Bocah, Gajah, dan Sirkulasi Dosa
November 10, 2025 · Ari Ambarwati
Membaca Akhir Sang Gajah: Perspektif Sastra Anak-Remaja
Prolog
“Mereka semua tahu bahwa itu ada di sana, seluruh warga Omelas.” (Ursula K. Le Guin1, The Ones Who Walk Away from Omelas, 1973)
The Ones Who Walk Away from Omelas adalah cerpen alegori tentang kebahagiaan sebuah kota yang disusun di atas penderitaan seorang anak. Ursula K. Le Guin menggambarkan kota utopis yang makmur dan riang, tetapi seluruh kebahagiaan kota didirikan di atas satu rahasia kejam: seorang anak dikurung dan dibiarkan menderita sebagai “tumbal” ketertiban. Warga dewasa, setelah mengetahui fakta itu, memilih dua jalan: menerima kompromi moral demi stabilitas, atau pergi meninggalkan kota karena tak sudi melegalkan kebahagiaan yang dibeli dari pemilik air mata yang paling lemah. Cerpen ini menyiksa dengan pertanyaan: apakah kesejahteraan bersama sah jika menuntut pengorbanan seorang anak? Dan ketika kita diam, bukankah kita turut menandatangani kontrak ketidakadilan itu? Saya teringat cerpen ini ketika rampung membaca kalimat pamungkas dalam cerpen Akhir Sang Gajah, karya Sasti Gotama2.
Bagaimana jika pelaku sebuah tragedi justru adalah korban paling awal dari sistem yang membesarkannya? Cerpen Akhir Sang Gajah merupakan sebuah teks yang menempatkan anak sebagai pelaku sekaligus korban. Sang anak memang melempar petasan ke kaki Boo, gajah sirkus, sebuah tindakan kejam yang memicu malapetaka, tetapi ia juga dibentuk oleh ekosistem moral orang dewasa yang lalai; orang tua yang tak cakap mengasuh dan menanamkan etika, institusi sirkus yang abai terhadap protokol keselamatan, kesejahteraan hewan, dan perlindungan pengunjung, serta komunitas yang memilih jalan pintas dengan mengeksekusi gajah sebagai kambing hitam. Karena itu, pertanyaan mendesak yang diajukan cerpen ini bukan sekadar “mengapa gajah harus mati?”, melainkan “di mana posisi anak dalam tata kelola kesalahan, dan bagaimana kelalaian keluarga, institusi, dan publik turut mencetak tragedi yang lalu ditutup dengan hukuman demonstratif?”
Cerpen ini layak diperbincangkan dari perspektif kritik sastra anak karena ia menantang kebiasaan moral hitam–putih dan melatih pembaca muda membedakan tanggung jawab pribadi dari kegagalan sistemik. Selain itu, narasi yang ditawarkan Sasti membuka ruang empati lintas-spesies sekaligus literasi resiko soal keselamatan pertunjukan dan kesejahteraan hewan, yang relevan untuk pergumulan intelektual di kelas dan praktik pengasuhan anak hari ini.
Esai ini berangkat dari premis bahwa anak dalam cerpen Sasti bukanlah sekadar korban pasif, melainkan subjek yang tindakannya, meski tanpa kesadaran penuh akan konsekuensi, memicu rangkaian peristiwa tragis. Namun, alih-alih menjadikan bocah tersebut sebagai fokus pembelajaran atau refleksi moral, narasi justru mengalihkan seluruh beban tanggung jawab kepada Boo.
1/ Ketika Kematian Dimulai dengan Petasan
Ada sesuatu yang menggoda penulis dalam cerpen Akhir Sang Gajah karya Sasti Gotama. Cerpen itu adalah cerpen pertama yang akan pembaca dapati saat membuka buku kumpulan cerpen Akhir Sang Gajah di Bukit Kupu-Kupu. Buku ini diganjar penghargaan Kusala Sastra Katulistiwa 2025, kategori kumpulan cerita pendek. Bukan karena kekerasan yang digambarkan, mengingat kita sudah terbiasa dengan kekerasan dalam sastra. Hal paling mengganggu adalah logika yang menggerakkan kekerasan itu: logika yang begitu familiar, begitu dekat dengan cara kita sebagai masyarakat, merespons tragedi. Dan sebagai peminat kritik sastra anak-remaja, penulis dengan sadar memilih cerpen ini untuk dikritisi, sebab kisah ini bermula dari kesalahan yang dilakukan seorang bocah.
Cerpen ini bercerita tentang Boo, seekor gajah sirkus ‘kalem’ dan ‘jinak’, yang mengamuk setelah seorang bocah melempar petasan ke kakinya. Bocah itu terluka parah di kepala, lalu menemui ajalnya, dan sebagai respons, keluarga bocah menuntut satu hal: Boo harus mati. Bukan ganti rugi. Bukan penyelidikan. Bukan perbaikan sistem keamanan sirkus. Yang mereka mau adalah eksekusi. Dan inilah yang membuat cerpen ini begitu menusuk: kita tahu bahwa tuntutan itu akan dikabulkan. Kita tahu bahwa Boo akan dieksekusi mati. Karena kita sudah terlalu sering melihat pola tersebut, yang sebangun dengan kehidupan nyata.
Membaca cerpen ini di tengah hiruk-pikuk kasus-kasus seperti SMA di sebuah kota, seorang Kepala Sekolah diperkarakan karena menampar muridnya yang merokok. Kita tidak bisa tidak melihat resonansi yang merecoki nalar. Ini bukan tentang menyamakan kasus, tapi tentang mengenali pola: refleks mencari kambing hitam ketika terjadi tragedi, alih-alih memperbaiki sistem yang memungkinkan tragedi itu terjadi.
2/ Bahasa yang Sederhana, Kekerasan yang Sistemik
Salah satu kekuatan cerpen Sasti adalah bahasanya yang sederhana, hampir seperti laporan pandangan mata. Tidak ada ornamen berlebihan, tidak ada metafora yang rumit. Tapi justru dalam kesederhanaan itu, kekerasan yang digambarkan menjadi lebih menyakitkan.
Perhatikan bagaimana insiden itu digambarkan:
“Bocah itu degil. Ia berkelakar dengan melempar petasan ke kaki Boo. Boo panik. Chalaka, sang Pawang, berusaha bikin Boo tenang dengan menarik rantai besi yang melilit lehernya. Tapi sudah terlambat. Kaki Boo meremukkan batok kepala si bocah.”
Tidak ada dramatisasi. Tidak ada penjelasan panjang lebar tentang perasaan Boo atau bocah. Yang ada hanya urutan peristiwa: bocah melempar petasan, Boo panik, pawang mencoba menenangkan, tapi sudah terlambat. Kalimat-kalimat pendek yang menumpuk seperti fakta-fakta dalam laporan kecelakaan. Namun perhatikan detail yang dipilih: ‘rantai besi yang melilit lehernya’. Bukan tali, bukan ikatan biasa, rantai besi. Detail ini bukan kebetulan. Ini adalah gambaran tentang bagaimana Boo sudah lama hidup dalam belenggu, sudah lama dikontrol, sudah lama tidak punya kebebasan. Dan ketika Boo akhirnya bereaksi, reaksi itu digambarkan dengan kata kerja yang sangat fisik: ‘meremukkan’. Bukan ‘membunuh’, bukan pula ‘menyerang’.
Pilihan kata ini penting karena ia menunjukkan bahwa apa yang terjadi bukan serangan yang direncanakan, tapi reaksi refleks dari makhluk yang terprovokasi. Namun dalam logika kambing hitam, niat tidak penting, yang penting adalah bahwa ada seseorang harus membayar kesalahan ‘kolektif’.
3/ Perspektif yang Memihak (dan Mengapa Itu Penting)
Cerpen ini diceritakan dari sudut pandang seorang badut sirkus. Pilihan naratif ini sangat cerdas karena badut adalah figur yang berada di area marginal. Sang badut melihat, tapi tidak punya kuasa untuk mengubah eksekusi mati. Perhatikan bagaimana si badut diposisikan oleh Jolo, pemimpin sirkus, dan Chalaka, pawang Boo.
“Diam-diam aku menyeringai di balik punggung tukang sulap, tanpa bicara walau sekadar ‘uh’ saja. Baginya omonganku setakaran bulu ayam: tak berbobot dan tak patut didengar. Mau bagaimana lagi? Tanpa riasan pun aku memang badut. Bibirku buntal, kepalaku perang, dan jari-jariku kembang. Kata Chalaka, aku memang dianugerahi yang besar-besar, kecuali otak dan kelamin.”
Seringai di balik punggung. Bukan tawa terbuka, bukan protes lantang, tetapi seringai tersembunyi. Ini adalah posisi orang yang tahu bahwa apa yang terjadi tidak adil, tapi juga tahu bahwa ia tidak punya kuasa untuk mengubahnya. Namun yang menarik adalah bahwa si badut ini juga memihak. Ia tidak berpura-pura netral. Ia jelas berpihak pada Boo, dan ia jelas melihat absurditas dari tuntutan eksekusi, meski keberpihakan itu tidak mengubah apa pun. Boo tetap akan diracun agar mati. Inilah yang membuat cerpen Sasti begitu mengganggu: ia menunjukkan bahwa mengetahui ketidakadilan tidak sama dengan bisa mengubahnya. Bahwa keberpihakan moral tidak selalu punya kuasa politik.
4/ Sirkulasi Dosa: Ketika Kesalahan Berputar Tanpa Henti
Di sinilah cerpen ini menjadi sangat tajam secara teoretis. Apa yang terjadi pada Boo adalah contoh sempurna dari apa yang bisa kita sebut sebagai ‘sirkulasi dosa’, sebuah proses di mana kesalahan dan rasa bersalah tidak diselesaikan, melainkan dipindahkan dari satu pihak ke pihak lain dalam lingkaran yang tidak pernah berakhir. Istilah ‘sirkulasi dosa’ diapungkan sebab ia menamai proses, bukan keadaan statis. Beban salah bergerak: dari bocah yang melempar petasan, ke orang tua yang gagal mengawasi, ke institusi sirkus yang abai terhadap keselamatan, lalu ke publik yang menuntut darah. Tidak ada yang benar-benar bertanggung jawab, karena semua orang sibuk memindahkan kesalahan kepada pihak lain.
Dalam terminologi psikologi sosial, ini melibatkan beberapa mekanisme sekaligus:
- Bias atribusi: kecenderungan menyalahkan faktor eksternal untuk kesalahan sendiri, tapi menyalahkan karakter orang lain untuk kesalahan mereka.
- Moral disengagement (Albert Bandura3): proses psikologis yang memungkinkan seseorang melakukan tindakan yang bertentangan dengan standar moralnya sendiri.
- Difusi tanggung jawab: ketika tanggung jawab tersebar di banyak pihak, tidak ada yang merasa sepenuhnya bertanggung jawab.
- Scapegoating: memindahkan seluruh kesalahan kepada satu korban untuk memulihkan ketertiban simbolik.
Fokus pada ‘sirkulasi’ mengajak kita membaca adegan-adegan cerpen sebagai arus pertukaran afek dan tanggung jawab, alih-alih sekadar menunjuk pelaku. Ini selaras dengan psikologi perkembangan moral Lawrence Kohlberg4: apakah respons orang dewasa membantu anak mengolah rasa bersalah menjadi akuntabilitas dan empati, atau justru mengajarinya mengalihkan beban?
5/ Mekanisme Kambing Hitam: Dari Girard ke Arena Sirkus
Untuk memahami mengapa Boo harus mati, kita perlu memahami mekanisme kambing hitam (scapegoating) yang dijelaskan oleh antropolog dan filsuf Prancis René Girard5. Dalam teorinya tentang mimetic desire (hasrat mimetik) dan scapegoat mechanism, Girard menjelaskan bahwa masyarakat yang mengalami krisis membutuhkan korban untuk memulihkan ketertiban simbolik.
Dalam Akhir Sang Gajah, kematian bocah menciptakan krisis ganda: kehilangan nyawa yang tidak bisa dikembalikan, dan ancaman terhadap kepercayaan publik pada institusi hiburan (sirkus). Krisis ini memicu apa yang Girard sebut sebagai krisis mimetik: situasi di mana perbedaan antara korban dan pelaku, antara yang bersalah dan yang tidak bersalah, mulai kabur. Dalam situasi seperti ini, masyarakat membutuhkan cara untuk memulihkan ketertiban. Dan cara paling mudah adalah dengan menemukan satu korban yang bisa disalahkan untuk seluruh tragedi. Boo menjadi korban yang sempurna karena ia adalah pihak yang paling lemah secara politis, seekor hewan yang tidak bisa membela diri. Ia adalah ‘yang lain’, bukan manusia, sehingga lebih mudah untuk dikorbankan tanpa rasa bersalah. Ia sudah ada di tempat kejadian, tidak perlu mencari kambing hitam yang lain.
Yang menyedihkan dari cerpen ini adalah dialog antara Chalaka dan Jolo, pemilik sirkus:
“Mengapa harus dibunuh? Bukannya aku tak simpati kepada bocah itu, melainkan Boo salah apa? Bocah itu yang bikin gara-gara, Mengapa tak dilihat sebab musababnya? Kalau Boo mati, itu sama saja bikin aku pensiun dini! Ini tak adil!”lengking Chalaka dengan suara serak.
Jolo mendekati Chalaka, lalu menepuk pundaknya. Seperti ke anak balita yang merajuk, dia berkata, “Aduduh, kasihan sekali kau. Sudah umur berapa kau ini hingga tak tahu keadilan itu hanyalah dongeng?” Jolo berdecak prihatin. “Aku pun sedih, Boo adalah investasi berharga jutaan rupee. Kalau mati, ia hanya senilai sepasang gading. Tapi, sekarang kita bicara dacin, Jika Boo tidak mati, sirkus ini yang mati. Bisa jadi kau juga,” ucap Jolo dengan pelan dan mengancam.
Pernyataan Jolo bukan sinisme kosong. Itu adalah pengakuan jujur tentang bagaimana ‘keadilan’ sering kali hanyalah narasi yang diciptakan untuk melegitimasi kekerasan. Eksekusi Boo bukan tentang keadilan, tetapi tentang memulihkan ketertiban simbolik dengan cara yang paling mudah: mengorbankan pihak yang paling lemah. Jolo, sang pemilik sirkus bahkan menghitung dengan dingin: kehilangan Boo akan merugikan sirkus, tapi menolak tuntutan eksekusi akan lebih merugikan lagi karena akan kehilangan kepercayaan publik. Ini adalah kalkulasi ekonomi yang dibalut dengan bahasa keadilan.
6/ Bocah yang Melempar Petasan: Pelaku atau Korban?
Salah satu aspek paling kompleks dari cerpen ini adalah posisi bocah yang melempar petasan. Apakah ia pelaku? Apakah ia korban? Atau apakah pertanyaan itu sendiri yang salah? Dalam teori perkembangan moral Lawrence Kohlberg4, anak pada tahap prakonvensional memahami benar dan salah berdasarkan konsekuensi langsung: hukuman atau hadiah. Bocah dalam Akhir Sang Gajah berada dalam zona abu-abu yang menarik. Ia melempar petasan, sebuah tindakan yang dalam konteks permainan anak bisa jadi dianggap iseng, bukan kejahatan, namun konsekuensinya fatal.
Cerpen ini tidak memberikan kita akses kepada kesadaran bocah. Kita tidak tahu apakah bocah mengerti bahwa tindakannya berbahaya. Kita tidak tahu apakah ia pernah diajarkan tentang risiko. Kita tidak tahu apakah ada orang dewasa yang mengawasi. Ketiadaan informasi ini dalam narasi justru menjadi strategi retoris yang kuat. Dengan tidak memberikan akses ke kesadaran atau latar belakang bocah, Sasti menempatkan pembaca pada posisi yang sama dengan orang tua dan masyarakat dalam cerita: kita tidak tahu, dan karena tidak tahu, kita mengisi kekosongan itu dengan proyeksi.
Mekanisme proyeksi, dalam terminologi psikoanalisis, adalah bentuk pertahanan ego. Sigmund Freud6 menjelaskan bahwa proyeksi terjadi ketika individu mengalihkan perasaan atau impuls yang tidak dapat diterima kepada orang atau objek lain. Dalam konteks Akhir Sang Gajah, orang tua tidak dapat menerima bahwa kematian anak mereka adalah hasil dari rangkaian kebetulan tragis yang melibatkan tindakan anak mereka sendiri, kelalaian pengawasan mereka, dan sistem keamanan sirkus yang buruk. Lebih mudah, secara psikologis, untuk memproyeksikan seluruh kesalahan kepada Boo. Dengan demikian, bocah menjadi korban ganda: korban dari insiden yang ia sendiri picu (tanpa sepenuhnya memahami konsekuensinya), dan korban dari sistem yang gagal mengajarinya tentang tanggung jawab dan empati.
7/ Dari Arena Sirkus ke Halaman Sekolah: Kontekstualisasi dengan Realitas Indonesia
Membaca Akhir Sang Gajah di tengah hiruk-pikuk kasus-kasus seperti Kepala Sekolah VS murid yang merokok, sehingga membuat seluruh murid mogok sekolah hingga tuntutannya dipenuhi, yaitu Kepala Sekolah dicopot. Kita dipaksa melihat resonansi yang amat mengganggu. Ini bukan tentang menyamakan kasus, sebab konteks dan detailnya sangat berbeda, tapi tentang mengenali pola: refleks mencari kambing hitam ketika terjadi tragedi, alih-alih memperbaiki sistem yang memungkinkan tragedi itu berlangsung.
Dalam kasus-kasus di sekolah, kita sering melihat pola yang sama, terjadi insiden yang melibatkan anak, orang tua menuntut pertanggungjawaban, bukan dalam bentuk perbaikan sistem, tapi dalam bentuk hukuman terhadap individu tertentu, institusi, alih-alih melakukan evaluasi menyeluruh, malah mencari kambing hitam yang paling mudah: guru, kepala sekolah, atau pihak lain yang dianggap ‘bertanggung jawab’, sedangkan media sosial dan publik ribut menuntut ‘keadilan’ tanpa memahami kompleksitas situasi, kambing hitam dimunculkan, dan semua orang merasa bahwa ‘keadilan sudah ditegakkan’, padahal sistem yang menciptakan tragedi tetap tidak berubah.
Cerpen Sasti menunjukkan bahwa pola ini bukan kebetulan. Ini adalah mekanisme sosial yang sudah mengakar. Masyarakat telah terbiasa mengatasi krisis dengan mencari korban, daripada memperbaiki sistem. Yang paling tragis dari pola ini adalah kegagalan pedagogis. Ketika terjadi insiden yang melibatkan anak, seharusnya itu menjadi momen pembelajaran, bagi anak, bagi orang tua, bagi institusi, bagi masyarakat. Tapi alih-alih belajar, kita sibuk mencari siapa yang harus disalahkan. Dalam Akhir Sang Gajah, tidak ada yang belajar apa pun. Bocah sudah mati, Boo akan dieksekusi, dan sirkus akan terus beroperasi dengan sistem keamanan yang sama. Tidak ada refleksi, tidak ada perbaikan, tidak ada pembelajaran. Ini adalah kritik yang sangat tajam terhadap cara kita, sebagai masyarakat, merespons tragedi. Kita lebih suka mencari kambing hitam daripada menghadapi kenyataan bahwa tragedi sering kali adalah hasil dari kegagalan sistemik yang melibatkan banyak pihak.
8/ Akhir yang Tidak Memberikan Kenyamanan
Cerpen ini tidak memberikan kita kenyamanan moral. Tidak ada resolusi yang memuaskan, tidak ada keadilan yang ditegakkan, tidak ada pembelajaran yang jelas. Yang ada hanya kepastian bahwa Boo akan mati (meskipun Boo ternyata hanya pura-pura mati atas kepiawaian si badut yang melatihnya), penonton larut merayakan ‘kematian’ Boo, dan bahwa semua orang akan melanjutkan hidup mereka seolah-olah tidak ada yang salah dengan sistem yang menciptakan tragedi ini. Ini adalah pilihan estetis yang berani.
Perhatikan bagaimana cerpen ini diselesaikan. Ketika malam berakhir dan sirkus telah sepi, Boo yang pura-pura mati sebab si badut mengganti pepaya beracun dengan yang lain, bangkit dari ‘kematiannya’. Ia membawa si badut di punggungnya pergi dari sirkus menuju ke utara, ditemani bulan perbani di angkasa. Akhir kisah yang membuat pembaca termangu, karena Sasti memungkasi cerita dengan minggatnya mereka berdua dari sirkus, daripada menantang ketidakadilan yang melabeli Boo sebagai kambing hitam atas kematian bocah. Keduanya memilih berlalu dari sirkus, sama seperti golongan dewasa yang angkat kaki dari Omelas dalam The Ones Who Walk Away from Omelas. Serupa epigraf di awal esai ini.
Akhir Sang Gajah mengajukan pertanyaan yang sama kepada kita: apakah kita akan menerima sistem yang membutuhkan kambing hitam untuk memulihkan ketertiban? Apakah kita akan terus hidup dalam masyarakat yang lebih suka mencari korban daripada memperbaiki sistem? Atau apakah kita akan menjadi seperti mereka yang berjalan pergi dari Omelas, menolak untuk menerima bahwa keadilan hanyalah dongeng, menolak untuk ikut serta dalam mekanisme kambing hitam? Cerpen Sasti tidak memberikan jawaban. Ia hanya menunjukkan mekanisme itu dengan sangat terang, menikam, dengan detail yang mengusik, dan perspektif yang memihak meski tidak berdaya.
Dan mungkin itu sudah cukup. Karena langkah pertama untuk mengubah sistem adalah mengenali bahwa sistem itu ada, setuju bahwa kita semua, dengan cara kita sendiri, ikut serta dalam sirkulasi dosa ini. Sasti tidak menulis cerpen ini untuk menjawab siapa yang bersalah. Ia menulis untuk menunjukkan bahwa kita semua, bahwa dalam sirkulasi dosa ini kita adalah bocah yang melempar petasan, orang tua yang menuntut darah, institusi yang menghitung untung-rugi, dan badut yang memilih pergi untuk menghindari tragedi berulang.
*
CATATAN KAKI
1 Ursula K. Le Guin (1929-2018), penulis fiksi ilmiah dan fantasi Amerika. “The Ones Who Walk Away from Omelas” pertama kali diterbitkan dalam New Dimensions 3 (1973). Referensi: Le Guin, Ursula K. “The Ones Who Walk Away from Omelas.” The Wind’s Twelve Quarters. Harper & Row, 1975.
2 Sasti Gotama, penulis Indonesia kontemporer. “Akhir Sang Gajah” mengeksplorasi tema kekerasan, keadilan, dan moralitas yang merupakan salah satu cerpen dalam kumpulan cerpen berjudul Akhir Sang Gajah di Bukit Kupu-kupu (2024).
3 Albert Bandura (1925-2021), psikolog Kanada-Amerika. Konsep moral disengagement dijelaskan dalam “Moral Disengagement in the Perpetration of Inhumanities” (1999). Referensi: Bandura, Albert. Personality and Social Psychology Review, vol. 3, no. 3, 1999, pp. 193-209.
4 Lawrence Kohlberg (1927-1987), psikolog Amerika yang mengembangkan teori perkembangan moral. Referensi: Kohlberg, Lawrence. “Stage and Sequence: The Cognitive-Developmental Approach to Socialization.” Handbook of Socialization Theory and Research, edited by David A. Goslin, Rand McNally, 1969.
5 René Girard (1923-2015), antropolog dan filsuf Prancis-Amerika. Teori scapegoating mechanism dikembangkan dalam Violence and the Sacred (1972) dan The Scapegoat (1982). Referensi: Girard, René. The Scapegoat. Translated by Yvonne Freccero. Johns Hopkins University Press, 1986.6 Sigmund Freud (1856-1939), neurolog Austria, pendiri psikoanalisis. Konsep proyeksi dikembangkan lebih lanjut oleh Anna Freud dalam The Ego and the Mechanisms of Defence (1936). Referensi: Freud, Anna. International Universities Press, 1946.
Ari Ambarwati
Ari Ambarwati adalah kritikus sastra anak-remaja, penulis cerita anak-remaja, dosen dan peneliti kajian sastra dan pembelajarannya di Universitas Islam Malang. Pada 2023 puisinya berjudul Anak Bajo di Buku Sekolah memenangai lomba 222 Puisi Tarian Laut; Pada 2023 cerpen puisinya berjudul Sehari di Ngadisari memenangkan lomba cerita anak sosiao humaniora; 2024 naskah novelet remaja lolos sayembara GLN; 2025 naskah novelet anak jenjang C lolos GLN 2025. Sejak 2024-sekarang ia memenangkan hibah penelitian dari Kemdiktisaintek untuk kurasi mandiri bacaan sastra di sekolah aktualisasi ekoliterasi di sekolah.
Baca Biografi Selengkapnya →