Kategori
Puisi
bisu kamar lekas pecah membuatku ingin menyentuh wajah sang waktu berbicara membisik pada masa lalu ibu agar berhenti merintih
Sungguh, Kota Kembang ini (yang konon tercipta saat Tuhan bahagia) masih saja bergadang, walau nasib sudah sering kena asam lambung.
Kulihat lengkuk tubuhmu rawa-rawa Cekung matamu sawah-sawah hijau Rambutmu pohon-pohon bakau yang rontok satu persatu
Lewat tanganmu Berlusin anak manusia lahir Tanpa dokter Tanpa rumah sakit Hanya minuman, air rebusan, dan mantra
Aku bilang jangan pergi Besok aku akan menemanimu dalam dekap angin paling sepoi Sebab kulihat hari-hari penuh keraguan tidak membuatmu takut
Tapi di mana lagi akan didapat Rusa, kancil, kijang, serta ikan-ikan Sedang rimba ini semakin sesak Dikejar sawit dan pembangunan