Peristiwa
Konsistensi hingga Ke-100
July 4, 2026
Melaksanakan sebuah program rutin hingga seratus kali tentu–mengutip sebuah baris dari Boris Pasternak–tak semudah menyeberang tanah lapang. Punya dana yang memadai saja tidak cukup. Dibutuhkan energi dan antusiasme yang besar dan terjaga, setidaknya dari pihak penyelenggara.
Pada Jumat (3/7/2026), Warung Sastra mengadakan Malam Buku ke-100. Untuk menandai angka itu, toko buku yang populer di kalangan anak muda ini merayakan buku-buku karya Asef Saeful Anwar, sastrawan dan dosen UGM yang mencetuskan nama kegiatan.
Warung Sastra memindahkan toko dari Maguwo ke Karangwaru di pusat kota Yogyakarta pada 2023. Asef mendorong Ari Bagus Panuntun dan Andre Ilham selaku pengelola Warung Sastra untuk mengadakan kegiatan diskusi buku rutin di tempat yang baru. Asef sekaligus memberikan nama untuk kegiatan itu, yaitu Malam Buku, yang biasa disingkat menjadi “Mabuk”.
Sekitar tiga tahun kemudian, lebih dari seratus buku dibahas di Malam Buku–karena dalam satu kali kegiatan bisa dibahas lebih dari satu buku. Tidak melulu buku sastra. Warung Sastra mengundang para penulis, penerbit, dan pembaca dari berbagai bidang, mulai dari sosial, politik, hingga pendidikan.
Diskusi komik One Piece menjadi salah satu magnet pembaca komik tersebut untuk meriung di Karangwaru. Grup musik Moctar pernah pula melakukan tur di sini. Diskusi buku Pak Fahruddin Faiz lebih mirip pengajian yang takzim daripada pertukaran apresiasi buku.
Jumat malam itu, Warung Sastra kembali ke “core”-nya. Asef menjadi moderator. Para pembicara terdiri dari Laviaminora (dosen, aktivis feminis, penggerak Hex and Tea), Indrian Koto (penerbit JBS), Ari Nugroho (Jejak Pustaka), dan Ipank Pamungkas (Shira Media).
Laviaminora mendekati buku-buku Asef sebagai pembaca dan menguraikan aspek-aspek liberasi, terutama dari sudut pandang feminis, dalam Pada Sebuah Radio Dangdut. Buku kumpulan cerpen ini mendekonstruksi hierarki budaya maskulin yang sangat lekat dengan dangdut yang diakrabi Asef.
Para pembicara dari ketiga penerbit menceritakan pengalaman saat menerbitkan buku Asef di penerbit masing-masing.
Ipank mengungkapkan bagaimana Shira Media bersepakat dengan Asef untuk menerbitkan kumpulan puisi Ayat-Ayat Mantan sebagai respons atas maraknya buku puisi yang “quotable”. Sastrawan senior Indrian Koto yang mengelola JBS menerbitkan Pada Sebuah Radio Dangdut karena senang dengan naskah yang berani menafsirkan dangdut dari sudut yang berbeda. Ari Nugroho berterus terang: ia menerbitkan Ruang-Ruang Kemungkinan dalam Kritik Sastra Akademik pertama-tama karena melihat sosok Asef yang penting dalam peristiwa sastra, khususnya di Yogya.
Asef sendiri menyatakan bahwa ia tidak ingin lekat dengan satu penerbit. Ia juga menguraikan gagasan-gagasan yang melandasi penulisan sebuah buku, termasuk penggunaan nama yang berbeda untuk tulisan nonfiksi–ia menggunakan nama Saeful Anwar.
Malam Buku di Warung Sastra telah teruji waktu sebagai salah satu “skena” sastra di Yogya, tempat buku hadir sebagai entitas estetika, pemikiran, dan komoditas sekaligus. Skena-skena serupa ada di lokasi-lokasi lain, baik yang dirayakan beramai-ramai maupun dalam senyap yang relatif di sudut-sudut kampus, warung kopi, atau kamar kos-kosan.