Lewati ke konten

Peristiwa

Menyibak Jembatan Timur Tengah dan Indonesia

August 1, 2025

B.J. Sujibto, Aguk Irawan, dan Zsa Zsa Yusharyahya Permata.

Kamis siang, 31 Juli 2025, Taman Budaya Embung Giwangan menjadi tempat Festival Sastra Yogyakarta 2025 membuka pintu Timur Tengah. Pintu itu dibuka lewat sebuah diskusi bertajuk “Sastra Timur Tengah” yang menghadirkan dua narasumber yang sama-sama pengembara bahasa dan budaya, Aguk Irawan dan BJ. Sujibto. Moderator diskusi ini adalah Zsa Zsa Yahya dari Komunitas Suku Sastra, yang mengaku pernah menyantrik di pesantren.

Diskusi ini tidak sekadar membicarakan sastra, tetapi juga membicarakan penerjemahan sebagai jalan sunyi yang menembus batas bahasa dan menyeberangi perbedaan iman dan idiom. Sebab, seperti kata Aguk, “Sering kali kita mengira perbedaan sebagai sebab pertikaian, padahal perbedaan adalah fitrah.”

Cinta dalam Terjemahan

Aguk, Dosen Seni dan Budaya Stipram Yogyakarta dan penerjemah karya-karya berbahasa Arab, adalah seorang pecinta. Ia mengaku bukan pecinta biasa, melainkan pecinta sastra Arab romantis yang, katanya, “sangat dahsyat”.

Salah satu karya yang ia terjemahkan adalah cerpen Ahdu as-Syaithan karya Taufik El-Hakim, yang kemudian dialihwahanakan menjadi pentas drama oleh Sanggar Nun. Aguk jatuh cinta pada keindahan yang tersembunyi di balik diksi Arab yang padat dan penuh metafora. Kesungguhannya itu tampak ketika ia membagikan esainya yang berjudul Sastra Arab dalam Pusaran (Terjemahan) Sastra Indonesia. Ia juga membacakan puisi Salamun Alaikum Wa Alainas Salam karya Anis Syausan.

Sementara itu, B.J. Sujibto datang dengan nuansa yang berbeda. Latar belakangnya bukan dari sastra Arab, melainkan sosiologi. B.J., panggilan akrabnya, adalah dosen Prodi Sosiologi UIN dan penerjemah sastra Turki langsung dari bahasa aslinya. Salah satu penyair yang ia bawa ke Indonesia adalah penyair kiri yang romantis bernama Nazim Hikmet. B.J. bahkan membacakan salah satu puisi Nazim Hikmet sebelum memulai diskusi.

“Puisi-puisinya masih relevan hari ini. Melalui penerjemahan Hikmet, saya ingin menunjukkan bahwa tidak selamanya penyair Turki identik dengan Islam,” ujarnya. Konon, buku terjemahan Hikmet itu akan segera terbit di Bentang Pustaka.

Tapi, B.J. tak berhenti pada satu spektrum. Dalam buku yang akan diterbitkan Bentang Pustaka nanti itu, B.J. juga menerjemahkan puisi religius Hikmet di masa sang penyair masih menjadi santri. Ia mengingatkan bahwa sastra Turki adalah pertemuan antara Persia, Arab, dan Yunani yang secara geografis dekat dengan Turki, dan tentu saja, Barat.

“Rubaiyat dan Masnawi-nya Rumi adalah fondasi, tetapi pengaruh Barat juga masuk kuat setelah kemerdekaan Turki,” katanya. 

Di Barat sendiri, menurut penjelasan BJ Sujibto, puisi-puisi dari Timur Tengah mulai menembus pasar arus utama, bahkan sempat menjadi best seller versi The Times. Namun, dalam proses penerjemahan dan pembacaan ulang itu, sisi transendental yang menjadi inti banyak karya sastra Arab perlahan dikesampingkan. Puisi-puisi yang semula bicara tentang Tuhan, jiwa, dan semesta, diinterpretasikan ulang semata sebagai kisah tentang hubungan antarmanusia. Makna spiritual berubah menjadi narasi personal. Yang transenden dijadikan imanen.

Meski Timur kerap dipandang dari lensa eksotisme, tak bisa disangkal bahwa sejak kemerdekaan Turki, pengaruh Barat mulai memperkaya corak sastra negeri itu. Nama-nama seperti Orhan Pamuk menjadi simbol percampuran budaya tersebut—dan ketika ia menerima Nobel Sastra, dunia pun menoleh ke arah Timur dengan cara yang berbeda.

Sastra Arab di Pusaran Indonesia

Diskusi mengalir ke akar sejarah. Aguk mengingatkan, sastra Arab bukan baru hadir di Indonesia. Dalam tulisan panjangnya, ia menelusuri jejak literasi sejak era Kediri, Majapahit, dan Demak hingga Yogyakarta. Ia menyebut serat-serat seperti Tuhfah, suluk-suluk Sunan Kalijaga, dan karya-karya Hamzah Fansuri sebagai bukti betapa Islam dan sastra Arab telah lama meresap dalam tubuh kebudayaan Jawa dan Melayu.

“Kidung Rumekso Ing Wengi,” kata Aguk, “memiliki simbol spiritual yang mirip dengan kitab Insan al-Kamil karya Abdul Karim al-Jilli.” Di dalam bait itu, hati kita adalah Adam, otak kita adalah Isa, dan mulut kita adalah Musa.

Masih menurut Aguk, jejak sastra Arab juga terbaca dalam generasi penerjemah dan penyair dari Balai Pustaka, dari M. Taslim Ali hingga Bahrum Rangkuti, yang menerjemahkan puisi-puisi Muhamad Iqbal dan Omar Khayyam. 

Lalu Aguk membahas jejak sastra Arab. Pada saat ibu kota Republik Indonesia pindah ke Yogyakarta tahun 1947 (1946–redaksi), kantor Djawatan Kebudajaan juga pindah di Yogyakarta. Inilah kutipan esai yang dibahas Aguk:

… Kantor harian Kedaulatan Rakyat menjadi markas para sastrawan karena pimpinan koran zaman itu, Pak Wonohito dan Pak Samawi, sangat dengan para sastrawan, terutama sastrawan yang berlatar belakang islam-santri, seperti Mohammad Diponegoro, Kuntowijoyo, Taufiq Ismail, Slamet Sukrinanto, Emha Ainun Nadjib, Abdul Hadi W.M dan Ali Audah. Dua nama terakhir itu banyak menerjemahkan karya sastra Arab ke dalam bahasa Indonesia. 

Di masa modern, Aguk menyebut komunitas seperti Sanggar Sastra Kotagede, Teater Eska, Sanggar Nun, hingga Studi Apresiasi Sastra IAIN, turut melanjutkan tradisi ini. Penerbit seperti Navila, LKIS, dan Bentang Pustaka menjadi jembatan penting bagi karya-karya Taufik El-Hakim, Najib Mahfudz, dan Nawal el-Saadawi untuk hadir dalam bahasa Indonesia.

Menjadi Bunglon 

Namun, tidak semua kisah penerjemahan berjalan mulus. Kisah penelitian B.J. di Turki, misalnya. Ia mengiyakan moderator Zsa Zsa yang menyatakan bahwa konon kabarnya politik di Turki sangat memengaruhi sikap bersastra. B.J. mengenang respons pembimbingnya ketika tahu ia menjadikan karya-karya kiri sebagai referensi. Pembimbingnya itu langsung berkata, “Saya tidak bisa membimbing. Saya Islam kanan.” Dunia intelektual, sebagaimana dunia sastra, penuh warna dan tarik-menarik ideologi. “Menjadi bunglon di Turki,” katanya, “tidak mudah.”

Tampaknya, justru di situlah penerjemah memainkan peran penting. Mereka adalah penjaga jembatan. Penerjemah adalah duta budaya. Mereka tidak hanya membawa karya ke bahasa lain, tapi juga membawa dunia—ide, nilai, dan suara–yang kerap tak terdengar.

Diskusi ini menjadi titik temu lintas bahasa, lintas iman, dan lintas zaman. Dari puisi-puisi Nazim Hikmet yang membara hingga kisah setan yang bertobat dari sastra Arab klasik, dari jejak Kalijaga hingga puisi mistik Hamzah Fansuri, dari Malioboro 1950-an hingga Taman Budaya 2025, semua hadir dalam satu siang yang terang, dalam satu perayaan sastra yang menjembatani Timur Tengah dan Indonesia.

Dan mungkin, seperti kata seorang penyair di suatu masa: “Hari esok lebih cerah bila kita memahami bahasa satu sama lain.”***

Catatan redaksi: Liputan ini terselenggara berkat kerja sama Suku Sastra, Festival Sastra Yogyakarta 2025, IKAPI DIY, dan Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta.

Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.