Lewati ke konten

Peristiwa

Ingin Menjadi Toko Buku

August 2, 2025

Diskusi "Dari Toko Buku Menajdi Komunitas" di Festival Sastra Yogyakarta 2025, 1/8/2025.

Ia berkepala juga berkaki empat. Tiga kakinya berdiri siku-siku, sementara yang satunya tak lain merupakan tubuh hitamnya yang tinggi mengkilap dan terbalut kain. Empat kepalanya fokus menyorot panggung gelar wicara Dari Toko Buku ke Komunitas dalam rangkaian Festival Sastra Yogyakarta 2025 (01/07/2025). 

Mata dari kepalanya yang tengah memancar paling terang meski hanya satu bola. Sementara itu, mata-mata kecilnya yang menyerupai mata lebah tampak lebih redup. Ia ingin sekali menyapa sejawatnya yang berdiri di dekat pigura-pigura berwarna sephia sebab dua temannya lagi sedang menerangi panggung lain di teras Grha.

Namun, ia menyadari dirinya tak memiliki mulut. Selama tiga hari ke depan, ia akan terus menyaksikan orang-orang membicarakan sastra, buku, komunitas, dan perihal semacam. 

Malam ini, tiga orang baru saja membacakan puisi dan penggalan prosa di hadapannya.

Kiarra dari Suku Sastra sebagai moderator membacakan puisi berjudul Mencintai Toko Buku karya Rabu Pagisyahbana. Mendengar puisi itu, ia membayangkan diri menjadi sebuah toko buku. Barangkali ia juga merasa dicintai ketika sepasang remaja datang memburu buku, berlama-lama membaca, serta meneruskan kisahnya dari mulut ke mulut.

Sajak Harum Serbuk Tembok yang dibacakan langsung oleh Mutia Sukma juga melemparnya kepada bau lumut dan masa kecil. Tetapi, masa kecil tak pernah ia miliki. Tiba-tiba saja ia sudah sebesar ini dan berkeliling dari panggung ke panggung. Dan tiba-tiba saja ia berharap punya masa kecil itu selepas mendengar potongan cerpen Sitor Situmorang yang dibacakan Ari Bagus Panuntun: “Kalau kau sudah merasa tua, pergilah ke desa dan berteduhlah di bawah pohon-pohon.”

Ia tahu dirinya tidak akan selamanya menerangi panggung atau studio foto. Ada masanya nanti untuk ringkih dan berkarat, diganti keluaran terbaru.

Jogja yang didengarnya ternyata tersusun dari toko buku, pembaca, dan komunitas serta bergeliat di antara tantangan dan harapan.

Mula-mula Jual Buku Sastra (JBS) lahir pada 2008, yang oleh kedua pasangan–Mutia Sukma dan Indrian Koto–diberangkatkan dari komunitas dan lapak buku kampus hingga punya semacam toko buku komunitas. Lalu ada Warung Sastra (Warsas), yang mulai eksis pada 2017 dan disulut oleh siasat bertahan hidup mahasiswa semester akhir, Bagus dan Andre. Debut Warsas bermula daring, bermodal kamera ala kadarnya untuk memotret buku-buku Toga Mas. “Cara yang sebetulnya di era 2017 itu cukup umum dilakukan,” papar Bagus. 

Strategi penjualan buku di Warung Sastra dan JBS hampir-hampir mirip.

Mereka menerapkan cara-cara berkomunitas. Bahkan JBS sendiri sempat menginisiasi grup daring bernama “Komunitas Pembeli JBS” serta mengadakan acara setiap awal tahun, yaitu “Tahun Baru di JBS”. Upaya seperti ini turut merekatkan tali persahabatan antara penjual dan pelanggan. Mutia berseloroh jikalau keluar kota bersama suaminya, ia sering dikontak oleh pelanggannya selepas membuat status, entah diajak untuk makan atau bermain. Karena bentuk kedekatan mereka telah terjalin sejak kali mengunjungi JBS, “Kami masih menerapkan cara-cara tradisional, mungkin tidak seperti Warsas yang cukup hyperaktif di sosmed,” canda Mutia dan tak pelak lagi membuat orang-orang tergelak.

Warsas juga memilih model pendekatan serupa, misalnya dengan membuat acara diskusi bertajuk MABUK (Malam Buku) dan GOING OHARA–diskusi seputar dunia One Piece. Bagi Bagus, cara seperti ini melintasi genre di luar pembaca sastra serius. Sehingga, ada kalanya mereka yang membaca manga juga terpapar, begitu pula sebaliknya. Selain mengadakan diskusi, Warsas juga melakukan promosi di Instagram dengan cara mengutip isi buku populer yang sekiranya laris dan buku yang memang menjadi favorit Bagus. “Jadi, penjual buku itu juga harus membaca buku,” ucapnya mantap.  

Kedua toko buku itu punya segmentasi dan cara masing-masing untuk menarik pelanggan, tetapi juga punya kegawatan sendiri terhadap ekosistem perbukuan di Jogja, khususnya Indonesia. Mendirikan toko buku indie semacam JBS dan Warsas bukan belaka romantisme, yang ketika dipadukan dengan kopi dan lagu-lagu folk maka sudah niscaya toko itu disebut indie. “Alih-alih disebut sebagai toko buku indie, kami lebih nyaman disebut sebagai toko buku komunitas,” ucap Mutia. 

Persoalan menjadi indie atau tidak alasannya lebih esensial. Banyak toko buku di Jogja menyambi warung atau kafe demi menyiasati ketimpangan pemasukan di tengah kenaikan harga bahan baku. Bahkan JBS juga memiliki divisi penerbitan sendiri guna menambal area itu. Dan konsep semacam ini sudah lumrah pada sebuah toko buku di negara-negara lain, yakni menjadi tempat baca buku sekaligus ngopi. 

Ini bukan perkara menjadi indie atau nyentrik. Menurut Bagus, kendala yang dihadapi toko buku di Jogja itu lebih pelik. Mulai kebijakan negara soal harga baku, biaya admin market online, dan pembajakan buku yang tak masuk akal. “Negara harus lebih hadir, tidak hanya dalam bentuk festival, tetapi juga bentuk-bentuk lain.” Untuk kebijakan harga, Bagus berkaca pada negara-negara lain seperti Prancis dan Korea Selatan yang menerapkan fixed price atau harga tetap, bahkan termasuk penetapan masa berlaku diskon harga. Adanya harga tetap ini bertujuan guna memberi kesempatan kepada toko-toko buku kecil untuk bertahan.

“Toko buku itu berarti mesti memperbanyak kolaborasi, ya, sesuai tema FSY, Rampak!” kata Kiarra di penghujung acara.

Dia, yang masih meyorot panggung, tentu mendengar yang lain-lain tentang buku dan komunitas. Banyak yang masih dipikirkan soal itu.

Sebagai lampu sorot, ia mempertimbangkan kembali idenya untuk menjadi toko buku. Ternyata jalannya toko buku tak semulus yang dibayangkan. Ia lihat ketiga panelis beranjak turun diarahkan oleh juru kamera untuk berswafoto bersama hadirin.

Sebetulnya, sedari tadi ia juga memperhatikan, dengan sudut matanya yang paling redup, seorang laki-laki di barisan kursi ketiga yang sedang mencatat, barangkali tentang toko buku.***

Catatan: Liputan ini terselenggara berkat kerja sama Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Festival Sastra Yogyakarta 2025, IKAPI DIY, dan Suku Sastra.

Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.