Dari mana pun asal kita sepanjang kita memberikan kreativitas dari Yogyakarta, maka sepatutnya kita masyarakat Yogyakarta, masyarakat budaya Yogyakarta dan masyarakat sastra Yogyakarta patut berbangga.
Warta Suku Sastra
Menyajikan kabar terbaru seputar sastra, seni, kebudayaan, informasi kompetisi, serta agenda komunitas sastra tanah air.
Dari mana pun asal kita sepanjang kita memberikan kreativitas dari Yogyakarta, maka sepatutnya kita masyarakat Yogyakarta, masyarakat budaya Yogyakarta dan masyarakat sastra Yogyakarta patut berbangga.
Di Panggung Teras depan Grha Budaya, Taman Budaya Embung Giwangan, Sabtu (2/8/2025), Fairuzul Mumtaz, Hendra Himawan, dan Latief S. Nugraha membahas persoalan eksistensial pelaku kesusastraan dan komunitas, khususnya di Yogyakarta. Kata kuncinya mungkin, menurut istilah Latief, “soliter yang kemudian menjadi solider”.
Di Jogja, komunitas-komunitas memang selalu penyintas ulung, yang seringnya bertahan dengan cara-cara ajaib nan magis. Dan keluh kesah masalah yang muncul dalam cerita—dalam bahasa metafora—cuma becak yang berjalan pelan memutari tugu Jogja.
Yang penting dari kerja sastra adalah apa yang ada di baliknya. Komunitas sudah berurat berakar sejak zaman nusantara, kita tinggal menggali manfaatnya. Kita harus membuat bangsa ini ramai melalui sastra supaya masyarakat sadar mana sangkan paran
Jogja yang didengarnya ternyata tersusun dari toko buku, pembaca, dan komunitas serta bergeliat di antara tantangan dan harapan.
Yogyakarta itu labirin besar yang tiap sudutnya menyimpan buku. Di tiap kelok gangnya, terdapat setidaknya satu toko buku, perpustakaan, atau paling tidak seseorang yang bisa diajak ngobrol panjang perihal buku.
Makanya filsafat itu jenis philia, yakni cinta pada kebijaksanaan. Dan agape, cinta yang tak bersyarat, bisa kita lihat pada cintanya Tuhan kepada seluruh ciptaan-Nya. Itu tak bersyarat.
B.J. mengenang respons pembimbingnya ketika tahu ia menjadikan karya-karya kiri sebagai referensi. Pembimbingnya itu langsung berkata, “Saya tidak bisa membimbing. Saya Islam kanan.”
“Sastra pesantren bukan semata-mata ungkapan, bukan omongan oral saja,” ujar Gus Hilmy sebagai pembuka, “tapi juga adalah ekspresi dari ilmu, iman, dan ketaatan.”