Sastra Kini, Sastra Digital, dan Pengalaman Seorang Penulis Pemula
April 30, 2026 · Muhammad Ilfan Zulfani
Ada banyak alasan orang untuk menulis, dari yang sifatnya eksistensial, ideologis, transedental, mengisi waktu luang atau hiburan, hingga “sekadar” untuk mencari penghidupan, atau gabungan dari berbagai alasan yang ada. Dan dari alasan-alasan ini juga ada ekspektasi tertentu ketika sebuah tulisan diluncurkan ke khalayak, misalnya yang mencari penghidupan tentu ingin karyanya banyak dibeli atau mendapat honorarium yang cukup, atau ada pula yang “bertujuan mulia” seperti ingin melakukan perubahan dalam kehidupan sosial—sastra kritik sosial contohnya.
Saya sendiri, sebagai orang yang masih memulai untuk belajar menulis, punya beberapa alasan di balik aktivitasini, yang semoga tidak sia-sia, di antaranya ingin karya saya direspons dan dibicarakan (tentu ini bukan alasan satu-satunya: saya juga ingin dapat duit dari menulis!). ((Bagian ini sepertinya tidaklah jujur. Perihal “niat” ataupun “alasan” tentulah kompleks, haha.))
Suatu waktu, saya pernah berbincang dengan seorang penulis dan mengatakan kepadanya bahwa tidak apa-apa karya saya cuma dibaca sepuluh orang, tetapi sepuluh orang itu memberikan respons balik atas karya saya. Bagi saya, seseorang ingin menulis karena ingin pikirannya bercakap-cakap dengan pikiran pembacanya—dan sebagaimana arti harfiahnya, percakapan selalu membutuhkan lebih dari satu pihak. Dan buat apa jika karya saya dibaca banyak sekali orang, tetapi tak satu pun memberikan umpan balik apa-apa kepada penulisnya?
Hal ini sama saja seperti repot-repot memasakkan dan menyuguhkan makanan yang enak, tetapi kita tidak tahu pendapat si pemakan atau bahkan sekadar menyaksikan raut wajah mereka saat memakannya (koki tidak hanya ingin membuatmu kenyang, tetapi sekaligus ingin membuatmu merasa enak).
Nah, ini menjadi pelik ketika berkaitan dengan soal: bagaimana agar masakan saya dimakan orang, eh, agar karya saya dibaca orang dan, berikutnya, dibicarakan? Tentu, soal menulis ini lebih rumit dibandingkan soal memasak. Hampir setiap orang gemar makan, butuh makan, atau setidaknya dapat makan, tetapi tidak semua orang dapat atau mampu membaca. Dalam kata lain, mencari pembaca (dan jenis pembaca yang diharapkan) lebih sulit dibandingkan mencari penyantap bakso kikil.
Suatu hari, seorang penulis pemula yang kita pilih saja namanya secara acak, yaitu Zulfan, mengirimkan karya prosa pendeknya di feed Instagram. Karya tersebut hanyalah foto berisi teks yang berlatar putih polos. Ia yakin tulisan zaztra-nya tersebut sudah sangat baik dan oleh karenanya likes dan comments pun diharapkan. Tetapi, amat sial, sungguh, suka dan komentarnya nihil! Berbeda sekali ketika ia mengirimkan hal lain, seperti misalnya ketika ia makan burger viral milik seorang artis viral, komentar-komentar pun ramai berdatangan, “Asyik, ketemu si artis viral, enggak? Gimana orangnya?” atau “Apa betul kalau makan burgernya seperti sedang terbang ke langit ke-9?” ((Contoh di esai ini dapat bersifat mengandung fiksi atau semi-imajiner.))
(Dari sini muncul gagasan pertama dari esai ini, yakni karya sastra di ranah digital—medsos—sesungguhnya bukan hanya bersaing dengan karya sastra digital lainnya, tetapi juga dengan bentuk-bentuk “karya digital” yang lain. Agak berbeda dengan karya sastra yang konvensional di era lebih dulu, di mana mungkin ia hanya bersaing dengan jenis tulisan lain di koran atau majalah, tetapi setidaknya kedua-duanya sama-sama teks. Di ranah digital, karya sastra bersaing dengan reels pendek Tung-Tung Sahur buatan akal imitasi. Jadi, dalam sudut pandang tertentu ini, kata siapa karya sastra di ranah digital lebih mudah mencapai pembaca?)
Atau, dalam situasi yang kembali lagi ke sastra, halnya menjadi berbeda ketika prosa tersebut diunggah ke Instagram bukan dengan latar polos, tetapi dengan logo media/pers yang mentereng atau dengan embel-embel “juara”. Padahal, toh, baik yang berlatar polos maupun berembel-embel keduanya sama-sama karya. Dan, di antara ratusan karya atau mungkin ribuan karya yang dapat masuk ke surel redaksi setiap bulannya, hanya beberapa saja yang dapat dimuat. Jadi, “si yang tidak dimuat” ini dapat memanfaatkan “keterbukaan ranah digital” dengan memuatnya secara mandiri di Instagram. Namun, sungguh amat sial, karya tersebut, meski sama-sama teks dan meski sungguh-sungguh dibuatnya, tidak mendapat antusiasme yang serupa.
(Dari sini, muncul gagasan kedua. Karya sastra muncul bukan hanya sebagai rentetan teks, tetapi selalu melibatkan aspek-aspek lain. Karya sastra terkonstruksikan secara sosial yang melebihi dari sekadar urusan “kualitas” teks. Ini ternyata tidak hanya terjadi pada ranah konvensional, dan mungkin semakin intens pada ranah modern—digital— seperti sekarang. Penulis barangkali harus memahami bahwa jika karyanya ingin diterima, hal yang perlu dilakukannya tidak semata-mata menghasilkan karya yang bagus per se. Selain berupaya dimuat media daring “berkualitas”, ia mesti pula menampilkannya secara “lebih visual”. Dan hal ini pula membuat kita kembali ke perkara institusi kanon sastra yang memberikan “stempel” atau semacam “legalisir”.)
Kemudian, di dunia sekaligus era siber ini, memang tak dapat disanggah, pada sudut pandang tertentu, demokratisasinya memungkinkan siapa saja menerbitkan karya, tetapi ia memungkinkan siapa pula untuk kecewa. Dan (ini mungkin ilmiah sekaligus personal) ketidakditerimaan suatu karya semakin terjadi secara terbuka dibandingkan zaman dulu. Kalau dulu, penulis berhadapan dengan penerbit, dan ketika ditolak, ia sudah merasa cukup dan selesai (paling-paling kemudian memilih diterbikan secara indie). Sementara itu, di era sekarang ini, penulis dapat memuatnya secara mandiri di platform kepenulisan, tetapi yang langsung melakukan penolakan (sekaligus penerimaan) adalah masyarakat sendiri.
(Yang tadi ini gagasan ketiga, agak laen memang. Tetapi jika dibawa lebih jauh ataupun dalam, dapat merujuk ke argumen klasik sastra siber: masyarakat dapat secara aktif terlibat dalam merespons pembaca—seabsurd apa pun cara resepsinya. Dan kemudian, penulis dapat pula menyesuaikan tulisannya secara cepat dengan keinginan pembaca.)
Dan pada akhirnya, tentang keinginan si penulis yang namanya kita tentukan secara acak ini, Zulfan, untuk karyanya ditanggapi, mesti ia sadari bahwa mula-mula ia harus memastikan karyanya sampai kepada pembaca terlebih dahulu. Dan “sampainya” karya ke pembaca ini ternyata tidak semudah urusan mengunggah dan mengirim di medsos, tetapi juga ia berhadapan dengan persaingan dengan konten lain baik yang juga sastra maupun tidak, dan bahwa jika karyanya ingin mudah diterima sebaiknya tetap perlu mendapat legiitmasi dari “institusi kanon digital”, dan ia harus menyadari bahwa ia langsung berhadapan dengan pembaca dengan berbagai macamnya (berbeda dengan buku cetak, yang mana buku lebih mungkin sampai ke masyarakat yang memang pembaca). Dan Zulfan harus memahami juga bahwa ia tidak sekadar seorang pencipta teks, tetapi juga mungkin seorang pencipta gambar (untuk bersaing dengan Tung-Tung Sahur tadi, ia mesti mendesain karyanya).
Dan Zulfan ini–sebenarnya saya kenal orangnya–ia pernah bilang bahwa ia ingin bertemu dengan pembaca yang memaki-maki karyanya secara serius, ketimbang hanya dipuji-puji, tetapi hanya punya bunyi: “Kereeeen!” atau “Gokil!”, apalagi yang tak ada bunyi sama sekali (hanya desau pendingin ruangan di malam-malam sunyi). Dan rupanya, ranah digital ini memunculkan kemungkinan-kemungkinan yang mudah sekaligus susah (ranah konvensional pun begitu juga, sih).

Muhammad Ilfan Zulfani
Suka duduk-duduk sambil dengerin bapak-bapak dan ibu-ibu berceramah di kelas di Magister Sastra UGM.
Baca Biografi Selengkapnya →