pinto, tetapi seiring memanasnya diskusi, topik-topik lain juga disinggung. Kuda Terbang Maria Pinto terdapat dalam buku kumcer yang berjudul sama. Buku ini dianugerahi penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa 2004 untuk kategori Buku Prosa Terbaik.
Setelah dua puluh dua tahun, cerpen itu masih mengasyikkan untuk dibicarakan. Sore itu, Purnama mengawali diskusi dengan menanyakan proses kreatif di balik cerpen tersebut. Linda menceritakan bahwa pada tahun 2000-an, ia bertemu dengan seorang tentara di kereta api dalam perjalanan dari Yogya ke Jakarta. Namun, berbeda dari stereotipe, tentara itu tampak sedih dan menatap ke luar jendela.
Lalu tentara itu tiba-tiba bercerita banyak kepada Linda, termasuk cerita perang di Timor Timur (Timor Leste). Menurut tentara itu, ada seorang perempuan yang sangat hebat, bisa terbang, dan menjadi panglima perang bernama Maria. Dan Maria kuliah di Fakultas Sastra UI–kebetulan Linda memang kuliah di sana. Si tentara juga bercerita bahwa ia akan ditugaskan ke Aceh yang menurutnya lebih sulit daripada Timor Timur. Linda tak pernah bertemu dengan tentara itu lagi walaupun diundang untuk berkunjung ke batalion si tentara di Aceh.
Ketika mulai menulis cerpen dengan informasi itu, Linda merasa tokoh perempuan panglima perang itu kurang berwibawa kalau hanya bisa terbang. Si tokoh harus punya kendaraan. Pilihannya adalah sapi, naga, dan kuda. Pilihan jatuh pada kuda dan Linda memberinya sayap sehingga selaras dengan latar tempat.
Purnama menyoroti bagaimana Maria Pinto, walaupun ditakuti, justru tidak berbicara. Ia seperti hanya hidup di dalam angan-angan Yosef Legiman si tentara. Sehingga, Yoseflah yang menjadi fokus atau tokoh utama di dalam cerpen.
Linda menjelaskan bahwa Yosef memang digambarkan untuk menghadirkan sisi lain atau sisi yang lebih manusiawi dari sosok tentara. Para tentara yang sedang menjalankan tugas mungkin tampak keras, menjadi pasukan yang mengikuti instruksi dari komandan, bukan lagi pribadi-pribadi yang bisa kita lihat dalam keluarga. Linda memotret sisi lain mereka, yang memiliki sisi rentan dalam diri mereka.
Bukan berarti Linda mengajak pembaca untuk memahami tentara sehingga ketika kita dipukul, kita menganggap itu hanya akibat dari tentara yang depresi. Karena, Yosef di dalam cerita tetap membunuh. Di dalam gubuk Maria Pinto, ia memang berniat membunuh sang panglima perang dan kemudian membunuh orang yang dijumpainya di dalam kereta api.
Sesi tanya jawab menjadi hangat oleh tanggapan para peserta. Salah satunya, Pak Yadi, mengungkapkan bahwa cerpen Kuda Terbang Maria Pinto cukup rumit sehingga perlu mengulang membaca hingga tiga kali karena alur yang dinamis dan implisit. Pak Yadi juga menyoroti bagaimana perempuan yang dibunuh Yosef digambarkan “bukan pemberani”, padahal perempuan itu digambarkan sebagai pemimpin teroris.
Linda menguraikan aspek realisme penokohan tersebut dengan menjelaskan bahwa sosok-sosok yang memang “pemberani” biasanya adalah yang bertugas di lapangan. Para pemimpin yang mengatur strategi justru biasanya dievakuasi lebih dulu jika terjadi konflik. Karena, orang lapangan memahami lokasi sehingga tahu harus ke mana untuk menghadapi situasi darurat dan risiko.
Diskusi hangat berlangsung hingga setelah azan magrib terdengar. Sebagian peserta yang bibirnya kecut keluar untuk menyulut rokok. Kotabaru, meskipun terletak di pusat kota, tidak terasa bising. Namun, hasil dari percakapan jarak dekat atas sebuah cerpen legendaris tentu menimbulkan keriuhan lain di dalam benak peserta. Sedemikian rumit dan canggih sekaligus penuh dengan penghayatan atas kenyataan yang menjadikan sosok dalam karya sastra tampak nyata sebagai manusia–sebagai kita.