Lewati ke konten

Puisi-Puisi Khalil Satta Èlman

October 25, 2025 · Khalil Satta Elman

Legung

:buat mahwi air tawar

tanah kita telah bernanah
sejumlah tambak di bibir pantai
adalah pabrik kesedihan
adalah jalan gelap bagi masa depan
setelah ini, ke arah manakah kita mengantar sesaji?

langit pucat
kutulis ulang harapan berkarat 
butir pasir dan angin tanjung 
tak alpa menampar wajah kita
sedang pada batas kesunyian para pelaut
limbah tak hanya putik-putik cuaca

masih terdengar suara anak-anak
meniup terompet kerang di bukit karang
dan ibu meminjam dentam ombak
untuk menyampaikan kesedihannya

di bawah cemara udang 
gelas kita berdentingan
ini adalah nira terakhir, selebihnya pulau ini
menanggung segala bentuk getir, 
katamu

sementara laut mulai menghitam 
sampan-sampan menghilang
ke arah yang berkabut

olle ollang, olle ollang

dha’emma taresnana taretan se elang

Sumenep-Yogya, 2025

Perjalanan ke Bukit Mangunan

pagi memberi dingin
yang mampu menyentuh tulang 
tapi kita punya pelukan
yang juga mampu 
menembus segala kemustahilan

menuju bukit mangunan
kita tak butuh jam tangan
sebab waktu telah digenggam kemesraan
matamu kunang-kunang
menuliskan peta 
sepanjang perjalanan

lorong ini berliku
lampu sepanjang tanjakan setia berjaga
seperti bercak hitam
pada punggung tanganmu
yang sekarang erat memelukku
dini hari 

ternyata sebuah dagu berat juga
untuk kupangku 
sampai pagi tiba
tapi cinta membuatku pura-pura kuat
dan percaya bahwa senyummu 
merupakan juru selamat

jika bukan kau lantas siapa lagi
yang telaten merawat 
sejumlah kenakalanku nanti
ketika masa tua 
memberikan kita rambut putih

aku tak pernah berpikir ujungnya
keyakinan akan membuatku tertawa
atau menjerit sepuas luka-luka dada
cinta yang dibasahi kecurigaan
bagiku adalah hina 
yang dipertononkan, sayang

kesetiaan membuatku bertenaga
menembus sehampar kabut
sampai bukit itu terlihat mata
dan jika kita sampai di sana
jangan terburu-buru untuk pulang 
sebelum matahari sehangat pelukan

Yogyakarta, Mei 2025

Asta Tinggi, Suatu Hari

ada yang membikinku gemetar kini
sejarah adalah mori yang sobek 
aku menjahitnya dengan jarum-jarum hujan
yang terkulai di tangga makam

bunga-bunga mengatakan segalanya
moyangku terkubur di sini
dengan segenap nyeri yang bersisa
kembali kubaca nama-nama pada nisan berlumut
: mereka hanya takluk pada maut

telah kutemukan kembali arloji 
yang pernah berdetak di jantungku
ia menunjukkan 
betapa perlu kenangan mesti ditulis ulang
betapa tangguh cinta sebagai pedang di medan perang

Sumenep-Yogya, 2025

Cerita buat Najla Zahira

:yogyakarta

banyak yang tertahan pada bibirku setelah festival itu. denting gelas di bar-bar
dan ukiran-ukiran pada tembok kota hanya menyembunyikan sejumlah kesedihan
ini malam kesekian yang harus kukenakan untuk sekadar menegaskan keberadaan
menyaksikan anak-anak muda menunaikan rencana berciuman di beranda taman

selain getar angin pada daun-daun asam, mungkin tak ada yang menyentuh hatimu
puisi merupakan kesunyian terakhir abad ini. juga persembunyian terbaik dari kesibukan
yang sudah memadat di jalan raya. hidup terus diintai putaran jarum jam
sebagai perantau yang menghindar dari kesepian beruntun di kampung halaman
kutemukan sebuah kota yang mampu menahan kebisuan di siang, dan banyak bicara
ketika lampu-lampu jalan sudah berjaga

aku tak tahu, bagaimana kebahagiaan bekerja di kota ini? ketika sepertiga malam 
dipertegas serbuk-serbuk dingin pada sekujur tubuhku. ranjang terbaik 
bagi saudara kita yang lain adalah teras depan deretan kios dan plaza yang tutup
sehampar kabut telah menyembunyikannya dengan lembut. aku merasa terserap kepiluan
genangan hujan disibak kaki seseorang dengan gerobak rongsokan

harus kuapakan warisan kota ini? menyusuri selokan dan gang
semakin kutemukan kesedihan yang tak pernah diucapkan sejumlah surat kabar
barangkali, sakit yang tertahan hanya lepas dalam perjamuan di sebuah masjid dan gereja
aku tak hendak mengatakan tuhan selalu menyiapkan sebilah pisau untuk setiap hambanya

setiap sudut kota ini selalu membuahkan kata-kata. tapi masih banyak yang tertahan 
pada bibirku setelah festival itu. salak anjing dan  rasi bintang pagi mengabarkan
akan tiba seorang penjaja koran menawarkan aneka berita di perempatan jalan
bibirnya menanggung kemarau panjang, tubuhnya karat kesedihan.
aku tak tahu, bagaimana kebahagiaan bekerja di kota ini?

Kutub/Yogyakarta, 2025

K
Tentang Penulis

Khalil Satta Elman

Lahir: Sumenep, 7 Mei 2003

Lahir di Sumenep, Madura, 7 Mei 2003. Mahasiswa Filsafat di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Menulis puisi dan prosa, berkegiatan di Komunitas Kutub Yogyakarta. Sekarang merampungkan buku puisi keduanya sambil mengelola Kapalangan Institute. Bisa disapa di akun ig: @kapalangan_

Baca Biografi Selengkapnya →
Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.