Lewati ke konten

Puisi-Puisi Eddy Pranata PNP

November 30, 2025 · Eddy Pranata PNP

Kalau Engkau Mengelus Luka

aku menyaksikan ratusan kupu-kupu kecil di atas bebatuan karang
warnanya kuning, mengepak-ngepakkan sayapnya– dan di antara
gemuruh ombak memecah; ada suara timbul tenggelam, samar 
terdengar
: “kalau engkau mengelus luka yang tak pernah mengering
gunakan jemari kasih yang tulus, jangan kauulas bisa, jangan kautabur 
garam” au, ratusan kupu-kupu kecil itu terbang menjauh ke arah 
lembah, naik ke atas bukit, gemuruh ombak memecah di tebing karang; 
suara timbul tenggelam, samar terdengar
: “dan kalau engkau penyair, menulis sajalah, bertarunglah hingga sehabis-
habis darah!”

Cirebah, 19 Juni 2025

Jalan Kampung Berkabut Tipis

aku suka sekali jalan kampung yang lengang, bersatu dengan 
burung-burung liar dan kelelawar 
: “segala riuh aku singkirkan, apalagi runyamnya pertengkaran
hidupku untuk saling menyinta, alam semesta!”

seperti pernah kukatakan; aku suka sekali jalan kampung yang 
lengang– berkabut tipis, aku mandi embun seraya meneguhkan 
cinta damai juga rindu senantiasa gugur tanpa rasa benci berlebihan
: “aku ingin hidup sederhana dengan cinta– yang serupa jalan 
kampung berkabut tipis itu…”

Cirebah, 28 Mei 2025

Aku Mau Jadi Penyair Paling Sederhana

ada suara dari kejauhan, serupa gema rindu membentur 
dinding kamar
: “apakah kepergian bisa tidak menyakitkan?
masa lalu ungu runtuh dari dalam kepala, au, beri aku
puisi tentang batu nisan di atasnya cahaya rembulan!”

seandainya engkau ditawarkan memilih; sayap malam yang rapuh
atau cahaya pucat rembulan? kukira engkau hanya akan diam seraya
menggelengkan kepala lalu melangkahkan kaki ke musala pinggir kali
zikir hingga subuh
: “aku mau jadi penyair paling sederhana tanpa panggung…”

Cirebah, 18 Mei 2025

Selaut-Laut Dosaku

selaut-laut dosaku– ampun, aku ingin selalu memegang 
kunci surga: lailaha illallah…

angin semilir, usai sahur, sekerat rembulan tergantung cemas 
di langit gelap, seribu harap bergeriap dalam sukma: fabiayi 
alaa-i robikuma tukadziban: “luka itu, luka itu, berdarah kembali, 
Kekasih, jangan ada tangis lagi!”

setelah imsak, izinkan aku perlahan menjelma nol
sesuatu tak punya nafsu, tak memelihara waktu tak berguna
: “aku ingin mulutku lebih harum dari minyak kesturi
   aku ingin musnah di langit, menyatu dengan kasih-sayang-Mu!”
 au, gema suara azan subuh; bumi bergetar-getar

subhanallah wabihamdih; tak ada rasa lapar haus, ini puasaku 
untuk-Mu; dan zakat, sedekah, zikir, jiwaku menggapai cahaya-Mu
dan gema bedug berbuka; tiga butir kurma, air putih, melatih sabar
lihatlah orang-orang kurang beruntung menahan lapar entah sampai 
kapan: “aku mau tidak hanya di ramadan candradimukaku, aku mau 
fitrah sepanjang ruang dan waktu berkah!”

di tujuh hari terakhir ramadan aku ingin mengetuk pintu langit  
doa dan tadarus; lailatulqodar bergetar-getar dari ribuan sayap 
malaikat, sejuk-sunyi dalam jiwa
: “ya gusti, aku mau puisi penuh arti, sepanjang siang dan malam
meraih berkah ramadan dengan sukacita!”

gerimis: sungguh berat salah-dosa kupanggul hingga ke pintu musala; 
subuh bergeming: “tuhanku, air-mata, pedih-perih luka kunikmati 
sepenuh puisi!”

aku memburu rahmat-Mu: fitrah, menyium bau surga; au, perahu 
kian merapuh diayun ombak-gelombang dalam pelayaran o, kesetiaan 
kerlip mercusuar memancar cahaya— fitrah
: “amuk aku dengan ombak-gelombang-Mu sedahsyat-dahsyatnya
hingga menyium bau surga!”
sepanjang kasih sewangi-wangi puisi…

Jaspinka, Maret 2025

E
Tentang Penulis

Eddy Pranata PNP

Eddy Pranata PNP— adalah founder of Jaspinka (Jaringan Sastra Pinggir Kali) Cirebah, Banyumas Barat. Buku kumpulan puisi tunggalnya: Improvisasi Sunyi (1997), Sajak-sajak Perih Berhamburan di Udara (2012), Bila Jasadku Kaumasukkan ke Liang Kubur (2015), Ombak Menjilat Runcing Karang (2016), Abadi dalam Puisi (2017), Jejak Matahari Ombak Cahaya (2019), Tembilang (2021). Puisinya juga disiarkan di Majalah Sastra Horison, koran Jawa Pos, Media Indonesia, Indopos, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, Medan Pos, Riau Pos, Tanjungpinang Pos, Haluan, Singgalang, Minggu Pagi, Pikiran Rakyat, Asyik.asyik.com., dll. Puisi-puisinya juga terhimpun ke dalam puluhan antologi bersama.

Baca Biografi Selengkapnya →
Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.