Lewati ke konten

Peristiwa

Mantra-Mantra Fahruddin Faiz

August 1, 2025

Robith Yusuf Efendi dan Fahruddin Faiz di Ngaji Filsafat, FSY 2025 (31/7/2025).

“Coba Mas-nya dengerin Pak Fahruddin Faiz sambil nyuci piring. Itu tangan nggak kerasa, kalau lama bisa hipotermia,” ujar salah seorang pengunjung di antara tiga orang, setelah saya mengakui bahwa mantra Pak Faiz membuat saya tertidur saat meliput. Bukan karena tidak menarik, tetapi sebaliknya, kalimat-kalimat diperlakukan amat teduh—seolah pendengar Ngaji Filsafat dihantarkan ke padang rumput yang permai, lengkap dengan sebatang pohon untuk bersandar.

Nasib baik. Saya tidak benar-benar terlelap sehingga masih bisa mengingat dan bertutur soal ini kendati suaranya Pak Faiz terdengar sayup-sayup. Ya, beginilah kira-kira ceritanya:

Mantra identik dengan sihir dan itulah yang terjadi pada malam kedua gelaran Festival Sastra Yogyakarta (31/07/2025). Kata-kata, dengan lembut, mengalir bagai sungai jernih dari bibir sang ahli “tenung” bernama Fahruddin Faiz.

Ditemani Robith Yusuf Efendi dari IKAPI DIY sebagai moderator Ruang Kata Napas Cinta, ngaji filsafat tak hanya khidmat, tetapi juga jenaka. Mas Robith sampai mengulang salamnya tiga kali kepada khalayak, berupaya menangkap kehadiran mereka yang mayoritas pemuda-pemudi limbung yang barangkali butuh siraman jiwa. 

“Pada malam hari ini sesinya sesi curhat-curhatan bersama Romo Kiai Doktor Fahruddin Faiz,” ucap Robith sebelum Pak Faiz membuka tabligh filsafat dengan membaca puisi.

“Romo kiai, kalau romo itu Katolik, ya,” tukas Pak Faiz dengan santai dan membuat suasana pecah. “Saya membaca puisi ini karena puisinya pendek. Kalau panjang saya nanti jadi tersiksa.” Mendengar itu, khalayak kian merapat untuk menyimak. Ada yang lesehan, berjongkok, dan berdiri—memenuhi beranda Grha hingga batas pagar Embung. Gambaran ini sebenarnya familier bagi para pendengar rutin Pak Faiz di Masjid Jenderal Sudirman, Yogyakarta.

Puisi berjudul Kenangan Lama itu kembali pada bentuk sebenarnya, yaitu bunyi, yang bersiap terbang dan hinggap pada hati penonton. Kata Pak Faiz, puisi ini dibuat dan dibacakan dengan atmosfer dan dalam situasi yang berbeda. Ia menjelaskan kecocokan energi kata-kata, tepatnya getaran puisi Kenangan Lama, yang mungkin akan lebih sefrekuensi dengan orang-orang yang sedang mengenang. Beda halnya ketika ia menengok sewaktu menulis puisi bernada patah hati.

“Kalau diingat-ingat dan misal dibaca sekarang, kok saya jadi malu. Karena dulu itu ditulis memang pada momennya,” kata Pak Faiz.

Kata-kata, menurut Pak Faiz, terbagi menjadi tiga: kata-kata biasa, kata-kata yang diolah oleh akal atau inteligensi, dan kata-kata oleh rasa. Jika kata-kata yang diolah pikiran dan rasa ini menyatu serta disampaikan dengan tepat, ia bisa menjadi mantra.

Pak Faiz bersrimulat dengan Mas Robith dengan kata-kata, memberi contoh bagaimana jika kata-kata diperagakan dengan gestur tangan dan sikap badan. “Kalau kesel biasanya ngomong apa, Mas?” Moderator itu membisikkan kata jancouk dengan agak tersipu. Beruntung, volumenya ditolong oleh mikrofon. Selain itu, Pak Faiz juga menyarankan untuk tak lupa membaca sastra. “Menambah kata-kata yang sudah ada dan mengolah emosi kita,” paparnya.  

Yang amat ditunggu-tunggu adalah sesi tanya jawab. Selain adanya hadiah buku bagi setiap penanya, ini juga ajang bagi yang galau untuk bebas curhat colongan. Peminatnya banyak. Mas Robith cukup kewalahan untuk memilih siapa yang hendak ditunjuknya. Mulai dari perkara cinta, Tuhan, jati diri, siasat hidup, atau terkait pribadi Pak Faiz, semisal apakah beliau mau menerima jika ditawari menjadi penasehat presiden. “Yang ini kompleks, perlu ada bahasan lain,” jawab pak Faiz.

Bahkan pertanyaan yang paling di luar dugaan justru datangnya dari panitia, yaitu perihal keberlanjutan Festival Sastra Yogyakarta tahun depan. “Terancam tidak ada dana, Pak Faiz. Efisiensi kata yang di atas.” Pertanyaan ini lahir atas dorongan keresahan karier melakoni kerja-kerja kebudayaan, dan memang secara literal punggung si penanya didorong maju oleh Mas Paksi selaku produser pagelaran FSY.

Pertanyaan-pertanyaan itu dijawab Pak Faiz dengan tenang dan bernas. Perihal cinta, ia bersandar pada definisi cinta menurut filsafat Yunani: Eros, Philia, dan Agape. “Makanya filsafat itu jenis philia, yakni cinta pada kebijaksanaan. Dan agape, cinta yang tak bersyarat, bisa kita lihat pada cintanya Tuhan kepada seluruh ciptaan-Nya. Itu tak bersyarat.” 

“Bagaimana dengan cinta yang sehat dan tidak sehat, Pak?”

Pak Faiz menjawabnya dengan meminjam Erich Fromm, bahwasanya cinta yang sehat itu ialah cinta yang mengetahui, peduli, menerima, dan bertanggung jawab dengan apa yang dicintainya. Sementara itu, cinta yang tidak sehat ialah cinta yang membelenggu dan berpura-pura. “Tiada lagi kemuliaan dalam cinta yang seperti itu,” jelas Pak Faiz sebelum lanjut menutur ciri ketiga cinta yang tidak sehat, “Cinta yang berorientasi pada pasar, atau cinta yang hitung-hitungan”.  

Pada fase ini, mata saya mulai meremang dan perlahan tengkuk leher ikut-ikutan melonggar. Entah berapa jawaban dari Pak Faiz yang sudah terlewat. Kalimat-kalimatnya seperti memijat ubun-ubun saya dengan pelan. Meskipun malam tak berangin dan mata saya terpejam, kata-kata kadung terdengar liris, menautkan telinga dengan kalbu.

Saya gegas tersadar ketika Pak Faiz mengatakan, “Wajar jikalau khawatir terhadap masa depan. Kita manusia yang berpikir. Seperti katanya orang stoic, untuk sesuatu yang di luar kuasamu janganlah terlalu gelisah, dan untuk sesuatu yang di dalam kuasamu jangan dianggap terlalu santai.”

Selepas mendengar itu, saya keluar barisan untuk mencuci muka dan sekadar mencari angin. Ketika ingin kembali ke tempat semula, dudukan itu sudah terisi. Maka saya hanya dapat berdiri dekat mobil kustom yang dipakai untuk berjualan kopi.

Barangkali karena melihat saya berdiri dan nampak limbung juga, seorang laki-laki menyolek bahu saya dan mengajak duduk di bangku meja bersama yang lainnya. Di sana, saya mengaku kepada mereka yang muncul di awal tulisan ini bahwa saya telah disirep mantra-mantra Fahruddin Faiz.***

Catatan: Liputan ini terselenggara berkat kerja sama Festival Sastra Yogyakarta 2025, Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, IKAPI DIY, dan Suku Sastra.

Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.