Lewati ke konten

Puisi-puisi Andi Wirambara

May 25, 2026 · Andi Wirambara

Puisi-puisi Andi Wirambara

Mendengarkan The Garden of Earthly Delights

 

aku mengajakmu mendengarkan lukisan, buatan Bosch
pada bening pandangmu, irama capriccioso beralun
sayup-sayup mendentingkan nada-nada yang ganjil
menyiarkan alkisah tentang betapa dunia menyediakan
banyak kesenangan yang kita lamunkan sebagai surga
senyatanya hanyalah dongeng di tengah hijau labirin,
sefananya boneka usang yang masih tersenyum manis 
dengan rapi rajutan sulur belukar dahan stroberi
merdu melingkar, menjadi mahkota di cangkang keningmu.


kita masih terpaku pada lukisan, dan aku menyadari
binar matamu tengah tersangkut pada lipatan-lipatan awan 
di atas taman sejuk itu, barangkali senyummu tersesat 
turut tertinggal di teratai tempatmu berdiri anggun
sebagai ratu angsa putih, menjauhi sayapku yang hitam
padahal aku tengah menjemputmu, untuk mendendangkan
ritme detak jantung yang menyangkar burung warna-warni
kemudian terbang menggugurkan notasi paling klasik
menaburi rambutmu dengan lampau berabad-abad kerinduan

 

hingga di telinga kita bergelantung menara yang asing 
kerucut serupa anting-anting yang saling berjumpa
berdenting teratur meniru bandul jam dinding tua
dan kita mulai berhitung telah berapa lama sudah
terperangkap pada lukisan ini, melakoni musafir
melintasi lapang padang rumput yang tumbuh kerdil
meninggalkan jejak-jejak kita di sana, sampai entah,
sampai kapan perjumpaan membuat kita keluar
dari lukisan dan kembali ke dunia yang sebenar-benarnya.

 

(2024)

 

Lengang Kening

 

Di lengang keningmu, aku duduk dan menunggu dinding-dinding kosong berubah menjadi hamparan laut. Tiap sore tiba aku berdoa, semoga matahari terbenam ke dalam laci kamarku di mana mesin waktu telah menunggu dan membawanya ke masa lalu. Masa ketika kita masih saling bergantian mencubit hidung, di latar deru gemulung ombak yang juga bergantian datang usai menempa-nempa mendung.

 

Masih di sini, di lengang keningmu, aku melihat wajahku tumbuh sempurna di tunas-tunas alismu. Entah berapa masa kau memupuk kerinduan yang kuwariskan di gembur kecupanku yang pernah kau lewatkan. Seperti dulu. Seperti saat kau menangis di air mata yang menangis di dalam air mataku.

 

Hingga akhirnya, kau memanggilku kembali, satu-satunya cara agar aku tak bosan untuk menghadirkan diri. Sebagai musafir yang menghuni lengang keningmu. Yang turun, yang hendak berlutut di depanmu, 

 

seraya terburu-buru meranggaskan sayap.

 

Kita yang Mencemaskan Musim

 

Gemetar di jari ini menitip banyak hal pada musim untuk dirindukan. Dari rekah wangi, hingga rebah senyum yang mengering di pangkuan. Kuharap aku tak keliru, mengira setiap pelukan yang kau lingkarkan di punggungku adalah pertanda musim semi hendak menyingkap segala merah muda yang siap mekar berkali-kali sebagaimana biasa.

 

Sementara ketika terik mulai menjadi napas yang panjang, kemarau adalah peluang terbesar dalam menganggurnya banyak airmata, sebab tak ada hujan yang sanggup dijadikan tempat menyamar. Aku turut berharap setiap duka terkubur sebagai fosil di kedalaman tanah bebatuan yang kosong dan gersang.

 

Kurapatkan senyum di sisi musim gugur. Di mana teduh matamu ranggas dan menguning di pelataran. Kurapalkan di antara dahan-dahan yang kesepian ditinggal keriput permukaan daun, sebuah doa yang mengamini bahwa selama usia belum mampu menisankan rasa, selama itu pula aku merindukanmu.

 

Di sini, di hati yang perapian ini aku memupuk butir-butir salju. Danau air mata beku, bermainlah senyum di permukaannya. Pada gurat-gurat gigil jendela, biarkan aku meratakan awan menjadi tuts piano untuk kau dentingkan. Meronakan musim dingin yang pucat.

 

Usai segala yang kait jemari kita lalui, kukira kita perlu musim baru, berupa rindu yang panjang. Tergambar dalam lanskap yang menayangkan orang-orang ramai berbagi kesah, pun aku dan kau, tanpa mencemaskan habisnya kantung perbincangan.

 

Bulu Angsa Di Tanganmu

 

Sehelai bulu angsa kau main-mainkan di tanganmu. Kemarin kau dentingkan sebagai harpa, memainkan nada-nada yang lebih tinggi dari tempat kau berdiri. Sementara aku tergeletak di dasar, memandangmu usai kembali jatuh oleh gemuruh yang tak sudi untuk kusebut namanya.

 

Nada-nada itu begitu lirih, serupa tangis angsa yang kau cerabuti bulu-bulunya itu. Lengkingnya begitu panjang, seperti leher angsa yang kau cekik–sebagaimana telah kau lakukan berulang-ulang pada setiap kematianku.

 

Sehelai bulu angsa mulai gersang di tanganmu, berkali kau meniupkan napasmu yang telah lupa dahulu banyak hampa embun menitip senyum di sana. Telah membuang tetes salju yang memperdengarkan gigil detak jam. Membekukan danau tempat angsa-angsa membuka sayapnya kemudian lepas landas di atas kepala.

 

Bulu-bulunya mulai gugur menguburku perlahan. Dan suara denting bulu angsa yang semula kukira hampa mulai memainkan nada-nada yang melolong pedih.

 


 

A
Tentang Penulis

Andi Wirambara

Lahir: Ambon, 24 September

Lahir 24 September di Ambon dan berdomisili di Malang. Praktisi hukum yang menyenangi sastra. Karya-karyanya telah dimuat di sejumlah media nasional dan lokal baik cetak maupun daring. Karyanya juga terhimpun pada sejumlah buku antologi bersama. Buku tunggalnya yang telah terbit: kumpulan puisi Harmonika Lelaki Sepi (2010), kumpulan cerpen Sekeping Tanda (2011), kumpulan puisi Lengkung (2012), dan kumpulan cerpen Tentang Pertemuan (2014).

Baca Biografi Selengkapnya →
Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.