Lewati ke konten

Penerjemahan, Agen Sastra, dan Pertanyaan Tini yang Tak Terduga

June 20, 2026 · Syafiq Addarisiy

Penerjemahan, Agen Sastra, dan Pertanyaan Tini yang Tak Terduga

Di tempat tidur—saat itu pukul 21.49—Tono senyam-senyum sendiri membayangkan Tini yang bahagia saat tahu bahwa dirinya akan melanjutkan studi S2 di Southampton sana. Dengan gembira, Tono bayangkan Tini bertanya jurusan apa yang akan diambilnya, dan dengan keren dijawabnya: Global Literary Industries Management. Tono akan ceritakan bahwa ia memilihnya setelah membaca Seni Penerjemahan Sastra

Tono akan ceritakan bahwa buku itu membuatnya tahu bahwa penerjemahan memegang peran penting dalam mengantarkan kesusastraan suatu bangsa ke kancah internasional. Itu penting bagi Tono karena meluruskan kesalahpahamannya selama ini. Bahwasanya, itulah penyebab karya sastra Indonesia kurang mendapat tempat di panggung sastra dunia, bukan lantaran kalah kualitas dibanding karya-karya penulis luar.

Buktinya, pikir Tono, sastrawan Indonesia mulai mendapat penghargaan internasional di satu dasawarsa terakhir. Eka Kurniawan, misalnya, masuk daftar panjang The International Booker Prize 2016, Oppenheimer Funds Emerging Voices Award 2018, dan Prince Clause Award 2018 dari Kerajaan Belanda. Terjemahan novelnya, Beauty is a Wound, bahkan dinobatkan sebagai The Best Translated Novels of the Decade versi Literary Hub 2019, melengserkan terjemahan novel Patrick Modiano dan Olga Tokarczuk—keduanya sama-sama sudah meraih Nobel Sastra—serta Haruki Murakami yang sangat digadangkan jadi nobelis selanjutnya.

Contoh lain: Happy Stories, Mostly, terjemahan kumpulan cerpen Norman Erikson Pasaribu, masuk daftar panjang The International Booker Prize dan meraih Republic of Consciousness 2022; terjemahan novel Intan Paramadita, The Wandering, meraih English PEN/Heim Translation Award 2019; sedangkan terjemahan kumpulan cerpen Budi Darma, People from Bloomingtoon, dianugerahi penghargaan PEN Translation Award 2023. Sembari tersenyum, Tono membayangkan bahwa ia akan mengatakan kepada Tini bahwa hal tersebut memperjelas bahwa karya sastra Indonesia dapat bersaing di kancah internasional.

Tono akan terangkan pula bahwa mata kuliah-mata kuliah di jurusan tersebut sangat relevan dengan persoalan posisi sastra Indonesia di tingkat dunia. Dengan girang, ia akan sebutkan mata kuliah Approaches to Critical and Creative Concepts, Communicating the Cultural Industries, Literary Industries and New Media, Digital Forms, dan The Publishing World.

Di lima mata kuliah itu, Tin, Tono membayangkan, aku bakal melajarin hal-hal mendasar dan praktis soal industri penerbitan sastra global: marketing, pengurusan hak cipta, penerjemahan, dan sebagainya. Aku juga bakal melajarin hal-hal seputar dunia penerbitan internasional, mulai dari gimana buku dicetak dan dibawa ke pasar buku, sampai isu-isu yang berkaitan dengan regulasi media cetak dan digital. O iya, sama itu, Tin, aku juga bakalan dapet arahan langsung dari promotor profesional buat penelitian nanti. Jelas, aku mau neliti agen sastra, dong.

Tono bahagia memikirkan itu dan merasa akan terlihat cool saat Tini tahu bahwa dengan belajar di jurusan tersebut, ia akan berpeluang untuk ikut berkontribusi dalam menyukseskan program prioritas Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (BPPB): Internasionalisasi bahasa Indonesia. Sebab, Kepala BPPB sendiri, E. Aminudin Aziz, menjelaskan bahwa program tersebut salah satunya memang dilaksanakan melalui platform Kelompok Kepakaran dan Layanan Profesional Penerjemahan.

Membayangkan Tini terkagum-kagum mendengar penjelasannya, Tono kian bersemangat memikirkan penjelasannya tentang keharusan mendukung program prioritas tersebut. Alasannya, tentu agar sastra Indonesia dapat segera masuk ke gelanggang sastra dunia. Apalagi, saat ini Indonesia sedang mendapat sorotan dari publik internasional.

Bukti-bukti untuk itu sudah Tono siapkan. Pada 2015, misalnya, Indonesia didapuk sebagai tamu kehormatan di Frankfurt Book Fair. Empat tahun setelahnya, Indonesia menjadi negara ASEAN pertama yang menjadi market center pada London Book Fair. Direktur London Book Fair 2019 sendiri, Jacks Thomas, menyatakan bahwa Indonesia menarik perhatian karena program kebudayaannya kerap menampilkan keberagaman.

Dalam pikiran, Tono membayangkan dirinya dengan gagah memberi tahu Tini tentang hasil nyata daripadanya: Sekitar 1008 hak terjemahan karya sastrawan Indonesia telah dibeli penerbit luar negeri dan sekitar 3.161 judul sedang dinegosiasikan. Begitu menurut Anton Kurnia, penerjemah sastra senior sekaligus koordinator pelaksana saat Indonesia menjadi tamu kehormatan dalam Frankfurt Book Fair 2015.

Tono pun membayangkan dirinya akan tampak semakin gagah ketika menjelaskan bahwa, selain mengangkat prestise Indonesia di tingkat global dan mendukung internasionalisasi bahasa Indonesia, hal tersebut juga dapat menunjang pertumbuhan ekonomi kreatif Indonesia. Tini, dalam bayangan Tono, akan terpana saat tahu bahwa Deputi Bidang Kebijakan Strategis Kemenparekraf (Baparekraf), Nia Niscaya, mengungkapkan bahwa subsektor penerbitan adalah kontributor terbesar keempat setelah kuliner, fesyen, dan kriya. Tini akan lebih terpana lagi saat ia beri tahu bahwa Laura Prinsloo, Kepala Komite Buku Nasional 2016-2019, mengatakan bahwa keikutsertaan pada pameran buku internasional itu pernah menaikkan aplikasi visa ke Indonesia sebesar 300%.

Memikirkan semua itu, Tono jadi tak sabar menunggu datangnya hari esok untuk melihat binar bangga di mata Tini. Tono membayangkan dirinya terlihat wow di hadapan kekasihnya itu seumpama kepalanya tidak dihinggapi satu pikiran jahat: Gimana kalau Tini tanya, “Terus tesismu nanti mau bahas apa, Mas?”

Demi Neptunus, Tono gelagapan memikirkan itu. Tono memang sudah memiliki gambaran umum untuk ia kerjakan di tesisnya. Walakin, Tono merasa itu belum terlalu matang dan itu membuat jantungnya berdebaran karena dapat mengurangi wibawanya di hadapan Tini. Itu sebab, tak tunggu lama, Tono bangkit dari tidur dan bergegas menuju meja belajar.

 

2

Menghadap laptop terbuka, Tono mengingat-ingat bahwa di tesisnya nanti ia akan membahas satu hal yang sependek pengetahuannya belum terlalu dikenal di Indonesia: Agen sastra. Tono memilihnya sebab peran agen sastra yang, meski sekilas tidak terlalu tampak, bisa sangat menentukan karier seorang penulis—suatu hal yang terjadi pada J.K. Rowling di awal kepengarangannya. Bahkan, peran agen sastra bisa lebih luas lagi dengan mengangkat prestise kesusastraan suatu negara di tingkat global—fenomena yang terjadi pada sastrawan-sastrawan Amerika Latin pada el-Boom tahun 1960-an.

Tono menghela napas menyadari pengetahuannya tentang agen sastra baru sebatas apa yang dibacanya dari esai Rony Agustinus dalam Macondo, Para Raksasa, dan Lain-Lain Hal. Walakin, tatkala ia mencari di Chrome laptopnya dan menemukan esai Bambang Trim di Kompasiana, Tono jadi tahu bahwa penghuni booth-booth di pameran-pameran buku internasional hendaknya adalah agen sastra karena para pengunjung di sana juga berprofesi sama. Tono memicingkan mata.

Lalu, ketika mencari berita terkait di The Jakarta Post, Tono manggut-manggut begitu tahu bahwa tanpa agen sastra, perwakilan-perwakilan penerbit asing tak akan tertarik membeli hak terjemahan suatu karya—hal yang pernah dialami oleh Dee Lestari pada Frankfurt Book Fair 2015. Ia menuturkan: When they came, they asked me: ‘Do you have an agent?’ When I said no, they just left.

Tono pun tersenyum kecil, merasa bahwa dirinya mulai mendapat sesuatu untuk disampaikan pada Tini ketika nanti ditanya mengenai apa yang akan dikaji di tugas akhirnya. Tono pun kembali membayangkan Tini tampak puas mendengar penuturannya tersebut dan jadi kian bernafsu untuk mencari tahu. Dibukanya buku Jeff Herman dan kegirangan tatkala menemui keterangan bahwa agen sastra akan memberi penulis 8 keuntungan yang jarang didapatkan tanpanya:

(a) Agen sastra bisa langsung menyerahkan naskah penulis yang ia wakili kepada editor sebab itu lebih menghemat waktu dibanding jika editor harus menyeleksi sendiri naskah-naskah yang masuk ke meja redaksi; (b) agen sastra tahu editor mana yang tepat bagi naskah seorang penulis; (c) agen sastra dapat meningkatkan nilai jual naskah dengan cara mengirimkannya ke berbagai penerbit sekaligus, suatu hal yang kadang bisa memunculkan apa yang disebut auction, persaingan antarpenerbit untuk mendapatkan hak penerbitan; (d) agen sastra tahu bagaimana memoles dan memperbaiki naskah untuk meningkatkan daya tawarnya; (e) agen sastra menguasai ihwal kontrak penerbitan dan bagaimana mengolah bahasanya agar lebih menguntungkan penulis; (f) agen sastra paham nilai jual suatu naskah dan memang berposisi untuk menegosiasikan perjanjian kontrak sebaik mungkin; (g) agen sastra membantu penulis memahami cara berhubungan dengan editor dan penerbit setelah menekan kontrak; dan (h) agen sastra dapat memberi konsultasi terkait hal-hal yang bernilai, dan agar layak, jual.

Hal tersebut menyadarkan Tono bahwa agen sastra memegang peran kunci dalam proses terbitnya terjemahan karya sastra Indonesia di luar negeri. Sebab, meski penulisan buku memang sebentuk “seni”, tapi penerbitannya adalah bisnis. Tanpa agen sastra, karya-karya sastra Indonesia akan sulit dikenalkan kepada publik global karena hak penerjemahannya sulit laku. Jika itu terjadi, pada akhirnya, laju internasionalisasi bahasa (dan sastra) Indonesia pun akan terhambat. 

Menarik napas dalam-dalam, Tono merasa bahwa besok sudah akan dapat berkata kepada Tini bahwa agen sastra sangatlah penting untuk diteliti dan disebarkan kepada pegiat penerbitan di Indonesia. Tujuannya tak lain adalah agar dapat mempercepat proses penerbitan karya sastra Indonesia di luar negeri untuk sekaligus mengakselerasi internasionalisasi bahasa (dan sastra) Indonesia. 

Jarum jam menunjuk angka 01.13 dan mata Tono terasa berat. Namun, meski kantuk sudah tak tertahankan, Tono lega sebab merasa sudah siap menjawab bilamana Tini nanti bertanya tesisnya kelak akan membahas apa. Tono bahagia membayangkan dirinya bisa membusungkan dada di hadapan cintanya. Tanpa aba-aba, Tono tertidur, dengan sesungging senyum di bibirnya.

 

3

Keesokan harinya—ketika itu pukul 8.38—sembari menyantap mie dok-dok di warmindo Mang Asep biasanya, pada Tini Tono berkata, “Tin, aku mau lanjut S2 di Southampton.”

Tono mengatakan itu dengan dada berdebaran, menerka akan segirang apa Tini ketika mendengarnya. Tono sengaja belum mengatakan jurusan apa yang akan diambilnya sebab ingin membuat Tini penasaran. Tapi, tak seperti dugaannya, tak ada kekaguman di mata Tini. Tak kebanggaan di wajah Tini.

Sebaliknya, setelah dengan spontan tak jadi menyendok mie yang sudah ditiup-tipunya,  Tini melotot ke arahnya. Melihat itu, Tono merasa tanda perang dunia ketiga sudah menyala ketika dengan nada tinggi Tini membentaknya, “Ke Southampton, Mas!!?? Southampton!!!??? Ke Inggris!!?? Mas mau kita LDR-an apa!!!??? Ngapain juga sih Mas ngurusin sastra-sastra terus!!!!???? Kapan mau nikahin akuuuuuu!!!!!?????”

Tak menyangka akan ditanya begitu rupa, Tono tergeragap dan merasa apa yang semalam dipelajarinya sama sekali tak berguna.

 

Mlangi, 17 Juli 2023-5 Juni 2025

 

Daftar Pustaka

Agustinus, Ronny. 2021. Macondo, Para Raksasa, dan Lain-Lain Hal Seputar Sastra Amerika Latin. Yogyakarta: Penerbit Tanda Baca.

Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. 2022. Rencana Strategis Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Tahun 2020-2024 (revisi 2022). Jakarta: Kemdikbudristek.

Brewer, Robert Lee (ed.). 2021. Guide to Literary Agents: 30th Edition Newly Revised and Updated. London: Penguin Publishing Group.

Herman, Jeff. 2014. Guide to Book Publishers, Editors, & Literary Agents. California: New World Library.

Kurnia, Anton. 2022. Seni Penerjemahan Sastra: Panduan, Gagasan, dan Pengalaman. Yogyakarta: Diva.

Sambuchino, Chuck. 2015. Get a Literary Agent. London: Penguin Publishing Group.

8 Penerbit dan 2 Literary Agency dari Indonesia Akan Ikuti London Book Fair 2022 – Tinemu

Bekraf Ungkap Keberhasilan Indonesia dalam London Book Fair – Katadata.co.id

Global Literary Industries Management | University of Southampton 

Kerja-kerja di Pinggir Sastra Indonesia Melihat Peran Agen Sastra Lebih Dekat • tengara.id

Literary Agent in Indonesia | WARUNG FIKSI

Menguak Profesi “Literary Agent” – Kompasiana.com

Posisi Sastra Indonesia, Agen Sastra, dan Apa Yang Bisa Dilakukan Setelahnya? | by Doni Ahmadi | Medium

Where are the literary agents? Missing link in the Indonesian publishing industry – The Jakarta Post

 

 

S
Tentang Penulis

Syafiq Addarisiy

Lahir: -, -

Pengasuh Bidang Kurikulum Program Kitab Kuning di Madin PP. Assalafiyyah, Mlangi, dan alumnus Jurusan Sastra Indonesia UNY. Ia senang mendengarkan musik, menonton film, menulis, dan membaca. Beberapa tulisannya tersiar di Koran Tempo, Kompas.id, Suara Merdeka, Bacapetra.co, Basabasi.co, Minggu Pagi, Koran Radar Selatan, Majalah Sastra Kandaga, dan lain-lain.

Baca Biografi Selengkapnya →
Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.