Lewati ke konten

Kesempatan Kedua

September 30, 2026 · Diyan Ris Kyaningrum

Kesempatan Kedua

Malam itu, tidurku terjaga, malam terasa lebih panjang seperti hari-hari sebelumnya. Aku tersadar, mungkin aku sudah menjadi orang tua yang gagal. Menyesal memang di akhir, tapi mungkin ini memang sudah jalan hidupku. Kecelakaan itu merenggut seluruh hidupku juga duniaku. Aku pikir duniaku sudah terhenti saat itu, aku pikir matahari sudah tak akan terbit. Oh ternyata matahari masih menyinari, tapi tidak dengan duniaku. Duniaku rasanya gelap sekali, jiwaku rasanya lenyap saat tahu denyut jantung anakku dinyatakan hilang dan yang tersisa hanya nadinya.

Ternyata Tuhan masih memberi kesempatan kedua pada anakku. Ya, denyut jantung itu kembali ada atas izin-Nya! Tapi tetap saja dunia ini rasanya gelap. Meskipun siang hari ada matahari dan malam hari ada bulan yang tidak pernah berpaling. Ternyata, anakku kembali dengan kondisi berbeda. Ya Allah, kerusakan otak permanen menyebabkan kondisi anakku yang dulu normal kini berubah drastis. Ternyata anakku divonis Celebral Palsy. Dunia rasanya gelap dan berhenti berputar saat itu juga. 

Awal membersamai anak Celebral Palsy ternyata serumit ini. Tak pernah sekalipun terbayang di hidupku, begitu banyak obat yang harus diminumkan, makanan tidak semuanya bisa masuk dan harus diolah sedemikian rupa sebab tak bisa makan langsung lewat mulut tapi harus melalui selang NGT. Semenjak saat itu, kebutuhan finansial kami melonjak, banyak obat yang harganya mahal dan tidak ter-cover BPJS. 

Kebutuhan transportasi setiap kali berangkat ke rumah sakit, yang dijadwalkan dua minggu sekali (fisioterapi) dan sebulan sekali (kontrol dokter), yang harus kami tempuh sampai saat ini sudah berlangsung hampir 3 tahun. Kami harus memesan taksi online setiap kali kami pergi ke mana pun dengan anak ketiga kami, karena kondisinya sangat tidak memungkinkan dibawa menggunakan roda dua. Hal ini mau tidak mau membuat kebutuhan finansial membengkak. Namun kami tidak pernah menyerah. Suami saya selalu mengupayakan apa pun untuk anak kami agar kondisinya terus membaik. 

Rasanya bingung dan tak terarah seperti ini. Ya, hati rasanya tercabik ribuan kali. Semuanya berubah. Inikah cara Allah mendekapku? Inikah cara Allah mencintaiku, dengan mengambil sebagian jiwa anakku?

Baiklah, cara Allah memang indah, ketetapan Allah tidak pernah salah. Aku pikir dunia sudah berhenti berputar. Ternyata perlahan dunia yang gelap itu sudah mulai berwarna lagi saat aku menatap kedua anakku yang masih menyayangiku, menatap suami yang selalu mendekapku di setiap keadaan, dan keluarga yang selalu ada untukku. Kehangatan mereka yang sempat aku lupakan bahkan aku abaikan. Karena mungkin aku seakan kehilangan darahku sendiri, yang saat itu rasanya hatiku dingin sekali.

Anakku yang ke-3 memang sudah tidak seperti dulu lagi. Tapi sungguh di kesempatan kedua ini aku ingin diberi waktu lebih lama lagi untuk menemani dan membersamainya, dan juga anak-anakku yang lain.

Aku baru tersadar, ternyata ini cara Allah menyayangiku. Banyak hal baru yang aku temui dan pelajari. Aku bertemu dengan banyak orang tua hebat yang saling menguatkan. Di situ aku tersadar, aku tidak sendirian. Anakku tidak berbeda. Anakku spesial, sama seperti anak lainnya. Dari sekian jutaan manusia, Allah memilihku untuk menjadikan aku orang tua spesial.

Aku yakin pundakku mampu membersamai ketiga anakku sekaligus. Belajar di banyak tempat di mana pun kapan pun dengan siapa pun adalah caraku menguatkan pundak untuk anakku dan keluargaku. Sekarang dunia tidak lagi gelap meskipun anakku sudah tidak seperti dulu lagi.

Tadinya, yang aku pikir duniaku sudah terhenti, ternyata justru salah. Duniaku sudah berwarna, sudah tidak gelap lagi. Kami saling mengerti, memahami, dan menerima bahwa mungkin memang tidak ada keluarga yang sempurna, karena kesempurnaan itu memang lahir dari rasa saling menerima. Menerima rasa sakit, menerima kesalahan, menerima penyesalan dan menerima ujian dengan lapang dada.

Diyan Ris Kyaningrum, seorang ibu dengan 3 orang anak laki-laki, yang mempunyai hobi mencoba banyak olahraga. Saya memilih hobi olahraga bukan tanpa alasan tapi agar saya selalu kuat jiwa dan raga hingga akhir hayat membersamai ketiga anakku. Saya senang mengikuti kegiatan komunitas apa pun mencoba banyak hal agar bisa mendapatkan ilmu dari mana saja karena saya suka belajar semuanya. Tentu saya lakukan demi anak-anak saya.

 

D
Tentang Penulis

Diyan Ris Kyaningrum

Diyan Ris Kyaningrum, seorang ibu dengan 3 orang anak laki-laki, yang mempunyai hobi mencoba banyak olahraga. Saya memilih hobi olahraga bukan tanpa alasan tapi agar saya selalu kuat jiwa dan raga hingga akhir hayat membersamai ketiga anakku. Saya senang mengikuti kegiatan komunitas apa pun mencoba banyak hal agar bisa mendapatkan ilmu dari mana saja karena saya suka belajar semuanya. Tentu saya lakukan demi anak-anak saya.

Baca Biografi Selengkapnya →
Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.