Menanggung Jarak
July 21, 2026 · Via Ajeng Mulyani
Mengingat kembali adegan awal dalam Mrs. Dalloway karya Virginia Woolf ketika Clarissa baru saja keluar untuk membeli bunga. Ia berjalan di Bond Street, merasakan kegembiraan tipis dari hiruk-pikuk London pagi itu—angin musim panas, suara troli, dan kerumunan yang bergerak. Tiba-tiba sebuah mobil meletup keras. Dalam sekejap, narasi yang semula melekat pada kesadaran Clarissa, tiba-tiba bergeser menyapu kerumunan. Dentang persepsi itu membuat pembaca mendekati kerumunan dari jarak yang lebih luas, sebelum narasi menukik masuk ke pikiran Septimus Warren Smith, seorang veteran perang yang berdiri tidak jauh dari situ. Letupan mobil itu menjadi poros perpindahan suara. Clarissa hanya sedikit terkejut, kemudian kembali fokus pada suasana kota. Tetapi bagi Septimus, suara itu menjadi ancaman yang menyayat, memicu trauma perang dan halusinasi yang mengoyak stabilitas jiwanya.
Hal yang serupa terjadi pula dalam Surti + Tiga Sawunggaling karya Goenawan Mohamad. Dari kesadaran Surti yang menenun batik dan mengamati kehidupan sehari-hari, narasi tiba-tiba bergerak mengikuti suara-suara lain: bisik-bisik Anjani, laporan Cawir tentang tembak-menembak, atau percakapan dengan Jen. Permainan jarak ini memungkinkan pembaca merasakan simultanitas pengalaman: ketenangan dan konsentrasi Surti saat membatik bersinggungan dengan kegelisahan akibat perang dan ancaman kematian. Sebagaimana Clarissa dan Septimus mengalami rentang pengalaman fisik dan psikologis yang berbeda yang dihubungkan oleh dentang mobil, Surti dan dunia sekitarnya dipersatukan melalui suara dan persepsi yang bergerak melintasi ruang-ruang naratif.
Surti + Tiga Sawunggaling merupakan novel pertama Goenawan Mohamad yang terbit pada usianya yang ke-77. Setelah puluhan tahun menekuni esai, puisi, dan terjemahan, ia menyalurkan pengalaman itu ke dalam prosa yang berlarik-larik menyerupai puisi, meski tetap dinamai “sebuah novel” di sampulnya. Berlatar akhir Juli 1947—masa revolusi yang kacau—kisah ini menghadirkan Surti yang menapaki keseharian dan kehilangan, ditemani tiga burung Sawunggaling yang menjadi pengisah sekaligus saksi. Mereka memberi sudut pandang dan ketakterjangkauan naratif yang berbeda-beda, menandai adegan revolusi, percakapan, kematian, dan keseharian yang rapuh.
Novel ini berkembang dari lakon Surti dan Tiga Sawunggaling (2010). Pilihan waktu, suasana, dan tokoh menautkan pengalaman masa kecil Goenawan Mohamad: kehilangan ayah dalam revolusi, kota kecil Jawa yang porak-poranda, serta kebiasaannya menulis burung sebagai saksi tragedi manusia. Semua itu membentuk cara ia menata narasi secara puitis sekaligus imajinatif. Perpindahan suara, jarak yang berganti-ganti, dan ritme yang liris mengajak pembaca memasuki dunia Surti dan burung-burung Sawunggaling, merasakan revolusi dari berbagai ceruk pengalaman.
Surti, yang menanggung hilangnya anak dan keganjilan perilaku Jen, suaminya, hidup dalam denting ketakutan setiap malam. Sementara tiga Sawunggaling—Anjani, Baira, Cawir menghadirkan suara yang melihat manusia dari kejauhan, sebagaimana burung-burung yang kerap muncul dalam esai Goenawan. Melalui Surti dan burung-burung itu, novel ini merajut tragedi keluarga, biografi kecil kota Jawa 1947, ingatan atas pembunuhan sang ayah, dan kegamangan nasionalisme. Goenawan menuliskan revolusi sebagai sesuatu yang dekat lewat ketabahan seorang perempuan.
Berbagai tinjauan menempatkan Surti + Tiga Sawunggaling sebagai narasi sejarah, sosial, dan psikologis yang kompleks. Ada yang menyoroti representasi revolusi dari sudut manusia pinggiran; ada yang membaca pilihan bahasa dan jarak emosional; ada pula yang melihat dehumanisasi korban kekerasan. Dari berbagai pembacaan itu, permainan jarak dan perpindahan suara tampak sebagai simpul penting yang tampaknya belum ditelisik tuntas.
Berangkat dari hal itu, serangkaian tanya dirasa patut guna diajukan. Mengapa Goenawan Mohamad memilih cara bercerita semacam itu? Mengapa perang hampir selalu hadir sebagai kabar dan desas-desus? Mengapa pengalaman Surti terhadap perang lebih banyak dibentuk oleh apa yang ia dengar dari tokoh lain tinimbang oleh apa yang ia lihat sendiri? Pertanyaan-pertanyaan tersebut mengantar pada satu persoalan kunci dalam novel ini, yakni pemisahan antara peristiwa dan pengalaman—persoalan jarak.
Tulisan ini hendak menelaah Surti + Tiga Sawunggaling melalui tiga bentuk jarak; jarak temporal-historis, jarak peristiwa, dan jarak pengalaman. Ketiganya membentuk pola penceritaan yang secara konsisten menjauhkan perang dari penglihatan langsung dan menempatkan Surti sebagai subjek yang senantiasa menanti. Lebih jauh, tulisan ini juga hendak menelusuri bagaimana pilihan penceritaan dalam Surti + Tiga Sawunggaling membangun keterpisahan sebagai prinsip naratif yang mengatur relasi antara peristiwa, subjek, dan pembaca.
Jarak dalam lensa Gérard Genette dipahami sebagai bagian dari modus penceritaan yang berkait dengan pengaturan voice dan fokalisasi, yakni cara narasi menentukan siapa yang berbicara dan melalui sudut pandang siapa peristiwa dipersepsi. Novel Surti + Tiga Sawunggaling mengenakan jarak sebagai sikap estetik yang berangkat dari kebiasaan kepenulisan Goenawan Mohamad sendiri. Novel ini lahir dari pertemuan panjang antara esai dan puisi—dua bentuk yang sejak lama menjadi ruang artikulasi sang pengarang. Fakta bahwa Surti + Tiga Sawunggaling merupakan novel kecil yang berkembang dari sebuah lakon, sebagaimana telah disebut di awal, kiranya patut dicatat sebagai petunjuk bentuk. Lakon, sebagai medium, bekerja dengan keterbatasan visual dan mengandalkan suara, laporan, serta penundaan adegan. Jejak cara kerja itu tetap dipertahankan dalam bentuk novel puitis ini, sehingga jarak tampak dirawat sebagai laku bertutur. Bentuk larik puitis itu, dapat kita amati misalnya, dalam kutipan berikut.
Dan aku ingat ibuku berkata, mimpi/ itu pringgondani, motif yang ruwet./ Tidur ibarat mori putih, menampung/ semuanya tanpa pola: garis-garis parang/ yang miring dan lurus; ukel naga yang/ ke sana ke mari. Tapi kita coba juga/ menceritakannya—dan kata-kata kita/ pun membentuk, memotong-motong,/ menyembunyikan, melupakan sebagian-sebagian. (Surti + Tiga Sawunggaling, hlm. 53).
Bentuk larik semacam itu dalam Surti + Tiga Sawunggaling muncul sebagai alat naratif yang tampak menegaskan petikan pengalaman. Misalnya, penggalan yang membandingkan mimpi dengan pringgondani, motif batik yang ruwet, dan tidur dengan mori putih, memperlihatkan bagaimana pengalaman yang acak dan belum tersusun itu disaring melalui bahasa yang bertakik-takik. Larik-larik pendek memaksa pembaca berhenti, menimbang, dan merangkai petikan-petikan pengalaman itu sendiri. Metafor dan pemenggalan itu tampak sebagai strategi yang menjauhkan pengalaman dari kesatuan utuh. Dengan cara itu, bentuk teks—pemenggalan larik dan metafor-metafor yang hadir di dalamnya—mendukung modus naratif yang membatasi akses tokoh dan pembaca terhadap peristiwa. Dampaknya adalah kesiapan pembaca dalam menerima fragmen-fragmen kabar yang dibawa oleh ketiga burung Sawunggaling. Dengan demikian, bentuk larik puitis merupakan prasyarat bagi peran jarak dalam keseluruhan narasi.
Pemenggalan larik dalam Surti + Tiga Sawunggaling dapat dibaca sebagai pengaturan distance pada tingkat modus penceritaan. Larik-larik pendek dan terputus selain membuahkan estetika liris juga bagian dari cara mengatur sejauh apa pengalaman dapat dihadirkan. Dengan memecah alur sintaksis dan semantik, narasi pun menolak kontinuitas adegan dan menghadirkan pengalaman sebagai petikan.
Metafor mimpi sebagai pringgondani dan tidur sebagai mori putih misalnya, menandai cara pengalaman difokalisasikan. Pengalaman di situ hadir sebagai kesan yang telah disaring oleh kesadaran tokoh. Narasi pun tampak bekerja lewat fokalisasi internal terbatas: apa-apa yang merupakan jejak dalam ingatan dan perasaan Surti. Tersebab itulah, jarak juga dibentuk oleh bagaimana kesadaran sang tokoh menyaring dunia.
Pembukaan Surti + Tiga Sawunggaling—“Degayu, akhir Juli, 1947”—sekilas menampilkan penanda waktu dan ruang yang menempatkan kisah itu dalam jarak historis yang mapan. Penanggalan tersebut memberi kesan bahwa peristiwa yang hendak dituturkan telah berlalu dan kini disajikan kembali dari suatu posisi temporal yang berbeda. Akan tetapi, kesan jarak itu segera digoyahkan oleh cara penceritaan yang tak genap retrospektif. Alih-alih menghadirkan pengalaman yang telah dimatangkan, narasi di situ malah bertahan dalam ketegangan waktu kini: menghitung hari sejak pendudukan, mencatat bunyi tembakan yang hampir tiap malam terdengar, serta mencermati kepergian suami yang berulangkali tanpa kepastian.
Penanda “Degayu, akhir Juli, 1947” tampak membangun kesan narasi dari masa lampau, peristiwa yang telah selesai dan kini diceritakan kembali. Dan pengaturan waktu dalam narasi nyatanya menolak jarak temporal itu. Dari situ, hadirlah apa yang dikatakan Genette sebagai ketegangan antara order yang tampak retrospektif dan durasi pengalaman yang berlangsung secara simultan.
Penanda waktu dan tempat dalam pembukaan novel ini tak serta-merta mengamankan jarak temporal antara peristiwa dan penceritaannya. Ia lebih berfungsi sebagai bingkai sejarah yang menjanjikan jarak, tetapi ditahan oleh modus naratif yang dekat dengan pengalaman. Dan jarak temporal, dalam pengertian ini, bersifat ambigu; yang secara formal, kisahnya memang tampak sebagai kisah dari masa lampau, tetapi secara pengalaman tetap simultan.
Kedekatan temporal tersebut berimplikasi pada cara informasi hadir dalam narasi. Pengalaman Surti nyatanya dibangun melalui bunyi, laporan sepintas, dan pengamatan terbatas. Informasi beredar sebagai gaung peristiwa yang hanya sebagian tertangkap oleh subjek yang hidup di dalamnya. Jarak pun kemudian dihasilkan oleh keterbatasan akses pengalaman pada saat peristiwa berlangsung.
Bentuk larik puitis, metafor-metafor yang berpencar, dan pengaturan waktu yang ambigu bergerak bersama sebagai modus penceritaan yang mengatur jarak. Jarak dalam hal ini tak melulu menyoal seberapa jauh peristiwa dari saat penceritaan, tetapi seberapa terbatas pengalaman dapat dihadirkan.
Kecenderungan untuk menahan pengalaman itu tidak berhenti pada pengaturan waktu dan kesadaran. Ia juga menentukan bagaimana peristiwa-peristiwa penting memasuki narasi. Bahkan kematian, yang lazimnya menjadi titik ledak sebuah cerita, dihadirkan sebagai sesuatu yang datang dari kejauhan.
Permainan jarak peristiwa ini semakin ditegaskan ketika Anjani mengaku “tak tahu apa yang terjadi setelah Jen sampai di titian itu”. Ketidaktahuan di situ tampak sebagai strategi bagi peristiwa klimaks yang sengaja dibiarkan kosong. Burung Cawir—yang “terbang lebih awal” dan menjadi saksi penggantilah yang mengisi kekosongan itu. Dan meski Cawir berfungsi sebagai saksi, kesaksiannya tidak dimaksudkan guna mendekatkan peristiwa. Kehadiran saksi pengganti itu memastikan bahwa apa yang terjadi setelah Jen mencapai titian tetap berada di luar jangkauan pengalaman langsung—sebagai pilihan naratif yang menahan peristiwa dari menjadi adegan.
Kesaksian Cawir tidak membawa narasi lebih dekat pada peristiwa, meskipun ia menyaksikannya secara visual. Peristiwa dipersepsi dari “ketinggian sepohon nyiur”, sebuah posisi non-manusia yang menempatkan pandangan di atas dan jauh dari peristiwa itu sendiri. Akan tetapi, perubahan fokalisasi itu tidak mengubah cara peristiwa dihadirkan. Kematian Jen tetap disajikan sebagai laporan yang berjarak. Bahkan kehadiran hantu perempuan—yang secara konvensional berfungsi meningkatkan horor—malah digambarkan “menutup wajahnya”, seolah narasi itu sendiri menolak konfrontasi visual dengan peristiwa.
Apabila kita menelisik larik penghujung dalam kabar kematian, “tak lama lagi, pada suatu hari Sabtu”. Penentuan waktu yang demikian gamblang dan memanggul sebentuk penundaan di situ memperlihatkan bagaimana narasi menjaga pembaca tetap berada di luar peristiwa. Hanya ada kepastian yang datang dari jauh, sebagaimana kabar yang telah diputuskan sebelum sempat dialami. Dan melalui permainan jarak peristiwa semacam itu, Goenawan Mohamad tampaknya memang enggan menghadirkan perang dan kematian sebagai tontonan.
Posisi Surti yang kerap ditempatkan sebagai pendengar, penerima kabar, dan penanggung jarak atas berbagai peristiwa tak dapat dibaca semata sebagai keterbatasan informasi atau strategi penundaan. Lebih jauh, terciptanya jarak peristiwa justru menjadi piranti yang membentuk subjektivitas Surti itu sendiri. Cara ia mencintai suaminya adalah cinta yang dikelola lewat penantian dan penerimaan kabar yang samar; cara ia membatik, menjadi laku tubuh atas apa yang tak sanggup diucap. Cara ia menahan emosi memperlihatkan bagaimana perasaan diolahnya dalam diam. Dan tersebab itulah, subjektivitas Surti lahir dari ketidakhadiran yang terus-menerus, dan dari apa yang hanya sanggup ia bayangkan dan terima sebagai kabar.
Peran Sawunggaling dalam novel ini tidak berhenti pada fungsi sebagai pembawa kabar atau saksi tak langsung atas peristiwa-peristiwa kekerasan. Lebih tajam lagi, kehadiran tiga burung itu menandai upaya narasi guna menghindari sudut pandang manusia dalam merepresentasikan perang. Burung-burung tak menimbang benar-salah secara moral, mereka hanya melihat dari kejauhan, melapor apa yang tampak, lantas pergi. Dalam posisi itulah, kamunculan tiga burung Sawunggaling menggarisbawahi betapa perang tak sanggup ditanggung oleh penglihatan manusia. Dengan memindahkan sudut pandang pada makhluk non-manusia, narasi menandai batas representasi—sebuah jarak ontologis—bahwa ada peristiwa yang tak layak, atau bahkan tak mungkin, diserap penuh-seluruh oleh kesadaran manusia. Jarak yang dicipta adalah bentuk kehati-hatian naratif dalam menghadapi pengalaman perang yang secara etis dan eksistensi terlalu rapuh guna dijadikan tontonan.
Namun demikian, jika jarak dibaca sebagai bentuk kehati-hatian, agaknya tetap perlu diajukan tanya: sampai di mana penahanan peristiwa tidak bergeser menjadi penjinakan pengalaman perang itu sendiri? Apakah jarak yang dirawat narasi sepenuhnya melepaskan pembaca dari hasrat menguasai, atau justru menyediakan ruang aman guna menyaksikan perang tanpa keterlibatan? Pertanyaan tersebut tak hendak menyangkal sikap estetik Surti + Tiga Sawunggaling, hanya hendak menunjukkan risiko yang nyatanya selalu menyertai strategi penjarakan.
Jika pada fragmen kabar kematian Jen jarak dibentuk lewat pengalihan peristiwa ke laporan dan kesaksian burung, maka pada fragmen percakapan Surti dan Jen, khususnya ketika bercerita menyoal situasi perang yang dihadapinya kepada Surti, jarak itu kemudian berpindah ruang. Ada kehadiran yang timpang. Di mana perang itu datang sebagai cerita yang menyelinap ke dalam percakapan antara Surti dan Jen. Akan tetapi, kedekatan ruang dan percakapan itu justru memperparah rentang emosi.
Secara diegetik, Surti dan Jen berada dalam satu ruang, berbicara langsung, dan saling menanggapi. Jen berbicara dari sudut pandang gerilyawan yang terlibat langsung dalam kekerasan dan perpecahan, sementara Surti hanya mendengarkan dari ruang domestik. Ketika Jen mengatakan bahwa kekejaman terjadi terus-menerus “tapi seolah-olah Belanda, si musuh, tidak ada”, narasi itu pun menyingkap selisih ideologis. Perang dihadirkan sebagai kekerasan yang tanpa pusat dan tanpa arah.
Jarak itu semakin menebal ketika Jen menyebut laskar-laskar yang “tak tahu kenapa harus ikut dalam pertempuran ini” dan bahkan menikmati kekerasan. Perang, yang dalam narasi sejarah kerap dipadatkan menjadi tujuan bersama, diurai oleh Jen sebagai kumpulan motivasi yang tercerai-berai. Perang di situ tampil sebagai sesuatu yang tak dapat diringkas, tak dapat disederhanakan, meskipun “keadaan ini meminta kita menyederhanakan banyak hal”. Bahkan ketika ia bertanya tentang Kiai Subkhi, jawaban Jen—“Ia tak memerlukan tanah air”—cukup membuka jurang menyoal iman, kekerasan, dan nasionalisme.
Puncak permainan jarak dalam novel ini tampak pada dialog singkat tentang tanah air. “Kau memerlukan tanah air?” tanya Surti. “Kami memerlukannya, Surti,” jawab Jen. Jawaban itu tidak menyertakan Surti ke dalam “kami”. Jarak itu langsung dirasakan secara fisik dan emosi: “Sesuatu seperti menusukku.” Akan tetapi, luka itu tidaklah meledak menjadi konflik verbal; ia ditahan, dialihkan ke tubuh, lalu ke kerja tangan. Adegan ditutup dengan Surti yang kembali pada Sawunggaling dan “mori yang terbentang, memegang kuas dengan gemetar”.
Kendati keduanya hadir dalam satu ruang diegetik dan berkomunikasi secara langsung, pengalaman perang tidak pernah menjadi pengalaman bersama. Jen berbicara dari posisi keterlibatan, sementara Surti hanya dapat mendengar tanpa kemungkinan turut mengalami. Betapa bahasa di situ menjadi penanda jurang pengalaman.
Dari pengaturan jarak yang bekerja pada level temporal-historis, peristiwa, dan pengalaman, itulah, suasana khas Surti + Tiga Sawunggaling dibentuk. Suasana dalam Surti + Tiga Sawunggaling tidak dapat diperlakukan sebagai kategori yang berdiri sendiri. Suasana nyatanya selalu bergantung pada komposisi naratif menyoal: siapa yang melihat, dari mana peristiwa dipersepsi, apa yang ditahan dari penglihatan, serta apa yang sengaja tidak diberikan kepada pembaca. Dalam novel ini, narasi senantiasa menyingkirkan tatapan langsung dari tokoh utama dan menggantinya dengan perantara. Seluruh kondisi ini membentuk suasana sebagai akibat dari kerja jarak yang mengatur relasi antara peristiwa, subjek, dan penceritaan. Tersebab itulah, suasana melankolia yang dominan dalam novel ini merupakan muatan emosi dari cara narasi membatasi akses terhadap pengalaman. Posisi yang memang sejalan dengan kecenderungan estetik Goenawan Mohamad. Dalam puisi maupun prosanya, suasana yang kerap muncul agaknya memang sebagai konsekuensi dari kesadaran bahwa bahasa memiliki batas, bahwa tidak semua pengalaman—terutama pengalaman kekerasan bernama perang—layak atau mungkin dihadirkan secara dekat dan tuntas.
Novel puitis bersejarah ini tampaknya memang hendak mengarahkan apa yang dapat dilihat pembaca dan menguji bagaimana pembaca seharusnya bersikap. Pembaca diminta bertahan dalam posisi ketidaktahuan. Ketidaklengkapan informasi jadi sebentuk pembelajaran guna menahan hasrat melihat, memahami, dan juga menghakimi. Dalam posisi itu, membaca perang adalah membaca dengan kehati-hatian. Menanggung jarak sebagaimana Surti menanggungnya.
Ya, perempuan itu akhirnya pulang. Ia kembali ke kerja-kerja tangan—kembali ke gawangan. Dan barangkali akan tetap juga di sana—apapun maknanya.
Yogyakarta, 2026
KEPUSTAKAAN
Faruk dan Ramayda Akmal. 2025. Naratologi Klasik: Teori dan Aplikasinya. Yogyakarta: Penerbit JBS. hlm. 117-120.
Goenawan Mohamad. 2018. Surti + Tiga Sawunggaling. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Kleden, Ignas. 2025. “Puisi, Penyair, dan Intelektual Publik: Untuk Goenawan Mohamad 60 Tahun.” Dalam Sastra Indonesia dalam Enam Pertanyaan: Esai-Esai Sastra dan Budaya. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia. hlm. 245-259.
Mawardi, Bandung. 2019. “Novel Bersejarah Puitis.” Kurung Buka, [20 Januari 2019]. https://www.kurungbuka.com/novel-bersejarah-puitis/ . Diakses pada 1 Juni 2026 pukul 22.00 WIB.
Triwikromo, Triyanto. 2025. “Teori Tak Bertanah Air Goenawan Mohamad.” Dalam Maling, Mitos, Wanita, Sastra (Sehimpun Catatan Triyanto Triwikromo). Yogyakarta: DIVA Press.
Woolf, Virginia. 1925. Mrs. Dalloway. London: Hogarth Press.

Via Ajeng Mulyani adalah mahasiswa S2 Ilmu Sastra FIB UGM. Hobinya menulis, membaca, dan traveling.
Baca Biografi Selengkapnya →