Puisi-puisi Isbedy Stiawan ZS
August 10, 2026 · Isbedy Stiawan ZS
PESTA ITU DIGELAR BULAN JUNI
pesta itu digelar bulan Juni
sebelum 12 purnama berlalu
para tamu seluruh negeri
ditambah negeri tetangga
menyeret langkah ke pesta
— gembira nyanyikan lagu rakyat —
daundaun dari segala pepohonan
turut berdansa, ombak jadi saksi
betapa negeri ini penuh katakata
memenuhi papan bunga papan bunga
meski tanpa spanduk,
bersih di jalanjalan
: kota yang dulu poranda
lembaran undangan seakan bendera
melenggok di tangan para tamu
juga yang datang dari belakang
: tanpa diundang, “kami hanya
penggembira dalam pesta ini,
menggaungkan marwah
perhelatan,” suara itu berkumpul
di langit basah dan kering
dari ujung negeri ke pucuk negeri lain
baik menembus hutan dan lautan
atau membelah awan yang sunyi
di pesta besar di bulan Juni
bersama senandungkan
suka atau luka yang sama
: tiada tamu bawa undangan
tak ada yang datang lewat belakang,
“di perhelatan ini berriang
dan hitunglah panjang perjalanan
sampai pada suatu kelak
segala jadi lengang
lalu mereka siapa duka
siapa pula yang bergembira?
23 Juni 2026
JIKA ADA UNDANGAN
datanglah jika diundang
tapi selembar ajakan itu
kemudian jadi kapal terbang
hinggap di atap rumah orang
jika ada undangan baiknya datang
cuma kaki yang sudah layu
tatapan yang sisa samar
tubuh yang begini rapuh
bahkan, sebesek bekal tiada
: biarkan kapakkapalan itu
tetap di atap rumah tetangga
jika tiada undangan
untuk apa ikut pesta
langkah yang siasia
kantuk tertundatunda
: bahkan senyum jadi awan
menggumpal jadi mendung
undangan tiada
maka menyusuplah
ke dalam pesta
sebagai tamu yang gelap
di bawah cahaya gemerlap
23 Juni 2026
PINTU MASA LALU
aku buka masa lalu, pintupintunya
terbentang untuk mataku masuk
lebih jauh. di sana tubuhku
belum kurus, langkahku tak kering
rambutku sebagai pucuk cemara
mirip jambul ayam jantan, kadang
jadi lambaian tangan kala diterpa angin
dan warna hitam menguar wangi; “gadis
mana tak menyerahkan hati?”
tapi seberapa cinta dapat disimpan
akan tertelan oleh perjalanan,
kecuali waktu itu sendiri; “ia bisa
abadi: ini hari dan masa yang lain.”
sebab masa lalu selalu membuka pintu
aku pun masuk lebih jauh. kususuri lorong
panjang itu; antara kelam dan terang
pekat serta memikat. aku kumpullan
lagi jejakjejak di sana, dulu telah jadi catatan
bagi diriku ini. ada amarah ada tawa,
ada mabuk ada pula sibuk. di gelasgelas
jejak bibirku + bibirmu
dulu begitu asyik
kini sangat jijik!
“tapi, itu jejakmu
kau tak bisa dusta,”
langkahku masa lalu
mengingatkan. aku
terpaku di sini
2026
TENTANG WAKTU
jika dinding rumahku tak terpajang kalender
tak lantas lupa pada yang mencipta hari
aku akan berjaga agar aku tak dilupakan
dan hari tak meninggalkan aku sendiri
: di halaman kosong
dinding putih dan melompong
lalu memandang langit kosong, sunyi
kalau di tembok rumahku tak kupasang
jam dinding, aku akan setia melihat
matahari yang menggerakkan waktu
di detak jantungku
: dan aku setia menyaksikan
dinding bersih dari riuh waktu
lalu setia memandangi matahari
ke langit aku menyaksikan
waktu digerakkan oleh matahari
dan waktu membalikkan hari demi hari
andai pun mataku hilang cahaya dari matahari
detak jantungku tak berputar karena waktu
aku berserah pada setiap yang menggerakkan ini
: Kaulah itu…
2026
Isbedy Stiawan ZS
Isbedy Stiawan ZS adalah sastrawan Indonesia asal Lampung. Pada 2025, 3 bukunya terbit yakni Kitab Puisi Esai Elegi Galian Tambang, Kumpulan Puisi Satu Ciuman, Dua Pelukan (Januari 2025), dan Menungguku Tiba (Juni 2025). Kemudian Kenduri Sumatera (Januari 2026), dan kumpulan esai Noel di Jalur Whoosh, dan Catatan Lain (Februari 2026), dan Buku Puisi 68 (Lampung Literature, Juni 2026). Beberapa buku puisinya dinobatkan sebagai buku pilihan Hari Puisi Indonesia, Rainy Days, 5 Besar Badan Bahasa Kemendikbud RI, dan 5 Besar Majalah Tempo. Puisi “79” sebagai juara I Lomba Cipta Puisi Tingkat Asean (2024), dan puisi “Wadas, Apakah Kita Masih Satu Tanah Air” juara II Lomba Cipta Puisi Esai Asean di Sabah, Malaysia (2025).
Baca Biografi Selengkapnya →