Lewati ke konten

Peristiwa

Susur Galur I: Menyusuri Jejak Komunitas Sastra Yogyakarta

August 2, 2025

Susur Galur I Menyusuri Jejak Komunitas Sastra Yogyakarta

Dulu, pernah ada suatu masa di Yogyakarta, ketika sore kerap diwarnai lalu-lalang anak muda yang membawa buku, gitar, dan keresahan. Di balik gedung-gedung kampus dan lorong-lorong Malioboro, sejarah panjang komunitas sastra kota ini merekam dinamika intelektual dan kultural yang tak pernah padam. Karenanya, diskusi atau yang disebut Susur Galur oleh Festival Sastra Yogyakarta 2025 mengangkat tema Sejarah Komunitas Sastra di Yogyakarta. Diskusi yang diadakan Sabtu siang, 2 Agustus 2025 di Embung Giwangan itu mencoba menyigi jejak dan denyut komunitas dari masa ke masa, dari generasi ke generasi.

Dalam diskusi yang dimoderatori oleh Prima Sulistya, hadir dua sosok kunci, yaitu Prof. Dr. Suminto A. Sayuti, atau yang akrab disapa Prof. Minto, dan Asef Saeful Anwar, penulis yang meneliti tuntas Persada Studi Klub (PSK), komunitas legendaris sastra Yogyakarta. Ironis sekaligus simbolik, Prof. Minto sendiri adalah penguji tesis Asef tentang PSK—komunitas yang dahulu menjadi simpul penting bagi kebudayaan alternatif di tengah ketegangan politik nasional.

Asef membuka diskusi dengan menggambarkan lahirnya PSK sebagai respons atas kebuntuan generasi muda yang muak dengan dikotomi politik “merah” versus “putih” semasa Orde Baru. Mereka yang tak lagi percaya pada ruang-ruang formal seperti kampus—yang kala itu disebut sebagai perpanjangan tangan Orde Baru—berkumpul di Malioboro. Mereka berdiskusi, membaca puisi, dan menghidupkan wacana. Di antara mereka, ada Umbu Landu Paranggi yang ikonik.

Malioboro pada 1960-an jauh berbeda dari hari ini. Belum dipenuhi lalu lintas wisatawan dan pertokoan modern. Dulu, ia adalah tempat pertemuan para pemikir jalanan. Di sana, Mingguan Minggu dan Pelopor Jogja menjadi media yang menyalurkan keresahan generasi. Umar Kayam, Darmanto Jatman, dan sejumlah tokoh lain sering duduk-duduk di Malioboro untuk berdiskusi dan berbagi ide. Di sudut-sudut jalan, seniman “gembel” memilih hidup bohemian sebagai bentuk kritik sosial. “Voluntary bohemian,” demikian Asef menyebut mereka.

Umar Kayam terutama menjadi magnet bagi para seniman dan penulis itu. Ia adalah seorang guru yang punya banyak murid. Ia sering nongkrong di Malioboro. Murid-muridnya meriung sang guru bahkan saat ia di nongkrong di tepi jalan. 

Setelah Umbu Landu Paranggi hijrah ke Bali, denyut gerakan Persada Studi Klub (PSK) tak serta-merta padam. Justru, dari jantung Malioboro, denyut itu mulai merambah ke kampus-kampus di Yogyakarta dan sekitarnya. Salah satu tokoh yang kemudian menjadi penggerak utamanya adalah Prof. Dr. Suminto A. Sayuti, yang bergabung dengan PSK pada akhir 1974.

Di IKIP Yogyakarta, ia mendirikan sanggar teater dan membuat pernyataan yang hingga kini masih diingat banyak orang: “Kampus tanpa kesenian adalah kebun binatang.” Akibatnya, beasiswanya nyaris dicabut. Saat itu, seni dianggap sebagai bentuk penyimpangan dari studi formal yang serius.

Pun demikian, gerakan ini bukan sekadar ruang untuk menampung hobi para pemuda—lebih dari itu, ia adalah upaya sadar membangun ruang sosial dan intelektual yang melibatkan masyarakat luas. Meskipun basecamp-nya ada di Malioboro, jangkauan gerakannya meluas hingga Magelang dan Klaten. Ini bukan sekadar komunitas literer, melainkan semacam pergerakan budaya akar rumput.

Bagi generasi hari ini, keberadaan komunitas-komunitas sastra bisa jadi bahan refleksi. Apakah mereka benar-benar membaur dengan masyarakat? Atau justru eksklusif, tertutup dalam kantong-kantong kecil yang hanya saling menyapa sesamanya?

“Daya ledak” PSK kala itu adalah keresahan terhadap situasi sosial. Para anggotanya rutin berkumpul, berdiskusi, dan saling mengingatkan agar karya-karya mereka tak jatuh ke dalam ekspresi yang vulgar atau reaktif semata.

Interaksi antaranggota juga berlangsung secara dinamis dan dua arah. Di internal, mereka memiliki rubrik Persada—yang mewadahi karya anggota baru, dan rubrik Sabana—untuk karya yang dinilai sudah matang. Di luar, mereka berkompetisi secara sehat dengan media besar seperti Horison.

“Ada yang sampai gila karena tulisannya tak kunjung dimuat,” kenang Prof. Minto sambil terkekeh. “Ada pula yang dijuluki penyair gurami karena datang ke kantor redaksi membawa ikan gurame sebagai bentuk suap agar puisinya diterbitkan.”

Pertanyaannya: adakah hari ini media yang mewadahi kreativitas anggotanya tanpa kepentingan di baliknya? Sebab, dulu, awak PSK juga aktif menulis di berbagai media di luar komunitas. Secara tidak langsung, keberagaman itu menyusun estetika khas mereka sendiri. Mereka tak lupa mencantumkan tempat mereka belajar. Berbeda dengan kini, ketika banyak orang seperti langsung hilang setelah selesai belajar.

Dulu, rubrik esai, cerpen, dan puisi di harian Bernas bahkan dipegang oleh kelompok bernama Remaja Nasional. Sastrawan muda seperti Emha Ainun Nadjib alias Cak Nun sempat menempuh pendidikan di Fakultas Ekonomi, tapi memilih keluar. “Dosennya goblok,” Prof. Minto mengulangi alasan yang dulu diutarakan Cak Nun ketika hengkang dari kampus.

Prof. Minto, yang akrab dengan nilai-nilai Jawa, gemar menggunakan kata “bebrayan”—sebuah istilah yang mencerminkan hidup bersama, saling menghargai, dan terhubung karena adanya “liyan”, yang lain, yang berbeda. Ia percaya bahwa setiap komunitas pasti membawa ideologi—termasuk ideologi estetik.

Bagi Asef, agar komunitas bisa membaur dengan masyarakat, diperlukan seseorang yang kompeten dalam bidang sastra. Sastra membutuhkan gaya yang berbeda dari saluran lain dalam menyuarakan keresahan. Asef mencontohkan, ketika Rendra baca, pasti Kridosono pasti penuh, tetapi, hari ini, keresahan tanpa daya ledak. Hanya meledak di medsos, tetapi pada di dunia nyata. “Andaikan Aan Mansyur membaca puisi, satu ruangan ini saja tidak penuh,” kata Asef.

Loyalitas dan sense of belonging anggota PSK juga besar. Asef menjelaskan, awak PSK juga tergabung dengan media di luar PSK. Mereka selalu mencantumkan di mana mereka belajar. Tidak seperti fenomena kebanyakan sekarang, di mana para anggota komunitas langsung pergi begitu saja setelah selesai belajar.

Asef mengamati, di Akademi Kebudayaan Yogyakarta (AKY), sekitar tahun 2000-an, penciptaan kreatif lebih banyak di tataran individu daripada komunitas. Tetapi, diperlukan kerja kolektif untuk memperjuangkan karya agar terbit. Hari-hari ini, tren bergeser dari penciptaan ke pembacaan saja sehingga komunitas yang terbentuk adalah komunitas baca, bukan komunitas penciptaan karya. Dari zaman AKY sampai sekarang, ruang perempuan terutama ketika akan menulis kreatif, masih kurang.

Prima mengajukan pertanyaan cukup menggelitik, yaitu apakah gerakan sastra Yogyakarta konsisten atau tidak dalam melibatkan masyarakat sipil. Kedua pembicara tidak secara langsung menjawab, tetapi menyoroti persoalan definisi komunitas dan organisasi. Menurut mereka, pengertian tentang kedua istilah itu sudah diintervensi negara sehingga definisinya biasa. Contohnya, ketika minta bantuan, justru dimintai surat-surat. Padahal, komunitas biasanya bersifat cair dan tidak memiliki hierarki yang kaku.

Dalam sesi tanya jawab, muncul pertanyaan-pertanyaan yang tidak secara langsung berhubungan dengan topik pembicaraan. Misalnya, tentang fenomena acara pemerintah di segala bidang yang mengalokasikan sesi berpantun. Prof. Minto justru mempertanyakan apakah mereka benar-benar menghayati pantun sebagai susastra atau hanya gincu.

Muncul juga pertanyaan tentang fenomena antologi puisi yang marak. Menurut Asef, dulu antologi terkurasi, tetapi hari ini dikapitalisasi. Orang yang ingin menerbitkan antologi justru disuruh membayar. Sementara itu, karya puisi di dalam antologi itu sendiri belum beranjak dari zaman Pujangga Baru.

Muncul juga pertanyaan tentang “puisi esai”. Prof. Minto menjelaskan bahwa itu adalah fenomena lama. Ia bercerita bahwa dirinya pernah diminta membuat pengantar oleh Denny JA. Ia “menawar” ke Agus Sarjono dengan minta honor sepuluh juta rupiah. Ia diberi honor tujuh setengah juta dan hanya menulis tujuh halaman. Pengantar itu tidak dimuat di buku “puisi esai” walaupun Prof. Minto tetap menerima honor.

Tentang sastra, komunitas, dan kebangsaan, Prof. Minto punya tiga kutipan: “Yang penting dari kerja sastra adalah apa yang ada di baliknya. Komunitas sudah berurat berakar sejak zaman nusantara, kita tinggal menggali manfaatnya. Kita harus membuat bangsa ini ramai melalui sastra supaya masyarakat sadar mana sangkan paran.”***

Catatan: Liputan ini terselenggara atas kerja sama antara Festival Sastra Yogyakarta 2025, Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, IKAPI DIY, dan Suku Sastra.

Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.