Puisi-puisi Polanco Surya Achri
May 25, 2026 · Polanco Surya Achri
Ketika Kabar Kematian Raden Rangga Tiba
Duh, Rangga, Putraku, Cah bagus, saat kabar kematianmu datang ke sini,
ke Mataram yang sepi, betapa sedih diri ini—tiada genap bisa diri katai.
Saat masihlah belia, saat menyimak kisah para Anbiya dari Gurunda,
dari Nenendamu, aku pernah bertanya, saat Adam kehilangan putra,
apa yang dirasa; dan kini, aku mengerti, bagaimana itu rasa. Aku pun
jadi paham, apa yang dirasa Yakub kala dengar kabar Yusuf. Duh,
Rangga, Putraku, Cah bagus, aku pun bayangkan dirimu jadi raja
—di negeri yang tiada lagi bisa anugerahkan duka-derita. Oh, Rangga,
Anakku, maafkan aku, bila tiada menangisimu. Betapa, Raja tiada boleh
guna jatuhkan airmata.
(2017—2025)
Percakapan Raden Rangga dengan Panembahan Senopati sebelum Pergi ke Sebuah Desa Tinggalkan Mataram
Ayahanda, apa karena sahaya hanya putra selir yang tiada mulia,
hanya anak dari perempuan biasa, lantas Ayahanda pinta sahaya
guna sirna, jauhi Mataram bernama? Apa karena Ayahanda
takut pada apa-apa yang kelak tiba—di mana sahaya jadi mula
sebab-musabab, jadi alasan bagi serangkaian keruntuhan?
Tiada demikian, Anakku, Rangga. Aku hanya hendak
menjauhkanmu dari derita—yang dinama Takhta.
(2024—2025)
Sang Ular Purba sebelum Meninggalkan Panggung dan Menuju Lakon-Cerita Selanjutnya
Ada yang berkata, pada tiap diri manusia, ada binatang buas, yang ganas.
Akan tetapi, di dalam dirimu, Rangga, tiada genap ada binatang buas—
hanya ada binatang yang ingin bebas, binatang yang ingin lepas . . .
Aku ini ular purba yang ingin terlelap dan bermimpi, ingin terlelap
di salah satu dahan Pohon Khuldi yang tiada terlampau tinggi. Aku ini
ular purba yang dikutuk senantiasa melata, mengembara; hidup bergerak
di antara puing kuasa dan juga bahasa. Aku ini ular, Rangga, mana boleh
jadi camar, jadi burung berparuh-bercakar! Rangga tiada pernahkah
dirimu berpikir, kebaikan juga bisa menyakiti manusia?
(2020—2025)
Perihal Kupu dan Adegan Akhir Raden Rangga
Aku Rangga, pangeran kecil yang terusir dari negerinya sendiri;
terpaksa genapi getir lakon-cerita, pada sebuah desa asing-terpencil.
Sebentar lagi, aku akan mati; akan menemui Gusti yang Mahasunyi,
Gusti yang ketahui tapi amat suka menanti. Aku tiada membenci,
tiada memusuhi, Sutawijaya atawa Panembahan Senopati.
Bagaimana mungkin kubenci Ayahandaku sendiri, Ayahanda
yang dongengi kisah para nabi dan dewa-dewi? Akan tetapi, aku
bukanlah bidak caturangga atau wayang. Aku adalah kegelapan,
adalah kesunyian dalam. Dan sambil menunggu malaikat maut
yang akan datang menjemput, kupilih mengenang masa lalu,
mengenang putih kupu-kupu yang beterbangan di halaman keraton
kala siang dan petang; mengenang tanya yang pernah kuajukan pada
Ayahanda Panembahan: Oh, Ayahanda, kenapa putra-putri raja
begitu suka mengejar kupu dan ingin menangkapnya, apa karena
ingin miliki atau sekadar iri bisa terbang bebas keluar-masuk tebal
benteng istana? Ah, seekor kupu kecil putih berwarna, yang dulu
masuk ke kraton, entah dari mana, kini kembali datangiku yang mau
menuju Sana; dan meminta menjelma kupu kecil putih berwarna.
Sebuah suara lembut terdengar di sepasang ini telinga: Ananda,
kemarilah, dirimu tiada perlu lagi jadi Rangga, tiada perlu lagi
menderita; kemarilah, jadilah salah satu kupu yang beterbangan
di luas taman bunga-Ku!
(2020—2025)

Adalah seorang penyair dan penulis prosa yang bermukim-lahir di Yogyakarta. Selain menulis, terkadang ia menyutradarai film dokumenter dan pertunjukan; serta mengurator.
Baca Biografi Selengkapnya →