Lewati ke konten

Perjalanan untuk Kesetaraan: Sebuah Catatan Lapangan

September 30, 2026 · Selfiana Saenal

Saat Pertama kali dihubungi oleh Babe, nama panggilan seseorang yang menjadi inspirasiku dalam mendampingi difabel untuk menulis ini, jujur saya sangat tertarik namun merasa bingung untuk memulai cerita dari mana dan bagian mana yang akan diceritakan. Setelah termenung lama di sela-sela padatnya kegiatan, saya memutuskan untuk memulai cerita, pada tahun 2012 saya kuliah di salah satu kampus ternama di Yogyakarta di sana saya banyak belajar tentang seni dan budaya.

Suatu malam di Taman Budaya Yogyakarta, saya diajak teman untuk membantunya merias penari, aktor, dan pemusik yang akan tampil malam itu. Ruangan yang penuh namun hening. Saya memperhatikan sekeliling, mereka berkomunikasi tanpa suara dan menggunakan bahasa isyarat. Rasa kaget, bingung, takjub, dan haru rasanya bercampur aduk jadi satu di waktu yang bersamaan.

Aku terdiam sejenak, mencerna kata “Teman Tuli”. Ternyata mereka lebih senang dipanggil Teman Tuli dibanding tunarungu karena menurut mereka tuli adalah identitas mereka. Sedang tunarungu menurut mereka adalah salah satu bentuk diskriminasi yang menganggap mereka tidak mampu. Sebelum merias mereka, saya menarik napas dalam-dalam agar lebih tenang dan mulai berpikir cara komunikasi dengan mereka. Sebab saya belum tahu bahasa isyarat. Awalnya saya mengambil buku dan bolpoin sambil menulis dan Teman Tuli juga menjawab dengan tulisan.

Setelah izin, saya lanjutkan gambar kupu-kupu di wajahnya. Warna yang digunakan hijau, hitam, silver, dan merah. Singkat cerita, tibalah saatnya mereka perform. Ada yang main perkusi, puisi isyarat, hip-hop dance, bahkan ada persembahan dari para orang tua. Saat MC berbicara, ada orang yang bertugas menggunakan bahasa isyarat, Juru Bahasa Isyarat (JBI). Pertama kali saya melihat langsung adegan itu. Biasanya, hanya saya saksikan di televisi ada orang di kotak kecil bagian bawah sudut dengan latar belakang biru. Waktu MC menyebut Deaf Art Community (DAC) saya mulai fokus menonton semua pertunjukannya. Sebuah lagu dinyanyikan vokalis pria sembari diisyaratkan oleh seorang wanita bermata sipit dan berkulit putih.

Apa salah kami lahir di dunia. Kami juga lahir dari buah cinta. Sama sepertimu anak Adam dan Hawa yang terlahir tanpa dosa… (potongan lagu Anak Adam dan Hawa, 2013)

Sungguh kolaborasi yang luar biasa. Ternyata wanita yang memakai bahasa isyarat adalah Teman Tuli yang mengisyaratkan lirik lagu yang dinyanyikan. Tak henti-hentinya air mataku mengalir sepanjang pertunjukan, karena haru dan bangga bisa menjadi penonton pertunjukan “Aku Ingin Menjadi Kupu-Kupu”. Malam itu, saya memiliki pengalaman pertama menyaksikan Teman Tuli bisa melakukan banyak hal yang tidak pernah kutemui sebelumnya.

Berdasarkan penjelasan Babe, karya yang mereka tampilkan adalah karya Teman Tuli. Mereka mencari inspirasi, membuat gerak, dan kolaborasi. Tidak hanya itu, orang tua mereka diam-diam latihan juga, sehingga anak-anak mereka kaget, haru, bahkan ada yang tertawa bahagia menyaksikan. Sungguh pemandangan indah melihat panggung seni menjadi saksi support system mereka. Teman Tuli, ucap Babe saat itu, memiliki hambatan dalam mendengar namun terkadang kita lupa bahwa mereka masih bisa merasakan musik.

Berangkat dari rasa penasaran dan rasa ingin tahu lebih dalam, saya memutuskan untuk meneliti seni pertunjukan yang ditampilkan DAC Yogyakarta. Menurut saya, ilmu Babe dan Teman Tuli bisa jadi  inspirasi banyak orang. Melalui seni pertunjukan kita mampu mengedukasi bahkan mengadvokasi masyarakat tentang kesetaraan.

Setelah melalui proses diskusi dengan dosen-dosen saya waktu itu, ternyata mereka menyarankan untuk meneliti seni budaya yang ada di daerah asal saya di Sulawesi Selatan. Sebenarnya seni budaya di daerah saya banyak, tapi saya merasa topik tentang seni pertunjukan yang dilakukan Teman Tuli belum saya temui. Harapannya, setelah saya meneliti hal tersebut, bisa jadi bekal ke depanya buat saya pribadi dan orang lain yang tertarik dengan hal yang sama.

Butuh waktu yang cukup lama mencari dosen yang siap menjadi pembimbing saya. Setelah keliling ke sana-kemari untuk meyakinkan dosen bahwa penelitian ini menarik dan akan sangat bermanfaat. Melalui proses panjang, akhirnya saya mendapat dosen yang siap membimbing saya, tapi disertai dengan kalimat “Kita sama-sama belajar”. Kalimat ini sederhana, namun membuktikan saat itu di kampus itu belum pernah ada yang meneliti seni pada komunitas tuli. Tahap demi tahapan saya lewati, mulai dari membuat proposal, ujian, penelitian hingga ujian hasil hingga tutup. Saya masih ingat nilai saya waktu itu tidak maksimal. Tapi saya sangat bangga karena mendapat pelajaran yang berharga seperti belajar bahasa isyarat, berinteraksi dengan Teman Tuli, mengenal dan memahami budaya tuli, hingga proses mereka dalam berkarya.

Tahun 2014, setelah menyelesaikan studi, saya kembali ke Makassar. Melalui jejaring Babe, saya dikenalkan kepada seorang ibu yang memiliki anak tuli yang bernama Adam. Ternyata bahasa isyarat yang saya pelajari di Yogyakarta berbeda dengan bahasa isyarat di Makassar. Jadi Adam mengajarkan saya Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo). Mulai dari alfabet, hingga kata-kata sederhana diajarkannya.

Melalui Adam, saya dipertemukan banyak Teman Tuli di Makassar. Dia mengenalkan tentang organisasi Gerkatin (Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia), Café Mella yang saat ini dikenal dengan Donat Tuli karena owner dan karyawannya semua tuli. Sejak itu, kami aktif mensosialisasikan Bisindo di berbagai kesempatan, misalnya saat Car Free Day (CFD) di sepanjang Pantai Losari. Kami mengajak orang-orang belajar Bisindo dengan cara demonstrasi dan membagikan selembaran yang berisi isyarat alfabet. Respons masyarakat sangat beragam, ada yang penasaran, senang, dan ada pula yang cuek. Namun hal tersebut tidak mematahkan semangat Teman Tuli memperjuangkan bahasa mereka, yakni Bisindo.

Pada tahun 2015 Teman Tuli meminta saya untuk melatih tari sebab mereka akan tampil pada kegiatan peringatan Hari Disabilitas Internasional (HDI). Mereka menari diiringi musik langsung. Saya memanggil teman untuk mengiringi. Namun sebelum itu, kami diskusi dulu.

Kami melalui proses latihan gerak selama satu minggu. Latihan bersama pemusik sebanyak dua kali pertemuan. Proses tersebut merupakan salah satu bukti jika Tuli mampu menari dan merasakan musik. Walaupun awalnya pemusik ragu pada Teman Tuli, namun setelah berproses bersama akhirnya para pemusik memahami bahwa apa yang dipikirkannya selama ini keliru. Sejak hari itu, paradigma pemusik terhadap kemampun Teman Tuli dalam menari berubah jadi lebih positif. Teman Tuli menari dengan percaya diri dan pemusik juga mengiringi dengan suka cita. Di akhir pertunjukan, semua penonton memberi apresiasi berupa tepuk tangan versi Teman Tuli.

Pada tahun 2016, di suatu kampus, ada mahasiswa Tuli yang meminta saya untuk didampingi bertemu dosennya. Dosen pembimbing yang kami temui mampu berkomunikasi dan membimbing mahasiswa tuli tersebut. Namun, yang jadi kendala adalah pembimbing dua, sebut saja Dosen A. Mahasiswa Tuli merasa Dosen A tidak mampu untuk membimbingnya. Selain terkendala waktu, Dosen A saat itu juga punya jadwal yang sangat padat.

Saya        : Izin, Pak, ini Teman Tuli mau konsultasi     skripsinya.
Dosen A   : Aduh, saya mau menguji, kamu boleh     datang minggu depan.
Teman Tuli : Tolong Bapak lihat dulu skripsiku (dalam Bisindo)
Saya        : (Memverbalkan apa yang diisyaratkan.)
Dosen A   : Datang saja minggu depan, saya sekarang sedang sibuk.

Seperti itulah respons Dosen A. Setelah tiga bulan, proses bimbingan masih tetap seperti itu. Lalu mahasiswa Tuli tersebut jatuh sakit dan tidak mampu lagi menyelesaikan skripsinya hingga ajal pun menjemputnya. Sepertinya Tuhan lebih sayang padanya, sebelum dia sempat menyandang gelar sarjananya.

Mendampingi Teman Tuli di kampus memang penuh perjuangan karena tidak semua memahami cara berkomunikasi. Sebagai Juru Bahasa Isyarat, saya berusaha untuk membantu memverbalkan dan bertindak sebagai penerjemah. Namun tidak semua pihak bisa menerima cara tersebut. Kadang, terdapat dosen yang terkesan memaksa mahasiswa Tuli berbicara secara verbal, padahal tidak semua memiliki kemampuan berbicara verbal. Terkadang, ketika mahasiswa Tuli berusaha menggunakan bahasa secara verbal, bagi orang yang tidak terbiasa, mereka malah menertawakan. Ketika mendapati tanggapan yang demikian, membuat Teman Tuli kadang ragu dan malu mengeluarkan suaranya.

Bergeser ke tahun 2019, ada Teman Tuli yang menghubungi saya untuk dibantu pada proses wawancara, karena dia mau memilih jurusan seni pertunjukan di salah satu kampus. Setelah melalui UTBK, tiba saatnya untuk tes wawancara dan bakat. Ketika namanya dipanggil, saya masuk mendampingi dan menjelaskan pada panitia bahwa calon mahasiswa ini adalah Teman Tuli.

Saya pun menerjemahkan hal tersebut kepada panitia, yang hanya menatap dengan ekspresi keheranan tidak percaya. Hingga tiba saatnya Teman Tuli diuji bakat menari. Musik dibunyikan, saya memberikan kode agar dia mulai menari. Dia menari dengan sangat indah penuh dengan percaya diri dan sesekali memberi senyum terbaiknya. Saya memperhatikan panitia saat itu saling berbisik dan berkata, “Aduh, sayang sekali dia Tuli”. Setelah tes, panitia memanggil saya, memberikan penjelasan bahwa Teman Tuli tersebut sulit untuk diterima karena tidak mampu mendengar musik.

Setelah diskusi panjang dengan panitia, saya keluar ruangan dan menemui Teman Tuli itu. Dia bertanya apa yang kami bicarakan. Saya menjawab, “Panitia sepertinya belum memahami kemampuan kamu sebagai Tuli. Jika belum lolos, saya yakin kamu bisa kuliah di jurusan yang berbeda.” Tiba waktu pengumuman dan Teman Tuli itu tidak lulus di Prodi Tari. Untungnya, dia berhasil lulus di fakultas lain dan tetap di universitas yang sama juga.

Seiring berjalannya waktu, dia mampu membuktikan, menjadi Tuli bukanlah suatu hambatan berkuliah. Dia mampu menyelesaikan kuliah selama sembilan semester dengan predikat Cumlaude. Dan, saat ini, dia sudah menjadi guru di salah satu SLB. Berkat semangat dan kedisiplinannya, dia mampu menjadi Guru Tuli bagi siswa Tuli yang ada di sekolah itu. Dia juga aktif di berbagai organisasi disabilitas serta aktif sebagai guru Bahasa Isyarat. Menurut saya, kesuksesan yang telah diraih hari ini, tak lepas dari dukungan orang tua dan Teman Tuli di sekitarnya.

Pada tahun 2022, saya memperhatikan, di kampus yang sama telah banyak mahasiswa disabilitas, walau saat itu didominasi satu fakultas. Namun, setelah saya mendata dan mengumpulkan mereka dalam satu grup WhatsApp ternyata ada kurang lebih 50 mahasiswa yang tersebar di berbagai fakultas. Ada disabilitas sensori, fisik, dan mental. Merujuk pada fakta tersebut, tentunya saya merasa bahwa hal ini sangat berbanding terbalik dengan kondisi kampus yang belum inklusif.

Berdasarkan data yang ada, saya berusaha menyampaikan kepada pejabat kampus dan menyarankan membentuk pusat disabilitas atau Unit Layanan Disabilitas. Usaha ini belum mendapat respons yang baik kala itu. Terkadang saya diarahkan tak menentu sehingga tidak mendapatkan solusi. Padahal sepemahaman saya, telah ada Undang-undang yang mengatur, yaitu UU Nomor 8 tahun 2016 (Pasal 3) yang menyatakan, “Setiap penyelenggara pendidikan tinggi wajib memfasilitasi pembentukan dan penguatan Unit Layanan Disabilitas.” Lebih lanjut UU nomor 12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi (Pasal 6 huruf b) yang menyatakan, “Pendidikan Tinggi diselenggarakan dengan prinsip: b. demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai agama, nilai budaya, kemajemukan, persatuan, dan kesatuan bangsa”. Dan saat ini, Undang-undang terbaru Permendikbudristek Nomor 48 tahun 2023 (Pasal 15) menyatakan, “Setiap Perguruan Tinggi wajib memfasilitasi pembentukan Unit Layanan Disabilitas.” Berdasarkan Undang-undang tersebut, sangat jelas bahwa ULD wajib ada di setiap universitas. Namun kenyataannya, saat itu banyak orang yang tahu aturan tersebut namun belum bisa merealisasikannya dengan berbagai pertimbangan.

Beberapa mahasiswa Disabilitas meminta kepada saya untuk didampingi melakukan audiensi ke pejabat kampus. Namun, selalu terhambat, sehingga belum terlaksana. Proses advokasi memang tak mudah. Karenanya, saya sempat berpikir jika advokasi mampu kita lakukan melalui media seni pertunjukan.

Di tahun 2023, saya membentuk komunitas sanggar seni khusus Disabilitas. Melalui komunitas ini, saya mengajak teman-teman yang memiliki bakat dan minat terhadap seni untuk sama-sama membuat konsep pertunjukan yang menunjukkan Disabilitas mampu berkarya. Kala itu, ada Teman Tuli dan Netra yang mau bergabung. Jadi kami menggarap suatu karya yang mengkolaborasikan antara Tuli dan Netra.

Kami percaya, kami memiliki kemampuan. Seperti: Netra mampu menulis puisi dan lagu serta memainkan alat musik, dan Tuli memiliki kemampuan berbahasa isyarat. Jadi kami bersepakat teman Netra menyanyikan karyanya dan diiringi musik, sembari Teman Tuli mengisyaratkan isi dari lirik lagu tersebut. Melalui karya ini, kami berharap masyarakat bisa memahami, kami mampu berkolaborasi. Tiba saatnya pertunjukan, kami tampil di salah satu festival dan saya sebagai pendamping mengkomunikasikan kepada mereka bahwa mereka mampu secara mandiri berinteraksi dengan panitia. Meskipun mereka ragu, namun kenyataannya mereka mampu.

Mereka berangkat bersama-sama. Ada yang mengendarai motor (Tuli). Ada pula yang berangkat menggunakan mobil (Sopir Tuli). Ini adalah pengalaman pertama mereka berangkat bersama-sama ke lokasi tanpa pendamping. Namun, saya sebelumnya sudah mengkomunikasikan kepada panitia untuk menjemput mereka setibanya di lokasi. Sebagai pendamping, sewaktu-waktu saya mencoba memberikan pengalaman kepada mereka untuk berani berkomunikasi langsung di lingkungan masyarakat. Dengan begitu, masyarakat luas juga mendapatkan pengalaman berinteraksi dengan Disabilitas. Awalnya pasti ada canggung di antara mereka. Namun setelah dicoba ternyata mereka mampu berinteraksi dengan percaya diri.

Saat mereka menampilkan karya, gemuruh tepuk tangan penonton mengapresiasi. Setelah mereka tampil, mereka langsung menelpon saya dan menyampaikan bahwa kegiatannya sukses dan sangat senang karena ternyata di atas panggung, sebagai disabilitas, mereka mampu berkolaborasi dan mengedukasi masyarakat luas.

Sejak saat itu, mahasiswa Tuli dan Netra mampu hidup berdampingan di lingkungan kampusnya. Teman Tuli kadang memberikan tumpangan kepada mahasiswa Netra. Ternyata mereka mampu berkomunikasi dengan cara mereka masing-masing. Selain itu, mereka sangat berempati kepada mahasiswa Disabilitas lainnya.

Di tahun 2024, sangar seni yang kami dirikan mendapat kesempatan untuk pentas di salah satu event. Kami diminta untuk menampilkan tarian. Setelah latihan selama satu minggu, kami berhasil menampilkan tari kreasi tradisional dengan mengkolaborasikan teman-teman Netra dan Tuli. Penampilan itu mendapatkan apresiasi yang sangat luar biasa. Melalui pertunjukan sederhana itu, penonton jadi lebih paham tentang proses para penari Netra dan Tuli belajar menari. Mungkin, selama ini ada yang berpikir Netra tidak bisa menari, dan ada juga yang berpikir Tuli tidak bisa mengikuti musik. Namun faktanya, kami membuktikan bahwa hal itu bisa dilakukan.

Pada tahun 2026, saya dihubungi oleh Pusat Disabilitas salah satu universitas untuk melatih mahasiswa Disabilitasnya. Saya menyanggupi untuk memberikan latihan tari. Saat itu adalah pengalaman pertama saya, Netra yang saya ajari menari ternyata justru yang mengajari saya cara memberi tanda agar saat menari Netra tetap berada di jalur yang sesuai. Awalnya, saya berpikir menggunakan Guiding Block sebagai tanda, namun ternyata Netra menggunakan tongkatnya sebagai batas panggungnya. Dengan demikian, saya belajar membuat pola lantai yang aksesible untuk Netra

Berbeda halnya dengan penari yang memiliki hambatan pada fisiknya. Kondisi tangan kanannya kaku, sehingga dia merasa kurang percaya diri. Namun, saya meyakinkan bahwa jika ada kemauan pasti ada jalan. Dengan semangat yang luar biasa, akhirnya dia mampu memaksimalkan gerak pada dirinya, meskipun dengan keterbatasan yang ada. Teruntuk penari Slow Learner, kami harus mengulang-ulang gerakan, agar dia bisa mengikuti. Khusus Penari Tuli, dia bisa mengikuti gerak dengan baik, namun jika temponya tidak sesuai dia bisa mengikut pada penari lain.

Setelah melalui latihan lima kali pertemuan, mereka pentas di depan Konjen Australia dan mendapatkan apresiasi yang luar biasa karena baru pertama kali menyaksikan pertunjukan tari yang dilakukan lima penari Disabilitas yang berbeda-beda. Hari itu membuat saya banyak belajar, bahwa semua orang bisa menari dengan versi terbaik mereka. Terkadang kita fokus pada ketidakmampuan seseorang, sehingga lupa kalau dia punya kelebihan yang belum tentu orang lain miliki.

Sebagai orang yang mendapat kesempatan untuk mendampingi Disabilitas, saya bukan hanya sebagai pengajar, namun juga mendapat ilmu dan pengalaman dari mereka. Berkat ilmu tersebut, saya merasa penting mempelajari perspektif mereka sebelum mengajar menggunakan perspektif sendiri. Perjalanan menjadi pendamping tentu tak selamanya mudah. Kadang, dianggap negatif oleh oknum tertentu. Namun, hal itu tak membuat saya menyerah untuk memperjuangkan hak-hak Disabilitas, baik di dunia pendidikan maupun di panggung kesenian.

 

S
Tentang Penulis

Selfiana Saenal

Selfiana Saenal adalah staf pengajar Fakultas Seni dan Desain. Selfi menyelesaikan program sarjana di Universitas Negeri Makassar, lalu menyelesaikan Magister di Institut Seni Indonesia Yogyakarta pada tahun 2014. Di Yogyakarta, ia mulai belajar Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) lalu melanjutkan belajar BISINDO di Makassar. Hingga kini aktif sebagai anggota Juru Bahasa Isyarat Indonesia (AJBII).

Baca Biografi Selengkapnya →
Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.