Peristiwa
Refleksi Pameran Tokoh Komunitas
August 3, 2025
No man is an island, kata John Donne. Tak ada seorang pun yang sepenuhnya sendiri. Manusia kamar dalam cerpen Seno Gumira Ajidarma hanya ada dalam cerita pendek. Seorang biksu yang menjalani laku meditasi di biara paling sunyi pun tak sepenuhnya lepas dari yang-sosial: konvensi yang-sosial memberinya ruang spasial yang a-sosial.
Juga dalam perkara kesusastraan, tak seorang pun benar-benar bisa melepaskan diri dari yang-sosial. Penyair reklusif Emily Dickinson atau pemuja kesunyian total seperti Franz Kafka pun akhirnya tak bisa menghindar dari yang-sosial: seberapapun besar usaha mereka untuk membuang diri dari kumpulan, karya-karya mereka tetap harus memenuhi takdir sebagai art yang mencari audience-nya.
Di Panggung Teras depan Grha Budaya, Taman Budaya Embung Giwangan, Sabtu (2/8/2025), Fairuzul Mumtaz, Hendra Himawan, dan Latief S. Nugraha membahas persoalan eksistensial pelaku kesusastraan dan komunitas, khususnya di Yogyakarta. Kata kuncinya mungkin, menurut istilah Latief, “soliter yang kemudian menjadi solider”.
Kerja sastra, seperti ditekankan oleh Hendra, memang pada awalnya soliter dan otonom. Tapi, ternyata tetap ada kebutuhan akan bersosialisasi. Dan karena itu komunitas muncul.
Istilah komunitas itu sendiri perlu dijelaskan. Ketiga pembicara tampaknya sepakat bahwa “komunitas” yang menjadi subject matter Festival Sastra Yogyakarta 2025 ini adalah “komunitas sastra”. Tapi, sejak awal Latief menegaskan bahwa dalam sejarah kesusastraan, khususnya di Yogyakarta, komunitas yang dimaksud tidak melulu hanya menggiatkan sastra.
Para penggiat kesusastraan pada masa awal kemerdekaan hingga 1960-an sering kali tidak hanya mahir di satu bidang kesenian. Selain menulis sastra, mereka juga misalnya mahir melukis. Nasjah Djamin, Danarto, dan Motinggo Boesje di antaranya.
Pembicaraan ketiga orang itu berangkat dari pameran tokoh komunitas di tembok hijau di sisi barat ruang diskusi. Tembok itu diisi oleh narasi singkat dan wajah-wajah para tokoh penggerak komunitas di Yogyakarta sejak 1940-an sampai 2011-an. Para tokoh inilah yang melampaui kondisi soliter mereka masing-masing dan meletakkan fondasi untuk infrastruktur, geliat, dan ideologi sastra di Yogyakarta.
Fairuzul Mumtaz selaku kurator Festival Sastra Yogyakarta 2025 menjelaskan, bangunan awal komunitas sastra di Yogya memang berbeda-beda sehingga hari ini sulit sekali untuk “digrupkan”. Tapi, Yogya mengakui dan membangun perbedaan-perbedaan itu sebagai gotong royong.
Hendra juga mengungkapkan pengamatannya bahwa di Yogya tidak ada kurang-kurangnya komunitas, mulai dari komunitas makan, jalan-jalan, senam, nyambel, meramal weton. Ketika membicarakan tokoh dan komunitas, Hendra merasa agak sentimentil.
Bagaimanapun, kerja sastra adalah kerja soliter dan otonom. Komunitas adalah persoalan yang lain. Skala kecilnya adalah nyambung urip, skala besar infrastruktur, dan skala lebih besar lagi adalah bagaimana menjadi kendaraan bersama untuk menuju hal yang dituju secara bersama-sama.
Sementara itu, Latief melihat adanya pola yang muncul dari tahun ke tahun. Ada ruang-ruang tempat para pelaku sastra ber-komunalitas, yaitu media massa cetak. Selain itu, ada ruang lagi, yaitu kampus yang lebih kompleks. Indonesia punya majalah khusus sastra. Ruang cetak dan digital masih memberi ruang untuk sastra. Media masih menjadi primadona bagi sastrawan untuk memublikasikan karyanya, selain melalui penerbitan. Di situ terbentuk komunitas.
Kalau melihat linimasanya, komunitas yang pernah muncul pada tahun 1940-an hingga 1960-an tidak spesifik komunitas sastra, melainkan justru komunitas teater. Isinya penulis dan pelukis yang kemudian menciptakan naskah drama sendiri yang dipertunjukkan. Hubungan dengan seni rupa cukup dekat. Komunitas pada era tertentu memberi ruang yang luas, luwes, dan cair sehingga siapa pun bisa bergabung. Di masa Orde Baru, yang menonjol adalah Persada Studi Klub yang secara spesifik sastra.
Di awal kemerdekaan, ada Mahatmanto dari Adikarto. Ia tumbuh besar di Mimbar Indonesia dan Budaya Jaya, di bawah asuhan HB Jassin dan Asip Rosidi. Setelah 1965, muncul nama-nama baru seperti Umbu Landu Paranggi. Umar Kayam membuat pusat studi kebudayaan yang melahirkan banyak penulis. Latief menyebut AKY yang tak bisa dilepaskan dari Insist dan UGM. Ulang-alik antara teater, kampus, dan media tidak bisa dipungkiri.
Dalam pameran di tembok hijau, ada 43 profil tokoh komunitas dan semua sudah meninggal. Sayangnya, belum ada sastrawan perempuan. Hanya ada empat atau lima nama. Cukup sulit mencari nama perempuan di Yogyakarta yang menggerakkan komunitas dan menjadi pelopor untuk satu genre tertentu.
Fairuz secara sambil lalu menanyakan kenapa pilihannya 43. Dalam TOR yang diberikan oleh kurator, hanya 20-an.
Latief dengan tangkas menjawab bahwa penambahan itu terjadi secara organik. Nasjah Djamin dan Motinggo Boesje satu komunitas di Teater Indonesia. Kirjomulyo di Sanggar Bambu, lalu muncul Danarto. Semua saling berkaitan sehingga dari 20 menjadi 43. Terhadap jawaban itu, Fairuz menambahkan pengamatan lain, yaitu bahwa inilah yang terjadi hingga hari ini, yaitu ada rasa tidak enak kalau tidak mengajak, bahkan hingga setelah seorang tokoh telah lama meninggal.
Hendra mengajukan pertanyaan yang menantang: apa urgensi komunitas hari ini, terlebih dengan adanya kemudahan mengakses informasi sekarang ini?
Tentang urgensi itu, Fairuz tetap melihat ke belakang. Komunitas sudah terbentuk pada masa perjuangan kemerdekaan. Di masing-masing provinsi ada. Yogyakarta menjadi sentral karena wilayahnya cukup dekat untuk dijangkau kalau dari banyak tempat.
Yogya juga terutama punya fasilitasi, yaitu Keraton. HB VII senang dengan pendidikan dan gerakan sosial. Sehingga, tidak heran jika Budi Utomo untuk kali pertama berkongres di Yogya. Fairuz menduga, mungkin dari situ muncul komunitas-komunitas lain. Misalnya, ada Taman Siswa dalam bidang pendidikan dan Muhammadiyah dalam bidang keagamaan dan sosial.
Fairuz menautkan pengamatannya dengan masalah kebutuhan. Apa kebutuhan hari ini? Ia mengutip keterangan Prof. Minto dalam sesi diskusi sejarah komunitas di Susur Galur I yang baru saja selesai dilaksanakan. Komunitas tak bisa dihindari karena manusia adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan.
Bagi Fairuz, kita punya kesamaan visi dan minat. Di antara kecepatan teknologi, ada orang yang menjaga identitas dan ideologinya. Otak bisa tumpul kalau tidak berkomunitas.
Orang yang pernah berkomunitas lalu bekerja di luar bidang sastra kemudian merasakan kebutuhan untuk “pulang”. Berkomunitas menjadi jalan pulang. Karena tidak bisa menulis lagi, mereka mewadahi para penulis saja. Yang penting tetap ada di komunitas. Dan hal itu didukung oleh iklim pergaulan. Ketika orang di Yogya, mudah sekali membentuk komunitas. Nongkrong di kafe pun bisa menjadi komunitas.
Latief mengamati bahwa Yogya adalah kota diaspora dengan nalar informal yang kuat. Dulu, bentuk komunitasnya adalah sanggar atau paguyuban. Awalnya guyub, lalu pecah, lalu para anggotanya membuat komunitas lagi, dan seterusnya. Kalau melihat pola, sepertinya tampak ada usaha untuk mengkotak-kotakkan.
Fairuz langsung menanggapi bahwa usaha mengkotak-kotakkan itu dilakukan oleh pemerintah melalui mekanisme bantuan. Ada bantuan khusus untuk komunitas sastra, film, dan seni rupa. Secara sadar, pemerintah memetakkan komunitas. Ini salah satu dari faktor-faktor lain yang membuat kita di tengah jalan berbeda.
“Dipecahkan oleh nomenklatur,” seloroh Latief.
Hendra kembali menarik pembicaraan ke arah yang lebih serius. Ia mengingatkan, Danais sudah berjalan tiga belas tahun. Selama itu, sastra dan seni dikelompokkan ke dalam industri kreatif yang rentan. Problemnya adalah bagaimana membedakan kerja otonom dan kerja komunitas? Jangan-jangan kita turut memberikan andil dalam kegagalan regenerasi.
Fairuz menyanggah karena baginya tidak terlalu sulit untuk membedakan. Misalnya, setiap orang punya ruang sendiri. Tapi, punya ruang bersama saat hadir dalam komunitas. Ia mencontohkan, ketika ada yang menulis dan dimuat, honornya dihabiskan bersama-sama. Penulisnya hanya dapat nama.
Bagi Fairuz, loyalitas orang di Yogya luar biasa kepada komunitas. Misalnya, Pak Minto, ketika akan tesis doktoral, dibantu teman-temannya agar bisa ikut ujian. Ketika Pak Minto sudah lulus dan kaya, gantian Pak Minto yang memberi sumbangan.
Di sinilah Latief menegaskan: “Sastra itu awalnya kerja soliter, kemudian jadi solider.”
Terkait regenerasi, Fairuz mengamati ada perubahan pola. Dulu, ada unsur kedekatan. Ada yang merekomendasikan, yaitu guru yang mengarahkan untuk mengirim ke media tertentu. Hari ini, itu tidak berlaku di Suku Sastra karena memang Suku Sastra mencari betul-betul generasi penulis yang bermutu.
Ia mengungkapkan, dalam tiga bulan, ada 600 karya yang masuk. Redaksi membacanya satu demi satu. Regenerasinya melalui itu. Bahkan redaktur ingin buat kelas untuk teman-teman yang karyanya belum dimuat seperti di Radio Buku, yang ditinggal senior, tetapi tetap hidup sebagai komunitas. Patron sudah hilang, tapi masih bisa menjadi komunitas.
Bagi Latief, patron itu sudah sulit dicari karena ada komunitas yang akhirnya menjadi milik bersama. Di PSK, prinsipnya adalah asah, asih, asuh. Di UIN, ada ESKA dan KBEA. Lurah ESKA periode awal masih nongkrong di Teater Eska.
Azan magrib mengingatkan bahwa pembicaraan mengasyikkan itu harus dipungkasi. Ketiga pembicara sempat membacakan puisi pilihan masing-masing. Dan puisi-puisi itu, yang diciptakan dalam kesunyian nasib seorang penyair, keluar dari dunia teks dan menjumpai yang-sosial.***
Catatan redaksi: Liputan ini terselenggara berkat kerja sama Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Festival Sastra Yogyakarta 2025, IKAPI DIY, dan Suku Sastra.