Merayakan Keragaman Sastra dalam Fenomena Book Shaming
July 1, 2025 · Asma Dzakia Ghomirotun Naila
Dulu, setiap kali saya membaca novel, saya merasa bahwa sayalah orang paling keren karena berhasil menamatkan sebuah novel meskipun hanya sejenis KKPK atau novel Wattpad yang terkenal pada masanya. Beranjak dewasa saya sadar jika novel-novel tersebut kurang memberi pelajaran dan terlalu membosankan jika dibaca ulang.
Akhirnya, saya beranjak sedikit ke novel-novel karangan Tere Liye yang sedikit lebih “berbobot” dibanding jenis sebelumnya. Bertambah usia lagi, saya mulai membaca karya NH Dini, Putu Wijaya, dan Ahmad Tohari meskipun sesekali karena merasa aneh dengan gaya tulisannya.
Saat masuk kuliah saya terkejut. Ternyata, banyak sekali karya-karya hebat dari masa lalu yang baru saya ketahui dan saya jadi sering menemukan karya-karya tersebut berseliweran di akun Instagram saya. Tentu saja saya jadi tertarik membacanya.
Di antara perubahan bacaan-bacaan yang saya alami, sering sekali saya merasa minder terhadap bacaan orang lain yang keren. Katakanlah mereka membaca karya Ahmad Tohari, Pramoedya, atau Seno Gumira yang jelas berbeda dari jenis bacaan saya. Tak jarang saya juga melakukan penilaian pribadi terhadap orang-orang yang selama hidupnya hanya membaca novel-novel dari Wattpad: wah saya ternyata sedikit lebih baik dari dia.
Betul, diam-diam saya melakukan book shaming. Book shaming adalah suatu keadaan ketika seseorang menyudutkan orang lain atas bahan bacaan yang dibacanya sehingga orang tersebut dapat kehilangan rasa kepercayaan diri terhadap bahan bacaan yang dibaca.
Istilah ini juga digunakan ketika seseorang menganggap bahwa bahan bacaan A lebih baik daripada bahan bacaan B. Book shaming memiliki arti seperti body shaming, yaitu bersifat merendahkan (Anggraini & Gunawan, 2019:119).
Bermula dari pengalaman tersebut, saya jadi bertanya-tanya, mengapa harus ada fenomena book shaming? Apakah semua buku memiliki kasta tersendiri sehingga pembacanya otomatis tergolong di dalamnya? Benarkah bacaan saya tidak lebih baik dari bacaan orang lain? Dan masih banyak lagi.
Fenomena ini memaksa kita menilik lebih jauh lagi tentang kategorisasi bacaan ini melalui sejarah sastra Indonesia. Apakah pengelompokan suatu karya memang ditujukan untuk itu?
Kesusastraan Indonesia memiliki periodisasi yang didasarkan pada latar belakang sejarah dan karakteristik yang beragam. Dari periodisasi tersebut, sering muncul istilah “sastra serius” dan “sastra populer”. Keduanya memiliki genre yang berbeda.
Sastra serius biasanya dianggap lebih “berat” karena cenderung mengangkat isu-isu kompleks, baik sosial, politik, maupun filosofis dengan bahasa yang bersifat estetis dan membuat pembaca tertarik menafsirkan makna karya tersebut. Sementara itu, sastra populer baik dari segi isi maupun penggunaan bahasa biasanya lebih ringan karena bersifat menghibur dan jangkauan pembacanya lebih luas.
Hal inilah yang membuat sebagian orang beranggapan bahwa sastra populer kurang berkualitas, baik dari segi estetik maupun bobot ilmiahnya sehingga sastra populer sering tersisih dari pembicaraan sastra dan kegiatan kritik, apresiasi, penelitian sampai memunculkan fenomena book shaming.
Barangkali, kita perlu meninjau ulang paradigma bahwa karya sastra yang sejak awal bertujuan untuk menghibur tidak memiliki nilai dan manfaat bagi pembaca. Sebab, bagi saya, karya sastra populerlah yang mengantarkan saya sampai sini, sampai pada tumbuhnya kebiasaan membaca sastra serius.
Sastra serius sering kali digambarkan sebagai karya yang “menantang” karena pembacanya diajak berpikir lebih dalam. Misalnya, novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari bukan hanya bercerita, tapi juga menawarkan refleksi terhadap sejarah, budaya, dan kehidupan manusia secara mendalam. Sastra serius dianggap lebih kokoh dari segi strukturnya, lebih dalam dari isinya, dan lebih lama waktunya. Sastra serius berkaitan erat dengan kehidupan sosial dan tidak akan lekang dimakan zaman.
Tidak heran jika sastra serius seolah menjadi anak emas yang selalu diperhatikan. Tapi, tidak bisa saya pungkiri bahwa sastra serius sulit diakses, terutama bagi pembaca pemula seperti saya.
Di sisi lain, sastra populer sering kali dianggap lebih ringan, baik dari segi tema maupun penggunaan bahasanya. Sastra populer bertujuan untuk menghibur dan menjangkau pembaca yang lebih luas. Sastra populer bertugas memenuhi selera pembaca dan tidak dianggap sebagai barang seni, melainkan komoditi sebab yang menjadi batasan bernilai atau tidaknya adalah selera massa (Sumardjo, 1982:21).
Novel-novel adaptasi dari Wattpad atau karya-karya seperti Dilan oleh Pidi Baiq adalah contoh dari sastra populer. Novel bergenre romansa remaja seperti ini ini berhasil menyentuh emosi khalayak dengan bahasa yang santai dan kisah cinta yang sedikit berbeda dari novel sezamannya. Meski begitu terkenal, kesederhanaannya sering kali menjadi alasan ia dianggap kurang bermutu.
Kategorisasi sastra populer dan sastra serius sebenarnya bukan ditujukan untuk melihat mana buku yang berkualitas ataupun tidak. Adanya pembedaan kata “serius” dan “populer” digunakan untuk memetakan karakteristik karya sastra yang semakin beragam perkembangannya dari waktu ke waktu. Singkatnya, untuk memahami dinamika sastra itu sendiri, bukan menghakimi pembaca karya sastra.
Sayang sekali, fenomena book shaming sering kali berasal dari hierarki tak kasatmata ini. Pembaca sastra serius sering merasa superior dibandingkan pembaca sastra populer, seolah-olah preferensi bacaan menentukan tingkat intelektualitas seseorang. Padahal, sastra serius maupun populer punya fungsi yang berbeda dan keduanya penting.
Sastra serius mengasah pemikiran kritis, sementara sastra populer memberikan kenyamanan dan hiburan. Bahkan, pembaca sastra populer bisa saja beralih ke sastra serius seiring waktu atau tetap setia membaca karya-karya populer tanpa kehilangan nilainya sebagai pembaca.
Book shaming telah menciptakan stigma bahwa membaca sastra populer adalah aktivitas yang tidak berharga. Hal ini bisa menghambat seseorang untuk mengembangkan kebiasaan membaca, terutama jika mereka baru memulai dengan sastra populer.
Padahal, jika ditelusuri lebih jauh, sastra populer justru memiliki peran signifikan dalam membentuk budaya literasi, khususnya membaca sastra. Ia memiliki kekuatan dalam menjangkau lebih banyak pembaca. Bagi sebagian pembaca, sastra populer adalah gerbang pertama menuju dunia membaca–dan bisa juga dunia menulis. Dari sinilah sering sekali muncul ketertarikan untuk membaca karya-karya yang lebih kompleks, menulis karya-karya yang lebih serius, dan merujuk ke arah sastra “seni”.
Seperti yang sudah saya ceritakan di awal, pengalaman ini saya alami sendiri bahwa membaca novel-novel populer di masa remaja adalah langkah awal yang akhirnya membawa saya kepada karya-karya milik NH Dini, Putu Wijaya, dan Ahmad Tohari. Teeuw telah membuktikan bahwa surutnya kebiasaan membaca sastra di Indonesia pada tahun 1950-1960-an disebabkan oleh sedikitnya buku-buku sastra populer (1989:170).
Bayangkan saja jika sastra populer tidak hadir di antara keberagaman sastra kita, barangkali banyak orang yang enggan membaca. Sementara, kita tahu, banyak sastra populer yang terbit sejak tahun 1970-an saja tak serta-merta membuat angka literasi negara kita melonjak naik.
Karya sastra selalu menjadi cerminan masyarakat. Ia merupakan tiruan kenyataan yang dibuat oleh para sastrawan sedemikian rupa. Barangkali, pada zaman dahulu, karya-karya seperti Siti Nurbaya atau Salah Asuhan dapat dianggap sebagai karya sastra populer sebab cerita dan latar belakangnya dekat dengan pembaca masa itu dan sampai hari ini pun karya tersebut masih dibicarakan, bahkan menjadi bagian kanon sastra yang dihormati.
Hal ini menunjukkan bahwa nilai sebuah karya juga bisa dipengaruhi zaman dan apresiasi pembaca. Tidak semua orang bersedia membaca karya sastra serius, tidak semua orang harus membaca sastra serius, tidak semua orang mencari tema berbobot dalam bacaan mereka. Beberapa pembaca mungkin hanya ingin menikmati cerita ringan yang tidak membuat otak bekerja lebih keras dan tentu saja itu bukanlah sebuah dosa. Masing-masing memiliki preferensi. Masing-masing memiliki tujuan yang berbeda dan kita perlu mengapresiasi bacaan mereka.
Sastra dengan segala kategori dan genrenya adalah bagian dari perjalanan sejarah kesusastraan Indonesia. Daripada memperdebatkan mana yang lebih baik antara sastra serius dan sastra populer, kita lebih perlu belajar merayakan keragaman ini. Setiap karya memiliki tempat dan pembacanya. Dengan menghindari book shaming, kita tidak hanya menciptakan budaya literasi, tetapi juga membuka ruang diskusi tentang nilai-nilai dalam kesusastraan.
Karya sastra bukan soal siapa membaca apa, melainkan soal bagaimana karya tersebut mampu memberikan manfaat berupa pengalaman, wawasan, atau hiburan bagi setiap pembacanya. Jika hal tersebut sudah diperoleh pembaca, bacaan tersebut sudah menunaikan tugasnya.
Book shaming hanyalah salah satu hambatan dalam literasi sastra. Alih-alih berdebat tentang mana bacaan yang berkualitas, lebih baik kita fokus pada bagaimana kedua kategori sastra tersebut berkontribusi. Sebagai pembaca, tugas kita adalah membuka diri terhadap berbagai jenis karya, menghargai hak orang lain dalam menikmati bacaan, dan tidak mengotak-ngotakkan bacaan untuk merendahkan.
Dengan begitu, kita bisa merayakan keragaman sastra kita. Sastra adalah milik semua orang dan terbuka terhadap perbedaan selera bacaan. Rayakanlah keragaman sastra kita sepuas-puasnya.***
Asma Dzakia Ghomirotun Naila
Asma’ Dzakia G.N. lahir dengan damai di Magelang. Saat ini sedang berusaha menghadapi hiruk pikuk Semarang sebagai mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Diponegoro.
Baca Biografi Selengkapnya →