Lewati ke konten

Puisi-puisi Eddy Pranata PNP

June 20, 2026 · Eddy Pranata PNP

Puisi-puisi Eddy Pranata PNP

SELAMAT JALAN IYUT FITRA*)

air mataku tetes, berderai…
–innalillahi wainnaillaihi roji’un…

: selamat jalan adikku iyut fitra
surga terindah untukmu
puisi-puisimu akan menjelma perahu
bercahaya gemerlap
mengarungi pelayaran di laut tenang
hingga ke batas cakrawala
: “adikku, yang selalu sangat santun
puisimu adalah jembatan ke surga!”
aku melihat engkau dengan sepenuh doa
di langit jiwa
: puisi-surga!

Jaspinka, 27 April 2026
*(Iyut Fitra, lahir 16 Februari 1968 di Payakumbuh, wafat di RSUP
M Djamil Padang pkl. 15.26 WIB. 27 April 2026)

 

SAYAP MALAM DI SEKITAR NABAWI

robana atina fidunya hasanah wafilakhiroti hasanah waqina ‘adzabannar…
sayap malam di sekitar nabawi berlesatan– cahaya maha Cahaya; menerpa
tubuh ringkih penyair fakir, pertarungan demi pertarungan kata, imaji dan
metafisika; au luka puisi!

cahaya maha Cahaya; keagungan-Mu, kekuatan-Mu, kesempurnaan-Mu, au,
kedua tangan mungil ini gemetar menggapai ridha-Mu setulusnya, sehabis-
habis doa!

langkah ini, menelusuri lorong cahaya, sejauh-jauhnya hingga ke batas
cakrawala paling sunyi, marwah cinta-Mu: karunia surga

subhanallah
lailahailallah
aku hanya setitik kecil cahaya yang jatuh di pelataran nabawi, zikir-sujud…

Madinah, 1 Februari 2026

 

ELEGI DI PUSARA IBU

matahari pecah di atas kepala, kota bagai terbakar, tetapi hati-jiwa serupa
gunung es yang meleleh– di atas pusara ibu ayat-ayat dilangitkan, air mata
tergenang; amboi… tenangkanlah, nyamankanlah, masukkanlah ibu
ke tempat paling indah, ke surgaMu, maaf aku anakmu yang banyak salah,
anak yang nyata-nyata belum bisa membahagiakanmu, anak yang nyata-
nyata hanya bisa menulis puisi sederhana
amboi… di pusaramu, tunggul hitam– angin berdesir menjelma elegi, betapa
hidup berkeringat dan terus bertarung dengan diksi, metafora dan imaji-imaji
yang tajam, yang kadang lebih tajam dari sembilu dua mata
amboi… ibu, ibu, ibu– di segala kemuliaanmu aku belajar kearifan, perjuangan
dan semangat meraih matahari
amboi… ibu, ibu, ibu– air mataku dus tetes jua.

 

TALEMPONG DI BANDARA MINANGKABAU

udara panas berdangkang, turun dari pesawat di bandara Minangkabau—
musik talempong menggema: takana jo kampuang, hiduik jaan diratoki
mujua sapanjang hari malang sakijok mato…
ahai… menyisir kota Padang, ke tepi laut, ikan bakar, gulai kapalo ikan,
lalu menyeberangi jembatan siti nurbaya, apa kabar datuk maringgih?
melambai ke gunung padang– ombak menghempas-empas di kejauhan,
menepi batang palinggam, beberapa perahu tua terdampar…
ahai… kalau sampai waktuku– kumau ke lembah anai, jam gadang,
harau juga, menulis puisi atau sekadar meratap sedih tentang duka alam
minangkabau terluka; galodo dan banjir lumpur…
ahai… tuhan, izinkan juga aku mencari sate padang dan segelas teh telur
di lepau pinggir kota, au!

Padang, 26 Januari 2026

 

 

E
Tentang Penulis

Eddy Pranata PNP

Eddy Pranata PNP— adalah founder of Jaspinka (Jaringan Sastra Pinggir Kali) Cirebah, Banyumas Barat. Buku kumpulan puisi tunggalnya: Improvisasi Sunyi (1997), Sajak-sajak Perih Berhamburan di Udara (2012), Bila Jasadku Kaumasukkan ke Liang Kubur (2015), Ombak Menjilat Runcing Karang (2016), Abadi dalam Puisi (2017), Jejak Matahari Ombak Cahaya (2019), Tembilang (2021). Puisinya juga disiarkan di Majalah Sastra Horison, koran Jawa Pos, Media Indonesia, Indopos, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, Medan Pos, Riau Pos, Tanjungpinang Pos, Haluan, Singgalang, Minggu Pagi, Pikiran Rakyat, Asyik.asyik.com., dll. Puisi-puisinya juga terhimpun ke dalam puluhan antologi bersama.

Baca Biografi Selengkapnya →
Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.