Lewati ke konten

Peristiwa

Susur Galur II: Dongeng Sintas Komunitas

August 3, 2025

Susur Galur II Dongeng Sintas Komunitas

Kersik halus mengganggu sepatu kita pada sore yang entah mengapa masih terik. Udara panas berkali-kali mengusik sepanjang lintasan, tapi toh kita masih bersikeras juga.

Itu pukul tiga lebih tiga puluh pada hari kedua bulan Agustus (02/08/2025). Kita datang ke Taman Budaya Embung Giwangan, yang menjadi tempat penyelenggaraan Festival Sastra Yogyakarta 2025.

Dari lapangan parkir bagian depan, kita menyusuri kelok jalan setapak di samping danau buatan, lalu lekas-lekas memasuki aula Grha Budaya yang tiba-tiba menyelimuti dengan hawa dingin imitasi.

Nanti, kita bakal bercerita banyak hal.

Tapi, kali itu, kita memilih duduk di bagian paling depan, menyaksikan empat orang yang sudah nyaman duduk di panggung—Doel Rohim sebagai moderator, Risen Dawuh A dari Jejak Imaji, Dhea Jothy Putri dari Radio buku, dan Aljas Sahni H dari Komunitas Kutub—demi mendengar langsung cerita-cerita komunitas buku dan sastra yang melahirkan diri dan aktif bertumbuh di Jogja.

Dan, setelah kita susun ulang dari lalu lalang percakapan, lempar-tangkap tanya jawab, dan alir deras kata-kata pada diskusi sore itu, beginilah cerita itu kemudian dituturkan.

***

Jejak Imaji

Iqbal, Angga, dan Adit—mahasiswa PBSI Universitas Ahmad Dahlan (UAD)—merasa resah pada kehidupan sastra di lingkungan kampus mereka yang kurang produktif dan ruang-ruang diskusi dan apresiasi karya sastra yang kurang terwadahi. Di sanalah, di kos pribadi milik salah satu dari mereka, di jalan Pramuka dekat kampus dua UAD, pada 2012 tercipta forum kecil yang dinamai Kos Lawang Abang (KLA) yang kelak menjadi cikal bakal Jejak Imaji.

Di KLA, diadakan forum rutin untuk mendiskusikan karya-karya sastra yang digelar setiap Senin sore. Oleh karena forum semacam itu sulit ditemui di UAD, beberapa teman mereka yang lain tertarik untuk ikut bergabung.

Setelah melangsungkan kegiatan rutin tersebut selama hampir dua tahun di tempat yang sama, pada 2014, tempat kegiatan berpindah ke Kotagede, yaitu di kontrakan pribadi Iqbal. Lantas, masih di tahun yang sama, hari pertama di bulan April menjadi tanggal bersejarah bagi mereka. Sebab, waktu itulah nama Jejak Imaji resmi digunakan dalam gerakan kolektif itu.

Tahun 2015 menjadi penanda lain bagi Jejak Imaji. Di tahun itu, disusunlah kegiatan komunitas sastra secara sistematis. Kegiatan bedah buku, apresiasi karya sastra, sampai keterlibatan aktif dalam kegiatan sastra di luar komunitas mulai digarap dengan serius.

Sempat tidak memiliki tempat berkegiatan selama enam bulan pada 2019, kini Jejak Imaji masih mencoba bertahan dengan terus aktif di berbagai aktivitas yang berhubungan dengan sastra. Mulai dari diskusi mingguan yang diadakan dengan sistem arisan tri-mingguan (minggu pertama membahas karya pribadi, minggu kedua membahas prosa atau puisi yang terbit di media, minggu ketiga membedah buku), sampai memperluas jangkauan ke musik dengan membuat grup, membuat musikalisasi puisi, dan aktif melakukan rekaman.

Persoalan fundamental yang dirasakan oleh Jejak Imaji adalah soal regenerasi. Sementara itu, dana dan pendanaan tidak menjadi soal besar sebab kegiatan yang rutin dilakukan tidak terlalu membutuhkan itu.

Ketika berhadapan dengan problem-problem itu, Jejak Imaji hanya mampu berpegang pada konsistensi dalam menjalankan aktivitasnya. Bukan pasrah. Tapi, dengan begitu, harapannya bakal menarik orang lain untuk ikut berkegiatan bersama.

Toh, usaha-usaha mendokumentasikan diri di Instagram, menerbitkan tulisan-tulisan di kanal Medium, dan mengunggah video-video di akun YouTube-nya menjadi bukti bahwa Jejak Imaji menolak takluk.

Radio Buku

Mulanya ialah stasiun radio, kumpulan para penyiar yang bernaung di Yayasan Indonesia Boekoe. Kemudian, berangkat dari siaran yang sering membahas buku dan muncul keinginan untuk menjadi wadah bagi minat baca, kolektif Radio Buku beralih menjadi komunitas Kolektif Radio Buku.

Tidak seperti dua komunitas (yang telah dan akan disebut) lain, komunitas Radio Buku tidak hanya terbatas pada sastra. Ia lebih luas, menjangkau lebih banyak kegiatan. Tapi, fokusnya jelas: pada buku, pada gerakan literasi.

Setiap dua minggu sekali, Radio Buku mengadakan forum diskusi buku yang dinamai Klub Baca. Selain itu, ada pula Klub Nontonn yang digagas untuk mendiskusikan film dan isu-isu terkait yang ada di dalamnya.

Untuk kegiatan tahunan, sekaligus sebagai bagian dari upaya regenerasi, diadakan Kelas Volunteer selama tiga bulan yang berisi kelas menulis, pustaka, arsip, dan siaran. Lainnya, digagas pula komunitas penerjemah yang disebut KUMMI dan diadakan kelas penerjemahan karya sastra pada 2024 lalu.

Dan, sebagai kegiatan yang sifatnya insidental, Banting Ide menjadi program yang bertujuan untuk membantu para anggotanya dalam merumuskan ide, baik untuk menulis, riset, membuat rancangan aplikasi, dan lain sebagainya.

Radio Buku pernah mendapatkan pendanaan dari Badan Bahasa. Tapi, oleh karena dana yang diterima tak selalu memadai untuk mendanai banyak kegiatan, sering kali loyalitas para anggotanyalah yang membuat Radio Buku tetap bertahan.

Pengaktifan kembali lini penerbitan dan membuat toko buku Sor Legundi turut pula dilakukan sebagai upaya untuk menambal masalah tersebut.

Hari ini, meski masih belum memiliki tempat yang memadai dan masih merasa kesulitan untuk membuat anggotanya merasa betah di dalam komunitas, Radio Buku tetap berusaha maksimal dalam giat-giat yang dilakukan.

Komunitas Kutub

Buku-buku adalah arti dari kutub, bentuk jamak dalam bahasa Arab yang memiliki akar kata kitab. Tecermin dari namanya, komunitas Kutub, yang akrab disebut “Kutub” saja oleh jejaringnya, memang lahir dari rahim tradisi spiritual. Dapat dibilang anak kandung pesantren dan memang masih berada dalam naungan pondok pesantren mahasiswa Hasyim Asy’ari. Kyai Zainal Arifin Toha disebut sebagai penggagas terbentuknya Komunitas Kutub pada 2003.

Komunitas Kutub lahir di Minggiran, Krapyak, lantas berpindah tempat ke Cabean, Joglo pada 2010. Sejak 2018 hingga hari ini, Kutub telah memiliki bangunan permanen milik sendiri di tempat yang sama.

Berangkat dari tradisi tersebut, Kutub memiliki tiga asas yang dijadikan spirit utama. Spiritualitas sebagai kesadaran transendental. Intelektualitas dalam disiplin perilaku. Profesionalitas untuk mengenali diri sendiri sekaligus tuntutan ketika berhubungan dengan orang lain.

Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta (LSKY) menjadi nama yang dipilih sebagai program rutin mingguan yang digelar tiap Senin malam. Itu merupakan forum diskusi yang mewadahi pembahasan karya-karya sastra. Karya sastra berupa prosa atau puisi dibedah dan dikuliti baik secara struktur teks atau hal-hal lain yang berada di luar teks.

Ada pula kegiatan rutin lain bernama Lembaga Kajian Kutub Yogyakarta (LKKY) yang diselenggarakan setiap Rabu malam. Ini adalah forum diskusi yang membahas dan mengkaji teori lintas disiplin, bukan hanya sastra, yang dapat berupa teori Psikologi, misalnya, teori Sosiologi, teori Filsafat, atau teori dari lintas disiplin lain.

Guyub komunitas terasa dalam soal pendanaan. Ada iuran sukarela yang dibayarkan anggotanya setiap bulan. Ada pula “pajak” yang ditagih. Misalnya, ketika salah satu anggotanya mendapat honor tulisan yang dimuat di media. Meskipun pada akhirnya masih belum memadai, dengan pengelolaan yang baik dan meminimalisasi kebutuhan dana dalam setiap kegiatannya, komunitas Kutub masih mampu untuk terus berjalan.

Komunitas Kutub sendiri mengaku bahwa kendala utama dalam giat komunitasnya adalah kesulitan beradaptasi dengan perubahan media. Meski tetap berusaha mengaktifkan media sosial sebagai bagian dari dokumentasi kegiatan, komunitas Kutub belum memiliki model yang sistematis dalam produksi kontennya.

Berbeda dengan dua komunitas sebelumnya, komunitas Kutub tidak memiliki kendala dalam regenerasi meski variabelnya sendiri belum terlalu bisa dipetakan. Mungkin, salah satu faktornya adalah karena mereka berangkat dari pondok pesantren yang akrab dengan tradisi-tradisi komunal.

***

Lantas, kita menutup sendiri cerita-cerita itu dengan beranjak dari kursi yang hampir dua jam kita duduki, seturut dengan ditutupnya sesi diskusi.

Namun, tatkala kita pergi meninggalkan ruangan, ada kersik halus yang kini berpindah ke kepala. Agaknya, kita percaya kalau cerita-cerita tadi adalah dongeng. Sebab, di Jogja, komunitas-komunitas memang selalu penyintas ulung, yang seringnya bertahan dengan cara-cara ajaib nan magis. Dan keluh kesah masalah yang muncul dalam cerita—dalam bahasa metafora—cuma becak yang berjalan pelan memutari tugu Jogja, sementara mata kita telah terpaku pada mobil sedan yang sedang bertengger di seberang kios bakpia.***

Catatan redaksi: Liputan ini terselenggara berkat kerja sama Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Festival Yogyakarta, IKAPI DIY, dan Suku Sastra.Yogyakarta, IKAPI DIY, dan Suku Sastra.

Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.