Puisi-Puisi Maria Utami
November 5, 2025 · Maria Utami
Pelabuhan Lasdap Tembilahan
Di sini, di Pelabuhan Lasdap
Takdir manusia beradu tatap
Ada tangis untuk melepas pergi
Ada senyum menyambut kembali
Kapal Sri Gemilang bersandar angkuh
Di sebelahnya banyak speedboat kayu riuh
Menanti penumpang, berebut nasib
Lalu kapal feri melintasi muara
Menuju laut lepas yang punya suara
Aroma lumpur berganti garam
Cipratan air asin menjadi salam
Pemandangan biasa bagi kami,
anak-anak pulau yang dilahirkan bahari
Orang lain mungkin mabuk laut
Tapi jiwaku sudah lama terpaut
Aku suka angin laut menampar muka
Aku rindu hantaman ombak yang menyapa
Tubuhku berkerabat dengan gelombang
Tak pernah goyah, tak akan bimbang
Pelabuhan ini jadi saksi bisu
Setiap bab dalam buku masa kecilku
Ia hafal genggaman tanganku saat takut
Ia pun kenal lambaianku saat akan larut
Dari sini aku berangkat, ke sini jua aku pulang
Membawa cerita perihal menang ataupun malang
Pelabuhan Tembilahan, dermaga kayumu telah usang
Kau adalah titik nol dalam petaku yang panjang
Setiap deru mesin speedboat yang terdengar
Adalah degup jantungku yang paling jujur juga lancar
Yogyakarta, 26 Juli 2025
.
Jalan Lintas ke Air Molek
Deru speedboat kini berganti
Dengan deru mesin travel langganan
Aroma garam laut pamit pergi
Digantikan wangi parfum gantungan
“Lima jam ke depan,” kata supir
“Kita taklukkan jalanan Indragiri.”
Jalanan ini layaknya sebuah takdir
Kadang lurus mulus tanpa cela
Kadang berkelok tajam membuat getir
Kadang kubangan lumpur datang menyapa
Semua tergantung nasib dan doa
Yang kami rapalkan di sepanjang masa
Tibalah aku di kota kecil Airmolek
Di rumah panggung tua milik kakek nenek
Rumah yang juga jadi tempat singgah
Bagi kakak-kakak indekos yang ramah
Di sini aku bukan cucu kesayangan semata
Aku hanya penghuni lain yang butuh aturan dan tata
Kasih sayang dihidangkan saat pagi hari
Sedang tanggung jawab disajikan di sore hari
Tangan kecilku belajar mengucek baju sendiri
Kakiku hafal dinginnya lantai saat dihukum berdiri
Tak ada kata ‘anak kecil’ atau ‘perempuan’
Yang ada hanya ‘salah’ atau ‘kewajiban’
Ah, perjalanan lima jam dari Hilir ke Hulu itu
Ternyata bukan sekadar perjalanan masa lalu
Di jalanan itulah, di rumah itulah
Pundakku pertama kali belajar memikul
Hatiku pertama kali belajar merangkul
Yogyakarta, 26 Juli 2025
.
Koper Tua
Koper tua di sudut kamar
Menyimpan samar bau masakan Ibu
Saksi bisu janjiku pulang bawa bangga
Bukan sekadar cucian kotor
Di kota ini aku ditempa berjuang
Dompet kerap pusing tak kepalang
Penanak nasi jadi kawan paling sejati
Memasak mi instan di kala pagi
Katanya ini proses, kataku lawak
Dewasa adalah seni menertawai nasib koyak
Sesekali rindu datang tanpa permisi
Bukan lewat air mata di pipi
Ia menyusup dari layar ponsel
Wallpaper foto keluarga yang disetel
Tampak lebih cerah dari masa depanku
Terpampang nyata tanpa ragu
Suara Ayah Ibu di seberang sana
Terdengar lebih berharga dari cicilan pertama
Peta kota ini perlahan kuhafal
Bukan dari buku melainkan jalan buntu
Serta salah belok yang sering kutempuh
Walau kota ini terkadang tak ramah
Ia guru paling jujur dan megah
Kelak koper ini kan kembali pulang
Membawa rindu tak pernah lekang
Isinya bukan lagi sekedar tumpukan kain
Tapi sejuta cerita dari dunia lain
Yogyakarta, 22 Juli 2025
.
Kopi dari Negeri Para Arwah
Aku tumbuh di ketinggian yang sakral
tempat arwah leluhur masih sering datang bertamu.
Petani merawatku dengan mantra dan doa
sebab katanya, setiap biji kopi punya nyawa.
Jangan heran jika tubuhku terasa lebih berat
dan ceritaku lebih pekat dari kopi lainnya.
Aku membawa sedikit rasa tanah dan hutan,
juga jejak rempah yang tertinggal dari upacara kematian.
Aku bukan kopi untuk diminum terburu-buru.
Aku sebuah perjamuan yang harus kau rayakan.
Aku tak suka manis gula yang berlebihan
sebab pahitku sendiri sudah cukup sopan juga menawan.
Jadi, jika kau bertemu denganku di kedai kopi
anggap saja kau sedang diundang ke sebuah ritual.
Aku adalah Toraja yang cair di dalam cangkirmu,
mengajakmu berdialog dengan sunyi yang paling dalam.
Yogyakarta, Agustus 2025
Maria Utami
Maria Utami berdomisili di Kota Yogyakarta. Seorang ibu rumah tangga yang aktif menulis puisi lagi tahun ini. Hal ini karena rasa cintanya pada puisi tak pernah padam. Baginya, tidak ada kata terlambat untuk terus berkarya. Ia telah beberapa kali menjadi penulis terpilih dalam berbagai event kepenulisan antologi puisi. Dapat didukung atau disapa melalui akun Instagram: @maria.oetami.
Baca Biografi Selengkapnya →