Peristiwa
Memviralkan Buku dalam Terang Bookfluencer
August 2, 2025
Yogyakarta adalah labirin besar yang tiap sudutnya menyimpan buku. Di tiap kelok gangnya, terdapat setidaknya satu toko buku, perpustakaan, atau paling tidak seseorang yang bisa diajak ngobrol panjang perihal buku. Kita bahkan belum bicara soal acara buku, festival buku, atau diskusi buku yang, sepertinya, hampir setiap hari digelar di sini.
Bagi pecinta buku, tinggal di Jogja adalah privilese luar biasa.
Namun, terkait buku, dengan apa kita bisa menyebut, katakanlah, Flores, Aceh, atau Jayapura? Di titik inilah, orang-orang yang mengenalkan buku di media sosial (medsos) atau apa yang disebut belakangan sebagai bookfluencer, menemukan relevansinya sebagai jembatan antara buku, penulis, penerbit, dan pembaca untuk saling bertemu.
Masih dalam rangkaian Festival Sastra Yogyakarta 2025, di Taman Budaya Embung Giwangan, pada Jumat (01/08/2025), Wardah, yang dikenal sebagai bookstagram, dan Ayu Riana, penulis novel pop yang turut aktif memasarkan bukunya di medsos, menceritakan pengalaman masing-masing ditemani Brenda Christina Putri sebagai moderator.
“Bookstagram itu istilah yang lahir di luar negeri. Istilah yang merujuk pada mereka yang aktif membagikan cerita tentang buku di akun Instagramnya,” kata Wardah, menanggapi pertanyaan dari Brenda tentang bagaimana awal mula aktif ngontenin buku dan dikenal sebagai bookstagram.
Kesukaan Wardah terhadap buku mendorongnya aktif membagikan soal buku di internet. Terutama, pengalamannya sebagai pembaca sejak 2011, ketika blog masih menjadi tren, lalu beralih ke Instagram ketika blog sudah berkurang penggunanya.
Ia mengaku tidak memiliki teman yang bisa diajak ngobrol panjang lebar tentang buku. Sehingga, ia memilih internet sebagai medium untuk bercerita. Ia senang ketika mendapatkan tanggapan dari pengikutnya di Instagram. Mendengar cerita dari mereka yang “teracuni” bacaan darinya turut mendorongnya untuk terus aktif menjadi bookstagram sampai sekarang.
Lain lagi dengan Ayu. Memosisikan diri sebagai penulis, ia bercerita bahwa mulanya adalah keterpaksaan, berangkat dari tuntutan penerbit untuk memasarkan sendiri buku yang ia tulis. Tapi, lama-kelamaan ia sendiri merasa nyaman, melanjutkan membuat konten di media sosial, dan menjadikan itu sebagai rutinitas.
“Bisa karena terbiasa,” lanjutnya.
Lantas, obrolan agak bergeser setelah Brenda memancing tanya soal personal branding, soal bagaimana mencitrakan diri di media sosial.
Perihal itu, Ayu sejak awal memang ingin dikenal dan mencitrakan diri sebagai penulis dan membuat konten-konten seperti tips menulis dan lain-lain. Tapi, sebagaimana yang ia akui kemudian, ada beberapa kesulitan ketika mencitrakan diri seperti itu, terutama soal segmentasi penonton kontennya.
Ayu menjelaskan, saat ini hanya ada dua macam penonton kontennya, yaitu sesama penulis yang kemungkinan membeli bukunya kecil, dan mereka yang tertarik pada fashion, jenis konten yang lebih ia tekuni sekarang. Namun, yang disebut terakhir, sering kali malah menjadi jembatan untuk mengakrabkan buku lebih lanjut ke mereka yang sebelumnya bahkan belum pernah berkenalan dengan buku.
Brenda kembali menggeser percakapan dengan satu pertanyaan singkat kepada Wardah, “Di mana posisi, dan apa peran bookstagram di dunia perbukuan?”
Wardah menangkap pertanyaan itu, yang lantas ia bawa ke pengalaman personal. Baginya, tak ada peran spesifik soal itu. Ia menganggap bahwa apa yang ia bagikan hanya berdasar rasa suka ketika menjalaninya.
“Content creator buku tak bisa disebut sebagai bagian pemasaran. Kalau itu harusnya memang tanggung jawab penerbit, kan?” terangnya sambil tertawa kecil.
Beranjak dari situ, Brenda memperluas pembicaraan ke arah komunikasi, soal cara menjaga interaksi komunitas dunia maya yang dibangun.
Ayu menekankan pada koneksi yang dibawa lebih jauh. Tidak lagi sebagai percakapan non-emosional, tapi membawa followers-nya ke koneksi personal yang lebih terbuka dan hangat. Ia percaya hal demikianlah yang akan membawa hubungan antarindividu, meskipun di dunia maya, menjadi lebih bermakna.
Wardah lebih condong untuk membangun komunikasi yang aktif dan interaksi yang lebih genuine. Komunikasi interaktif yang terjalin antara pembaca, penulis, dan bahkan sampai penerbit. “Dan,” tegas Wardah dengan nada bercanda, “bookstagram bukan artis. Jangan sampai star syndrome.”
Kemudian Brenda melontarkan pertanyaan pamungkas, “Bagaimana seharusnya medsos dimanfaatkan untuk promosi buku?”
“Hari ini, industri apa pun, termasuk buku, perlu melek digital,” sambut Ayu menanggapi pertanyaan itu.
Dalam industri buku hari ini, kesadaran digital mutlak perlu dibentuk. Konkretnya, penerbit buku perlu menyelam ke dunia maya, perlu aktif di dalamnya dengan memperlebar kerja sama dengan influencer, misalnya, atau membuat konten-konten yang mengikuti tren.
Wardah menambahkan bahwa buku adalah sesuatu yang spesifik. Tidak semua orang menjadikan buku sebagai kebutuhan. Maka, penerbit perlu sadar untuk berinvestasi dalam pemasaran dunia digital, terutama ketika menghadapi generasi baru yang telah akrab dengan dunia maya sejak dini.
Sebagai penutup, Ayu mengajak pembaca untuk sama-sama menghidupi industri buku, dan Wardah, berelasi dengan ajakan Ayu, memberi pesan untuk “mulai aja dulu” bagi siapa pun yang tertarik menjadi bookfluencer.
Catatan redaksi: Liputan ini terselenggara berkat kerja sama Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Festival Sastra Yogyakarta 2025, IKAPI DIY, dan Suku Sastra.