Kategori
Puisi
Lalu bisikan ibu merenda hati di sela-sela suara surau yang parau seumpama laut dan marina bicara dengan bahasa purba kepada para nakhoda
bisu kamar lekas pecah membuatku ingin menyentuh wajah sang waktu berbicara membisik pada masa lalu ibu agar berhenti merintih
Sungguh, Kota Kembang ini (yang konon tercipta saat Tuhan bahagia) masih saja bergadang, walau nasib sudah sering kena asam lambung.
Kulihat lengkuk tubuhmu rawa-rawa Cekung matamu sawah-sawah hijau Rambutmu pohon-pohon bakau yang rontok satu persatu
Lewat tanganmu Berlusin anak manusia lahir Tanpa dokter Tanpa rumah sakit Hanya minuman, air rebusan, dan mantra