Lewati ke konten

Puisi-Puisi Roy Martin Simamora

September 22, 2025 · Roy Martin Simamora

peta rahasia di ujung jari

di ujung jariku, garisgaris kecil
melipat waktu yang tak terlihat.
ada sungai yang mengalir ke kenangan,
ada jalan setapak menuju luka.

setiap sidik yang kutinggalkan
adalah rahasia yang tak terbaca.
di layar ponsel, di cangkir kopi,
di pipimu yang dulu kusentuh pelan.

mereka bilang takdir terukir di tangan,
tapi aku hanya melihat pertanyaan.
ke mana langkah akan membawaku,
jika setiap sentuhan adalah perpisahan?

aku mengepalkan jemari,
seakan ingin menggenggam yang hilang.
namun peta ini tak pernah utuh,
hanya serpihan yang tak bisa kuikuti.

2025

luka di lutut & kenangan yang berjalan

di trotoar yang retak & basah,
aku melangkah, tersandung kenangan.
asap rokok melayang perlahan,
menari di udara yang penuh keluhan.

lututku masih menyimpan luka,
bukan dari jatuh, tapi dari waktu.
bagai anak kecil yang berlari terlalu kencang,
aku dulu mencintai tanpa sepatu.

lampulampu berkedip di etalase,
seakan ingatkan yang pernah pudar.
dunia terus berputar tanpa henti,
tapi tubuhku tetap di tempat yang sama.

dingin beton merayap ke tulang,
langit memuntahkan gerimis perak.
aku tersenyum di bayangan kaca,
sebab yang luka bukan hanya lutut,
tapi juga langkah yang tak pernah pulang.

2025

sumsum di antara doa & duka

di lorong sunyi tubuhku,
sumsum berbisik pelan.
ia menyimpan dingin musim lalu,
& doadoa yang tak pernah pulang.

tulangtulang berdiri tegak,
menahan dunia yang tak selalu ramah.
kadang gemetar, kadang rapuh,
namun tak pernah benarbenar runtuh.

duka merayap di sela sendi,
bak bayangan yang menolak pergi.
tapi di dalam sumsum yang sunyi,
ada nyala kecil yang masih bertahan.

kugenggam tubuhku sendiri,
mendengar denyut di balik kulit.
di antara doa & duka,
aku masih ada.

aku masih hidup.

2025

napasku berjalan sendiri

napasku berjalan lebih dulu,
meninggalkanku di belakang.
ia lewati ganggang sempit,
menyelinap di antara orangorang asing.

kucoba mengikutinya,
tapi langkahku terasa berat.
seolah paruparuku punya rencana lain,
ingin pergi ke tempat yang tak kukenal.

di kaca jendela, uapnya mengabur,
jejak samar yang segera hilang.
seperti nama yang hampir kulupakan,
seperti doa yang tak pernah selesai.

mungkin suatu hari,
napasku akan pulang lagi.
atau mungkin, ia sudah temukan tempat lain,
di mana ia tak perlu tersengal.

2025

R
Tentang Penulis

Roy Martin Simamora

Lahir: Parlilitan, Sumatera Utara, -

Lahir di Parlilitan, Sumatera Utara. Pengajar di PSP, ISI Yogyakarta. Beberapa tulisannya pernah dimuat di media massa seperti Kompas, Jawapos, The Jakarta Post, Kalamsastra, Indoprogress, Analisa, Waspada, Basabasi, Geotimes, Whiteboard Journal dan lainnya. Buku puisinya yang sudah terbit Tarombo (JBS, 2025).

Baca Biografi Selengkapnya →
Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.