Membaca Intimasi Luka dalam Hatarakibachi
August 26, 2025 · Via Ajeng Mulyani
1/
Membaca kumpulan cerpen Hatarakibachi membawa saya masuk ke jagat kesedihan yang konstan. Jagat itu menggelarkan aneka rupa keterlukaan. Dua puluh satu cerita, tanpa jeda bahagia, tanpa sisipan tawa. Betapa dunia telah penuh dan sesak oleh derita yang rupa-rupa warnanya.
Dalam buku ini, Awit Radiani secara konsisten mengeksplorasi luka sosial, suara perempuan, anak-anak, dan laki-laki yang terbungkam tatanan. Ia membungkus keterlukaan itu ke dalam narasi puitis, simbolis, dan kadang-kadang meminjam bentuk-bentuk magis dan mitologis. Melalui bungkus itu, pembaca diberi ruang menafsir, meraba, dan menemukan resonansi emosi dari narasi yang murung. Lensa batin yang kerap digunakan dalam penceritaan membawa pembaca masuk ke benak tokoh dan meneror lewat kilasan ingatan dan fragmen percakapan serta imaji-imaji simbolik yang kadang nyaris surealis.
Fokalisasi internal hadir sebagai cara bercerita yang menempatkan pengalaman subjektif sebagai pusat peristiwa. Dunia dilihat, didengar, dan dirasakan dari benak tokoh. Dan di titik inilah, jarak antara pembaca dan tokoh menipis. Kesedihan, keterasingan, dan trauma yang dialami tokoh menyelinap masuk ke ruang batin pembaca dan memancing empati, bahkan memaksa ikut tenggelam dalam kepedihan. Melalui teknik fokalisasi internal, yang menurut Genette menempatkan narasi pada sudut pandang batin tokoh, Awit mencoba menegaskan otoritas naratif tokoh-tokohnya.
Lantas, apakah kedekatan yang dibentuk oleh fokalisasi internal benar-benar menghadirkan empati atau justru memperhalus luka dengan membuat penderitaan tampak puitis dan bisa dikonsumsi dengan nyaman?
Melalui tulisan ini, saya hendak menelusuri bagaimana fokalisasi internal membentuk kedekatan emosional antara tokoh dan pembaca, dan sejauh mana cara bercerita semacam ini menjadi cara yang efektif atau justru problematis dalam menyuarakan pengalaman para tokohnya yang tertindas dan terpinggirkan.
2/
Awit menjadikan tokoh perempuan dan anak-anak sebagai agensi dalam cerita-ceritanya. Ia pun memberi ruang bagi keterbungkaman laki-laki—mereka yang tak diberi ruang mengekspresikan emosi, terutama kesedihan dan kelembutan. Contohnya, dalam cerpen “Hari Kematian Sang Jawara”, suara batin laki-laki memperlihatkan ketidakberdayaan dan luka yang dipendam.
Namun, titik ekstrem dari bagaimana tokoh perempuan dan anak diketengahkan lebih kentara, yaitu dalam “Penyanyi Gerobak”, “Hatarakibachi”, “Roh yang Terlupakan”, “Perempuan Tepi Mekong”, dan “Terbakar Matahari”. Sementara itu, tokoh anak tampil kuat dalam “Seorang Ayah” dan “Jalan Lori”. Hal ini dapat dilacak dari bagaimana narasi memberi mereka ruang untuk menyuarakan diri, mengolah luka, membuat pilihan, dan menunjukkan bentuk-bentuk keberdayaan.
Untuk menelusuri bagaimana tokoh perempuan dan anak menemukan titik ekstremnya dalam cerita, dan bagaimana fokalisasi internal membentuk agensi mereka, kita dapat mengelompokkan cerpen-cerpen tersebut ke dalam tiga bentuk pengalaman batin yang khas.
3/
Di kelompok pertama, fokalisasi internal memunculkan perempuan sebagai subjek yang sepenuhnya sadar akan posisi dan tekanan yang mereka hadapi, lalu memilih untuk menolaknya secara terang-terangan. Cerpen-cerpen seperti “Hatarakibachi”, “Perempuan Tepi Mekong”, dan “Terbakar Matahari” menyuarakan terjadinya ketimpangan dan bagaimana tokoh-tokohnya menyusun perlawanan melalui kata dan sikap.
Cerpen “Hatarakibachi” sebagai pengalaman subjektif membawa pembaca menyinggahi Tokyo yang sistematis, dingin, dan menekan. Melalui mata Nina, kita diajak menyaksikan negosiasi tokoh dengan sang liyan. Perempuan itu membandingkan menara landmark Tokyo yang angkuh tak tersentuh dengan landmark tugu Jogja yang kebak kenangan dan sederhana. Ini adalah dua cara melihat dunia: satu penuh simbol tekanan, yang lain sarat kenangan dan kedekatan emosi.
Laporan-laporan tentang asumsi dan minat-minat Nina dalam perjalanan ke Tokyo menyiratkan sebentuk rasa kagum sekaligus muak. Akrab, tetapi asing. “Hatarakibachi” menjadi tulisan perjalanan yang membawa pembaca masuk ke benak Nina, yang bisa dibayangkan sebagai perempuan yang mengalami kebingungan identitas dan keterpaksaan dalam perjalanannya ke Tokyo sebagai seorang duta seni.
Aku tak suka kata-kata Endo. Jika tak memenuhi kualifikasi, tak perlu dipaksa. Apalagi, bila dinilai dari fisik semata. Aku tak mau menjadi wanita pemenuh kuota. Sebuah hinaan atas karya perempuan. Di negara semaju ini, kesetaraan pun masih berjalan timpang. Mana ada karya diukur dari tampang? (Hatarakibachi, hal. 43)
Suara batin tokoh Nina sebagai poros utama penceritaan mengajak pembaca menyusuri lanskap emosional yang kompleks: kemarahan, ketidaknyamanan, kekaguman yang getir, hingga penolakan terhadap perlakuan diskriminatif yang ia alami sebagai perempuan. Ungkapan seperti “aku tak suka kata-kata Endo” atau “aku tak mau menjadi wanita pemenuh kuota” adalah sebentuk luapan emosi dari tubuh yang menolak dikerdilkan oleh sistem.
Cerita itu menjadi semacam catatan perjalanan perempuan yang meragukan peranannya sebagai “duta seni”, yang tampak membanggakan di luar, namun menyisakan kebingungan di dalam. Pembaca terhisap dalam turbulensi batin tokoh: ketimpangan gender, keterpaksaan peran, dan rasa asing dalam kebudayaan modern. Hasilnya adalah efek empatik di mana pengalaman menjadi “yang lain” terasa sebagai realitas batin yang rapuh dan terus bernegosiasi. Dengan demikian, “Hatarakibachi” menjelma menjadi lanskap kesadaran perempuan yang dirangkai dengan bahasa yang jujur, marah, dan menggugah.
Perempuan dalam cerpen “Perempuan Tepi Mekong” juga tak kalah tragis dalam menyuguhkan pengakuan traumatis dan perjalanan hidup yang diwarnai realitas kejam. Kesedihan yang terlampau pekat membuat si tokoh perempuan mati rasa. Lewat fokalisasi internal, pembaca diseret ke lembah traumatis kehidupan keluarga, penindasan anak, lalu ke keterasingan cinta. Pengakuan si tokoh atas senyum yang ia jadikan topeng makin memperparah kegetiran yang sampai ke pembaca. Bukan saja menganggap tokoh perempuan sebagai sosok yang kuat dan sanggup memanggul derita, pembaca justru melihat betapa rapuh kekuatan itu sebab dibangun di atas puing luka yang tak sempat dirawat.
Ah, kenapa ia tidak menahanku? Kenapa ia tak menonjok saja negro mata keranjang ini dan membawaku lari sekencang-kencangnya dengan tuk-tuknya itu, seperti seorang superhero yang muncul dari langit dan membawaku terbang ke angkasa? (Hatarakibachi hal. 68)
Awit menyelinapkan pembaca ke dalam kepala perempuan yang terjebak ironi dan kerinduan. Kita ditarik masuk ke ruang batin yang gerah dan getir. Lihat bagaimana “aku” menyusun kalimat dalam benaknya: “Kenapa ia tidak menahanku? Kenapa ia tak menonjok saja negro mata keranjang ini….” Di situ, tergambar emosi yang liar, marah, dan haus diselamatkan. Tapi, semua itu dilemparkannya ke udara, membuat pembaca mengambang antara harap dan getir. Walhasil, lensa batin jadi peranti yang membatalkan jarak. Pembaca pun tersangkut dalam absurditas harapan romantik yang tahu-tahu berubah jadi kemarahan. Mengetahui isi benak tokoh membuat pembaca tak punya jalan keluar dari kepedihan, kecuali menyerapnya bulat-bulat. Dan penderitaan pada akhirnya sanggup menjalari dada pembaca.
Bentuk pengendalian tokoh perempuan atas situasi rumit trauma didapati pula dalam cerpen “Terbakar Matahari”. Lewat suara narator tokoh-aku, lapis batin tersingkap secara gamblang. Selain tersampaikannya peristiwa meninggalnya simbah, pembaca diajak menyelami gejolak emosi si tokoh tentang rasa kehilangan yang dibarengi kelegaan dan penyesalan yang bertaut dengan kebencian. Melalui perspektif tunggal ini, pembaca didesak untuk turut mengalami kompleksitas perasaan yang kontradiktif.
Meninggalnya simbah membuat hatiku terbelah. Di satu sisi, aku merasa kehilangan. Sesal yang mendalam mengganjal perasaan. Semasa hidup tak ada kata damai di antara kami. Sayang sekali, kemarahan itu dibawa mati. Di sisi lainnya, aku merasa lega. Aku terbebas dari belenggu benci. Tak ada lagi yang membuatku tak bisa pulang. (Hatarakibachi, hal. 58)
Fokalisasi internal berhasil membentuk nuansa ambivalen. Cukup dengan pergulatan batin, tokoh mengungkapkan cinta dan dendam yang bisa berbagi ruang dalam satu dada. Dengan begitu, pembaca turut menghayati konflik moralnya. Bahkan, ketika tokoh mengaku “lega” atas kematian simbah, kejujuran justru menggugah empati pembaca alih-alih menghakimi. Fokalisasi internal di sini bak medium keterbukaan atas luka dan kemungkinan rekonsiliasi.
Bahasa yang lahir dari kesadaran batin tokoh kerap mengandung ketegangan. Dari sini muncul efek puitisasi sebagai cara pandang naratif dari dalam diri tokoh, yang membuat kesedihan dan ketegangan tampil dalam bentuk reflektif dan estetis. Dengan kata lain, puitisasi lahir sebagai konsekuensi dari fokalisasi internal yang merangkum emosi tokoh dalam cara pandang yang kontemplatif dan intim.
4/
Cerpen-cerpen dalam kelompok kedua berbeda dari suara lantang kelompok sebelumnya. Para tokoh perempuan dalam cerpen-cerpen ini memilih menghadapi hidup dengan cara yang melankolis, bahkan pasrah, tetapi bukan berarti lemah. Perlawanan mereka hadir lewat keteguhan menjalani hidup. Fokalisasi internal menjadi ruang intim tempat luka mengendon, menimbang ingatan, dan menyusun harapan kecil di tengah reruntuhan hidup.
Cerpen “Penyanyi Gerobak” memilih menyuguhkan realitas pekerja kecil yang terdesak dan merupakan wujud kerapuhan hidup masyarakat bawah. Tokoh perempuan paruh baya itu menyodorkan kisah nostalgia, pengakuan traumatis, dan realitas vulgar. Pembaca menyaksikan sebentuk dokumenter kesaksian hidup seorang perempuan dengan profesi yang sering dianggap remeh. Ia yang semula berprofesi sebagai penyanyi panggung, lalu jadi tukang pijat panggilan, dan mengalami perubahan autentik sebagai penyanyi gerobak. Lewat nada humor getir, tokoh perempuan menunjukkan kepada pembaca keberaniannya menanggung luka dan tetap melangkah.
Di usiaku yang lima puluh lima, aku masih punya cita-cita. Ingin hidup tenteram dan mendapat cinta. Walaupun angan terasa jauh, tetap saja kusimpan impian itu dalam dada. Agar tak rapuh hatiku, supaya tak jatuh semangatku. Lagi pula, kumiliki Sopen yang setia menunggu di kamar sewaanku. Ialah yang memijatku bila aku lelah setelah seharian bekerja. Hari menjadi terasa lucu. Inilah aku, tukang pijat yang dipijat. (Hatarakibachi, hal. 9)
Perspektif orang pertama memungkinkan pembaca masuk ke ruang batin tokoh dan menyaksikan langsung bagaimana ia merawat impian sederhana tentang cinta dan ketenteraman di tengah usia senja dan realitas getir. Fokalisasi internal sanggup membangun kedekatan emosional lewat kesadaran tokoh terhadap dirinya sendiri, termasuk saat ia menertawakan ironi hidupnya: inilah aku, tukang pijat yang dipijat. Pilihan sudut pandang ini membuat narasi tidak jatuh pada dramatisasi berlebih, tetapi justru menyentuh lewat kesahajaan dan kehangatan batin tokoh. Pembaca diajak menatap dunia dari mata seorang perempuan tua yang tak menyerah pada kenyataan.
Dalam cerpen “Roh yang Terlupakan”, suara tokoh perempuan yang telah berwujud roh dimunculkan di antara narator fokalisasi nol (sudut pandang orang ketiga serba tahu). Cerita yang dibungkus dengan horor psikologis ini memunculkan kesan misteri investigatif. Sehingga, sebelum masuk ke narator tokoh perempuan, pembacaan sejak awal telah dibumbui sudut pandang sosok hantu yang hidup dan dipercayai oleh masyarakat.
Entah sudah berapa lama aku menangisi kematianku. Tubuhku dibawa entah ke mana. Aku berusaha masuk ke dalam kantong plastik kuning yang membungkus jasadku. Namun, berulang kali aku mental terlempar kembali ke ranjang. Aku berusaha mengejar ketika orang-orang membawanya keluar ruangan, namun aku tersekat oleh dinding bening yang tak bisa kutembus. Dengan putus asa, aku memandang ragaku dibawa pergi, menjauh dari rohku yang terkunci di kamar ini. Kamar terakhir tempat aku bercinta dengan kekasihku.
Oh, di mana dia? Apa ia mengingatku setelah kematian ini? Akankah ia mengenang kesetiaanku, pengorbanan, dan kesenangan yang hanya kupersembahkan untuknya?…. (Hatarakibachi, hal. 35)
Cerpen “Roh yang Terlupakan” menghadirkan pengalaman batin tokoh sebagai medium guna menggugat struktur naratif yang mendiamkan suara perempuan. Suara roh tokoh perempuan menjadi bentuk perlawanan terhadap penghapusan eksistensi. Ialah suara roh perempuan yang ditinggalkan, dilupakan, dan tak pernah mendapat pengakuan, baik sebagai kekasih, maupun sebagai manusia yang mencinta.
Melalui narasi batin yang repetitif, fokalisasi internal menyuarakan pengalaman traumatis yang membekukan waktu dan menahan roh pada satu ruang dan momen. Ia tak bisa melampaui kematiannya, sebagaimana ia tak bisa melampaui pengkhianatan dan kehamilan yang tak diberi tempat dalam narasi sosial. Dengan demikian, fokalisasi internal memperkuat efek empatik sekaligus membentuk dimensi etis dan politis dari narasi, yakni bagaimana suara yang dituturkan dari dalam akhirnya mengganggu ketertiban cerita besar.
5/
Sementara tokoh-tokoh perempuan tampil dalam berbagai bentuk kesadaran dan pemberontakan, tokoh anak dalam cerpen “Seorang Ayah” dan “Jalan Lori” juga menunjukkan agensi mereka. Melalui suara anak-anak ini, pembaca diajak menyusuri luka antargenerasi: kehilangan, penghapusan identitas, dan keinginan untuk memahami sejarah kelahiran mereka sendiri. Mereka “mengalami” sekaligus “mengartikulasikan” perasaan mereka. Lewat perspektif batin yang jernih dan lugu, mereka menghadirkan bentuk keberdayaan baru dari, misalnya, keberanian untuk bertanya.
Dalam cerpen “Seorang Ayah”, fokalisasi internal berperan penting guna menghadirkan suara anak sebagai subjek yang memiliki kesadaran, refleksi, dan pilihan. Alih-alih digambarkan sebagai sosok pasif yang hanya menjadi korban dari hilangnya informasi tentang asal-usulnya, tokoh “aku” justru tampil sebagai individu yang mempertimbangkan situasi dan mengambil keputusan sendiri: “Sampai kali ini, aku tak tahu dan aku pun tak bertanya lagi. Aku tak mau dimusuhi Ayah.” Kalimat ini menandakan bahwa sang anak memilih diam sebagai bentuk perlindungan terhadap hubungan yang tersisa.
Fokalisasi internal dalam cerpen ini memberi ruang bagi pembaca untuk melihat bagaimana tokoh anak membentuk pemahamannya sendiri atas realitas yang tak ideal sekaligus mengelola luka dan kebutuhan emosionalnya dalam keterbatasan yang ada.
Menjadikan suara batin tokoh anak sebagai pusat penceritaan artinya mengakui anak sebagai agen yang memiliki otonomi dalam memaknai keterputusan identitasnya, bukan semata-mata objek penderita. Ia sadar akan haknya, tetapi juga menyadari risikonya, lalu mengambil sikap. Dalam hal ini, fokalisasi internal sanggup membangun kedekatan emosi dan menegaskan posisi anak sebagai subjek aktif yang mampu menegosiasikan ruang hidup dan relasi kekeluargaan.
Lain halnya dalam cerpen “Jalan Lori”. Fokalisasi internal dalam cerpen ini tampak melalui sudut pandang tokoh ibu semasa kecil, yang diam-diam mengamati peristiwa mencekam dari balik jendela. Lewat “aku” narator, respons emosional “tubuh ibu menggigil setengah mati” menggambarkan sensitivitas dan ketajaman intuisi anak dalam menangkap isyarat ancaman tersebut.
Fokalisasi internal ini menempatkan anak sebagai agen pengindraan dan pemaknaan. Ia menjadi pembaca awal dari peristiwa gelap yang sedang berlangsung. Sang anak menangkap ketegangan suasana melalui bunyi derit dan sesuatu yang ditutupi sarung di atas lori. Hal ini menegaskan bahwa anak merupakan subjek yang menyerap, mengolah, dan merespons realitas dengan ketakutan yang sahih. Fokalisasi internal dalam cerpen ini menjadikan pengalaman anak sebagai pusat empati sekaligus kesadaran kolektif bahwa anak-anak sanggup menjadi agensi yang menghidupkan dan merekam kebenaran sejarah.
6/
Selain mengetengahkan tokoh perempuan dan anak, fokalisasi internal dalam cerpen-cerpen Hatarakibachi juga menyingkap batin laki-laki. Dalam cerpen “Hari Kematian Sang Jawara”, seorang kakek yang dulu membangun citra sangar, bertato, berilmu kanuragan, dan berkumis garang, menjadi tokoh yang begitu rapuh dan menggelikan di hadapan cucu-cucunya. Ia takluk oleh gelak tawa bocah dan kelembutan perut mungil yang diciumnya dengan kumis.
Fokalisasi jenis ini memberi ruang kepada emosi-emosi yang selama ini dipinggirkan dalam kerangka maskulinitas: kelembutan, keterharuan, cinta tanpa syarat. Si kakek menertawakan dirinya sendiri, dan di situlah kita, pembaca, mendekatinya sebagai manusia yang mungkin saja mirip ayah atau kakek kita sendiri.
7/
Fokalisasi internal menjadi jembatan batin yang memangkas jarak antara tokoh dan pembaca. Ia mencipta kedekatan yang memancing empati dan menggugah kesadaran reflektif. Karenanya, pengalaman membaca kumpulan cerpen Hatarakibachi menjadi pengalaman emosional yang konkret. Realisme emosional yang tercipta membuat saya, sebagai pembaca, turut terlibat secara afektif dalam kegamangan tokoh-tokohnya.
Sebagai perempuan pembaca, cerita-cerita dalam Hatarakibachi mengajak saya menanggalkan posisi nyaman sebagai pembaca yang “berjarak”, lantas masuk ke ruang kesadaran yang jujur. Itu adalah sebuah ajakan untuk memahami yang tak terkatakan, yang selama ini sembunyi di balik struktur sosial dan kultural menekan, lalu menyingkap realitas emosional yang terlampau dalam guna dijelaskan secara objektif. Maka, dengan membaca batin mereka, saya merasa belajar mengenali keterbatasan diri sebagai manusia.
Dengan kata lain, cerpen-cerpen ini membuka jendela bagi saya sebagai pembaca untuk melihat kebenaran lain, yang tak bisa saya capai dengan pengalaman sendiri, tapi bisa saya pahami lewat rasa yang disampaikan secara jujur. Awit memberi ruang bagi tokoh-tokoh untuk mengambil kendali atas narasi mereka sendiri dan membentuk efek empatik bagi pembaca. Selain membagi luka, suara-suara juga menunjukkan bagaimana luka diolah menjadi bentuk keberdayaan.
Awit menggunakan fokalisasi internal untuk menciptakan efek puitis dan membuka suatu medan etis yang kerap tak tertangani oleh bahasa sosial: batin perempuan, anak-anak, dan laki-laki yang menanggungkan pengalaman hidup tanpa perlindungan. Fokalisasi internal menjadi alat untuk menjungkirkan pandangan konvensional sehingga memperlihatkan bahwa penderitaan tidaklah sah disebut objek belas kasihan, tetapi layak didengar dan dipahami sebagai sebuah ruang kesadaran. Dan nyatanya, suara batin dalam kumpulan cerpen ini hadir sebagai denyut eksistensi.
Maka, menjadi penting bagi kita sebagai pembaca untuk terus waspada: bahwa keindahan bahasa tidak serta-merta memurnikan luka, dan puitisasi tidak boleh membiaskan rasa sakit menjadi sekadar estetika. Dan di tangan Awit, luka dihadirkan guna didengarkan—sebagai jerit yang menuntut ruang, penghormatan, dan pemulihan.***
Via Ajeng Mulyani adalah mahasiswa S2 Ilmu Sastra FIB UGM. Hobinya menulis, membaca, dan traveling.
Baca Biografi Selengkapnya →