Lewati ke konten

Merengkuh Jiwa-Jiwa Istimewa: Anugerah Terindah Menjadi “Orang Tua” di Ruang Kelas SLB 

September 30, 2026 · Rizky Nur Rohma

Pintu gerbang SLB Negeri 1 Yogyakarta pertama kali terbuka bagi saya pada awal tahun 2018. Sebagai seorang pendatang baru di dunia pendidikan, langkah kaki saya saat itu diiringi rasa ragu dan ketidaktahuan yang pekat. Segala teori pedagogi yang saya pelajari di bangku kuliah terasa begitu hijau dan rapuh ketika berhadapan langsung dengan kenyataan di lapangan. Terlebih, pengetahuan saya tentang anak-anak dengan hambatan intelektual nyaris berada di titik nol. 

Hari-hari awal penugasan saya sebagai guru kontrak seni keterampilan, dipenuhi dengan kecanggungan. Di hadapan saya, duduk anak-anak istimewa dengan berbagai keunikan dunia mereka. Ada yang menatap kosong, ada yang tertawa tanpa sebab jelas, dan ada pula yang menolak disentuh. Setahun berselang, status saya berubah jadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) di institusi yang sama, mengemban amanah baru sebagai guru keterampilan perkayuan. Di ruangan yang dipenuhi aroma serbuk gergaji dan deru mesin amplas itulah babak sesungguhnya dari perjalanan hidup saya dimulai. 

Bagi orang luar, relasi antara guru dan murid mungkin hanya sebatas transfer ilmu di jam pelajaran sekolah. Namun, di ruang kelas khusus ini, batas-batas itu melebur. Ketika orang tua biologis mereka harus melepas tangan selama jam sekolah berlangsung, kamilah—para guru—yang mau tak mau harus mengambil alih peran tersebut. Kami menjadi tempat mereka mengadu saat tangan kecil mereka terluka terkena serpihan kayu, menjadi penenang saat emosi mereka meledak tanpa bisa dijelaskan, dan menjadi figur rumah tempat mereka merasa aman. 

Menjadi “orang tua” bagi puluhan anak dengan hambatan intelektual bukanlah peran yang datang dengan buku panduan instan. Tantangan terbesar bukanlah bagaimana mengajarkan mereka memotong kayu dengan lurus atau menghaluskan permukaan papan hingga licin, melainkan bagaimana menjembatani jurang komunikasi dan meredakan badai emosi yang sering datang tiba-tiba.

Di tengah proses belajar, konsentrasi mereka sering kali buyar bukan karena materi yang sulit, melainkan karena godaan sesama teman, rasa jenuh mendalam, atau suasana hati yang mendadak buruk. Kalimat “Aku sedang tidak mood, Bu,” sering kali terucap—atau bahkan hanya diekspresikan lewat lemparan kuas dan tangisan tertahan. 

Belum lagi ketika amanah bergeser, di mana saya kemudian ditugaskan memegang kelas dasar dengan tingkat kemandirian siswa yang sangat bervariatif. Ada masa-masa sulit ketika bangku kelas mendadak kosong karena siswa memilih tinggal di rumah. Hal itu pun memaksa kami untuk mendatangi kediaman mereka, mengetuk pintu rumah orang tua mereka, dan merayu mereka agar kembali menemukan semangat belajar. Puncak dari segala ujian itu hadir tatkala pandemi Covid-19 melanda pada tahun 2020–2021 memutus interaksi fisik dan memaksa kami meraba-raba batas kesabaran melalui layar gawai yang asing bagi mereka. 

Tantangan hakiki yang ingin saya taklukkan saat itu adalah bagaimana caranya agar ruang kelas dan bengkel keterampilan tidak terasa seperti penjara aturan, melainkan sebuah pelukan hangat layaknya rumah sendiri, tempat mereka merasa diterima seutuhnya tanpa syarat? Untuk menjawab tantangan tersebut, saya menanggalkan jubah kaku seorang “pengajar” dan mencoba mengenakan hati seorang ibu atau orang tua di rumah. Pembelajaran tidak lagi didekati dengan target kurikulum kaku, melainkan melalui pendekatan personal yang penuh kesabaran. 

Ketika seorang anak menolak memegang gergaji atau kuas cat, saya belajar untuk tidak memarahinya. Saya memilih duduk di sampingnya, merendahkan posisi tubuh sejajar dengan mata mereka, lalu mendengarkan bahasa tubuh atau suara terbata-bata yang mereka miliki. Saya membagi proses belajar menjadi aktivitas-aktivitas pendek yang menyenangkan, menyisipkan waktu jeda, dan menggunakan media visual atau benda-benda kesukaan mereka untuk mengembalikan fokus mereka secara perlahan. 

Di ruang perkayuan, tangan-tangan mungil yang awalnya kaku itu saya bimbing satu per satu. Dengan penuh kehatihatian, saya menuntun jari mereka menggenggam amplas, merasakan tekstur kasar kayu yang perlahan berubah menjadi halus di bawah sentuhan mereka. Saat pandemi memaksa jarak, langkah jemput bola ke rumah-rumah siswa saya jalani dengan ikhlas—membawa secercah harapan agar rantai pendidikan mereka tidak terputus. 

Bukan hanya mengajar, saya pun membuka diri untuk terus belajar dari senior dan rekan sejawat di SLB Negeri 1 Yogyakarta, menyerap ilmu lapangan yang tidak pernah tertulis di bangku kuliah. Dukungan lingkungan sekolah yang hangat membuat saya sadar bahwa mendidik anak disabilitas membutuhkan ketulusan tingkat tinggi, sebuah proses mencintai tanpa menuntut balasan. 

Perlahan butir demi butir kesabaran itu menampakkan buahnya. Setelah melalui minggu-minggu penuh dinamika, perubahan besar mulai terlihat di dalam diri anak-anak. Mereka yang awalnya mudah marah dan menolak mulai menunjukkan ketukan kesabaran. Durasi fokus mereka bertambah, dan yang paling mengharukan adalah mereka mulai berani memilih aktivitas yang disukainya secara mandiri. 

Potongan-potongan kayu yang dulunya terbengkalai kini mulai menjelma menjadi tempat lilin sederhana, hiasan dinding, hingga kerajinan tangan yang dibuat dengan pancaran mata penuh kebanggaan. Tidak ada yang lebih membahagiakan bagi seorang “orang tua” selain melihat anak didiknya tersenyum lebar dan berkata, “Bu, lihat ini buatanku!” 

Namun, perubahan terdalam sebenarnya justru terjadi pada diri saya sendiri. Tujuh tahun membersamai jiwa-jiwa istimewa ini telah mentransformasi cara pandang saya tentang hidup. Anak-anak dengan hambatan intelektual itu, tanpa mereka sadari, telah bertindak sebagai guru-guru terhebat dalam hidup saya. Dari ketulusan mereka, saya belajar arti sabar yang sesungguhnya, keikhlasan dalam berproses, dan rasa syukur yang tidak bertepi. 

Perjalanan panjang di SLB Negeri 1 Yogyakarta ini pada akhirnya membuka pintu-pintu berkah yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Pengalaman membersamai mereka menjadi fondasi kuat bagi saya untuk menyelesaikan Pendidikan Profesi Guru (PPG), hingga mendapatkan kesempatan emas melanjutkan studi Magister (S2) Pendidikan Seni melalui beasiswa pemerintah. 

Menengok ke belakang, saya menyadari bahwa berdiri di ruang kelas SLB Negeri 1 Yogyakarta bukanlah sebuah kebetulan yang hampa makna. Menjadi guru bagi anak-anak disabilitas, sering kali dipandang sebelah mata oleh sebagian orang sebagai sebuah beban pekerjaan yang berat. Namun, bagi saya, ini adalah sebuah hak istimewa yang sangat langka. 

Saya merasa menjadi salah satu manusia paling beruntung di dunia ini. Sebab, di tempat inilah, di antara deru mesin gergaji, tawa lepas, dan pelukan tulus mereka, saya diizinkan semesta untuk menjadi “orang tua” selama masa-masa sekolah mereka. Sebuah peran mulia yang mengajarkan saya bahwa hidup bukan tentang seberapa besar pencapaian yang kita raih untuk diri sendiri, melainkan seberapa tulus kita mencintai dan mendedikasikan diri untuk merengkuh mereka yang sering diabaikan dunia. Perjalanan ini lebih dari sekadar mengajar. Ini adalah sekolah seumur hidup tentang cinta kasih yang tidak akan pernah usai.

 

 

R
Tentang Penulis

Rizky Nur Rohma

Lahir: Sleman, Yogyakarta, 6 Januari 1994

Rizky Nur Rohma lahir di Sleman pada 6 Januari 1994 sebagai anak ketiga dari enam bersaudara dari keluarga yang sederhana. Saat ini, ia mendedikasikan dirinya sebagai seorang pendidik di sekolah luar biasa, mendampingi anak-anak hebat sekaligus belajar bersama untuk melatih kemandirian mereka. Pengalaman berharga dari dunia pengajaran ini memotivasinya untuk terus menempuh pendidikan profesi lanjutan serta menyelesaikan jenjang S2 Pendidikan Seni. Seluruh perjalanan akademik dan profesional tersebut dijalani dengan satu tujuan utama yang teguh: bersama-sama mengemban tugas mulia untuk memandirikan anak berkebutuhan khusus di mana pun mereka berada.

Baca Biografi Selengkapnya →
Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.