Lewati ke konten

Kesadaran Atas Kebisuan Perintah

July 22, 2025 · Muhammad Qadhafi

Kesadaran Atas Kebisuan Perintah

Ini adalah semacam manifesto untuk cerpen ini yang diterbitkan di sukusastra.local/.

Hampir mustahil manusia mengelak dari keberadaan “perintah”. Dalam beragama, bernegara, bermasyarakat, berorganisasi, bekerja, belajar, bermain, bahkan dalam berkesenian—yang menjunjung tinggi kebebasan pun—kita senantiasa dalam kepungan beragam perintah. Jika perintah menampakkan tombaknya secara terang-terangan, tentu akan gampang memicu reaksi kita; entah dengan menunduk, mengangguk, atau justru mendongak melawannya. Namun, bagaimana jika perintah menyembunyikan tombaknya di balik keelokan tata krama, keluhuran pengabdian, akurasi angka-angka informasi gizi, atau ungkapan cinta?

Ketika peradaban bergerak dengan menyerukan asas-asas keadilan, kesetaraan, dan hak asasi manusia; perintah-perintah eksplisit yang bersifat represif maupun yang eksploitatif seolah terbungkam. Namun, sebenarnya banyak di antara perintah-perintah itu yang tetap hidup, bertransformasi—meresap ke dalam rutinitas kita sehari-hari. Diam-diam mereka mengarahkan selera, keputusan, tindakan, bahkan cara kita menjalani hidup. Itulah yang memungkinkan kita bertindak otomatis tanpa pikir panjang, menghakimi tanpa alasan, menjalani tanpa pemahaman, atau sederhananya: mematuhi perintah tanpa merasa diperintah—hegemoni.

Dalam keseharian, banyak tindakan manusia digerakkan oleh struktur-struktur sosial yang telah mengemas perintah menjadi kebiasaan, tata nilai, atau bahkan bentuk komunikasi yang seolah netral. Begitu pula dalam sistem teknologi dan kecerdasan buatan—AI mampu mengenali dan melaksanakan perintah, bahkan tanpa perlu dipicu oleh “kata perintah” atau “tanda seru”.

Di luar baik-buruknya tujuan suatu perintah, mula-mula, yang perlu kita lakukan adalah menyadari keberadaannya. Jika perintah itu terselubung, tak ada jalan untuk memastikan keberadaannya selain dengan penyingkapan.

Gagasan tentang penyingkapan perintah yang terselubung ini kueksplorasi dalam cerpen “Perintah Rahasia”. Cerpen ini berisi kisah alegoris tentang dua tokoh yang berdialog lewat sandi, sekaligus membocorkan bagaimana sistem sosial dan teknologi bekerja melalui mekanisme perintah yang sering kali tak dikenali dan tak disadari kebanyakan orang.

Untuk mencapai tujuan tersebut, kupilih bentuk yang sangat tidak puitis: kode data. Jika cerpen “Perintah Rahasia” ini dipublikasikan, kuharap tetap ditampilkan sebagai struktur data mentah JSON (JavaScript Object Notation), bukan sebagai bentuk naratif cerpen pada umumnya. Aku sengaja mengubah ekstensi fail .js menjadi .txt agar isinya lebih mudah dikopi dan diunggah ke laman publikasi digital. Jika memungkinkan, bisa pakai jenis huruf monospace atau dalam blok kode agar bentuk visualnya tidak berubah, karena bentuk dan isi cerpen ini adalah kesatuan yang tak sepatutnya diceraikan.

Di dalam format JSON ini, aku menyusun ratusan perintah yang tampak seperti seperangkat data biasa, tetapi sebenarnya menyimpan sistem logika, konflik, pertanyaan, dan respons tersembunyi. Ketika struktur ini dimasukkan ke dalam sistem AI, cerita akan muncul dengan sendirinya, seolah AI tahu bahwa ia harus bercerita tanpa diminta bercerita.

Selain sebagai struktur data “perintah”, cerpen “Perintah Rahasia” juga dapat dibaca sebagaimana narasi cerpen pada umumnya. Pembaca bisa mengopi (menyalin) struktur lengkap skrip tersebut, menempelkan ke kolom chat pada Gemini, ChatGPT, Claude, atau aplikasi AI semacamnya yang bisa menerjemahkan langsung perintah-perintah yang aku buat menjadi teks naratif. Lalu, tinggal tekan Enter (tanpa perlu memberi perintah tambahan apa pun). Maka, AI akan langsung menerjemahkan kode-kode perintah itu menjadi teks cerpen utuh.

AI akan menerjemahkan kode-kode itu sesuai tingkat pemahaman naratif masing-masing sehingga menghasilkan kemungkinan cerita yang variatif. Namun, aku tetap kasih batasan-batasan (perintah-perintah) yang dapat dipahami AI supaya inti cerita dan sandi-sandi utama buatanku tetap terjaga.

Aku menempatkan peran AI bukan sebagai “penulis” cerita, tetapi sebagai “pembaca” (penerjemah kode perintah) sekaligus sebagai “medium” yang menghubungkan interaksi antara publik pembaca dengan teks. Aku juga menyediakan fitur-fitur yang dapat memancing interaksi pembaca, seperti fitur terjemahan bahasa dan glosarium sandi yang dapat diutak-atik sesuai preferensi masing-masing pembaca. Selain memperluas keterbacaan karya ini secara global, fitur tersebut juga memberi peran aktif pembaca untuk turut berkontribusi sebagai “co-author” yang dapat mengubah beberapa bagian cerita sesuai tafsir masing-masing.

Lewat bentuk ini, aku juga pingin ajak pembaca menyadari bahwa saat ini, dalam sistem mana pun (baik sosial maupun digital), yang mengatur bukanlah suara yang terdengar menyalak, melainkan yang bisu, tenang, tapi menyimpan kendali internal. Dalam cerita ini, kebisuan perintah itu kubuat menyatakan diri lewat struktur data mentah JSON. Di sana, pembaca akan melihat adanya struktur perintah yang gamblang, tanpa selubung. Tentu akan ada pembaca yang terusik dengan bentuk “kasar” semacam ini. Ini konsekuensi ketika kita dihadapkan dengan perintah-perintah yang disingkap dari persembunyiannya.

Aku percaya sastra bisa hadir dalam bentuk apa pun, sesuai gagasan yang dipikulnya. Dengan memilih bentuk kode data yang tidak puitis ini, aku ingin membuka kesadaran: bahwa di balik bentuk ada logika-perintah, dan di balik logika-perintah ada kehendak untuk menggerakkan.***

M
Tentang Penulis

Muhammad Qadhafi

Pecandu teh tubruk panas. Mengedepankan rasa bermain dalam belajar dan berkarya.

Baca Biografi Selengkapnya →
Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.