Lewati ke konten

Sastra Sebagai Laku Akademik

August 23, 2026 · Faruk

Karena Plato bilang seniman, tentunya sastrawan termasuk di dalamnya, adalah peniru dari tiruan. Jaraknya dari yang asli, yang disebutnya sebagai dunia ide, membentang jauh dan berlapis. Dalam agama Islam jarak itu digambarkan sebagai langit berlapis tujuh. Juga seperti Himalaya. Tapi, dunia ideal yang asli itu tidak hanya jauh, melainkan bahkan tidak terlihat, hanya sayup terdengar. Maka, meditasi adalah laku untuk bisa sampai ke dunia yang jauh itu. Ia menutup mata agar tak tergoda oleh yang tampak, yang ternyata hanya tiruan semata, bayang-bayang belaka, dan memperbesar telinga agar dapat mendengar suara yang sayup dari kejauhan itu, menangkap “wisik”. Buddha pun duduk diam, anteng, hening, wening, agar fokus, tak bergerak, tak tertipu oleh dunia tiruan yang fana, yang terus bergerak dan berubah. Mencapai, menemukan, dunia ide itu pada dasarnya adalah menangkap dan merangkul esensi dari kerentanan eksistensi, dunia fana, di mana semua yang berkembang menjadi layu, semua yang hidup akan mati, “owah-owahing” dunia yang fana, cinta sejati, kebenaran hakiki. Untuk sampai pada kebenaran itu, yang melampaui batas kebenaran diri, kebenaran orang banyak, tidak hanya mata yang harus ditutup, telinga harus dibesarkan, melainkan juga segala keinginan sesaat, seperti seks, makan, dan kenikmatan duniawi lainnya: cegah dahar kalian guling, aneka puasa seperti mutih, ngalong, puasa daud senin-kamis, atau serupa nyepi di Bali: yang hening pasti bening, transparan, melampaui segala bias: mainan cahaya di air, menembus segala bentuk. Laku adalah sikap batin, sikap lahir, yang tertib, berdisiplin, terpelihara. Sikap mati sajroning urip yang harus terus dipertahankan, dijaga, terjaga, bangun, eling lan waspada.

Max Weber mentipekan sikap batin/religius semacam itu sebagai inner-worldly-rejecting ascetism: laku menolak atau setidaknya menjauhkan diri dari dunia: sakbeja-bejane wong lali, luwih bejo wong eling lan waspada. Namun, sikap yang demikian, menurutnya bukan satu-satunya sikap batin yang ada dalam kehidupan keagamaan. Selain itu, terdapat dua sikap batin lainnya, yakni inner-worldly ascetism dan world-flying ascetism. Weber memasukkan Buddhisme ke dalam asketisme yang kedua ini karena laku Buddhis berusaha mencapai moksa, menyatu dengan atman, jiwa sejati, tanpa melalui kematian dan reinkarnasi. Tipe yang pertama diterapkan kepada laku kaum protestan yang mengambil sikap hidup yang penuh disiplin berupa sikap hemat, rasional, dan moral. Menjalankan laku keagamaan, penyerahan diri, tidak dengan menjauhi dan meninggalkan kehidupan duniawi, melainkan dengan berada di dalamnya. Mati sajroning urip.

Ilmu pengetahuan sekaligus empiris dan rasional, partikular dan universal, real dan ideal, material dan spiritual, tubuh dan pikiran, induksi dan deduksi, persepsi dan refleksi. Ia tidak bisa menjauhkan diri dari yang pertama demi yang kedua. Ia juga tidak bisa terlibat di dalam keduanya sebagai susunan yang hierarkis. Karena itu, ilmuwan harus terus-menerus, dengan keteraturan raga dan jiwa, sepanjang hidup, sepanjang waktu, di seluruh ruang, mengasah kepekaan inderawi dan nalarnya. Ia lebur dalam dan sekaligus berjarak dari dunia pengalaman. Ia melayang dalam dunia gagasan, tetapi sekaligus selalu siap untuk mengujinya ke dalam kenyataan. Tantangan empiris bagi seorang ilmuwan adalah kecerobohan atau ketidakcermatan, sedangkan tantangan rasionalitas baginya adalah bias, prasangka. Ia harus terus melatih pikirannya untuk menjadi jernih, bukan dengan menjauhkan diri dari dunia, melainkan dari bias, prasangka itu, pikiran-pikiran terdahulu yang sudah menjadi streotip, asumsi-asumsi yang taken for granted, yang tidak bisa dan boleh dipertanyakan lagi, yang tentu saja sekaligus mempengaruhi dan menyesatkan persepsi mengenai dunia pengalaman itu sendiri. Bias atau prasangka itu tidak hanya terbentuk dari kekuatan eksternal, tetapi juga internal, terhubung dengan hasrat-hasrat atau kepentingan pribadi, subjektif. Ia harus senantiasa berusaha melatih diri untuk menekan subjektivitas, menjadi objektif. Dalam berbahasa atau berkomunikasi ia terus-menerus melatih diri untuk menjadi transparan, menghindari kata-kata atau simbol (symbol) yang ambigu dan kontradiktif. Karena itu, ia harus selalu berusaha menjadi sederhana, tidak hanya dalam pengucapan, melainkan bahkan dalam gaya hidup: lebih mengutamakan kebutuhan daripada keinginan, apa adanya, prasaja.

Maka, tipe laku akademik tidak bisa dimasukkan ke salah satu dari tiga alternatif laku Weberian di atas. Bila asketisme duniawi dipahami sebagai keterlibatan penuh dalam dunia atas dasar dorongan atau motivasi religius, pengertian demikian mengimplikasikan keselarasan antara kedua hal tersebut, yang duniawi dengan yang ukhrawi, tidak ada kesenjangan dan jarak antara keduanya, tidak ada sikap kritis yang satu terhadap yang lainnya. Laku akademik juga tidak serupa dengan laku yang menjauh dari dunia karena keterlibatan itu merupakan suatu keniscayaan dalam kegiatan akademik. Terhadap laku meditasi Buddhis untuk moksa, yang bisa diperlakukan adalah cara berpikir abduktif, loncatan dari jiwatman ke atman, kesatuan penuh antara keduanya, tanpa jarak. Laku akademik adalah laku yang terlibat dan sekaligus berjarak. Aktif sekaligus reflektif. Atau, sebaliknya.

Tapi, menempatkan ilmuwan sebagai seorang yang harus selalu objektif, empiris dan rasional, bebas dari bias, prasangka, sekaligus berarti mendudukkannya dalam posisi yang a-historis, yang seakan datang dari langit, muncul begitu saja serupa utusan Tuhan, atau bahkan Tuhan itu sendiri yang katanya tidak beranak dan tidak diperanakkan, yang ada dengan sendirinya. Paham mengenai ilmu pengetahuan yang demikian juga tidak terlepas dari bias, yaitu bias ideologi humanis atau humanisme borjuis yang sebenarnya juga historis, produk dari zaman Pencerahan yang sesungguhnya tidak muncul begitu saja, melainkan historis, relasional, berada dalam relasi oposisional dengan apa yang dinamakannya sebagai zaman kegelapan, menjadikan zaman sebelumnya sebagai liyannya, terang lawan gelap seperti Orde Baru dengan Orde Lama, seperti Islam dengan yang dinamakannya Jahiliyah. Seperti yang mungkin sudah kita maklumi bersama, humanisme yang demikian menganggap manusia, tepatnya individu, sebagai subjek, sebagai kekuatan yang mandiri, yang bebas dari ikatan apa pun, yang dapat menentukan nasibnya sendiri, dan yang menempatkan lingkungan ruang dan waktu sekitarnya sebagai objek. Ilmuwan serupa ini selalu menciptakan liyan sebagai objek atau objek sebagai liyan untuk meneguhkan subjektivitasnya: saya berpikir karena itu saya ada. Apa yang akhir-akhir ini dinamakan sebagai pascahumanisme merupakan paham kemanusiaan alternatif yang berangkat dari tidak hanya kegagalan humanisme, melainkan juga kerusakan yang diakibatkannya, baik terhadap alam, terhadap sesama manusia, dan bahkan dirinya sendiri.

Maka, laku akademik yang baru terutama sekali bukan berupa usaha yang terus-menerus untuk menjadi subjek yang mandiri, bebas dalam segala hal yang ada di luar dirinya, melainkan sebagai kekuatan yang hidup dalam dan dengan kekuatan atau subjek-subjek yang lain. Laku akademik yang demikian adalah laku untuk terus-menerus melatih diri untuk bisa menyadari dan menerima kehadiran subjek yang lain, yang berbeda, bukan yang berada dalam posisi yang hierarkis dengannya. Ia juga terus-menerus melatih dirinya untuk memahami dunia bukan sebagai satu kesatuan yang integral, pluralitas dunia pengalaman yang diikat oleh kesatuan dunia ide, oleh ketuhanan yang maha esa, oleh Bhineka Tunggal Ika, melainkan sebagai sebuah kesatuan yang kolaboratif, sinergis, yang ada dalam jejaring yang setara, egaliter, dan lentur. Dalam dan dengan laku yang demikianlah sastra menjadi penting.

Sastra, entah sebagai tuturan, sebagai wacana, sebagai representasi, memperlihatkan karakteristik yang berbeda dari ilmu pengetahuan. Entah sebagai wacana yang subjektif, sebagai fiksi, sebagai imajinasi, sebagai invensi, karya sastra cenderung diakui sebagai sebuah bangunan dunia yang utuh, tetapi sekaligus berbeda dari dunia yang dipahami oleh ilmu pengetahuan. Setiap karya sastra membangun dunianya sendiri yang antara lain oleh Rene Wellek disebut sebagai “dunia pengarang”.

Sastra juga mempunyai bahasa tersendiri dalam menghadirkan dunia tersebut, yaitu bahasa yang melampaui dan bahkan merusak bahasa sehari-hari. Seperti yang dikatakan Formalis Rusia, karya sastra membuat yang familiar menjadi asing melalui tindakan deotomatisasi terhadap bahasa dan persepsi. Karena sastra dituntut harus selalu inovatif dan bahkan inventif, ia selalu menciptakan dunia lain, dunia yang mungkin dan bahkan tidak mungkin dalam pengertian naratologi pascaklasik. Oleh karena itu, karya sastra merupakan medan yang sangat kaya bagi laku akademik, sebuah latihan untuk hidup dalam dunia lain, dunia yang berbeda, tetapi yang sekaligus diakui sebagai dunia yang setara dengan dunia ilmu pengetahuan. Membaca sastra, dalam istilah Arif Budiman, adalah menjalani sebuah pertemuan dengan liyan, bukan sebagai objek, melainkan sebagai subjek.

Begitulah, kira-kira. Terima kasih.

***

Esai ini adalah naskah orasi budaya pada pembukaan Festival Sastra Yogyakarta (FSY) x Biennieal Sastra Indonesia Modern, Taman Budaya Embung Giwangan, Minggu, 23 Agustus 2026.

Tentang Penulis

Faruk

Lahir pada 10 Februari 1957 di Banjarmasin. Selepas SMA, pada akhir tahun 1975, berangkat ke Yogyakarta untuk belajar ilmu sastra di UGM. Setelah diterima sebagai mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra UGM, Faruk mulai terlibat dalam kegiatan akademik seperti kuliah, mengurus seminar, mengurus majalah dinding, jurnal Jurusan, sambil sekaligus bergaul dengan lingkungan kehidupan sastrawan di Yogyakarta. LulusSarjana Muda pada tahun 1978, Sarjana 1981, Magister 1989, dan Doktor pada 1994. Semuanya di UGM.

Baca Biografi Selengkapnya →
Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.